Posts Tagged ‘changi’

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(8).   Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi

Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30 dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi, Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus terang saya agak gumun (heran), bahwa petugas American Airlines (AA) di Tokyo benar-benar menangani bagasi saya yang seharusnya saya ambil di Tokyo, mengikuti penerbangan lanjutan saya ke Singapura malam itu juga. Padahal saya sudah tidak lagi menggunakan jasa penerbangan mereka.

Pikiran pertama setiba di bandara Changi adalah langsung mencari counter Thai Airways (TG). Maksudnya mau menegosiasikan tiket saya agar bisa pindah dengan pesawat pertama yang terbang ke Jakarta paginya, yaitu Garuda Indonesia (GA) dan seklaigus menukar tiketnya. Ternyata untuk ketemu counter TG maupun juga GA saya mesti menuju ke Terminal 1. Wah, agak jauh.

Saya ubah skenarionya. Saya coba langsung menghubungi counter SQ di Terminal 2. Lalu dijelaskan oleh petugasnya bahwa tiket saya tidak bisa langsung digunakan untuk penerbangan lain, karena di Tokyo tiket AA saya sudah dialihkan ke TG. Untuk dapat pindah ke SQ atau pesawat lain, harus ada endorsement dulu dari pihak TG.

Akhirnya tetap juga saya mesti ke Terminal 1, itupun belum tentu buka, di saat dini hari, kata seorang Satpam bandara yang saya tanyai. Belum lagi mesti jalan kaki, karena sky-train yang menghubungkan Terminal 2 ke Terminal 1 dan sebaliknya sudah berhenti beroperasi dan baru mulai beroperasi lagi jam 6 pagi. Belum lagi sambil menyeret bagasi yang cukup berat. Yen, tak pikir-pikir …….., kok ya lebih baik istirahat saja dulu, simpan tenaga untuk esok paginya berburu lagi pesawat tercepat menuju Jakarta. Jadilah, masuk ke Terminal 2 lagi melalui imigrasi, dan stempel imigrasi di paspor pun saya minta untuk dibatalkan.

Dalam hal overnight di Singapura seperti ini, pengalaman sebelumnya saya langsung menuju ke lantai 3 untuk tidur di hotel transit airport. Bagaimanapun juga ini adalah kesempatan untuk istirahat, memulihkan stamina, dan bisa tidur dengan posisi sempurna, meskipun harus mbayar. Akan tetapi mempertimbangkan bahwa esok pagi-pagi mesti sudah mulai ngurus ini-itu kesana-kemari, saya memilih untuk tidur di kursi ruang tunggu di lantai 2 saja.

Di sana banyak sesama penumpang transit yang juga tidur di kursi menunggu penerbangan lanjutan esok paginya. Tetapi yang lebih penting bagi saya adalah agar tidak kebablasan tidurnya. Lumayan ….., toh bisa juga tidur 2-3 jam, meskipun diselingi nglilir (terbangun) beberapa kali. Selain karena tidurnya tidak dengan posisi sempurna, juga karena pikiran tetap bekerja menyusun skenario untuk esok paginya.

Sekedar pengalaman pembanding, pada tahun 1993 saya pernah kemalaman di Cengkareng dalam perjalanan dari Bengkulu ke Yogya, dan terpaksa tidur di Terminal F.  Rasanya seperti di rumah suwung (tidak berpenghuni), meskipun tidurnya di airport. Sepi dan tidak ada “tanda-tanda kehidupan”, boro-boro ada yang jual makanan. Bahkan karena tidur di bangku ruang tunggu saya merasa kedinginan, akhirnya pindah tidur di musholla. Itupun masih kedinginan, lapar lagi.

Sebelum merebahkan badan di kursi tunggu Terminal 2 Changi, saya sempatkan untuk mencari smoking area. Maklum, sejak dari New Orleans kemarin saya terpaksa menahan keinginan untuk merokok, karena memang di setiap tempat terpampang tulisan dilarang merokok.

Namun sebenarnya saya menahan keinginan merokok bukan lantaran ada tanda “No Smoking”. Melainkan karena tidak saya jumpai orang yang tidak tahu malu, yang suka melanggar tapi justru bangga. Tidak saya jumpai orang yang suka nekad melanggar aturan umum. Saat itu, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang tahu malu dan menghargai aturan. Ingin rasanya saya mengajak 200 juta tetangga saya agar mempunyai keinginan yang sama. Tapi jangan-jangan ……, untuk punya keinginan semacam itupun para tetangga saya itu juga malu.

Di kesempatan lain, sekali waktu saya transit di bandara Taipei, Taiwan. Karena di sekitar ruang tunggu tidak boleh merokok, saya berjalan menuju lorong penghubung antara ruang-ruang tunggu. Agak ke ujung lorong memang tidak saya jumpai tulisan “No Smoking”, tapi juga tidak ada tulisan “Smoking Area”.

Hanya yang melegakan, di situ ada bekas puntung rokok berserakan di sepanjang tempat bunga. Saya hanya berlogika : berarti puluhan orang yang merokok sebelum saya berkategori tidak melanggar aturan, alias tidak dilarang. Kesimpulan yang bagus, terkadang logika secara bodoh semacam ini ada gunanya. Paling tidak, bisa menjadi “tempat persembunyian” yang masuk akal.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar