Posts Tagged ‘cengek’

Sarapan Nasi Goreng Ndeso

23 September 2010

Pagi tadi ibunya anak-anak masak sop: sawi hijau, kol + bunganya, sosis, bakso, untuk sarapan. Tapi kutolak, aku memilih sarapan bikin sndiri, nasi goreng ndeso: cengek, bawang merah, garam, terasi, kemiri untuk pengganti micin, sedikit kemangi untuk pengharum, tanpa kecap. Hmm, serasa ndeso tenan..

Lalu sop buatan istri? Ya dilahap banyak-banyak setelah itu (jangan dimubazirkan, enak je..). Sarapannya tetap nasi goreng, sedang sop itu menu sesudahnya..

Yogyakarta, 20 September 2010
Yusuf Iskandar

Gorengan Dan Cengeknya

10 Juli 2010

Waktu hujan sore-sore, di Jogja… ‘Boss’ saya pulang membawa gorengan. Bukan wajan, tapi tempe goreng dan tahu isi (atau tahu brontak, atau tahu sumpel). Ada yang aneh, gorengannya 10 biji tapi cengeknya hanya 4 ekor..! “Cabe mahal, je...”, kata yang jual. Melejitnya harga cabe sampai segitu “dampaknya” bagi penggemar makanan gorengan. Tapi okelah, tetap lumayan buat teman nonton bola…..(bola basket yang tergeletak di ruang tengah maksudnya)

Yogyakarta, 7 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Cengek Muda

11 Juni 2010

‘Boss’ saya pulang dari toko bawa oleh-oleh tahu isi dan tempe goreng. Sampai rumah langsung dilahap dengan cengek ceplas-ceplus. Terlihat nikmat sekali.

“Pedas kah, tidak?”, tanyaku.
“Tidak lah, masih muda ini…”, jawabnya.
“Ya, yang masih muda memang lebih nikmat daripada yang sudah tua”, kataku.
“Hmmm, karepe (maunya)…”, katanya sambil mencibir.
Lha iya, karepku (mauku) ya besok-besok kalau beli cengek yang muda-muda saja, nggak sepedas yang tua-tua…!”

Yogyakarta, 5 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tempe Dan Tahu Bacem

22 April 2010

Yang paling saya sukai saat ibunya anak-anak nggak ada kesibukan adalah menjadi kreatif. Seperti kali ini, membuat tempe dan tahu bacem. Bayangkan… (bayangkan saja), pagi-pagi menyantap tempe dan tahu bacem lalu nyeplus cengek (cabe rawit) yang dipetik dari halaman rumah (yang ini hasil kreatifitas bapaknya anak-anak, tentu), ditemani secangkir kopi tradisional Shang Hai asli dari Cianjur. Wuahhh.., tak terlukiskan dengan kata-kata, kecuali kalimat di atas…

Yogyakarta, 21 April 2010
Yusuf Iskandar