Posts Tagged ‘cede’

“CD Remix Special Edition” Penangkal Hujan

21 Februari 2009

Minggu lalu teman saya melepas masa lajangnya di Balikpapan. Menurut undangan, resepsi pernikahan diselenggarakan jam 10 pagi. Kebiasaan kita di tempat lain, pada undangan disebutkan resepsi dari jam sekian sampai jam sekian. Namun tradisi di Balikpapan rupanya agak berbeda, undangan acara resepsi biasa ditulis jam sekian sampai selesai. Maka kalau undangan mulai jam 10 pagi, berarti tuan rumah beserta mempelai harus siap-siap menyambut tamu hingga langkah tamu yang terakhir, jam berapapun datangnya.

Menurut pikiran teman saya, sang penganten lelaki, tentu saja ini situasi yang “kurang menguntungkan”. Hari sepertinya kok enggak malam-malam…… Selalu standby di pelaminan menunggu barangkali ada tamu yang baru bisa datang saat malam menjelang.    

Lain cerita tentang enggak malam-malam…., lain lagi cerita tentang keadaan cuaca. Sedari pagi hingga menjelang jam 10 saat resepsi hendak dimulai, ternyata hujan deras mengguyur Balikpapan seolah tak hendak berhenti. Tuan rumah pun gelisah. Kalau hujan tidak berhenti juga, bisa-bisa “jualan”-nya tidak laku.

Mertua teman saya yang sebenarnya juga orang Jawa tapi tinggal di Balikpapan, rupanya punya ide “nyleneh”. Sang pengantin lelaki dan perempuan diminta mengumpulkan CD (baca : cede) masing-masing satu eksemplar, lalu kedua benda itu dibungkus plastik. Bungkusan spesial berisi campuran dua CD jantan dan betina itu pun lalu dilempar ke atas atap rumah bagai meteor jatuh dari angkasa. Sayangnya, teman saya tidak tahu rumah siapa yang kejatuhan bungkusan berisi sepasang CD itu. Atau mungkin memang sebaiknya tidak perlu ada yang tahu. Takut kalau terus diambil lagi…..

Lha kok ndilalah….., hujannya kok ya terus berhenti, dan terus berhenti sampai malamnya, hingga langkah tamu terakhir meninggalkan gelanggang resepsi yang tak sudah-sudah sejak pagi. Aneh bin ajaib, pikir teman saya. Sebab kesimpulannya menjadi : Sepasang CD yang dilempar ke atas atap telah berhasil menangkal guyuran air hujan.   

Kalau ditanya apa hubungan antara CD yang dilempar ke atas atap dengan hujan? Ya, sama sekali tidak ada. Mau ditelisik dari disiplin ilmu apapun tidak akan ketemu perkaranya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan adalah bahwa ada sebuah tradisi yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat Jawa tentang urusan lempar-melempar CD dikala sedang punya hajatan tapi hujan tak kunjung reda. Terkesan indah sekali (tradisinya tentu saja, bukan CD-nya…).

Barangkali karena merasa “gimana gitu….”, maka alternatifnya kini ritual lempar-melempar CD banyak ditinggalkan dan diganti dengan mengundang pawang hujan. Sebab kalau kemudian acaranya adalah upacara tujuhbelasan, lalu CD siapa saja yang mau dikumpulkan lalu dilempar, dan atap siapa yang mau ditimpukin CD…..

***

Tidak sampai seminggu kemudian, teman saya itu sudah boyongan bersama keluarga barunya ke Yogyakarta. Saat pertama kali bertemu di Yogya, saya mengusulkan kepada teman saya itu agar coba “CD Remix Special Edition” yang dilempar ke atas atap itu dicari dan diambil kembali. Baru seminggu berlalu, belum lama. Dan lagi, pasangan CD itu kan dibungkus plastik, pasti kondisinya masih baik. Teman saya tertawa ngakak. “Buat apa?”, katanya.

Ya, buat apa…. Seperti kurang kerjaan saja. Barangkali kita pun akan berkata begitu. Saya melihat sisi “nyleneh” lainnya. Benda “sakti” yang telah menangkal hujan itu kelak akan menjadi sebuah benda kenangan yang tak ternilai harganya. Sebuah memorabilia yang siapa tahu bernilai tinggi di pasar lelang Christy di New York. Tak seorang pun tahu, kalau 20 tahun lagi ternyata teman saya atau anaknya sukses menjadi seorang selebriti, syukur-syukur kelas dunia.

Lho, siapa yang menyangka anak laki-laki kecil, dekil, hitam, njelehi bernama Obama yang dulu pernah sekolah di Menteng itu kini jadi Presiden Amerika. Atau, Soeharto yang anak petani itu pernah menggegerkan Indonesia. Atau Tukul yang kelewat katrok dan tampak bodo itu penghasilannya susah dihitung. Atau, Inul yang penyanyi ndang ndut ndeso itu bisa mengundang simpati dan dielu-elu dimana-mana. Orang-orang ini hanyalah contoh. Diakui atau tidak, diam-diaman atau terang-terangan, punya memorabilia yang bagi sebagian orang bernilai tinggi.   

Bagian terakhir dari cerita ini memang berbau mengada-ada. Tapi yang pasti adalah kalau sekarang kita mengatakan “Ah, itu tidak mungkin…..”. Maka yang akan terjadi kelak adalah ketidakmungkinan itu. Lha, kalau sebaliknya? Maka diri kita akan menjadi seperti yang sebaliknya itu. Dan sesungguhnya yang mengatakan demikian itu bukan saya, melainkan kitab suci.

Jadi? Sebaiknya teman saya itu mempertimbangkan untuk mencari dan mengambil kembali “CD Remix Special Edition” yang sekarang entah berada di atas atap rumahnya siapa di Balikpapan sana. Kelak akan ada sebuah kisah yang tak kunjung habis untuk ditulis. Kisah tentang sebuah tradisi yang indah yang masih dilakoni oleh sebagian masyarakat Jawa. Kisah tentang memorabilia cinta kasih sepasang anak manusia. Kisah tentang janji Sang Pencipta Kitab Suci yang pasti akan ditepati. Kisah tentang orang yang kehabisan ide sampai sempat-sempatnya menuliskan kisah ini…..

(Sengaja tulisan ini tidak disertai ilustrasi foto….)  

Yogyakarta, 21 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

Iklan