Posts Tagged ‘cangkringan’

Yang Tak Berdaya Dan Yang Peduli

6 Maret 2011

Tulisan berikut ini adalah kumpulan dari cerita status (cersta) yang saya tulis di Facebook.

***

Beberapa hari terakhir ini saya menerima amanah berupa barang dan transferan dana dari beberapa sahabat yang minta disalurkan untuk korban Merapi, erupsi maupun lahar dingin. Mereka minta untuk tidak disebutkan namanya. Haha.., terpaksa harus kupenuhi.

(Sebenarnya kalau selama ini saya menyebut nama itu bukan untuk pamer atau narsis, melainkan dalam rangka kompor-mengompor tentang kebaikan dan laporan bahwa amanahnya sudah saya tunaikan).

(1)

Sekecil apapun yang dapat saya lakukan, maka akan saya lakukan (insya Allah). Sama seperti yang dilakukan para relawan di lokasi bencana dan orang-orang lainnya. Saya hanya ingin menjadi bagian keciiil… saja dari kehidupan para korban bencana.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja menggalang dana, melainkan sekedar berbagi cerita ngalor-ngidul. Jika kemudian ada yang mengirim dana untuk disalurkan, maka saya berusaha menunaikan amanah itu sebaik-baiknya.

(2)

Beberapa sahabat mentransfer sejumlah dana yang nilainya tidak kecil. Warung Mandiri dua unit sudah berdiri di Glagaharjo (dari sorang rekan di Papua) dan dua unit lagi sedang disiapkan di Kepuharjo dan Kinahrejo (dari seorang rekan di Jakarta). MCK di Glagaharjo sedang dibangun, juga mushola sedang dirancang.

Glagaharjo, Kepuharjo dan Kinahrejo (Umbulharjo) adalah kawasan yang rata dengan tanah tersapu awan panas dan nyaris berubah menjadi padang pasir.

(Note: Saat ini, tiga bulan setelah hantaman awan panas Merapi, kawasan itu mulai menampakkan nuansa hijau oleh tanam-tanaman yang mulai tumbuh, walau masih sangat sedikit).

(3)

Tambahan material untuk dinding dan jendela huntara (hunian sementara) untuk pengungsi di dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, Magelang, sudah dikirim (dari dua orang rekan entah dimana). Sejumlah rumah lenyap tersapu lahar dingin di dusun ini.

Huntara ini adalah shelter semi permanen berupa rumah panggung terbuat dari konstruksi bambu di atas lahan persawahan. Layak untuk dihuni sebuah keluarga kecil dan dibangun secara swadaya.

(Note: Kalau saya sebut rekan entah dimana, itu karena saya memang tidak tahu dimana sesungguhnya kedua rekan ini berada, tapi transferan dananya saya terima).

(4)

Alat tulis dan permainan anak sudah dibelanjakan untuk dua TK di desa Sirahan, kecamatan Salam, yang sekolahnya lenyap disapu lahar dingin. Sedangkan anak-anak sementara sekolahnya menyebar di beberapa lokasi. Juga baju seragam pramuka untuk siswa SD yang sekolahnya tertimbun material pasir lahar sudah disiapkan. Pengiriman akan segera dilakukan. Tambahan bantuan logistik untuk pengungsi korban lahar dingin segera juga akan disusulkan…

(5)

Tentu saja semua aktivitas distribusi, alokasi dan penyiapan bantuan itu tidak saya lakukan sendiri melainkan bekerjasama dan didukung oleh banyak pihak, baik yang di Jogja maupun yang di lapangan. Khususnya saya banyak dibantu oleh tim relawan mandiri yang komitmen dan dedikasinya tidak diragukan. Sedang mereka adalah orang-orang yang tidak menerima upah dari siapapun malahan patungan untuk membiayai operasi mereka sendiri.

(6)

Bantuan berupa alat komunikasi HT menjadi “senjata” para relawan untuk saling komunikasi tentang perkembangan situasi. Saat ini, saat musim hujan tak menentu, saat jutaan m3 material vulkanik menunggu menggelontor, saat masyarakat di bantaran sungai was-was, saat ancaman banjir lahar dingin bisa tak terkira besarnya…

Maka para relawan tanpa tanda pengenal ini pun siaga full tidak setengah-setengah… memonitor situasi.

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

(7)

Dua hari terakhir ini saya menerima transfer susulan sejumlah dana dari Papua dan Jakarta untuk disalurkan bagi korban bencana Merapi. Rekan dari Jakarta memberi catatan bahwa dana itu sebagai zakatnya. Maka saya merasa perlu memberi “special treatment” terhadap dana zakat ini agar tidak menyimpang dari SOP tentang per-zakat-an yang obyeknya lebih bersifat personal ketimbang prasarana umum.

(8)

Seorang relawan di kaki selatan Merapi yang mendampingi korban Merapi di wilayah Cangkringan melapor bahwa biaya pembuatan MCK membengkak karena atas permintaan warga konstruksinya dibuat lebih permanen. Belum lagi, ada 16 warga desa Glagaharjo yang meminta bantuan dinding gedheg untuk memulai “membangun kembali” rumahnya, sedang mereka tidak punya akses memperoleh bantuan dari luar. Hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(9)

Relawan lain di kaki barat Merapi yang memantau ancaman banjir lahar dingin dan memfasilitasi penyaluran bantuan untuk korban banjir lahar menyampaikan permintaan usulan bantuan untuk penyelesaian 10 huntara (huntian sementara) rumah bambu bagi warga bantaran sungai Pabelan di dusun Prumpung, Muntilan, yang rumahnya lenyap disapu lahar dingin. Juga hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(10)

Ya, ya… Memang ya tidak mungkin, membantu semua pihak yang tak berdaya yang membutuhkan bantuan, sementara sumber bantuan sangat terbatas.

Maka baiknya dicari yang paling mungkin, yaitu mempertemukan mereka yang tak berdaya dengan mereka yang peduli, dengan kesadaran dan keikhlasan atas segala keterbatasan masing-masing… Lalu katakana: “It’s a beautiful world!”.

Yogyakarta, 4 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Sore Hujan Di Kinahrejo

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng sebagai selingan pengantar week-end…

***

(1)

Hujan deras sore ini mengguyur dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (desanya Mbah Maridjan). Kabut tebal menyelimuti dan menghalangi pandangan ‘bleger’ (sosok) Merapi. Aliran air hujan yang membawa pasir mengumpul dan menggelontor menuju hulu kali Opak, di lembah Kali Adem…

(2)

Rencana saya untuk menjelajahi desa Umbulharjo sore kemarin gagal. Hujan sangat deras dan lama tumpah di kaki Merapi, termasuk di dusun Ngrangkah 1-2, Pelemsari dan Kinahrejo. Hingga menjelang senja hujan tak juga reda.

Kabut makin tebal, jarak pandang makin terbatas, udara makin terasa dingin. Segelas kopi panas yang disuguhkan Bu Panut (anak pertama Mbah Maridjan, saya berteduh di warungnya) lumayan menghangatkan kebekuan inspirasi…

(3)

Berbeda dengan kawasan Glagaharjo, dusun Kinahrejo desa Umbulharjo dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal dan meninggal, jauh lebih ramai pengunjung dan juga lebih banyak bantuan mengalir. Agaknya ke-roso-an Mbah Maridjan cukup menarik dan menjadi alasan untuk datang.

Kini ada puluhan warung berdiri di sana. Bukan saja milik warga asli Umbulharjo, tapi ada juga dari luar desa. Masing-masing mencoba menangkap peluang usaha yang ada, bisnis perwarungan…

(4)

Sebuah warung Mandiri dengan judul “Warung Bu Panut” sedang disiapkan bagi anak pertama Mbah Maridjan itu. Beberapa warung lainnya juga akan disiapkan bagi warga yang memang membutuhkan. Tentu saja tidak bagi semua warga, melainkan sesuai dengan kemampuan donatur yang menjadi sumber dana (hal yang sama juga dilakukan di desa Kepuharjo dan Glagaharjo).

Disanalah aku berdiri…, menunggu hujan tak kunjung reda kemarin sore…

(5)

Belum terlihat tanda-tanda warga desa Umbulharjo yang mulai membenahi apalagi membangun kembali rumahnya. Hampir semua bangunan (bedeng) yang ada adalah warung seadanya.

Namun upaya penghijauan terlihat lebih maju dibanding desa lainnya. Nampaknya bantuan untuk penghijauan memang lebih banyak yang tertuju ke Umbulharjo. Selain karena “nama besar” Kinahrejo dengan Mbah Maridjan-nya, juga kondisi lahan di kawasan itu memang nampak lebih kritis.

(6)

Panggilan hati menjadi relawan terkadang memang tidak masuk akal. Padahal tidak ada keuntungan materi diraih. Seperti Tuti, ibu muda yang anak bayinya baru 15 bulan digendong-gendong ke Umbulharjo, hanya agar bisa turut menemani suami dan teman-temannya sesama relawan bekerja.

Ketika hujan deras tiada reda dan hari hampir malam di Kinahrejo, bayinya pun nekat mau diajak menerobos hujan berbonceng sepeda motor. Uuugh, nggak tega…, akhirnya kuboncengkan naik Jazz…

(7)

Kalau bukan sedang mendung, berkabut dan hujan, bentang alam gunung Merapi terlihat menawan dipandang dari Umbulharjo, Cangkringan.

Kalau dulu sebelum erupsi sosok utuhnya terhalang oleh rimbunnya pepohonan dan pemukiman penduduk. Kini pandangan mata ke arah Merapi terasa lepas bahkan ke seluruh penjuru dengan latar depan kawasan gersang yang mulai sedikit menghijau. Obyek wisata bencana yang sayang untuk dilewatkan…

Yogyakarta, 2-4 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tour d’ Gendol

30 Januari 2011

“Tour d’ Gendol”… Wisata bencana sebagai tujuan wisata alternatif di kawasan yang terkena hempasan awan panas (wedhus gembel) di sepanjang aliran sungai Gendol, wilayah kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, DIY

Yogyakarta, 27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Catatan Harian Untuk Merapi (5)

28 Desember 2010

(35). Hujan Batu Di Cirebon

Hujan batu di Cirebon… Dari gunung Ciremai? Wooo bukan rupanya, tapi dari tawuran antar warga! Huuuuhhh…, mau jadi apa orang-orang ini. Jangan sampai Tuhan memutuskan untuk meletuskan gunung Ciremai agar mereka kompak bersatu bahu-membahu saling membantu…!

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(36). Depe Dan Jupe Jadi Relawan

Depe dan Jupe berkelahi… Aha..! Saya suka berita ini. Bukan karena Depe wal-Jupe-nya, melainkan daripada infotainment ngublek-ublek rumah tangga orang. Jadi, pembandingnya adalah hal yang lebih mudharat. Kalau saya disuruh memilih, Depe, Jupe dan wartawannya saya pilih untuk dikirim ke Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi relawan…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(37). Ketika Ibu-Ibu PKK Kewalahan

Barusan dihubungi Posko pengungsian desa Madurejo, Prambanan, Sleman, minta dibantu nasi bungkus untuk jadwal besok. Agaknya ibu-ibu PKK sudah kewalahan melayani konsumsi pengungsi yang jumlahnya lebih 1200 orang, dimana dapur umum belum bisa disiapkan. Kebetulan saya sudah menerima transfer dari seorang teman di Jakarta, segera akan saya alokasikan 100 bungkus nasi padang untuk makan siang besok. (Trims untuk mas Tonank).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(38). Waspada Terhadap Kemungkinan Terburuk

Hingga siang ini Jogja redup, mendung, abu tipis bergentayangan. Gemuruh Merapi dapat dinikmati sampai radius >25 km, terdengar keras saat meletus beberapa jam yll. Seorang teman yang tinggal di Jl. Kaliurang Km-7,8 mengabarkan: Jl. Kaliurang Km-13 ke atas (Pamungkas, Besi, Griya Perwita Wisata) mulai ditinggal penghuninya, menjauh dari radius 20 km.

Untuk warga Jogja, jangan ada kepanikan, melainkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(39). Tetap Waspada

Kawasan Rawan Bencana (KRB) saat ini berada di radius 20 km dari puncak Merapi. Jika dalam perkembangannya diperluas menjadi 25 km, berarti ada di dekat-dekat seputaran Jl. Ring Road Utara, atau dapat diterjemahkan bahwa kota Jogja berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan evakuasi.

Bukan menakut-nakuti, melainkan JANGAN LENGAH dan TETAP WASPADA, tapi TIDAK PERLU PANIK, teriring doa semoga tidak sampai terjadi situasi yang lebih buruk…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(40). Bantuan Nyaris Tak Terkelola

Semangat membantu masyarakat kita memang ruarrr biasa… Stadion Maguwoharjo, Sleman yang saat ini menampung lebih 24 ribu pengungsi telah mengubah wajah stadion menjadi menyerupai pasar malam. Roooamainya minta ampyun… (apalagi hari ini SBY berkunjung). Bahkan bantuan yang masuk sangat berlebih, sehingga nyaris tak terkelola dengan baik. Dapat dimaklumi karena lokasinya “strategis”, termasuk full peliputan televisi…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(41). Mengalihkan Bantuan

Semula mau mengirim bantuan ke stadion Maguwoharjo, Sleman. Menimbang lokasi ini sudah “overload” dengan bantuan yang bertubi-tubi, maka lalu dicoba dialihkan ke kampus UPNVY. Ternyata di pengungsian UPNVY pun juga sudah “overload”. Akhirnya dialihkan ke lokasi yang “kurang populer”, yaitu Desa Bokoharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Ke sanalah bantuan karyawan Freeport melalui program “Freeport Peduli” kemudian di antaranya disalurkan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(42). Masalahnya Adalah Pemerataan Bantuan

Menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi yang “kurang populer” terasa lebih puas karena langsung bertemu dengan “end user”. Sedang kalau ke posko-posko di lokasi “strategis”, bantuan akan tertimbun begitu saja karena saking buanyaknya…

Seperti petang tadi ke desa Bokoharjo (lebih 3300 orang) dan Madurejo (lebih 2000 orang), keduanya di kecamatan Prambanan, Sleman, langsung dapat dilihat apa saja dan seberapa kebutuhan utama mereka. Semoga koordinasi semakin baik bagi pemerataan bantuan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(43). Masih Ada Nasi Bungkus Yang Akan Lewat

Dapur umum adalah salah satu kelengkapan pokok tempat pengungsian. Namun justru sering membuat kewalahan terutama bagi perangkat desa yang kedatangan pengungsi. Maka pasokan nasi bungkus bagi lokasi-lokasi “kurang populer” yang jauh dari jangkauan itu masih diperlukan.

Sore tadi mendrop 650 nasi bungkus ke desa Madurejo, Prambanan. Insya Allah, masih ada nasi bungkus yang akan lewat, eh dikirim… (Trims untuk mas Rachmat UPN).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(44)Mampir Ke RM “Sabar Menanti”

Pulang dari Madurejo. Uuuh, mulai terasa lapar… Lalu mampir ke RM “Sabar Menanti” di Jl. Solo Km-11, yang menyediakan menu-menu tradisional seperti sayur santan, lodeh, oseng-oseng, mangut, dsb, ala prasmanan. Terkenal dengan oseng cabe hijaunya, tapi sayang malam ini sudah habis. Sambal terasinya terasa benar tapi pedas, sehingga membuat kepala berkeringat. Menunya sama seperti menu nasi bungkus, hanya bedanya tersaji di piring dan dimasak oleh ahlinya..

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(45)Ada Gempa Lemah

Beberapa waktu yll terasa ada gempa lemah. Saya pikir gempa vulkanik dari Merapi, tapi ternyata gempa tektonik (Info Gempa BMKG — Mag: 3.8 SR, 07-Nov-10, 23:08:31 WIB, di darat 12 km baratdaya WONOSARI-DIY, kedalaman:10 km)

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (6)

28 Desember 2010

(46). Senyampang Merapi Istirahat

Senyampang Merapi lagi istirahat sehari tadi, distribusi bantuan jalan terus untuk lokasi Desa Madurejo, Prambanan. Dana kiriman teman kemarin saya konversi menjadi 100 nasi bungkus untuk makan siang. Tambahan 200 nasi bungkus juga dapat dikirim dari sumber lain. Sementara sorenya masih bisa dikirim 200 nasi bungkus lagi untuk makan malam. Sekedar meringankan ibuibu PKK yang kewalahan harus menyiapkan ransum untuk sekitar 2000 pengungsi.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(47). Semuanya Mendesak

Hari ini saya menerima transfer dana dari rekan di Papua dan Jakarta. Rencananya besok akan saya belanjakan untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan pengungsi. Beberapa koordinator Posko sudah saya hubungi dalam rangka menyurvei barang kebutuhan yang paling mendesak. Lha kok ternyata semuanya mendesak…? Waduh, piye iki… Harus cari dana tambahan dari sumber lain…. (Thanks untuk mas Didiek Subagyo dan mbak Anita S. Nitisastro).

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(48). Biarkan Menemukan Keseimbangannya

Isi perut ini kalau sudah kebelet mau keluar memang tidak dapat ditahan. Tak juga hujan badai atau acara kondangan. Jangan pernah menyalahkan perut, melainkan manage-lah perut ini dengan arif. Biarkan perut menemukan keseimbangannya. Itu manusiawi…

Maka, jangan pernah menyalahkan Merapi. Jangan ditahan kalau isi perut Merapi kebelet keluar sesuai kodratnya. Manage-lah Merapi dengan arif. Biarkan Merapi menemukan keseimbangannya. Itu gunungwi…

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(49). Kampungku Juga Kedatangan Pengungsi

Malam ini aku baru tahu rupanya di kampungku juga kedatangan pengungsi yang menempati GOR sekolah. Jumlahnya sekitar 50 orang, al. dari kecamatan Cangkringan, daerah terparah korban Merapi. Kusempatkan untuk menengoknya, nampak sudah tertangani dengan baik. Tapi tetap saja perlu dukungan bantuan jika mengingat ketidakjelasan sampai kapan mereka akan bertahan. Semakin lama bisa semakin membuat “frustrasi” kedua belah pihak, ya pengungsinya, ya pengelolanya.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(50). Merapi Normal Dan Baik

Seorang teman dari luar kota tilpun dan bertanya: “Gimana Merapi, mas?”.

“Alhamdulillah, kondisi Merapi normal dan baik…”, jawabku. Lalu kulanjutkan…: “maksudku, normal aktif bererupsi, dan itu lebih baik ketimbang tidak ada apa-apa tahu-tahu terjadi letusan besar…”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(51). Anak Wedok Jadi Relawan

Anak wedok “ikut-ikutan” menjadi relawan. Kemarin membantu ke posko pengungsian di kecamatan Kalasan, Sleman. Ada 1300 pengungsi yang akan menjadi tujuan saya untuk penyaluran bantuan. Ketika kutanya kebutuhan apa yang paling mendesak? Katanya: pakaian dalam, handuk, air mineral dalam galon, beras…

Tapi saking semangatnya, pesan yang ditulis adalah: “Cd sama bh pria wanita…”.
Ya, jelas kutanya: “Bh pria, adakah? Seperti apa…?”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(52). Belanja Lima Karung Beras

Berhubung kendaraan angkutannya agak sakit, berobat dulu, maka baru siang ini sempat belanja dan ngedrop lima karung beras ke Posko pengungsian di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman (ada 3000-an pengungsi di sana). Dapur umum yang dikelola ibu-ibu PKK itu sehari rata-rata memasak delapan kwintal beras

(Note: lima karung beras itu adalah alokasi dari sebagian dana bantuan yang saya terima, sisanya insya Allah masih akan saya salurkan menyusul)

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(53). Bahaya Lahar Dingin

Hujan terus mengguyur kawasan Jogja dan Merapi sejak siang, disertai kilat dan geledek. Udara akan menjadi bersih dari abu vulkanik, tapi AWAS bagi mereka yang tinggal di dekat-dekat aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Untuk masyarakat kota Jogja, ancaman itu berada di sepanjang bantaran Kali Code. Potensi bahaya banjir lahar dingin bisa lebih besar dari banjir biasanya, sebab material lahar di seluas lereng Merapi akan kompak turun gunung rame-rame.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(54). Kurban Untuk Pengungsi

Sepekan lagi Hari Raya Kurban. Sebagian masyarakat muslim bersiap memilih kambing dan sapi untuk menjadi tunggangan “masa depan”. Tapi sebagian masyarakat lainnya sedang tak berdaya, juga hewan mereka lebih dulu tekapar oleh wedhus gembel.

Maka alangkah indahnya kalau para penerima daging kurban “langganan” selama ini, turut berkurban mengalihkan sebagian jatahnya kepada para pengungsi. Diberikan mentah atau matang, itu soal teknis. Yang pasti mereka berhak dan butuh…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(55). Kesalehan Itu Masih Ada

Jogja pagi ini cerah sekali. Sejak dini hari tadi bintang berkelip di angkasa. Langitpun bersih tak berabu. Mengawali minggu ke-3 AWAS Merapi, tetap dengan KEWASPADAAN tinggi sambil menemani Merapi menanak magma. Pengungsi bertahan mengatasi kebosanan. Relawan terus berjuang mengabdi di bidangnya. Saatnya membuktikan bahwa kesalehan individual, sosial dan lingkungan masih ada. Sebab tak sia-sia semua itu tercipta (ma kholaqta hadza bathila)

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(56). Berkolaborasi Dengan Anak Wedok

Hari ini berkolaborasi dengan anak wedok belanja barang bantuan dan langsung mengirimnya. Setelah di-survey sebelumnya, maka segera menuju lokasi pengungsian Posko SMP I Kalasan ngedrop 12 lusin sandal jepit. Dilanjut ke Posko Balai Desa Madurejo, Prambanan, ngedrop 4 lusin handuk dan 80 lembar selimut. Sedang lima karung beras kemarin telah dikirim ke Posko Balai Desa Bokoharjo, Prambanan. (Thanks untuk mas Didiek, mbak Anita dan mas Budi Yuwono).

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(57). Kaos Relawan

Koordinator relawan yang berbasis di Balai Desa Madurejo, kecamatan Prambanan, Sleman, menghubungi saya minta diusahakan kaos seragam bertuliskan RELAWAN. Tujuannya untuk membedakan dengan orang-orang tidak jelas yang membantu-bantu.

“Ada pesan sponsornya nggak apa-apa pak”, katanya.
Wuah…, dan jawab saya: “Nggak janji ya pak, hanya kalau nanti ada yang bersedia menjadi sponsor…”. Lha jumlahnya 60 orang je…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-