Posts Tagged ‘cafe’

Ke Kedai “Déjà Vu”

24 Juni 2010

Malam minggu ngobrol bisnis di luar rumah. Pilihan kali ini ke Kedai “Deja Vu” di Jogja Selatan. Nggak punya kerjaan? Memang iya… Justru itu maka diisi dengan “studi banding” per-cafe-an, sambil ngopi, ngobrol dan observasi tata ruang.

Ternyata memang lebih efisien. Berdua (tidak usah tanya dengan siapa), ngopi, ngeteh rosella, misang bakar, habis Rp 15 ribu, nongkrong 3 jam, tidak repot menyajikan dan menyuci. Dan, bisnis itu pun terus dibeli orang.

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Stop Merokok Tanpa Syarat

27 Maret 2010

MOU (bukan fatwa) dengan diri sendiri tentang stop merokok disepakati bahwa satu-satunya syarat adalah TANPA SYARAT. Jadi, libur merokok berjalan, kegiatan lain juga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nyruput kopi hitam, silaturrahmi di cafe dengan para perokok, tanpa kompensasi dan substitusi (dengan permen, gethuk), dlsb. Tidak mentang-mentang sedang stop merokok lalu irama hidup berubah, minta dimanja, diberi privilege, dsb. No way, live must go on as usual.

Yogyakarta, 27 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Obrolan Seorang Bapak Dan Anak Perempuannya

24 November 2009

Anak perempuanku yang baru tahun pertama kuliah, malam itu minta dijemput ke kampusnya sepulang dari kegiatan outbond ke luar kota. Pada waktu yang bersamaan saya telanjur ada janji mau ketemuan dengan seorang teman, di sebuah café di Jogja. Lokasi café dan kampusnya sama-sama jauh dari rumah, tapi jalurnya searah. Agar saya tidak perlu bolak-balik menjemput anakku lalu pulang dan berangkat lagi padahal rutenya sama, maka tiba-tiba saja muncul ide untuk menggabungkan kedua agenda itu. Saya merencanakan untuk menjemput anakku dulu, kemudian pulangnya mampir ke café ketemu seorang teman.

Sebelum berangkat dari rumah saya berdoa di dalam hati. Benar-benar saya berdoa dengan hidmat. Bukan sekedar selintas di pikiran dengan kata ‘mudah-mudahan’, sebagaimana salah kaprah yang sering dilakukan orang bahwa dikiranya yang namanya berdoa itu cukup dengan melintaskan harapan di pikiran, lalu selebihnya : “Tuhan kan Maha Tahu” (ya memang sudah sejak dulu kalau Tuhan itu Maha Tahu). Doa saya bunyinya kira-kira begini : “Tuhan, kalau sekiranya niat mengajak anak perempuanku mampir ke café malam ini adalah baik, tolong dimudahkan. Tapi jika menurut Panjenengan tidak baik, beri saya keikhlasan untuk nyopir bolak-balik…”.

Sampai di kampus, anak perempuanku pas baru tiba juga. Dia langsung masuk mobil lalu kemudian saya memutar balik kendaraan. Sebelum mulai jalan, anakku saya tanya dulu tentang kesediannya untuk saya ajak mampir café dan menemani bapaknya ketemu seorang teman. Jangan-jangan dia kecapekan dan tidak setuju. Tapi rupanya anakku setuju dan bersedia ikut ke café. Maka meluncurlah kami ke sebuah café. Ya, seorang bapak berusia menjelang setengah abad bersama anak gadisnya lalu turun dari mobil dan masuk café.

Sesampai di sana, mengambil tempat duduk, pesan makanan dan minuman sekedarnya, lalu saya pun ngobrol ngalor-ngidul dengan teman. Sementara anakku yang juga duduk semeja (barangkali) turut mendengarkan obrolan orang tuanya sambil memainkan HP-nya. Sesekali anakku saya ajak bicara. Sekitar satu setengah jam lebih sedikit lamanya kami nongkrng di cafe, hingga kemudian kami pun pulang.

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan peristiwa ini. Lebih-lebih di kota besar, nongkrong di café malam-malam bagi seorang perempuan maupun orang tua sebaya saya bukanlah hal yang aneh. Tapi tidak bagi bapaknya anak perempuanku itu yang  termasuk manusia konservatif. Maka momen itu saya manfaatkan untuk mendiskusikan beberapa hal, sambil kami berkendaraan pulang.

***

Seorang bapak dan seorang anak perempuan malam-malam nongkrong di café tanpa ada alasan yang jelas, sepanjang pemahaman saya tidak pernah ada referensi rujukannya. Artinya, kalau mau ditimbang-timbang antara manfaat dan mudharatnya, hampir pasti, sekali lagi hampir pasti lebih banyak mudharatnya. Begitulah menurut ilmu yang pernah saya pelajari sejak dari buaian dulu hingga sekarang sebelum masuk kubur. Jika kemudian di jaman sekarang pemandangan itu seperti lumrah dijumpai, maka itu pasti bukan salah ilmunya melainkan pelaku jamannya. Kalau jamannya sih baik-baik saja, sekedar pergantian waktu dari malam ke siang, hari ke bulan, tahun ke abad, dst. Tapi justru pelakunya ini yang susah diatur karena memiliki nafsu dan akal yang keduanya sering uncontrollable.

Sambil berkendaraan santai, sambil saya bercerita menunjukkan café-café yang kalau malam banyak dikunjungi anak-anak perempuan muda, entah pelajar, entah mahasiswa, entah pekerja, entah yang merangkap semuanya. Termasuk hotel yang menerapkan tarif spesial short time sehingga banyak dikeluar-masuki tamu. Termasuk tempat-tempat makan yang enak. Lho, kok bapaknya malah tahu? Lha itulah repotnya, untuk bisa memberitahu memang harus tahu duluan (dasar!).

Tapi inti sebenarnya dari obrolan bapak dan anak perempuan itu adalah memberi sebuah pemahaman (bukan nasehat, sebab anak sekarang suka apatis kalau mendengar istilah nasehat apalagi dari orang tuanya). Pemahaman bahwa bukanlah hal yang baik dan benar kalau ada anak perempuan malam-malam suka keluyuran dan nongkrong di café, kalau bukan karena ada urusan yang mendesak (tapi celakanya sekarang ini segala urusan itu kok ya kelihatannya mendesak semua, atau terkadang didesak-desakkan).

Bukan tidak boleh (takut juga bapaknya kalau dibilang suka ngatur), sesekali okelah oleh karena ada alasan yang dapat diterima oleh pertimbangan akalnya sendiri (tidak dibutuhkan akal orang lain untuk mempertimbangkannya). Maka itulah pentingnya mendidik dan memberi makan yang sehat bagi akalnya sendiri, agar tidak bergantung kepada akal orang lain. Namun kalau nongkrong di café itu menjadi kebiasaan…., ya bukan salah juga. Hanya ya itu tadi, digaransi bahwa mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya.

Lagian ya ngapain saya nongkrong di café”, komentar anak perempuanku ini membuat hati saya mak plong….. Saya percaya dengan kejujurannya (kalau tidak percaya ya jangan jadi bapaknya).

Ngiras-ngirus (sekalian) saya bercerita kepada anakku bahwa terkadang bapaknya juga nongkrong sampai malam di café, untuk tujuan ketemu klien atau partner kerja, melakukan lobby, meeting dan terkadang juga berjudul hang out. Sebab profesi bapaknya memang menuntut untuk banyak ketemu orang. Tapi saya memastikan kepada anakku bahwa dari rumah tujuannya mesti benar dan lurus dulu, sebab di luaran sana banyak fasilitas untuk miring-miring, bahkan terkadang dapat diperoleh dengan gratis.

Akhirnya anak perempuanku tertawa ngakak ketika saya bilang : “Tapi ibu tidak tahu kalau bapak pergi ke café. Bapak bukannya berbohong sama ibu, melainkan hanya tidak mengatakan yang sebenarnya…..”, dan anakku pun terus tertawa. Saya tidak tahu tertawa ngakaknya anakku ini karena menganggap cerita bapaknya ini lucu, atau malah melecehkan bapaknya, atau jangan-jangan senang karena punya bapak ‘enggak seberapa gila’. Sebab ibunya anak perempuanku ini lebih konservatif lagi dibanding bapaknya, sehingga rentan terhadap kemungkinan salah paham. Biar tidak sulit menjelaskannya (kelamaan diskusi sebelum berangkat malah akhirnya tidak jadi pergi), mendingan tidak mengatakan yang sebenarnya tanpa harus berbohong.

Dunia ini memang butuh orang-orang yang konservatif. Dunia menjadi indah justru karena ada orang-orang yang konservatif cara berpikirnya, juga negara dan keluarga, agar perilaku kehidupan ini sak madyo (sedang-sedang saja), proporsional, sewajarnya dan tidak kebablasan seperti para penguasa otonomi daerah.

Yogyakarta, 23 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Wisata Agro Kebun Kopi Banaran

19 Mei 2008

Wisata Agro Banaran

Kawasan perbukitan di seputaran Banaran Cafe yang bersuasana menyegarkan di pinggir jalan raya Bawen – Salatiga, Jateng. Kampoeng Kopi Banaran yang berada di tepi areal perkebunan kopi PTP Nusantara IX yang kini dikembangkan sebagai kawasan wisata agro, bisa menjadi alternatif tempat beristirahat bagi pengendara di jalur Semarang – Solo maupun Semarang – Yogyakarta.

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(4).   Berjalan Kaki Menyusuri Kota Paris  

Setelah kebablasan lebih satu kilometer ke arah timur, kami lalu berbalik arah menuju barat. Hari Sabtu, 14 Juli 2001, waktu sudah menunjukkan lebih jam 3:00 siang, saat kami kembali berjalan menyusuri jalan Boulevard Poissonniere dan Montmartre yang merupakan sambungan dari jalan Boulevard Haussmann.

Kami lalu berjalan melewati jalan pintas yang menuju ke lapangan Place Vendome melewati simpang tujuh di lapangan Place de l’Opera yang berada tepat di depan gedung opera yang tampak sebagai sebuah bangunan tinggi dan kokoh berarsitektur kuno. Bangunan-bangunan kuno sejenis ini sangat banyak dijumpai di Paris dan umumnya masih berfungsi dan tampak terawat dengan baik.

Ketika berada di tengah-tengah simpang tujuh ini, terasa sekali akan kepadatan lalu lintas kota Paris. Tak beda dengan kepadatan persimpangan jalan di Jakarta. Saya cenderung mengatakan bahwa perlalulintasan di Paris ini agak semrawut jika mengingat Paris sebagai salah satu kota metropolitan di sebuah negara maju. Jauh sekali berbeda dengan sistem perlalulintasan di Amerika yang serba sangat teratur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dari para pemakai jalan.

Tak ubahnya berada di jalanan kota besar negara berkembang, itulah kesan yang saya rasakan. Maka tidak heran kalau di buku-buku panduan wisata selalu diingatkan agar sedapat mungkin menghindari mengendarai kendaraan sendiri di Paris jika belum familiar dengan sistem perlalulintasan di kota ini. Selain karena kepadatannya, juga umumnya jalan-jalan di Paris adalah sempit, satu arah, banyak persimpangan dengan penempatan nama jalan yang tidak mudah dikenali dari jauh, lalu lintas yang berjalan cepat, serta sangat terbatasnya tempat parkir.

Oleh karena itu bisa dipahami kalau di Paris banyak dijumpai mobil-mobil berukuran kecil. Seukuran sedan compact atau yang lebih kecil seperti mobilnya Mr. Bean. Banyak juga dijumpai mobil Renault yang berukuran kecil dan pendek, atau mobil-mobil setipe dengan itu. Berbeda dengan di Amerika yang umumnya orang lebih menyukai mobil-mobil berukuran besar.

***

Setelah berjalan agak ke selatan dari Place de l’Opera, kemudian kami tiba di lapangan Place Vendome. Ini adalah sebuah pelataran luas yang di tengahnya terdapat sebuah tugu tinggi yang di atasnya terpasang patung Napoleon. Pelataran ini dikelilingi oleh dua buah bangunanan kuno bertingkat bergaya Romawi, yang masing-masing berbentuk setengah lingkaran yang dipenuhi oleh sangat banyak pintu dan jendela besar di sepanjang mukanya. Bangunan kuno ini terbelah menjadi dua oleh jalan yang melintas di tengahnya. Beberapa patung berukuran lebih kecil tersebar di seluas pelataran. Burung-burung pun leluasa hinggap di mana-mana.

Keluar dari dari lapangan Place Vendome kami belok ke arah barat masuk menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore. Kemudian kami tiba di sebuah gereja tua yang di depannya tampak berdiri tiang-tiang besar dan tinggi khas bangunan kuno bergaya Romawi. Ini adalah gereja Madelaine yang memang masih berfungsi sebagai tempat peribadatan. Kawasan ini disebut dengan Place de la Madeleine.

Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di teras gereja ini dan sempat pula masuk ke dalamnya. Memandang ke arah selatan dari teras gereja yang letaknya cukup tinggi ini tampak membentang lurus jalan Rue Royale dengan latar belakang Place de la Concorde di kejauhan.

Dari gereja Madeleine, perjalanan dilanjutkan masih dengan berjalan kaki menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore ke arah barat. Jalan ini sebenarnya hanya sebuah jalan kecil satu arah dengan sisi kanan dan kirinya termakan sebagai tempat parkir berdesak-desakan. Namun jalan ini terkenal di kalangan para wisatawan karena di sepanjang jalan ini banyak dijumpai pertokoan tempat dimana produk-produk bermerek beken membuka bisnisnya.

Sebut saja mulai dari Pierre Cardin, Gucci, Lancome, Saint-Laurent, Courreges, Laroche, Christian Dior, Hermes, Dupont, Burton, dsb. Bagi mereka yang fanatik dengan produk merek-merek tertentu, maka di jalan inilah tempat yang paling tepat untuk membelanjakan uangnya dan membeli mereknya.

Bahkan jika hanya ingin sekedar untuk melihat-lihat tanpa berniat membeli, maka di sini jugalah tempat yang pas buat melampiaskan kekaguman. Kagum karena harga yang luar biasa, menurut ukuran kebanyakan dari kita. Agak berbeda dengan di Galeries Lafayette dimana produk-produk merek terkenal itu berada di satu lokasi pertokoan, sedangkan di jalan ini masing-masing menyebar di lokasi berbeda-beda di tokonya masing-masing.

***

Sebelum tiba di ujung jalan Rue du Faubourg St. Honore, kami berbelok ke selatan masuk ke jalan raya Avenue des Champs Elysees. Keramaian yang luar biasa ada di penggal barat jalan ini hingga ke plengkung tugu Arc de Triomphe Etoile. Agaknya ini memang salah satu tempat tujuan wisata.

Di kedua sisi utara dan selatan jalan ini sangat ramai pengunjung, baik oleh mereka yang berbelanja, nonton bioskop, atau para pejalan kaki lainnya. Juga mereka yang menikmati makan dan minum di café-café di emperan jalan yang memang banyak menebar di sepanjang jalan ini atau mereka yang sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat seperti halnya rombongan keluarga kami. Namun kami sempat mampir di warung makan Quick, yaitu sejenis warung makan cepat saji seperti Mc Donald’s atau Subway di Amerika.  

Akhirnya kami tiba di tugu plengkung Arc de Triomphe Etoile. Ini adalah sebuah bangunan tugu tepat di pusat pertigabelasan jalan, karena paling tidak ada 13 jalan yang berujung di jalan yang melingkari tugu ini. Tugu plengkung ini mirip-mirip plengkung Washington di New York atau plengkung Gading di Yogya. Bedanya adalah tugu ini berukuran lebih besar, tinggi dan tampak kokoh dan artistik, serta ada sarana untuk naik menuju ke bagian atasnya. Plengkung ini sering dimunculkan di kalender dan kartu pos, dan menjadi salah satu simbol kebanggaan kota Paris setelah menara Eiffel. 

Di dekat pertigabelasan jalan ini pun kami sempatkan untuk kembali berhenti beristirahat sejenak. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20:30, namun matahari masih menampakkan berkas sinarnya di ujung barat menerobos di sela bangunan plengkung Arc de Triomphe Etoile. Kalau saya lihat-lihat di peta, sejak siang tadi kami sudah berjalan kaki menyusuri kota Paris sejauh lebih dari 6 km. Dan acara jalan kaki masih akan dilanjutkan.-

Yusuf Iskandar