Posts Tagged ‘bunga’

Bunga Di Depan Rumahku

14 Agustus 2010

Bunga di depan rumahku, tapi tidak tahu namanya…
(Foto diambil dengan kamera HP dan hasilnya kurang tajam)

Iklan

Kawasan Hutan Kota Di Seputar Berau

27 November 2008

897_0734_r

Kawasan hutan kota di seputaran kota Tanjung Redeb, ibukota Berau, Kaltim, kini nampak lebih memperoleh perhatian dari pemerintah. Setidak-tidaknya, kesan itu saya peroleh ketika saya lihat sudah dipasang papan tulisan yang masih nampak baru. Setahun yang lalu papan tulisan itu belum ada. 

Selama perjalanan saya ke Berau pada tanggl 18 s/d 21 Nopember 2008 yll. saya sempat berhenti dan melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan propinsi yang menuju ke arah barat daya dari kota Tanjung Redep.

pepohonan dan semak-belukar 
menghijau di sepanjang jalan melintas perbukitan
bunga-bunga liar
mewarnai tepian jalan
adalah kekayaan bentang alam 
seringkali mempesonakan
hingga terlewat untuk diabadikan

Yogyakarta, 26 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

897_0731_r

897_0733_r1

897_0738_r1

897_0739_r

897_0740_r

897_0745_r

Bunga-bunga di Perian

31 Mei 2008

 

Perian_Embun Pagi

Setetes embun pagi di Perian

Perian_Bunga Ungu

Setangkai bunga ungu

Perian_Bunga Kuning2

Setangkai bunga kuning

Perian_Bunga Kuning1

Bunga kuning mekar pada tanaman yang merambat di atas tanah 

Perian_Bunga Kuning2

Bunga kuning di antara kuncup yang belum mekar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang

Hari ini hari terakhir di pulau Bintan. Siangnya kami akan menyeberang kembali ke Batam. Sesuai rencana yang telah kami bicarakan malam sebelumnya, baik ketika di “Potong Lembu” maupun di “Sunset Café”, pagi hari kami akan menemui seseorang dan melihat-lihat rencana tempat dan peralatan laboratorium untuk menganalisis mineral bauksit.

Sarapan pagi tentu tidak lupa. Meskipun saya termasuk orang yang tidak biasa sarapan, melainkan cukup hanya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Di tempat baru ini kebiasaan itu perlu disesuaikan agar tidak kehilangan momen-momen beda dan khas yang ada. Mata tertuju pada kedai di bilangan Batu 10 kawasan Bintan Center, yang memasang tulisan mie lendir. Baru membaca tulisannya saja asosiasi saya sudah macam-macam. Ini mie campur lendir, atau mie berlendir, atau lendir yang dicampurkan ke dalam mie?

Pokoknya dicoba dulu. Perkara nanti tidak enak ya tidak usah dimakan. Untuk menyiasatinya, saya biarkan seorang teman memesannya dulu, saya menyusul pesan kemudian. Ketika saya lihat mie lendir pesanan teman itu kok kelihatannya cukup merangsang lidah, barulah saya memesan satu porsi tambahan. Rupanya memang sejenis mie ayam, tapi kuahnya seperti bumbu sate sambal kacang. Entah benar entah tidak, pokoknya uenak, dan bikin perut mak sek (langsung kenyang) di waktu pagi. Kalaupun deskripsi saya tentang mie lendir ini salah, toh saya tidak kepingin memasaknya sendiri di rumah.

***

Kami kembali menuju kota Kijang karena ada rencana untuk bertemu dengan seseorang. Bolak-balik Tanjung Pinang – Kijang adalah rute yang biasa, karena jaraknya memang tidak terlampau jauh, relatif tidak padat lalu lintasnya dan jalan aspalnya terbilang mulus. Seperti halnya kota-kota lain yang seakan berlomba menonjolkan motto kotanya, Kijangpun memiliki semboyan sendiri, yaitu Kijang “Berseri”. Saya tidak tahu persis apa kepanjangan dari kata “Berseri” ini. Tapi saya tebak pastilah tidak jauh-jauh dari maksud  bersih, sehat, rapi, indah, dan kata-kata lain yang  semacamnya. 

Namun seorang tokoh Lembaga Adat Melayu berseloroh sambil berplesetan masygul, katanya “Berseri” itu kepanjangan dari “berserak sehari-hari”. Maklum tokoh yang cukup disegani ini hatinya gundah wal-gulana melihat kota Kijang sekarang semakin kurang bersih akibat sampah. Warga dan pemerintahnya seolah-olah kurang perduli dengan masalah kebersihan kotanya. Tentunya ini rasa keprihatinan yang bagus. Karena menurut saya, sekotor-kotornya Kijang yang saya lihat, masih terbilang lebih bersih dibandingkan yang terjadi di kota-kota lain di Jawa.

Hal yang paling menarik dari kota ini adalah tumbuhnya satu-satunya pohon bunga sakura di tengah kota. Tidak ada orang yang tahu persis asal bin muasal tanaman khas Jepang ini kenapa dan bagaimana bisa tumbuh di Kijang yang hingga kini tetap bertahan tumbuh kokoh mencapai lebih 10 meter tingginya. Barangkali dulunya tanaman ini dibawa oleh seorang pendatang dari Jepang, waktu jaman penjajahan dulu. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu persis kisahnya.

Ketika di negara asalnya Jepang tiba musim bunga dan sakura bermekaran, maka pohon bunga sakura yang di Kijang pun turut berbunga, dengan dominasi warna putih menyelimuti pohon, seolah-olah satu pohon bunga semua tanpa daun. Ini katanya lho….., wong saya juga belum pernah melihatnya dan saat ini juga tidak sedang musim berbunga. Saya percaya karena foto yang ada di kalender menunjukkan penampakan yang seperti itu. 

Seorang teman yang asli penduduk Kijang bercerita, sudah banyak orang yang mencoba menyangkok atau menyetek untuk memperbanyak tanaman ini, namun selama itu pula tidak ada satu pun orang yang berhasil mengembang-biakkannya. Jadilah hingga sekarang, pokok bunga itu menjadi satu-satunya tanaman bunga sakura yang ada di Kijang, bahkan mungkin di Indonesia. Siapa tahu suatu saat nanti pemerintah setempat menghubungi Jaya Suprana karena mau ikut-ikutan latah mendaftarkan tanaman sakura ini ke MURI.

Ini bagian menariknya, agaknya lokasi di bawah pohon bunga sakura ini cocok untuk medan uka-uka. Pasalnya menurut penuturan orang Kijang, di lokasi itu suka muncul kenampakan seorang wanita. Kawasan sekitar tumbuhnya pohon bunga sakura yang berada di sudut Jalan Tenggiri dekat dengan kolam kota ini memang bukan kawasan pemukiman. Maka kalau malam ya terkesan sepi dan gelap. Bumbu-bumbu penyedap cerita semacam inilah yang semakin membuat satu-satunya pohon bunga sakura di kota Kijang ini semakin menarik untuk dinanti-nanti saat akan datangnya musim sakura berbunga.

Ada bunga sakura di Kijang, ada aset yang potensial untuk “dijual” kepada wisatawan, kalau saja sempat terpikirkan…..

Tanjung Pinang, Kepri – 13 April 2006
Yusuf Iskandar