Posts Tagged ‘bugis’

Jalur Seribu Menara

28 November 2010

Ada buanyak masjid di sepanjang lintasan jalur pantai barat Sulsel, pada jarak yang relatif tidak saling berjauhan. Hampir setiap masjid memiliki menara tinggi. Masjidnya boleh jelek, walau umumnya bagus, tapi menaranya pasti terlihat wah bin megah. Agaknya menara adalah lambang kebanggaan bagi umumnya masyarakat Bugis. Maka…, kalau di Kalsel ada sebutan jalur seribu masjid, di Sulsel inilah jalur seribu menara…

Parepare, 26 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar