Posts Tagged ‘breckenridge’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(9).   Melewati Empat Puncak Bersalju

Rabu, 26 April 2000, baru sekitar jam 9:00 pagi saya meninggalkan kota Durango terus melaju ke utara. Hari masih belum terlalu panas dan udara cukup dingin. Tujuan saya hari itu adalah mencapai kota kecil Breckenridge, di sebelah barat Denver. Jarak yang harus saya tempuh sekitar 313 mil (sekitar 500 km). Rute ini melalui jalan yang berkelok-kelok serta mendaki dan menuruni gunung. Praktis saya harus lebih mengontrol kecepatan, mengingat di beberapa bagian jalan harus melewati kondisi jalan yang agak sempit di lereng-lereng gunung dan tanpa pagar pengaman.

Keputusan saya untuk merubah rute saat di Flagstaff ternyata tidak salah. Sekalipun saya tidak bisa melaju cepat, jalan pegunungan yang saya lalui memberikan pemandangan alam yang sangat indah, setidak-tidaknya belum penah saya saksikan langsung kecuali di foto dan film. Memang benar, lebih bersuasana Amerika. Hampir setengah perjalanan saya lalui melalui puncak-puncak gunung yang waktu itu masih bersalju. Sehingga kami benar-benar menikmati pemandangan yang didominasi oleh hutan pinus di seluas hamparan salju di kiri-kanan jalan.

Belum satu jam meninggalkan kota Durango, saya sudah mencapai puncak pass Coalbank Pass yang berelevasi 3.243 m. Tiba di sini anak-anak saya mengajak berhenti. Tentu saja ini adalah pemandangan dan suasana alam khas Amerika yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Di New Orleans di mana kami tinggal yang letak geografisnya berada di sisi selatan Amerika dan masih termasuk di daerah beriklim subtropis, sekalipun musim dingin salju nyaris tidak pernah datang. Karena itu anak-anak langsung saja berlari menuju ke hamparan salju, benda yang selama ini hanya dikenal secara abstrak. Saya biarkan mereka bermain dan berlari, sementara waktu masih pagi.

Perjalanan lalu menuruni puncak dan tiba di kota kecil Silverton. Silverton adalah bekas kota tambang yang berada di kaki gunung-gunung tinggi yang mengelilinginya. Sehingga memandang ke arah manapun sepertinya hanya gunung yang terlihat. Kota ini terletak di ketinggian sekitar 2.753 m di atas permukaan laut dan hanya dihuni oleh sekitar 700 orang. Sepi, tenang, dingin dan bersih, itulah kesan saya saat mampir di kota ini.      

Sebenarnya ada obyek wisata menarik di kota ini yang disebut Old Hundred Gold Mine. Menurut informasi, dengan berwisata ke bekas tambang emas ini pengunjung akan masuk ke tambang bawah tanah menggunakan kereta tambang elektrik, menuruni sumuran tambang (shaft) serta terowongan-terowongan tambang (tunnel), selain dipamerkan juga tentang berbagai informasi geologi, sejarah serta peralatan dan metode-metode penambangan dari jaman dulu hingga yang modern.

Sayangnya wisata tambang ini hanya dibuka antara bulan Mei hingga Oktober yaitu saat musim Semi dan Panas, sehingga saat kami di sana wisata tambang belum dibuka. Di luar bulan-bulan itu lokasi tambang itu masih banyak terganggu salju dan sangat dingin.

Sempat terpikir oleh saya, di lokasi yang terpencil jauh dari mana-mana seperti itu lalu siapa yang akan berkunjung ke sana? Jangankan membayar tiket masuk yang US$ 12.95, gratis pun rasanya jarang yang akan mengunjunginya. Ternyata dugaan saya salah, kabarnya lokasi itu di musim panas cukup menjadi pilihan wisatawan untuk dikunjungi. Karena tempat ini sangat cocok buat tempat peristirahatan yang selain obyek wisata tambang juga banyak pilihan wisata gunung. Lagi-lagi, ya seperti yang saya singgung sebelumnya, bukan sekedar masuk terowongan dan melihat bekas tambang yang akan mereka peroleh di sana. Melainkan banyak informasi dan pengetahuan baru yang dikemas sedemikian rupa menjadi paket wisata.

Sekitar setengah jam perjalanan mendaki dari kota Silverton, saya sudah mencapai puncak yang kedua Red Mountain Pass yang berelevasi 3.358 m. Mirip dengan puncak yang saya lewati sebelumnya, hamparan salju berada di sekeliling jalan yang saya lalui dengan hutan pinus berada di beberapa bagiannya. Begitu sampai di lokasi yang agak lebar, kamipun berhenti. Lalu anak-anak kembali melampiaskan ke-gumun-annya (rasa kagumnya) dapat berada di tempat yang dimana-mana terhampar salju. Sungguh beruntung mereka, mengalami masa kecil yang teman-teman sebaya di kampungnya di Jawa sana belum tentu akan bisa mengalaminya.

Kami memang beruntung saat itu, karena rute itu biasanya ditutup untuk lalu lintas umum jika musim dingin tiba karena sangat berbahaya akibat tertutup salju. Saat itu ternyata sudah dibuka karena sudah bisa dilalui kendaraan, meskipun lalu lintas masih tergolong sangat sepi.

***

Perjalanan kemudian kembali menuruni gunung, lalu melalui jalan yang relatif mendatar dan melewati beberapa kota kecil. Setelah itu saya sempat mampir ke Black Canyon of the Gunnison National Park. Bentang alam berupa jurang atau ngarai yang cukup curam, meskipun tidak sebesar Grand Canyon. Ini adalah gugusan batuan dasar tertua yang terpotong oleh sungai sedalam sekitar 335 m, membentang sepanjang 19 km, dengan lebar bagian atasnya sekitar 430 m dan bagian bawahnya tepat di sungai sekitar 12 m. Sesuai namanya, Black Canyon, karena komposisi batuannya didominasi oleh batuan schist, granit dan batuan-batuan Precambrium lainnya yang berwarna kehitam-hitaman.

Dari tempat ini saya melanjutkan perjalanan ke arah timur menyusuri pinggir danau Blue Mesa yang membentang sepanjang 36 km. Di pinggir danau ini saya sempat beristirahat sebentar sambil memperhatikan orang-orang yang sedang memancing dengan pemandangan latar belakang tampak gunung bersalju yang berwarna putih menyilaukan.

Sebelum mencapai perempatan di kota kecil Poncha Springs yang selanjutnya saya akan berbelok ke arah utara, saya melalui puncak pass yang ketiga, yaitu Monarch Pass yang berelevasi sekitar 3.448 m. Meskipun ini puncak tertinggi diantara 3 puncak yang sudah saya lalui, ternyata di sini tidak seluruh areanya tertutupi salju. Saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi di puncak ini masih bisa dijumpai bagian-bagian tanah yang terbuka. Sehingga pemandangan menjadi tampak seperti biasa.

Saya hanya menduga-duga, barangkali karena di daerah ini sudah banyak dilalui orang yang melakukan kegiatan sehingga relatif lebih panas suhu udaranya. Lalu lintas di rute ini memang relatif lebih ramai. Berbeda dengan kedua puncak sebelumnya yang masih sangat sepi dilalui kendaraan.

Perjalanan selanjutnya menuju Breckenridge melalui jalan mendatar yang agak membosankan, hingga akhirnya mencapai puncak pass keempat sesaat menjelang tiba di Breckenridge, yaitu Hoosier Pass yang berelevasi 3.518 m. Seperti halnya puncak ketiga yang saya lewati, di puncak keempat ini juga tidak seluruh areanya tertutup salju. Memang daerah ini termasuk daerah sibuk, karena di sekitar sinilah banyak dikembangkan ski resort, sehingga rute jalan yang melalui area ini cukup padat dibandingkan dengan rute-rute sebelumnya yang saya lalui.

Tidak jauh setelah menuruni puncak keempat ini saya tiba di kota kecil Breckenridge, sekitar jam 6:00 sore. Breckenridge adalah kota kecil yang dikembangkan menjadi ski resort dan menjadi salah satu tujuan bagi orang-orang yang akan berolahraga di es. Kota ini terletak di ketinggian sekitar 2.906 m di atas permukaan air laut, berpenduduk hanya sekitar 1.300 jiwa dan berlokasi pada 87 mil (sekitar 140 km) di sebelah barat kota Denver. Di kota inilah kami merencanakan untuk tinggal selama 3 malam.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(10).   Di Breckenridge Kami Berski

Kamis, 27 April 2000, sekitar jam 9:30 pagi kami baru keluar dari hotel. Hari ini agak santai. Rencana hari ini adalah bermain ski atau sebenarnya lebih tepat dikatakan belajar bermain ski, karena memang belum pernah melakukannya. Cara terbaik untuk itu adalah dengan mengambil paket belajar ski, karena nantinya akan dibimbing oleh instruktur berpengalaman.

Kebetulan hotel kami menginap di jalan Village Road, berada persis di seberang arena ski, sehingga cukup berjalan kaki sejauh 50 m untuk mencapainya. Sungguh beruntung saya hari itu, karena ternyata saat itu adalah minggu terakhir musim berolah raga es. Minggu depannya lokasi itu akan ditutup untuk umum, menunggu hingga musim semi dan panas berlalu.

Segera saja saya dan anak saya yang perempuan mendaftar untuk ikut belajar bermain ski. Ada kelompok berbeda untuk dewasa dan anak-anak. Semua itu harus dibiayai dengan cukup mahal. Untuk keperluan membayar paket belajardan sewa peralatan (sepatu, tongkat dan celana anti air) saya harus mengeluarkan uang hampir US$ 300 untuk dua orang untuk satu hari. Belum lagi saya mesti membeli kacamata pelindung sebagai perlengkapan tambahan. Ternyata berski memang olah raga yang cukup mahal, itu karena kami belum bisa sehingga harus membayar pelatih.

Dari pagi hingga sore saya diajari cara berski sambil sekaligus bermain. Naik tram (semacam kereta gantung) ke tempat tinggi, lalu meluncur ke bawah, dan demikian seterusnya. Di sana ada beberapa stasiun tram yang masing-masing menuju lokasi atau puncak berbeda. Untuk pertama kali ternyata tidak mudah. Beberapa kali saya jatuh terguling karena tidak bisa mengendalikan sepatu ski yang meluncur susah dikendalikan, ya karena belum menguasai tekniknya.

Benar-benar olah raga yang menguras tenaga, setidak-tidaknya bagi seorang pemula seperti saya. Barangkali karena saya kurang persiapan dengan latihan fisik sebelumnya. Mengemudi lima hari berturut-turut dengan rata-rata waktu tempuh 10 jam perhari rasanya biasa-biasa saja, tapi bermain ski lima jam saja badan sudah terasa enggak karuan.

Anak saya ternyata sangat menikmatinya. Memang mengasyikkan. Selain mereka belajar ski, mereka memperoleh banyak teman-teman baru seusianya. Setelah sehari berski, anak saya belum puas, minta agar besok berski lagi. Wah, sambil tertawa saya bilang ke anak saya : “Bapak sih mau-mau saja, tapi kantongnya yang enggak mau”. Mulanya ya agak mutung (ngambek), tapi lama-lama bisa mengerti juga. Toh yang penting kami sudah pernah merasakan bermain ski di salju, meskipun bisa jadi hanya untuk sekali seumur hidup.

Ya…., paling tidak kalau kelak saya pulang ke kampung di Jawa sana, saya bisa berceritera kepada para tetangga bahwa sewaktu di Amerika saya pernah bermain ski meluncur di pegunungan salju. Mudah-mudahan tidak ada yang tanya : “Pernah jatuh terguling berapa kali?”.

***

Selain olah raga ski, di resort ini juga banyak yang berolah raga snow boarding dan snow mobiling. Sementara saya dan anak saya yang besar belajar ski, anak saya yang kecil hanya bermain-main salju, membuat snow ball, membentuk bangunan-bangunan dari salju lalu ditendangnya, dibentuk lagi, berlari-lari, dst. sambil diawasi ibunya dari pinggir area yang tidak bersalju.

Lagi-lagi saya bersyukur, beruntung sekali anak-anak kampung itu, sempat diantarkan orang tuanya memperoleh dan merasakan pengalaman berbeda di negeri orang, yang belum tentu teman-teman sebayanya di kampung sana akan pernah mengalaminya. Tentu dengan harapan agar kelak mereka akan tahu, bahwa hanya dengan belajar dan bekerja keraslah yang pada suatu saat nanti akan bisa membawa mereka kembali ke Breckenridge untuk mengenang sepenggal pengalaman masa kecilnya. Sebuah harapan (dan doa) bagi orang tua manapun juga.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(11).   Ketemu Penggemar Nagasasra Di Golden

Sore hari setelah sejenak melepas lelah sehabis berski, tiba-tiba saya ingat rencana saya untuk menilpun seorang teman di Golden, sebuah kota kecil di sisi barat Denver. Ya, disana ada Mas Bob Adibrata dan Mas Ricky Wibowo (keduanya alumni Geologi) yang sedang menyelesaikan program S3 di Colorado School of Mines. Tanpa pikir panjang, langsung saya hubungi Mas Bob dan lalu janjian bahwa malam itu saya bersama keluarga akan berkunjung ke rumahnya di kompleks perumahan kampus.

Jarak dari Breckenridge menuju Golden 65 mil (sekitar 104 km) saya tempuh sekitar satu setengah jam. Tidak terlalu jauh untuk sebuah perjalanan silaturrahmi di malam hari. Akhirnya, saya pun ketemu dengan Mas Bob yang penggemar berat serial “Naga Sasra dan Sabuk Inten” karya SH Mintardja ini. Rupanya bukan hanya Mas Bob, juga istrinya, Mbak Dinuk (alumnus Geologi juga) ketularan suka uring-uringan kalau mas Bob-nya terlambat nge-print serial monumental-nya SH Mintardja itu. Bagi saya malam itu adalah untuk kedua kalinya mengunjungi “keluarga Naga Sasra” di Golden, kunjungan pertama saya adalah pada bulan Agustus tahun lalu.

Malam itu juga kami sempat ketemu Mas Ricky Wibowo yang tinggal di kompleks perumahan kampus yang sama. Agak larut malam kami baru kembali ke Breckenridge, setelah membuat rencana untuk rekreasi bersama esok harinya.

***

Jum’at, 28 April 2000, menjelang jam 11:00 siang kami baru berangkat lagi menuju Golden. Bangun tidur pagi itu badan terasa sakit semua, masih mlanjer (Embuh… apa bahasa Indonesianya yang pas, kira-kira berarti terasa kaku dan pegal, akibat kemarin energi terkuras untuk belajar bermain ski). Jam 12:00 siang lebih sedikit kami tiba di Golden. Saya sempat sholat Jum’at di sebuah masjid kecil (yang sebenarnya dari luar tidak tampak sebagai bangunan masjid), saat waktu Dhuhur sudah tiba.

Keluarga Mas Bob siang itu menjadi guide bagi kami. Ada tiga obyek kunjungan di sekitar kota Golden yang menjadi tujuan kami siang itu. Pertama, menuju Buffalo Bill Memorial Museum and Grave. Bukan kuburan dan museum yang menarik untuk mendatangi tempat ini (meskipun di baliknya ada kisah perjuangan yang menarik dari William F. Cody, sang Buffalo Bill), melainkan karena tempat ini berada di puncak taman Lookout Mountain. Dari taman di puncak bukit ini bisa melihat jelas kota Golden yang membentang tepat di bawahnya, juga di kejauhan tampak kota metropolitan Denver.

Kedua, menuju ke Dinosaur Ridge. Di dinding bukit di tepian jalan dijumpai temuan geologi yang dikenal sebagai bekas jejak dan tulang dinosaurus, berbagai fosil tanaman dan binatang, formasi-formasi batuan dari jaman Jurassic dan Cretasius. Tentu telah melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya ditemukan di dinding batuan di tempat yang berelevasi lebih 1.757 m di atas permukaan laut. Mas Bob sangat fasih untuk menjelaskan peristiwa alam ini (nanti ketika saya tiba di dekat kota Jensen, Utah, saya menjumpai tulang-tulang dinosaurus dari hasil temuan paleontologi).

Ketiga, menuju ke Red Rocks Park. Ini adalah tempat dijumpainya formasi batupasir yang membentuk bukit-bukit, yang terjadi lebih satu juta tahun yang lalu. Warnanya yang kemerah-merahan berasal dari variasi kandungan besi oksida. Di salah satu bentuk dari gunungan batupasir itu kini telah dibangun menjadi sebuah amphitheater alam, yaitu sebuah panggung pertunjukan yang dikelilingi dinding batuan ala Yunani kuno, yang mampu menampung 10.000 penonton. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan konser-konser musik.

Baik Red Rock Park maupun Dinosaur Ridge sebenarnya berlokasi di daerah Morrison, di luar Golden. Morrison adalah sebuah kota kecil yang hanya berpenghuni 500 orang. Tipikal kota-kota kecil di Amerika yang umumnya tidak padat penduduk dan itupun saling menyebar di lokasi perumahan yang saling terpisah.

***

Siang hingga sore itu keluarga Mas Bob telah menjalankan dengan sangat baik tugasnya sebagai guide bagi kami sekeluarga. Tentu kami sangat berterima kasih, dan beruntung bisa ketemu “keluarga Naga Sasra” di Golden, yang kemudian mengantarkan kami melihat berbagai tempat menarik di Golden dan sekitarnya.

Kota Golden sendiri sebenarnya hanya sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 13.000 jiwa dan terletak sekitar 1.735 m di atas permukaan laut. Menjadi terkenal karena di sana ada sekolah tambang bergengsi Colorado School of Mines. Kota ini dulu memang merupakan kota tambang. Di pertengahan abad 19, sempat menjadi ibukota wilayah teritorial Colorado, dan bersaing dengan kota Denver untuk menjadi kota terpenting di wilayah itu.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver

Sabtu, 29 April 2000, sekitar jam 10:00 pagi kami meninggalkan Breckenridge menuju Denver, dan saya rencanakan sore itu akan mencapai kota Rock Springs di sisi barat daya negara bagian Wyoming. Jarak yang akan saya tempuh hari itu 456 mil (sekitar 730 km), saya berharap sebelum malam sudah tiba di Rock Springs.

Tiba di Denver, sebuah kota metropolitan yang berpenduduk kurang dari 500.000 jiwa, saya menyempatkan untuk singgah sebentar di sebuah jalan yang terkenal dengan nama 16th Street Mall. Ini adalah sebuah jalan di pusat kota Denver yang kini dirancang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki (pedestrian) dan tertutup bagi lalu lintas umum. Di sepanjang Jalan 16 ini memang bisa dijumpai pertokoan dan mal yang menawarkan bermacam-macam barang dan kebutuhan, termasuk restoran, butik dan galeri seni.

Guna memanjakan para pengunjung pejalan kaki yang datang ke Jalan 16 ini, Pemda Denver menyediakan sarana shuttle bus bagi mereka yang ingin wira-wiri (mondar-mandir) dari ujung jalan satu ke ujung jalan lainnya, setiap saat dengan tanpa dipungut bayaran. Saya tidak tahu dari jam berapa hingga jam berapa bis ini beroperasi, yang jelas pernah suatu ketika jam 11 malam saya melihat bis tersebut masih jalan, dan masih ada saja penumpang yang wira-wiri.

Di bagian tengah jalan ini tersedia tempat duduk bagi mereka yang ingin sekedar istirahat atau bersantai. Saya melihat ada banyak muda-mudi dan juga kakek-nenek yang sedang duduk-duduk di sana. Agaknya memang menjadi tempat yang pas untuk mereka atau siapa saja menghabiskan waktu, atau barangkali kecapekan setelah keluar-masuk pertokoan sepanjang 1,5 km itu.

Beberapa restoran atau café membuka fasilitas tempat duduknya di luar bangunan utamanya, atau di emperan. Layaknya pedagang kaki lima, tetapi tetap terkesan tertib, santun dan enak dipandang serta tidak mengganggu pejalan kaki lainnya.

Yang membuat siapapun merasa tenang dan aman berada di tempat ini adalah karena selalu ada Pak Polisi yang berpatroli di sepanjang jalan, baik dengan mobil maupun sepeda seperti di film “Pacific Blue” (cuma saya lihat kok enggak ada polisi cantiknya?).-

***

Ini adalah kali ketiga bagi saya menyusuri sepanjang Jalan 16 Denver. Sebelumnya pada bulan Mei dan Agustus 1999 yang lalu saya sempat ke jalan ini. Saat itu malam hari, dan udara sedang sangat-sangat dingin.

Mengajak keluarga menyusuri jalan ini memang rasanya tidak ada tujuan lain, selain sekedar ingin jalan-jalan dan melihat-lihat atau membeli cenderamata. Dan itulah yang saya lakukan siang itu, sebelum melanjutkan perjalanan sejam kemudian.

Kembali saya teringat Jalan Malioboro Yogya, saya berkhayal seandainya Pemda Yogyakarta sempat melihat Jalan 16 ini, rasanya akan ada yang bisa ditiru, paling tidak dipelajari tentang konsep management tata kotanya. Eh, siapa tahu ada yang bisa diterapkan untuk menata Jalan Malioboro agar lebih bernilai ekonomis dalam sektor pariwisata, dan mewujudkan bagi siapa-saja yang datang ke sana merasa “berhati nyaman” (sebagaimana semboyan kotanya) berada di Jalan Malioboro.

Tidak seperti sekarang, malah terkadang merasa kemrungsung (berasa tidak karuan dan tidak nyaman). Tentunya tidak perlu meniru sama persis, wong kendala sosial-budaya, struktur ekonomi dan infrastrukturnya jelas berbeda.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar