Posts Tagged ‘boeing 737-500’

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar