Posts Tagged ‘boarding’

Rejeki Di Dalam Bumi

22 Oktober 2010

Memanfaatkan waktu sempit untuk sholat dhuha dan safar di mushola bandara Adisutjipto, sebelum boarding menuju Jakarta. Terselip doa: “Ya Allah, jika rejeki itu masih ada di dalam bumi maka keluarkanlah (inka-na rizki fil-ardhi fa-akhrijhu). Semudah Engkau mengeluarkan 33 penambang yang telah Kau inapkan mereka di perut bumi selama 68 hari…

(Nyuwun sewu Gusti, saya ke Jakarta mau rembukan tentang bahan tambang yang masih ada di dalam bumi)

Yogyakarta, 14 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

VIP Lounge

21 Juni 2010

Jika sedang menunggu boarding di bandara dan ingin makan-minum sepuasnya, carilah VIP Lounge, terutama bagi pemilik kartu kredit tertentu. Jika tidak punya kartu kredit, tetap masuklah ke sana karena jatuhnya lebih murah. Biaya Rp 50.000,-/orang (terkadang ada diskon), makan-minum sepuasnya, sekalian buang hajatnya. Dibanding kalau di resto di luarnya mungkin jadi lebih mahal. Nggak nyamannya…, diuber sales kartu kredit…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Di Terminal 1 Cengkareng

3 Juli 2009

Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air sore tadi, hampir semua penerbangan berkode STD jam sekian, yang berarti… d-i-t-u-n-d-a berjamaah… Jadi kemalaman sampai rumah.

***

Kalau check-in di Terminal 1 A-B-C bandara Cengkareng, jangan percaya begitu saja pada No. Gate yang tertulis pada karcis boarding maupun layar monitor, sebab seringkali masih teka-teki….

(Beberapa kali saya kecele mengandalkan info No. Gate pada karcis boarding. Kenyataannya seringkali berubah tanpa pemberitahuan via halo-halo umum, sehingga ketika saya ngepas tiba waktu boarding baru masuk ruang tunggu ternyata ruangannya sepi karena penumpang lain sudah pindah ruangan).

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Dinaikkan Kelas Oleh Garuda

4 Mei 2008

Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adisutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu boarding saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. “Wah, ada masalah apa ini?”, begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.

Rupanya saya diberitahu bahwa kartu boarding saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan “Economy Class” ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan “Executive Class”. Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : “Boarding pass-nya diganti ya, pak”. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..

Jelas saya “tidak puas” (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya…). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : “Di-upgrade”. Lha ya sudah tahu kalau di-upgrade.

Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : “Up grade otomatis ya, mbak”.

“Iya”, jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, upgrade juga bisa…).

Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum mecungul, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.

Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.

***

Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).

Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak…), melainkan kenapa tiket saya bisa di-upgrade?

Saya memang anggota Frequent Flyer Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi member Frequent Flyer. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat…!

Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.

Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.

Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai lesson learn. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  

He…he…he…,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki…. (atau dikasihani?).

Jakarta, 2 April 2008
Yusuf Iskandar