Posts Tagged ‘block caving’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(3).   Waktu Sholat Yang Membingungkan

Tadi malam, ketika saya coba-coba on-line dari sebuah kamar di camp-site ternyata tidak berhasil, saya langsung tidur saja karena sudah suuuangat ngantuk. Lebih-lebih dihantui kekhawatiran kalau esok pagi terlambat bangun lagi. Sholat Isya’ terpaksa saya jama’ takdim (mendahulukan sebelum waktunya tiba) bersamaan waktunya saat sholat Maghrib. Saya mantapkan niat bahwa saya sedang dalam “status” sebagai musafir.

Pagi tadi jam 04:00 sudah bangun. Siap-siap, lalu sarapan pagi dan membungkus bekal untuk dibawa ke tambang. Udara pagi di seputaran camp-site yang terletak di pinggir pantai Pulau Admiralty terasa sangat dingin, lebih-lebih angin kencang yang bertiup dari arah laut. Untuk menikmati sebatang rokok seusai sarapan pagi terpaksa sambil jalan mondar-mandir ke sana-kemari, berhubung dilarang merokok di dalam ruangan.

Jam 05:00 pagi bis yang membawa karyawan berangkat menuju ke lokasi tambang. Agenda saya hari ini adalah ketemu dengan bagian Geologi untuk mengetahui lebih jauh tentang grade control dalam kaitannya dengan metode penambangan “Cut and Fill” dimana diterapkan prinsip selective mining guna mengurangi dilution atau pengotoran batuan bijih (ore) oleh batuan samping atau batuan sampah (waste).

Sekitar tiga jam hingga tengah hari saya kembali menyusuri lorong-lorong bawah tanah menyertai dua orang geologist (laki-laki dan perempuan) sambil memahami kasus-kasus di lapangan dalam kaitannya upaya mereka mengontrol aplikasi selective mining. Seperti halnya hari kemarin, saya naik traktor Kubota yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bedanya kalau kemarin berdiri seperti kernet, hari ini saya duduk di sebelah supir.

***

Salah satu tujuan saya mengunjungi tambang bawah tanah Greens Creek adalah untuk memahami bagaimana tambang ini menerapkan metode penambangan “Cut and Fill”. Sebuah modifikasi metode penambangan yang direncanakan akan diterapkan bagi salah satu potensi endapan bawah tanah Freeport yang selama ini menerapkan metode “Block Caving” untuk beberapa potensi endapan bawah tanahnya.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Kennecott Minerals (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sedangkan di Kennecott sendiri ada terdapat saham Rio Tinto, seperti halnya Rio Tinto juga punya saham di Freeport. Oleh karena itulah maka atas saran Rio Tinto pula saya mengunjungi tambang Greens Creek berkaitan dengan prospek metode penambangan “Cut and Fill” yang kira-kira akan diterapkan di salah satu potensi bawah tanah tambang Freeport.

Dengan total karyawannya sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya adalah bagian tambang, ternyata tambang ini termasuk tambang yang effisien meskipun biaya operasi per tonnya relatif tinggi. Tambang perak, seng serta emas dan timbal ini termasuk tambang skala kecil dan dapat dikatakan operasinya berjalan sederhana. Kurang sophisticated dibandingkan tambang-tambang besar lainnya. Namun operasi tambangnya sangat ditunjang dengan adanya para underground skilled miner yang dimilikinya.

Endapan bijih tambang Greens Creek pertama kali diketemukan tahun 1975. Berproduksi secara penuh baru pada tahun 1989 seusai tahap eksplorasi dan development. Tahun 1993 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam, hingga akhirnya beroperasi kembali pada tahun 1996 hingga sekarang.

Lokasinya yang cukup terpencil memang menyulitkan untuk suplai kebutuhan materialnya. Sebagian karyawan ada yang tinggal di kompleks perumahan (camp-site) yang terletak di pinggir dermaga pengapalan konsentrat dan mereka ini umumnya karyawan lajang. Sebagian lainnya yang mempunyai keluarga dan tinggal di Juneau, biasanya berangkat pagi-pagi naik kapal motor yang disewa perusahaan lalu disambung bis dan demikian pula saat pulang kerja sore hari. Cara ini berlaku sama bagi setiap karyawan baik miner maupun General Manager. Karena itu ya mohon dimaklumi, kalau saya merasa sangat “tidak enak” ketika harus naik pesawat khusus pagi kemarin.

***

Sore tadi, saya pun meninggalkan lokasi tambang Greens Creek setelah berpamitan dengan Sang General Manager yang (di mata saya) sangat baik. Sekali lagi saya memohon maaf kepada beliau dan sangat berterima kasih atas kesempatan yang sangat berharga ini. Jawaban beliau kira-kira begini : “Sudahlah, itu tidak perlu diingat-ingat. Siapa saja bisa terlambat kalau mesti berangkat jam 4:00 pagi”. Kata-kata yang bernada ngayem-ayemi (membuat perasaan lega) ini tentu saja cukup meringankan beban perasaan saya ketika meninggalkan tambang Greens Creek.

Akhirnya saya pun kembali ke hotel yang sama seperti saat pertama kali tiba di Juneau. Malam ini mau istirahat dulu. Perjalanan kunjungan tambang selama dua hari ini saya rasakan sukses dan memuaskan. Banyak hal baru yang saya pelajari untuk dijadikan bahan kajian lebih lanjut. Meninggalkan lokasi tambang naik bis menuju dermaga kapal motor yang lokasinya berbeda dan cukup jauh dari lokasi camp site. Untuk mencapai dermaga kapal motor ini perlu menempuh perjalanan darat sekitar 25 km selama 45 menit dari lokasi tambang. Dari dermaga disambung dengan kapal motor (boat) yang cukup mewah menuju dermaga di Juneau selama kira-kira 30 menit.

Besok adalah hari Jum’at yang adalah hari bebas saya. Mestinya saya akan langsung kembali ke New Orleans menempuh perjalanan sekitar 10 jam termasuk transit di Seattle dan Houston. Jika ditambah dengan perbedaan waktu antara Alaska dan Louisiana, maka perjalanan seakan-akan menjadi 13 jam. Oleh karena itu, tetap saja saya baru akan mulai masuk kantor hari Seninnya. Saya pikir-pikir, ya mendingan saya manfaatkan waktu sehari lagi untuk menjelajahi kawasan Juneau sebelum pulang ke New Orleans. Toh, masuk kerjanya juga hari Senin.

***

Hari-hari ini matahari tepat di katulistiwa. Akibatnya jadwal sholat di wilayah beriklim dingin seperti Alaska ini menjadi “agak merepotkan”. Malam ini waktu Isya’ baru tiba tengah malam lewat sedikit (kira-kira jam 00:05). “Lha, njuk kapan tidurnya?”. Tapi anehnya, waktu Shubuh besok malah mundur 2 jam dibanding tadi pagi, yaitu menjadi jam 03:22 dini hari. Bingung juga saya, kok perubahan waktunya tidak teratur. Pokoknya ya ikuti sajalah.

Juneau, 26 April 2001 – 22:30 AKST (27 April 2001 – 13:30 WIB) 
Yusuf Iskandar