Posts Tagged ‘birmingham’

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(3).     Mencapai Atlanta Di Hari Pertama

Sabtu siang, 1 Juli 2000, menjelang jam 1:00, saya langsung masuk ke jalan Interstate 10 menuju ke arah timur. Rencana semula di hari pertama ini saya akan berangkat pagi-pagi langsung menuju ke kota Greenville di wilayah negara bagian South Carolina, menempuh jarak 637 mil (sekitar 1020 km).

Menyadari bahwa saya terlambat start, maka yang ada dalam pikiran saya kemudian adalah berusaha agar bisa melesat sejauh-jauhnya ke arah timur laut. Minimal saya harus mencapai kota Atlanta di negara bagian Georgia, guna memperkecil keterlambatan waktu tempuh agar keseluruhan rencana perjalanan tidak berubah. Jika saya bisa mencapai kota Atlanta, maka saya hanya akan ketinggalan 132 mil (sekitar 211 km) dari rencana, atau ketinggalan hanya sekitar 2 jam melalui jalan Interstate.

Belum jauh keluar dari kota New Orleans, masih di negara bagian Louisiana menjelang perbatasan dengan negara bagian Mississippi, ada kemacetan terjadi di arah timur jalan Interstate 10. Dari jauh tampak antrian panjang kendaraan yang berjalan merambat. Padahal rute ini yang akan saya lalui menuju kota Mobile dan Montgomery di negara bagian Alabama, sebelum mencapai Atlanta. Melihat peluang yang tidak menguntungkan jika saya ikut berjalan merambat, maka ketika sampai di persimpangan dengan Interstate 59 yang menuju arah timur laut, saya mengambil keputusan untuk merubah rute.

Saya berbelok ke Interstate 59 menuju kota Meridian di negara bagian Mississippi. Di kota ini jalan Interstate 59 akan bergabung dengan Interstate 20 menuju arah timur laut. Perubahan rute ini memang berakibat jarak tempuh menjadi agak lebih panjang. Tetapi saya pikir masih lebih cepat dibandingkan dengan jika saya mengikuti rute mula-mula dan berjalan merambat untuk jarak atau waktu yang tidak saya ketahui. Sekitar setengah jam di arah timur dari Meredian, saya meninggalkan wilayah negara bagian Mississippi yang mempunyai nama julukan “Magnolia State” dengan ibukotanya di Jackson.

Sore hari saya mencapai kota Birmingham, kota terbesar di wilayah negara bagian Alabama. Negara bagian Alabama ini juga dijuluki dengan “Yellowhammer State” dengan ibukotanya di Montgomery. Melewati kota Birmingham saya terus mengikuti jalan Interstate 20 ke arah timur.

Nama Alabama ini mengingatkan saya pada sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering saya dengar diputar di radio, yaitu “Sweet Home Alabama” yang dinyanyikan oleh Lynyrd Skynyrd. Rupanya lagu pop yang berirama riang ini memang enak ditirukan, sehingga Zen Mafia pun merubahnya menjadi berjudul “Sweet Home California” yang berirama rap. Entah kalau ada juga kelompok pengamen Malioboro yang memelesetkannya menjadi “Sweet Home Yogyakarta”. Memang kebetulan kedengaran pas. Wong yang tidak pas saja sering dipas-paskan.

Ingatan saya yang kedua, nama negara bagian Alabama sering menjadi salah satu pertanyaan dalam Teka Teki Silang (TTS) di Indonesia, sejak 25 tahun yang lalu ketika saya masih di SMP hingga sekarang. Heran juga, dari 50 negara bagian yang ada di Amerika, hanya Alabama yang paling sering ditanyakan.

Entah karena memang hanya itu yang diketahui oleh si pembuat TTS tentang negara bagian yang ada di Amerika, atau karena si pembuat pertanyaan generasi berikutnya malas berkreatifitas sehingga dikutip begitu saja hingga turun-temurun. Atau memang kebetulan nama itu enak dan pas untuk dirangkai dalam TTS. Toh, rancangan TTS-nya tetap saja dibeli orang. Bahkan boleh jadi kalau pertanyaannya susah dijawab atau untuk menjawabnya perlu mikir apalagi membuka referensi, malah TTS-nya tidak laku.

Nampaknya ini menjadi semacam fenomena. Dan istilah paling tepat untuk menyebut fenomena semacam ini adalah — “nyuwun sewu” — simbiose mutualisme yang tidak kreatif. Tidak percaya? Coba saja perhatikan, TTS atau kumpulan TTS yang pertanyaannya susah-susah pasti kurang diminati orang. Memang tidak ada yang salah dengan fenomena ini. Saya juga melihatnya hanya sebagai kegiatan iseng saja. Tapi kok menarik?

***

Seperti halnya saat melewati Mississippi, di Alabama pun saya hanya numpang lewat saja, karena saya tidak ingin terlalu malam tiba di Atlanta. Bukan saja karena jarak tempuhnya masih cukup jauh tetapi juga adanya perbedaan zona waktu. Ada perbedaan waktu satu jam antara New Orleans dengan Atlanta yang lebih di timur, sehingga jam di Atlanta yang masuk zona waktu Amerika bagian timur maju satu jam terhadap New Orleans yang masuk zona waktu Amerika bagian tengah.

Daratan Amerika ini terbagi dalam lima pembagian zona waktu, yaitu Eastern Standard Time di daratan paling timur, lalu Central Standard Time, Mountain Standard Time, Pacific Standard Time di daratan paling barat dan Alaskan Standard Time yang mencakup wilayah negara bagian Alaska yang berada di daratan ujung barat laut yang terpisahkan oleh negara Canada. Sedangkan negara bagian Hawaii yang berada di kepulauan di samudra Pacific termasuk dalam zona Hawaii-Aleutian Standard Time.

Menjelang jam 9 malam saya memasuki kota Atlanta, ibukota negara bagian Georgia. Nampaknya ini tempat terjauh yang bisa saya capai di hari pertama. Georgia adalah negara bagian keempat yang saya lintasi, setelah Louisiana, Mississippi dan Alabama. Georgia dikenal dengan julukannya sebagai “Peach State”.

Lalulintas di kota metropolitan Atlanta malam itu masih kelihatan cukup ramai. Di tengah kota Atlanta, dari jalan Interstate 20 saya berpindah ke Interstate 85 yang mengarah ke timur laut. Saat berpindah jalan ini saya sempat agak bingung karena jalan ini terbagi dalam 5 lajur dengan arus lalulintas cukup kencang. Agak bingung karena khawatir salah mengambil lajur exit untuk keluar atau pindah jalan.

Di saat hari sudah gelap berada di kota yang belum saya kenal seperti ini biasanya saya perlu lebih berkonsentrasi agar lebih jeli memperhatikan rambu petunjuk jalan. Jangan sampai mengambil lajur yang salah, sebab akan sama artinya dengan membuang waktu untuk memutar-mutar menemukan kembali lajur atau jalan yang benar. Akhirnya saya berhasil sampai di sisi timur kota Atlanta dan menemukan hotel yang cukup murah dan enak untuk sekedar melewatkan malam.

Beberapa obyek di seputar kota Atlanta terpaksa harus saya korbankan untuk tidak saya kunjungi, sebagai akibat dari keterlambatan waktu berangkat di hari pertama ini. Kota Atlanta yang namanya pernah ngetop karena menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas tahun 1996 yll, juga dikenal sebagai pusatnya Coca-Cola. Kota Atlanta bangga dengan sebutan “World of Coca-Cola”. Ada museum Coca-Cola yang semula rencananya hendak kami kunjungi, tapi kami batalkan mengingat keesokan harinya mesti berangkat agak pagi guna mengejar ketertinggalan jarak tempuh di hari pertama. 

Kota metropolitan Atlanta yang berlokasi di ketinggian sekitar 320 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh lebih 400.000 jiwa penduduk, malam itu kami tinggal tidur saja.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar