Posts Tagged ‘bintang’

Sebuah Mimpi Di Lembah Peraduan

9 Mei 2010

Bersengaja bangun jam 02:30 dini hari.
Lebih awal dari lonceng sisa sepertiga malam yang biasanya tahajud ditunaikan hingga adzan subuh menjelang.
Berniat hendak menyaksikan peristiwa alam hujan meteor (Eta Aquarids)  yang puncaknya bakal terjadi saat Jum’at dini hari ini.

Sayang sekali cuaca muram karena hamparan langit terbalut awan gelap.
Melihat ke bentangan bola langit sisi timur dimana hujan meteor seharusnya terlihat.
Menunggu beberapa lama berharap awan bergerak menyingkir dan menyingkap cerahnya langit yang seharusnya berbintang.
Bersyukur bulan sabit masih ada di sana, sesekali menampakkan sepotong wajahnya dan sesekali terlihat seperti putri malu.
Bersyukur bulan yang tinggal sepotong itu masih menebarkan kemilaunya, walau tetap saja kegelapan yang tampak di seputarannya.

Sempat hati termangu, bermenung menatap kelabu gelapnya langit.
Mencoba berdiri bersabar barangkali masih tersisa sempat untuk menyaksikan fenomena astronomi langka di ruang berjarak jutaan tahun cahaya yang terjadi di antara hamparan bumi dan luasnya bentangan langit.

Walau keindahan angkasa tak ternikmati, pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta sepantasnya tetap terungkapkan.
Awan gelap memang tak seindah langit cerah berhiaskan rembulan dan gemintang.
Namun keindahan yang demikian itu adalah keindahan relatif terhadap ciptaan alam menurut persepsi manusia.
Sedang Sang Pencipta dan Pemilik keindahan sejati memastikan bahwa kehakikian keindahan itu ada pada bagaimana hakekat tujuan dan proses penciptaan alam dan seisinya.

Maka sebenarnya bukan tanpa ada tersirat makna jika setiap ciptaan alam itu ditebar, melainkan agar jangan pernah ada pengingkaran atas karya Sang Maha Pencipta.
Tuhan telah memastikan kepada setiap mahluknya bahwa sesungguhnya dalam pencptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia (
rabbanaa maa kholaqta haadzaa baathila). Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. 3 : 190-191).

Saat waktu subuh masih lebih seputaran jarum jam.
Perjalanan malam berubah menjadi sebuah perjalanan lintas batas antara kesadaran dan impian.
Sebuah perjalanan ekstase.
Sebuah perjalanan mimpi yang pasti tak nyata.
Meninggalkan ayoman langit berawan menuju lembah peraduan.
Bukan, bukan hendak meninggalkan ajakan bertahajud melainkan menundanya untuk menyongsong keindahan lain yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta atas elemen nafsu dan emosi yang ada dan tumbuh dalam diri manusia.
Memang bukan sebaiknya, melainkan tidak juga kesalahan jika melakukannya.
Bagaimanapun juga menunda kebaikan adalah bukan kebaikan.
Tetapi kebaikan yang tertunda itu lebih baik daripada meninggalkannya.

Biarkan hujan meteor mungkin terjadi nun jauh di luar sana.
Tak sempat menjadi saksi atas fenomena alam langka itu, tapi sempat mensyukuri dan mengagungkan keberadaan Sang Penciptanya.
Petualangan di lembah peraduan adalah juga bagian dari ibadah penghambaan atas keindahan pancaran cintaNya.

Percakapan tentang cinta, percakapan tentang keindahan dan percakapan tentang mimpi-mimpi mengawang, adalah bagian dari bersatunya hati yang sedang dilanda perasaan yang tak terkatakan, melainkan rasa akan pancaran spektrum cahaya Rahman (kasih) dan Rahim (sayang) atas keagungan Sang Maha Pencipta.

Dari percakapan berpindah ke perasaan.
Dari perasaan berpindah ke amaliah.
Dari amaliah menjelma kehangatan berkas cahaya Rahman dan Rahim, yang masih terasa hingga ke relung hati paling dasar, hingga ke sumsum tulang paling dalam.
Mimpi di Lembah peraduan menjadi saksi atas cinta kasih anak manusia.
Kalau pun tidak nyata maka mimpi pun ada.
Tabir tipis merah sutra tak menjadi penghalang atas bersatunya hati dan jiwa.
Singkapan tabir halus dan lembut mengantarkan ke medan petualangan yang membentang liar untuk dijelajahi dan disusuri sedalam yang mampu dilakukan.
Berhiaskan harum bebauan yang membangkitkan gairah, mengeksplorasi lebih jauh menuju ruang-ruang yang seolah tak bertepi.

Jika kemudian ada kenikmatan membentang indah di ufuk maya jauh di sana, maka itu pun adalah perwujudan dari penciptaan yang pasti bukan sebuah kesia-siaan.
Kenikmatan yang terpancar dari gairah ruh yang bersenyawa, hawa harum mewangi yang menyelimuti, lembutnya sentuhan cinta, yang semuanya menyatu ke alam mimpi di lembah peraduan.

Bagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, dimana kebaikan dan keburukan seolah menjadi satu nyaris tak berbatas.
Namun kesadaran akal dan pikiran, jiwa dan raga, hati dan rasa, tetaplah menjadi pembatas yang hakiki, bahwa betapapun kenikmatan, keindahan dan kecintaan itu menjelma, tetaplah ada dalam pelukan Rahman dan Rahim milik Tuhan Seru Sekalian Alam.

Subhanallah…..
Tiadalah akan pernah selesai ujian dan anugerah datang silih berganti.
Semua berujung kepada bersatunya pahala dan dosa.
Maka menjadi bagian dari perjalanan kesyukuran adalah wujud akhir yang semestinya terimplementasi dalam amal perbuatan keseharian.
Semoga segenap malaikat dan bidadari di atas langit senantiasa mengawal setiap penggal perjalanan demi perjalanan…..

Alhamdulillah…..
Bertahajud kepada Sang Khalik tetap bisa dijalankan dan melangkah menuju rumah Allah menyertai seruan panggilan Subuh Jum’at pun tertunaikan.
Namun jika kemudian harus memimpin jamaah Subuh menyempurnakan penghambaan di penghujung malam dan di pangkal fajar,
Astaghfirullahaladzim…., semoga Allah melimpahkan maghfirah (ampunan) dan rahmatNya.
Demikian hari pun menjelang dan Insya Allah akan terus menjelang hingga penghabisan waktu yang entah kapan datangnya.

Yogyakarta, 7 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Malam Purnama

2 Mei 2010

(1)

Langit Jogja bersih sekali
purnama datang terlambat di horizon timur
Batara Guru sedang duduk di antara dua sujud
dan rombongan bintang tujuh menjadi penanda di langit selatan

Listrik di kampungku mati
seperti sedang memberi kesempatan kepada rembulan menerangi bumi
dan gelapnya malam ini
suara santri mengaji ilmu sharaf mengalun bersahutan silih berganti…

(2)

Lamunanku, mengawang ke masa kecil di kampung kami
Teman-teman berkumpul dan bernyanyi
tembang dolanan ‘Padhang Mbulan’
yang kini hilang ditelan jaman

Yo prakanca dolanan ing njaba
padang mbulan padange kaya rino
rembulane sing awe-awe
ngelekake ojo podo turu sore…

(Yuk kawan bermain di luar
terang bulan terangnya seperti siang
rembulannya melambai-lambai
mengingatkan jangan tidur sore-sore)

(3)

Kubangunkan ibunya anak-anak dari tidurnya
kuundang untuk duduk di depan rumah
bersama menikmati, bermandi cahaya rembulan
listrik PLN (sialan) yang masih mati seperti harus disyukuri
karena ada terbangun kemesraan malam ini…

Tiba-tiba ibunya anak-anak komplain: “Kok banyak nyamuk sih?”.
“Itu karena kamu rasakan gigitannya. Coba jangan dirasakan, dicuekin aja”, jawabku.

Yogyakarta, 30 April 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Langit bersih sekali malam ini
bintang bertaburan
sebentar lagi bulan kan datang menjelang
sayup-sayup terdengar di televisi
seorang biduan melagukan….

Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Rungokno tangising ati
Lintang2 ngiwi-iwi, cah ayu
Ngenteni mbulan ndadari…

(Ketika di langit ada bintang, kasihku
Dengarlah hati yang sedang menangis
Bintang-bintang melambai, kasihku
Menanti datangnya rembulan)

(5)

Dek semono (ketika itu)….

Wis ah, tidak usah diteruskan. Kasihan teman-teman yang malam ini sedang berada jauh dari mana-mana, jauh dari rumah, jauh dari keluarga, jauh dari kekasih hati, jauh dari sanak saudara. Nanti malah jadi…, nglangut (menerawang jauh…), njuk kelingan sing ora-ora (jadi ingat yang enggak-enggak…). Hiks

Selamat bermalam Minggu, dimanapun sampeyan berada.

Yogyakarta, 1 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Langit Penuh Bintang

25 Maret 2010

Menjelang subuh. Kupandang langit penuh bintang bertaburan.

Lalu kukirim SMS kepada bidadari: “Rabbanaa ma kholaqta hadzaa baathila…(Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia)”.

Balasan dari sana: “Sayang langit sini tak berbintang, tapi langit sini hanya takut pada Tuhan, yang sedang turun menghamparkan rahmat dan ampunan bagi yang memohon. Lanjuuut…” (Ee rupanya bidadari itu blm selesai tahajud, tapi sempat balas SMS..)

Yogyakarta, 24 Maret 2010
Yusuf Iskandar