Posts Tagged ‘bintan’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya mengunjungi kota Tanjung Pinang dan sekitarnya di Pulau Bintan, pada tanggal 10 – 15 April 2006. Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh melalui Pulau Batam.

(1).  Menuju Kota Gurindam
(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
(3).  Pulau Penghasil Bauksit
(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”
(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong
(6).  Purnama Di Tanjung Pinang
(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang
(8).  Semalam Di Batam

Iklan

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(1).  Menuju Kota Gurindam

Kebiasaan lama. Begitu masuk hotel langsung nggeblak di tempat tidur, ngolet ngiwo-nengen (menggeliat ke kiri ke kanan), meregang otot. Setelah agak enakan sedikit, baru bangun lagi. Seharusnya acara nggeblak itu berlangsung sekitar jam 12 siang, sehingga setelah itu punya waktu longgar setengah hari untuk melakukan aktifitas lain yang sudah direncanakan. Namun apa daya, Pak Adam telat lagi (Adam Air, maksudnya) sehingga baru sekitar jam 5 sore saya bisa melampiaskan kebiasaan nggeblak di hotel.

Menurut jadwalnya, Pak Adam  berangkat dari Jogja jam 6:30 pagi menuju Jakarta. Kemudian akan disambung Pak Adam lainnya menuju Batam. Karena terlambat take-off di Yogya, lalu terlambat lagi di Jakarta, walhasil terlambat pula mendarat di bandara Hang Nadim, Batam.

Keluar dari bandara Hang Nadim langsung nyingklak taksi menuju pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Taksi bandara Batam lumayan bagus-bagus. Beroperasi tanpa argo-argoan, tanpa tawar-menawar, pokoknya dari bandara ke Telaga Punggur ongkosnya sekitar Rp 60.000,- atau Rp 65.000,-  untuk waktu tempuh sekitar setengah jam. Wong cuma melalui dua belokan saja. Dari bandara belok kiri lalu ke kiri lagi dan belok kanan lalu ke kanan lagi sudah sampai. Jalannya pun bagus dan lancar.

Dari pelabuhan Punggur (begitu orang menyebut singkatnya), lalu menyeberang naik feri ke pulau Bintan. Tepatnya menuju kota Tanjung Pinang, yang sementara ini disebut sebagai ibukota propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Saya baca di koran lokal Kepri Pos, DPRD tingkat I propinsi Kepri telah memilih kota Dompak Darat menjadi calon ibukota propinsi Kepri, melalui proses pemilihan yang katanya kontroversial.

Sarana angkutan penyeberangan Punggur – Tanjung Pinang pp. ini beroperasi setiap setengah jam dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam bolak-balik. Jadi memang agak fleksibel pilihan jadwalnya. Tinggal pilih menggunakan feri yang berukuran agak besar atau sejenis speed boat yang berukuran agak kecil. Kami memilih feri besar “Baruna” dengan pertimbangan jalannya lebih mantap dan tidak banyak goyangan saat jalan cepat diterpa gelombang, tidak seperti halnya kalau naik speed boat yang berukuran lebih kecil. Beli tiket ferinya juga fleksibel, bisa milih sekali jalan Rp 35.000,- per orang atau sekaligus tiket pergi-pulang Rp 60.000,- berlaku untuk jam dan hari kapan saja dalam periode satu bulan.

Begitu memasuki pelataran di depan loket-loket penjual tiket di Punggur, langsung disambut dengan teriakan para penjual tiket, bukan calo. Mereka berteriak-teriak dari dalam loket sambil menawarkan tiket masing-masing jasa angkutan penyeberangan. Ramai dan berisik sekali, seperti ramainya Tempat Pelelangan Ikan. Lucunya, mereka berteriak-teriak sambil menyebutkan harganya, sambil melambai-lambaikan tangannya, sambil kepala-kepalanya (karena banyak) menyembul keluar dari lubang tiket. Seperti jam dinding yang ada burungnya lalu kepalanya nongol keluar kalau pas loncengnya berbunyi.

Karena sejak semula sudah diberitahu sebaiknya menggunakan jasa penyeberangan yang mana dan beli tiket di loket yang sebelah mana, maka ya teriakan-teriakan itu tidak perlu dihiraukan. Langsung saja menuju loket feri “Baruna” dan membeli tiket untuk perjalanan pergi-pulang sekaligus.

Akhirnya tiba di Tanjung Pinang setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan laut. Perjalanan laut ini menyusuri selat-selat kecil di antara ratusan pulau-pulau kecil yang tersebar menjadi satu gugusan kepulauan dalam wilayah administratif propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tampak sebuah papan nama besar bertuliskan “Welcome to Port of Sri Bintan Pura” terpampang di dermaga penyeberangan penumpang Tanjung Pinang. Agaknya pulau ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata turis mancanegara, sebagai tujuan tambahan bagi mereka yang ke Singapura yang memang tidak terlalu jauh jaraknya.

Para wisatawan asing itu umumnya melancong ke pulau Bintan untuk bersantai, beristirahat di kawasan pantai tropis. Maka bukan kota Tanjung Pinang yang terletak di sisi selatan pulau Bintan yang menjadi tujuan mereka, melainkan beberapa kawasan pantai utara yang terkenal dengan keindahan pantainya yang masih alami seperti kawasan pantai Trikora dan pantai Lagoi, juga yang terkenal dengan kawasan Bintan Resort dimana banyak berdiri hotel-hotel mewah dan lapangan golf bertaraf internasional.

***

Hari sudah sore saat saya menginjakkan kaki di daratan pulau Bintan, dengan Tanjung Pinang sebagai kota terbesarnya yang dihuni oleh kurang dari 200 ribuan jiwa. Masyarakat Tanjung Pinang bangga menyebut kotanya sebagai Kota Gurindam, merujuk pada sejarah seorang tokoh sastra abad 18, Raja Ali Haji yang kesohor dengan karya sastranya Gurindam Duabelas. Terakhir pak Raja Ali Haji ini telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Kota Tanjung Pinang ini agak unik. Bukan karena kecantikan kotanya, melainkan karena membuat saya kesulitan untuk melakukan orientasi medan dengan cepat. Kotanya berbukit-bukit, jalan-jalan kotanya mlungker-mlungker (tidak lurus), persimpangan jalannya miring-miring, sehingga saya selalu kehilangan arah untuk menunjuk dengan tepat arah mata angin. Hanya pada belahan kota yang berada di dekat-dekat laut mengesankan sebagai sebuah kota kuno Melayu, yang sesungguhnya sangat menarik seandainya ditata dengan baik, mumpung belum padat penduduknya. Namun sayang pertumbuhan dan perkembangan kawasan kota selebihnya terkesan semrawut dan dikhawatirkan cenderung menuju kekumuhan.

Keunikan lainnya, di mana-mana banyak dibangun ruko dan kompleks pertokoan, yang kini banyak terhenti karena menunggu suplai listrik yang memang angat terbatas. Sementara populasi Tanjung Pinang ini tidak terlalu padat. Lha, njuk siapa yang mau beli aneka properti bisnis itu. Rasanya pas kalau kota ini juga dijuluki “Kota Ruko”, sangking banyaknya ruko bertebaran dibangun di mana-mana dan semuanya sekarang dalam keadaan kosong atau tidak ada aktifitas. Seorang kawan yang warga Tanjung Pinang pun merasakan keheranannya dengan perilaku pebisnis properti ini. 

Setelah turun dari feri langsung saja meninggalkan pelabuhan dan bahkan keluar meninggalkan kota Tanjung Pinang menuju ke pinggiran kota arah timur. Akhirnya berhenti mencari penginapan di sebuah hotel di kawasan Batu 9 (istilah lain untuk kilometer 9), tidak jauh dari kawasan bisnis Bintan Center. Ya lalu nggeblak di tempat tidur hotel itu tadi…..

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar 

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik

Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai “Bopet Pak Haji”.

Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti “Bopet Pak Haji” yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. Rule of thumb-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : uenak dan huenak sekali.

Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup uenak saja apa huenak sekali sih…. Paling tidak, ya lumayan uenak-lah, meki taste-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     

***

Sore serasa belum lengkap kalau belum nyruput kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : “Kopi O, pak?”. Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf “O”, mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : “Ya, kopi biase tak pakai ape-ape….”, dengan logat Melayunya. Saya baru ngeh : “Ooo…. , itu to maksudnya kopi O…..”, barulah saya bisa mengkonfirmasi : “Iya, kopi O satu!”.

Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. “Kalau teh O ada, tak?”, tanya saya. Lalu dijawabnya : “Ada, pak. Teh obeng juga ada….”. Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di “Madurejo Swalayan” saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. Lha ini ada lagi teh obeng….. Rupanya yang disebut teh obeng adalah es teh. 

Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.

Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan mbludak, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera ngopi bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.

Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh obeng. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar clue, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.

***

Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan “Melayu Square” yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.

Yang disebut “Melayu Square” ini adalah semacam Pujasera, open air, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.

Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis ikan-ikanan, maklum wong dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu laksa (dibaca la’se). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat nek (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.

Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring laksa. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih…..!

Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi tarik. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh tarik adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.

Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.

Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : huenak dan mantab (diakhiri huruf “b”) sekali….. Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh tarik selagi berada di Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(3).  Pulau Penghasil Bauksit

Sejak jaman Sekolah Dasar dulu, pelajaran Ilmu Bumi adalah salah satu pelajaran yang saya sukai. Hingga saya sangat hafal bahwa bauksit sebagai salah satu hasil tambang di Indonesia dihasilkan di pulau Bintan. Lokasinya di sebelah mana pun dengan mudah dapat saya cari. Bauksit mengandung mineral bahan penghasil alumunium, antara lain untuk membuat pesawat terbang. Selalu begitu yang diajarkan oleh guru saya. Saya tidak tahu kenapa tidak pernah disebut sebagai bahan pembuat panci, sendok atau cething (wadah nasi) misalnya, melainkan selalu dihubungkan dengan pesawat terbang. Baru kali inilah saya benar-benar menginjakkan kaki saya di pulau Bintan.

Herannya, kedua anak saya tidak tahu ada pulau yang namanya Bintan yang luasnya dua kali luas pulau Batam. Apalagi menemukan letaknya dan mengetahui hasil utamanya. Terpaksa saya membuka buku atlas Indonesia untuk sekedar menunjukkan kemana bapaknya hendak pergi selama beberapa hari. Menuju ke sebuah pulau dimana ibukota propinsi baru Kepuluan Riau (Kepri) berada. Kepri adalah propinsi ke-32 yang baru diresmikan berdirinya pada tanggal 1 Juli 2004. Diam-diam terbersit kekhawatiran dalam hati, jangan-jangan masih banyak anak-anak Indonesia lainnya yang juga tidak tahu pulau Bintan dan hasil utamanya, belum lagi pulau-pulau yang lebih kecil.

Barangkali karena letaknya yang berdekatan dengan Batam, Singapura dan Johor Bahru, Malaysia, maka keberadaan Bintan nyaris tidak banyak dipromosikan kepada wisatawan dalam negeri. Padahal konon, pantai utaranya yang masih asri dan alami menjanjikan nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Saya ingat ketika di tahun 2002 sempat jalan-jalan ke Singapura dan menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, di sana banyak saya peroleh brosur-brosur promosi wisata tentang pulau Bintan. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Yang paling populer adalah kawasan Bintan Resort, dan salah satu hotel mewahnya adalah Mayang Sari Beach Resort (jelas nama hotel ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bambang Trihatmojo……, ya memang tidak ada hubungannya……).  

***

Bauksit yang banyak dijumpai di pulau Bintan dan pulau-pulau di seputarannya dijumpai dalam bentuk endapan laterit. Berada bersama-sama dengan lapisan tanah penutupnya yang kesemuanya menampakkan perwujudan berupa endapan tanah merah. Maka dengan mengupas sedikit tanah penutupnya saja sudah diperoleh endapan laterit mineral bauksit. Dan itu ada di mana-mana. Memandang ke arah mana pun di pulau Bintan ini akan tampak tanah merah yang mengandung bauksit. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pulau Bintan ini adalah pulau bauksit. Di mana pun kita berdiri, maka sesungguhnya kita sedang berdiri di atas endapan bauksit. Demikian halnya dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sungguh sebuah “Maha Karya” yang luar biasa dari Si Empunya jagat raya.

Tidak heran kalau bangsa Belanda yang “lebih dahulu” pandai, sudah sejak lama mengeksploitasi bauksit di pulau Bintan ini, yang hingga sekarang masih berlanjut di bawah manajemen PT Aneka Tambang. Lokasi-lokasi bekas penambangan itu sekarang masih tampak. Sebagian diantaranya kini sudah berdiri bangunan perumahan, perkantoran dan pertokoan di atasnya. Sebagian lainnya ada yang menjadi kolam dan cerukan. Salah satunya, kolam di tengah kota Kijang yang malah menambah asri suasana kota.

Sedangkan area bekas penimbunan tailing (limbah hasil penambangan) maupun area bekas tambang lainnya, kini sudah mulai menghijau ditumbuhi aneka tanaman, baik yang direncana melalui program reklamasi maupun yang dibiarkan sak thukule (asal tumbuh dengan sendirinya). Sebagian dari endapan tailing ini ada juga yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata, dicetak seperti batako. Katanya mutu batanya lebih bagus, dan sudah banyak juga masyarakat yang memanfaatkannya. Tailing ini pun tidak mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya), sehingga tidak terlalu “merepotkan”. Malah bagi masyarakat yang mempunyai jiwa seni bercocok-tanam, kawasan tailing ini dapat diolah menjadi lahan pertanian yang menghasilkan sayur-sayuran.

*** 

Seharian ini cuaca rada murung, mendung bergelantungan di mana-mana dan hujan. Sebelum kami bekendaraan ke arah barat dari Tanjung Pinang, kami mampir dulu ke Bintan Center untuk sarapan pagi. Cari model sarapan yang berbeda. Ketemulah sarapan roti prata plus tentu saja kopi atau teh O.

Konon roti prata ini jenis masakaan peninggalan orang India yang dulu-dulunya banyak ada di pulau Bintan. Bentuk, rasa dan bahannya seperti martabak, dan dimakan bersama kuah kari atau pokoknya yang mirip-mirip itulah, wong saya juga enggak tahu. Satu-satunya yang saya tahu adalah rasanya enak dan mak sek, bikin kenyang…… Roti prata ini memang biasa dipilih oleh masyarakat Bintan sebagai salah satu jenis makanan untuk sarapan pagi.  

Segera kami melaju ke arah barat mengikuti jalan yang menuju kota kecamatan Tanjung Uban yang terletak sekitar 90 km arah barat dari Tanjung Pinang dan berada di pantai barat pulau Bintan. Jalannya termasuk beraspal bagus tapi sepi. Sekira di km 60-an kami berbelok masuk ke selatan, ke desa Penaga (baca : Penage). Jauh meninggalkan jalan raya ke arah pedalaman mendekati pantai selatan. Niatnya ingin menuju ke tepian dan muara sungai Ekang Anculai. Namun malah menemui jalan buntu dimana terlihat petani-petani Cina bercelana kolor pendek dan ote-ote (tidak pakai baju) yang lagi pada nongkrong di rumahnya. Di sepanjang jalan tanah merah ini banyak dijumpai pohon karet, durian dan duku. Sayangnya saat ini bukan sedang musim durian berbuah.

Karena jalan tanah sudah mentok dan tidak ketemu sungai, maka kami kembali lagi ke jalan raya dan mencoba jalur lain. Upaya kedua inipun tidak membuahkan hasil. Jalan tanah mentok lagi di perkampungan petani lokal. Malah hujan turun agak lebat sehingga terpaksa numpang berteduh di salah satu rumah penduduk di sana. Namun dari ceritanya, lokasi sungai sebenarnya sudah dekat, hanya saja terlalu sulit untuk dicapai dengan berjalan kaki, apalagi naik mobil, karena banyak kawasan rawa berhutan bakau atau mangrove yang tebalnya berkisar 20-200 m dari bibir sungai.

Upaya mencari muara sungai lewat darat hari ini dibatalkan untuk rencananya besok dicoba lagi dengan mencapainya lewat laut. Meski demikian, semua tempat yang kami kunjungi tetap kami petakan menggunakan alat GPS agar dapat diketahui lebih pasti dimana posisi kami ketika kesasar dan mentok di jalan buntu, kalau diplotkan di peta. Segera kami kembali ke Tanjung Pinang, untuk selanjutnya menuju kota kecamatan Kijang yang letaknya di sudut tenggara pulau Bintan. Jarak dari Tanjung Pinang ke Kijang sekitar 28 km.

Namun sebelum kami melaju jauh, kami menyempatkan untuk melihat dermaga sungai milik perusahaan penambangan batu granit yang lokasi tambangnya tidak jauh dari jalan raya. Batu granit hasil penambangannya dimuat ke dalam tongkang melalui dermaga sungai yang juga berada di sungai Anculai, tetapi lebih ke arah hulu dari lokasi yang rencananya hendak kami datangi. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kijang. Kali ini kami mengambil jalur memutar melalui sisi utara pulau Bintan agar dapat melihat pemandangan alam berbeda.

***

Sebenarnya bukan kota Kijang yang menjadi tujuan utama kami, melainkan melihat lokasi dan operasi tambang bauksit. Diantaranya yang saat ini dikelola oleh PT Aneka Tambang. Ya, sekedar melihat saja. Wong namanya juga orang tambang, ya lumrah kalau kepingin melihat tambang (siapa tahu ada peluang membuka cabang “Madurejo Swalayan” ……). Setidak-tidaknya, dengan melihat, maka informasi yang dapat diserap akan lebih banyak dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca saja. Setidak-tidaknya lagi, kalau terpaksanya ngomong soal tambang bauksit maka tidak akan pathing pecothot karena memang sudah melihat sendiri kenyataannya di lapangan.

Sebelum memasuki kota Kijang kami menyimpang ke selatan, menuju lokasi penambangan bauksit, lalu melihat lokasi pencuciananya. Dilanjutkan melihat dermaga sungai dimana selanjutnya bauksit akan diangkut dengan tongkang menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan inilah bauksit dipindahkan ke kapal yang akan membawanya ke pembeli bijih bauksit di luar negeri.

Dengan proses penambangan, pencucian dan pengangkutan yang seperti itulah aktifitas penambangan bauksit di pulau Bintan ini terus berjalan. Bukan saja oleh PT Aneka Tambang, melainkan juga oleh pihak swasta lainnya. Sepanjang pengelolaan areal penambangan dan lingkungannya dikerjakan secara professional, rasanya pemerintah daerah kabupaten Bintan atau propinsi Kepri layak bangga memiliki potensi kekayaan alam yang jarang dijumpai di kawasan lain di negeri ini. Daerah lain yang memiliki potensi cadangan bauksit adalah Kalimantan Barat.

Tinggal pandai-pandai saja pihak pemerintah setempat mengawasi dan mengelola dengan segenap perencanaan yang matang. Tidak asal memperoleh Pendapatan Asli Daerah, melainkan optimasi pendayagunaan sumber daya alam yang diikuti dengan perencanaan yang komprehensif terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah kota dan kawasan penyangganya. Kalau sudah demikian, maka kegiatan ekonomi dan bisnis pun akan tumbuh menyertainya. Peluang untuk memajukan Bintan melalui sektor industri pertambangan masih sangat terbuka. Bauksit hanyalah satu di antara sekian banyak jenis bahan galian lainnya yang ada, seperti granit, andesit, basalt, pasir kwarsa, kaolin, dsb. 

Pengalaman yang terjadi di pulau Singkep (masih tetangga Bintan di Kepri), dimana kini meninggalkan bentang alam bopeng dan kota Dabo yang kini menjadi kota hantu, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Letak geografis Bintan yang dekat dengan Batam dan Singapura tentunya menjadi nilai tambah tersendiri, dimana aktifitas perdagangan lintas pulau lintas negara sudah lebih dahulu terbangun sejak lama. Berbeda halnya dengan Singkep yang adoh lor adoh kidul. Semoga pemerintah Bintan dan Kepri lebih cerdas menyikapinya demi kemajuan masyarakatnya.

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang

Hari ini hari terakhir di pulau Bintan. Siangnya kami akan menyeberang kembali ke Batam. Sesuai rencana yang telah kami bicarakan malam sebelumnya, baik ketika di “Potong Lembu” maupun di “Sunset Café”, pagi hari kami akan menemui seseorang dan melihat-lihat rencana tempat dan peralatan laboratorium untuk menganalisis mineral bauksit.

Sarapan pagi tentu tidak lupa. Meskipun saya termasuk orang yang tidak biasa sarapan, melainkan cukup hanya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Di tempat baru ini kebiasaan itu perlu disesuaikan agar tidak kehilangan momen-momen beda dan khas yang ada. Mata tertuju pada kedai di bilangan Batu 10 kawasan Bintan Center, yang memasang tulisan mie lendir. Baru membaca tulisannya saja asosiasi saya sudah macam-macam. Ini mie campur lendir, atau mie berlendir, atau lendir yang dicampurkan ke dalam mie?

Pokoknya dicoba dulu. Perkara nanti tidak enak ya tidak usah dimakan. Untuk menyiasatinya, saya biarkan seorang teman memesannya dulu, saya menyusul pesan kemudian. Ketika saya lihat mie lendir pesanan teman itu kok kelihatannya cukup merangsang lidah, barulah saya memesan satu porsi tambahan. Rupanya memang sejenis mie ayam, tapi kuahnya seperti bumbu sate sambal kacang. Entah benar entah tidak, pokoknya uenak, dan bikin perut mak sek (langsung kenyang) di waktu pagi. Kalaupun deskripsi saya tentang mie lendir ini salah, toh saya tidak kepingin memasaknya sendiri di rumah.

***

Kami kembali menuju kota Kijang karena ada rencana untuk bertemu dengan seseorang. Bolak-balik Tanjung Pinang – Kijang adalah rute yang biasa, karena jaraknya memang tidak terlampau jauh, relatif tidak padat lalu lintasnya dan jalan aspalnya terbilang mulus. Seperti halnya kota-kota lain yang seakan berlomba menonjolkan motto kotanya, Kijangpun memiliki semboyan sendiri, yaitu Kijang “Berseri”. Saya tidak tahu persis apa kepanjangan dari kata “Berseri” ini. Tapi saya tebak pastilah tidak jauh-jauh dari maksud  bersih, sehat, rapi, indah, dan kata-kata lain yang  semacamnya. 

Namun seorang tokoh Lembaga Adat Melayu berseloroh sambil berplesetan masygul, katanya “Berseri” itu kepanjangan dari “berserak sehari-hari”. Maklum tokoh yang cukup disegani ini hatinya gundah wal-gulana melihat kota Kijang sekarang semakin kurang bersih akibat sampah. Warga dan pemerintahnya seolah-olah kurang perduli dengan masalah kebersihan kotanya. Tentunya ini rasa keprihatinan yang bagus. Karena menurut saya, sekotor-kotornya Kijang yang saya lihat, masih terbilang lebih bersih dibandingkan yang terjadi di kota-kota lain di Jawa.

Hal yang paling menarik dari kota ini adalah tumbuhnya satu-satunya pohon bunga sakura di tengah kota. Tidak ada orang yang tahu persis asal bin muasal tanaman khas Jepang ini kenapa dan bagaimana bisa tumbuh di Kijang yang hingga kini tetap bertahan tumbuh kokoh mencapai lebih 10 meter tingginya. Barangkali dulunya tanaman ini dibawa oleh seorang pendatang dari Jepang, waktu jaman penjajahan dulu. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu persis kisahnya.

Ketika di negara asalnya Jepang tiba musim bunga dan sakura bermekaran, maka pohon bunga sakura yang di Kijang pun turut berbunga, dengan dominasi warna putih menyelimuti pohon, seolah-olah satu pohon bunga semua tanpa daun. Ini katanya lho….., wong saya juga belum pernah melihatnya dan saat ini juga tidak sedang musim berbunga. Saya percaya karena foto yang ada di kalender menunjukkan penampakan yang seperti itu. 

Seorang teman yang asli penduduk Kijang bercerita, sudah banyak orang yang mencoba menyangkok atau menyetek untuk memperbanyak tanaman ini, namun selama itu pula tidak ada satu pun orang yang berhasil mengembang-biakkannya. Jadilah hingga sekarang, pokok bunga itu menjadi satu-satunya tanaman bunga sakura yang ada di Kijang, bahkan mungkin di Indonesia. Siapa tahu suatu saat nanti pemerintah setempat menghubungi Jaya Suprana karena mau ikut-ikutan latah mendaftarkan tanaman sakura ini ke MURI.

Ini bagian menariknya, agaknya lokasi di bawah pohon bunga sakura ini cocok untuk medan uka-uka. Pasalnya menurut penuturan orang Kijang, di lokasi itu suka muncul kenampakan seorang wanita. Kawasan sekitar tumbuhnya pohon bunga sakura yang berada di sudut Jalan Tenggiri dekat dengan kolam kota ini memang bukan kawasan pemukiman. Maka kalau malam ya terkesan sepi dan gelap. Bumbu-bumbu penyedap cerita semacam inilah yang semakin membuat satu-satunya pohon bunga sakura di kota Kijang ini semakin menarik untuk dinanti-nanti saat akan datangnya musim sakura berbunga.

Ada bunga sakura di Kijang, ada aset yang potensial untuk “dijual” kepada wisatawan, kalau saja sempat terpikirkan…..

Tanjung Pinang, Kepri – 13 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar