Posts Tagged ‘bersepeda’

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Melawa Stroke Dengan Semangat Hidup

19 April 2010

B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…

(Untuk temanku Robert Sitinjak, semoga kesehatanmu segera pulih. Semangat hidupmu telah membuktikan keberhasilanmu)

Yogyakarta, 17 April 2010
Yusuf Iskandar

Bertilpun Di Tepi Jalan

7 Maret 2010

Lagi enak-enak bersepeda pagi di kawasan Kotagede yang jalannya sempit, tiba-tiba HP berdering. Langsung mencari lokasi aman untuk menjawab tilpun. Mau dijawab di tepi jalan sambil nangkring di atas sepeda pasti berisik dengan lalulintas yang mulai ramai.

Suara seorang wanita di seberang sana: “Assalamualaikum, kok lama dijawabnya?”.
Kujawab: “Ssst, aku lagi cari pohon untuk berlindung”.
Lalu teriakan di seberang sana: “Waah.., kayak pembantu yang tilpun sembunyi2 takut sama majikannya..”

(Seorang rekan di Facebook complaint dengan penggunaan kata ‘pembantu’ dalam cerita di atas. Maka saya koreksi, kata ‘pembantu’ diganti dengan ‘pegawai/karyawan’…)

Yogyakarta, 5 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Lebih Baik Dari Tidur

25 Februari 2010

Panggilan Sabtu pagi: “As-sepeda’an khoiru minannaum illa ‘alal-ngantukan“. Artinya: Bersepeda itu lebih baik daripada tidur, kecuali bagi orang-orang yang ngantuk. Tafsirnya: Kalau biasanya bersepeda sejam, maka kalau lagi ngantuk cukup 45 menit saja…

Yogyakarta, 20 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Pilihan Di Awal Senin

18 Januari 2010

Mengawali Senin dengan harus membuat pilihan: Bersepeda lalu mampir sarapan soto atau beli sarapan soto naik sepeda… Gara-gara pagi umun-umun sudah diusir ‘boss’ saya, katanya: “Sudah sana pergi, daripada di rumah ‘gangguin’ aja…”. Ah, yo wis

Yogyakarta, 18 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Lalu Sarapan Rawon

13 Januari 2010

Bersepedaaaa… (lagi, setelah break 2 minggu karena ke Rinjani). Olahraga? Yaa… sedikitlah, yang pentingnya mampir warung di pinggir jalan sarapan rawon…

(Mampir ke warung soto dan rawon di Jl Sorogenen, Nitikan, Jogja. Rasanya standar saja….)

Yogyakarta, 10 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Ke Kota Gede

24 Desember 2009

Persiapan fisik hari ke-4 (H-7) : Pagi ini kayuhan ditambah…….

Bersepeda ke Kota Gede mengayuh perlahan-lahan/
Mampir makan gudeg pengganjal perut berselonjor kaki nglarasss…./
Bukan soal mau olahraga atau beli sarapan/
Melainkan sekedar mengeringkan rambut karena pagi-pagi sudah keramassss…

(Uuuuh, lha wong jagat seperti ini indahnya kok ya sempat-sempatnya korupsi…..)

(Gudeg Bu Sri, Jl. Karanglo, Kotagede, Jogja)

Yogyakarta, 24 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Gudeg

23 Desember 2009

Hari kedua cek fisik : bersepeda keliling kecamatan, lumayan berkeringat, menempuh 4-5 km. Lalu beli gudeg di ujung gang, sarapan pagi…. Wow, Jogja biyangeth…!

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar