Posts Tagged ‘berbah’

Mie Ayam “Virgo”

6 Maret 2011

Mie Ayam “Virgo”, dusun Babadan, desa Sendangtirto, kecamatan Berbah, kabupaten Sleman (depan lapangan Paskhas). Cabang baru dari mie ayam Ringroad Wonocatur, Jogja, yang bertajuk “Pakar Mie Ayam”. Taste-nya woenaaak tenaaan.., apalagi dikathahi (dibanyaki) sawi dan ayamnya… Uuuhhhmmm!

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Ketika “Crop Circle” Muncul Di Berbah, Sleman

26 Januari 2011

Fenomena “Crop Circle” di areal persawahan desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman, yang terjadi pada hari Minggu (23/01/11). Lukisan alam berupa tanaman padi yang roboh beraturan membentuk lingkaran dan lengkungan. Perlu tanya kepada alam dulu: “What the hell is this?” – (Saya mengambil foto dari puncak bukit Suru, 25/01/11 jam 10:45 WIB).

Masih menunggu penjelasan para ahli tentang seluk wal-beluknya…

(1)

Fenomena “Crop Circle” Berbah, Sleman…
Sementara masyarakat berbondong-bondong datang ke pinggir sawah dan bertanya-tanya kepada para ahli tentang apa gerangan yang terjadi, aku bertanya kepada pak Jumiran pemilik sawah. Jawabnya sambil terkekeh di tengah kerumunan masyarakat yang penasaran: “Nggih pantun kulo sami ambruk niku…(Ya padi saya pada rubuh itu…)”.

(2)

Tidak dipungkiri, fenomena “Crop Circle” memang membuat dahi mengernyit. Kalau dibuat orang pasti ada bekasnya, ditiup angin kok begitu terukur membentuk lukisan indah, bukan patah bukan roboh tapi melengkung rapi, tepat di atasnya ada SUTET (saluran udara tegangan tinggi), di bawahnya ada saluran pipa Pertamina. Hanya Bandung Bondowoso yang dapat melakukan ini selesai sebelum fajar, bahkan lebih cepat dari cinta satu malam.

(Note: Catatan obrolan dengan pak Jumiran sang pemilik sawah dan seorang pengunjung yang penasaran)

(3)

Hujan deras, angin kencang, geluduk, merata melanda Jogja siang ini. Waspada… (siapa tahu “Crop Circle” berubah menjadi “Crop Square” karena semua tanaman padi di seluas sawah pada roboh oleh angin…).

(4)

Banyak pohon tumbang di Jogja, akibat hujan deras dan angin kencang siang ini. Waspada..! Dalam perjalanan menuju Madurejo melalui rute klasik via Berbah, terlihat kawasan dimana ada “Crop Circle” masih ramai. Entah sengaja hujan-hujanan, entah kepalang kehujanan di tengah persawahan.

“Boss” saya penasaran tentang “Crop Circle”. Kujawab: “Ya sannaa... hujan-hujanan kalau mau lihat, aku tak nunggu di mobil…” (Saya belum cerita kalau paginya sudah ke sana).

(5)

Tuhan memang ruarrr biasa untuk urusan membagi rejeki. Ribuan orang berduyun-duyun datang ke lokasi “Crop Circle” di desa Jogotirto, Berbah, Sleman, setiap hari sejak hari Minggu yll.

Mobil dan sepeda motor mbayar parkir harga premium. Pedagang segala macam betebaran bahkan hingga ke puncak bukit Suru dimana lukisan alam terlihat bentuknya. Para petugas dan pejabat negara berdatangan dengan ngantongi SPJ. Maka terbagilah rejeki dari langit.

(6)

Entah malam Minggu, entah Minggu dini hari ketika proses “pembuatan” lukisan “Crop Circle” terjadi. Tahu-tahu pagi harinya, pak Jumiran dilapori tetangganya: “Itu sawah sampeyan pada ambruk”. “Ya sudah…”, pikir pak Jumiran.

Baru sorenya pak Jumiran melongo. Sawah yang padinya hampir menguning itu diributkan orang. Malah dibatasi pita kuning sama pak polisi dan dijaga. Kalau ada orang mau lihat dan lewat garis, disemprit dari jauh.

(7)
Bergaya seperti wartawan infotainmen kehabisan berita kawin-cerai, kutanya pak Jumiran, satu dari tujuh pemilik sawah yang ketiban “sial” itu: “Sebelumnya pernah ada firasat, mimpi aneh atau kode nomor, gitu pak?”.

Mboten wonteeen…(tidak ada)”, jawabnya.

Eh, malah seseorang di sebelahnya tanya saya: “Suka pasang lotre Singapur pak?”. Weleh, lha lotre pasar malam Sekaten yang tinggal jalan kaki saja saya ‘girap-girapen’, boro-boro harus terbang ke Singapur…

(8)

Pak Jumiran jelas tidak paham apa itu “Crop Circle” (bisa terpelintir lidahnya mengucapkan kata itu), apalagi Alien, UFO atau makanan lain sejenis itu. Pak Jumiran hanya menggerutu gusar (dalam bahasa Jawa halus): “Kalau sawah saya rusak, nanti dapat ganti rugi enggak ya?”.

Uuugh, pak Jum, pak Jum…, membumi sekali kegusaran Sampeyan. (Dalam hati saya becanda: Waduh, dananya telanjur dipakai untuk studi banding pak…).

(9)

Berdiri di pinggir sawah untuk melihat “Crop Circle”, memang ya hanya tanaman padi ambruk yang akan terlihat. Selain dengan terbang di atasnya (itu juga kalau tidak kesetrum jaringan listrik tegangan tinggi), satu-satunya cara untuk melihat keanehan padi ambruk itu adalah dengan mendaki bukit Suru yang ada di sebelah baratnya.

Maka ini juga keanehan lain, orang-orang tua, muda, anak, ramai-ramai seperti ikut lomba kebut gunung, mendaki bukit yang sebenarnya cukup terjal dan licin.

(10)

Berjalan di depanku saat mendaki bukit Suru seorang nenek (belum terlalu tua), ndeso, sambil mengangkat kain jaritnya, berjalan pelan. Saya agak miris melihat si nenek, walau bukit Suru ini kecil tapi terjal dan licin (diwartakan hari ini ada seorang yang tewas terjatuh).

Untuk menyalipnya saya perlu menyapa (dengan bahasa Jawa halus). “Mbah, panjenengan ini kok ya nekat ikut mendaki”. “Saya kan juga ingin lihat”, jawab nenek itu tidak mau kalah. Betapa…

(11)

Ini kisah tentang bukit Suru yang tidak ada hubungannya dengan “Crop Circle” –

Hari-hari ini orang ramai mendaki gunung Suru karena ingin melihat lukisan misterius. Hingga sekitar lima tahun yll. bukit Suru dipercaya banyak menyimpan kekayaan. Buktinya dulu banyak orang mendakinya saat malam Jum’at Kliwon dengan membawa sesaji. Tapi sejak sekitar gempa Jogja 2006, kekayaan bukit ini seolah hilang amblas bumi dibawa kabur Ontorejo.

(12)

LAPAN meyakini “Crop Circle” di Berbah, Sleman, itu bikinan manusia. Jika benar demikian, berharap akan terungkap.

Namun siapapun manusianya, dia adalah seorang yang kreatif dan luar biasa (nekatnya, maksudnya). Hasil proses kreatif yang layak diapresiasi untuk diarahkan ke hal yang lebih produktif. Dan bukan dikait-kaitkan dengan politik atau urusan tetek bin bengek yang semakin menguras energi yang sudah banyak diecer-ecer mubazir di Jakarta…

Yogyakarta, 25 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Mie Ayam “Virgo” Jogja

9 Januari 2011

Pulang dari Madurejo mampir ke warung mie ayam. Sering kuperhatikan warung kecil ini selalu ramai dan baru sore tadi kubuktikan ke-ramai-annya. Saat tersaji semangkuk mie ayam, kucoba mencecapnya. Mie dan sawinya biasa, tapi olahan ayamnya memang benar-benar woenak…

Pantesan, racikan pak Tanu yang berjudul Mie Ayam “Virgo” di Jl. Wonocatur Jogja itu bertahan sampai 21 tahun dan tetap digemari. Lha wong memang top-markotop je…

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Semangkuk mie ayam yang penuh menggunung ini judul menunya ‘mie ayam x-tra sawi+ayam’ (dan kuhabiskan sore tadi), di warung mie ayam “Virgo” Jl. Wonocatur, Banguntapan, mBantul, Jogja (barat Ring Road). Semangkuk mie ayam biasa, harganya Rp 5 ribu. Tapi rasanya bo…

Pak Tanu siap meracik mie ayam kepada pelanggannya. Mie ayam “Virgo”, Jl. Wonocatur, Jogja. Kesederhanaan dan konsistensi untuk menjaga citarasanya, membuat warung mie ayam sederhana itu mampu bertahan hingga 21 tahun.

(Selain di Wonocatur, Pak Tanu juga membuka cabang di Berbah yang dikelola oleh anaknya)

Musim Kawin

25 Juni 2010

Musim kawin telah tiba. Seperti kebiasaan umumnya masyarakat Jawa memilih bulan Rajab sebagai waktu yang dipandang “pas” untuk hajatan… Minggu siang ini, menghadiri pesta pernikahan seorang pegawai (di sebuah desa di Berbah, Sleman, Jogja). Betapa bertolak-belakangnya dengan pesta pernikahan yang kuhadiri beberapa hari yll. di gedung megah.

Pelajarannya: Bagaimana menikmati sepiring nasi menu ndeso bukan sebagai asesori pesta, melainkan bagian dari ritual kesyukuran…

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

“Selamat Jalan Anakku…”

5 April 2010

“Rasanya belum lama kau kuantar ke Jakarta, nak. Kemarin petang kau kecelakaan dan tak sadarkan diri, lalu pagi ini kau harus segera berangkat menuju keabadian. Bahkan salam perpisahan pun belum sempat kuucapkan. Selamat jalan, anakku…”.

Begitu kira-kira, betapa galau hati kedua orang tuanya. Dan orang tua itu adalah sahabatku, ex-teman kerja di Papua, Bp/Ibu Sriyono. Kami berdoa, Allah swt. pasti telah memilihkan jalan yang terbaik bagi ananda dan keluarganya.

(Turut berduka atas berpulangnya ananda Ria Octarianti, 16 tahun, putri kedua dari Bp/Ibu Sriyono, karyawan PT Freeport Indonesia. Jenazah dimakamkan di dusun Karangwetan, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar