Posts Tagged ‘belanda’

Banyak Porlap Di Juanda

29 September 2010

Banyak Porlap di Juanda… Sepanjang ingatan saya, di bandara atau tempat lain, tukang angkut barang ini disebut porter. Tapi di bandara Juanda Surabaya disebut Porlap, bahkan ditulis besar-besar di punggung baju seragam hijaunya. Saya tidak tahu pasti kata ini berasal dari bahasa apa, sekedar menduga-duga sepertinya warisan dari bahasa londo Belanda yang dilidah-jawakan. Yang saya tahu ada ungkapan bahasa londo Inggris ‘no taim por lap…”.

(Seorang teman memberi komentar bahwa katanya Porlap itu singkatan dari Porter Lapangan. Barangkali dimaksudkan untuk membedakan antara porter stasiun, porter terminal, porter koplak (pangkalan andong), dan harry porter….hehe. Suwun).

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Menghikmahi Final Piala Dunia

14 Juli 2010

Sebagai penggembira WC-2010, sungguh telah kunikmati penampilan londo Belanda saat mengalahkan londo Uruguay. Permainan londo Spanyol pun begitu mempesonaku saat membuat londo Jerman tak berkutik. Berharap semoga ada suguhan indah di Final malam ini. Tidak ada yang kujagokan, karena siapapun yang menang toh tidak akan mempengaruhi omset tokoku. Tapi pasti, strategi dan perjuangan sang juara dapat dihikmahi untuk memajukan bisnis toko…

(WC : World Cup)

Yogyakarta, 11 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Hatiku Tidak Berpihak Kemanapun

10 Juli 2010

Saya bukan penggila bola, apalagi pemain bola, boro-boro menjadi pendukung fanatik. Saya hanya kafilah penggembira alias ‘massa mengambang’. Tapi saya bisa menikmati permainan dan penguasaan bola yang cantik menawan yang dimainkan oleh skuad ‘kumpeni’ Belanda ketika menaklukkan Uruguay. Maka saya berharap akan menyaksikan sebuah permainan yang memanjakan adrenalin di Babak Final nanti: Belanda vs Spanyol. Hatiku tidak berpihak ke manapun.

Yogyakarta, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Misbar

10 Juli 2010

Babak semi-final Belanda vs Uruguay, tengah malam tadi, anak lanang pamit nonton bareng di Alun-alun Kidul. Terang saja bagi ibunya ini tidak masuk akal. “Nonton di rumah kan lebih enak?” Begitu pikirnya. Bagi anak lanang ini sebuah “adventure”, tapi bagi ibunya ini cari penyakit.

Ah, kok jadi kembali seperti jaman baheula nonton film misbar (gerimis bubar). Begitu gerimis turun, yang ditonton terus saja main, yang nonton bubar tunggang-langgang.

Yogyakarta, 7 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(4).  Danau Dendam Tak Sudah

Konon (pantesnya lalu disambung dengan, kabarnya…), menurut sohibul-dongeng, ada penguasa sebuah kawasan subur makmur yang kecewa berat kepada masyarakat sekitarnya gara-gara tidak pernah disetori kambing setiap tahunnya. Sang penguasa lalu menaruh dendam kesumat kepada siapa saja, semua keturunan masyarakat penikmat kawasan subur makmur itu.

Orang menyebut sang penguasa itu sebagai Sapu Jagat (saya pikir sebutan sapu jagat ini monopoli masyarakat Jawa, rupanya ada juga di Bengkulu). Sedang kawasan yang subur makmur itu disebut sekedi, yaitu semacam mbelik, cerukan tempat munculnya sumber air. Sekedi itu kini menjelma menjadi sebuah danau bernama Dendam Tak Sudah (Melayu banget…..!),

Orang-orang di sekitar kawasan danau itu mempercayai kalau setahun tidak ada setoran korban kambing kepada sang Sapu Jagat, maka siapa saja yang mengunjungi danau itu perlu waspada jangan-jangan menjadi tumbal pengganti kambing. Ih…! Dan itu selalu terjadi setiap tahun.

Kalau ditelisik lebih “teknis”, terbentuknya danau ini sebenarnya hasil karya bangsa Belanda dulu. Tahun 1936 Belanda membendung sungai Muara Kuning untuk tujuan intensifikasi pertanian untuk kawasan di sekitarnya. Orang Belanda memang jagonya untuk urusan ndung-benndung. Danau yang terbentuk oleh bendungan ini disebut danau Dusun Besar. Proyek bendung-membendung ini oleh londo Belanda disebut dengan de dam. Namun sayang, ketika pecah perag Pacific proyek ini terbengkelai. Maka orang sekitarnya menyebut proyek yang tidak selesai ini dengan de dam yang tidak selesai, yang kemudian oleh lidah Melayu “terpeleset” menjadi dendam tak sudah. 

Nah, kalau urusan mencari-cari cerita yang pas buat danau ini, maka orang Indonesia memang jagonya. Jangankan membuat cerita fiktif, merekayasa kisah nyata saja bisa “dipesan” mau bagaimana ending-nya. Dan sialnya, orang percaya juga!

Baru pada tahun 50-an pemerintah Indonesia menyudahkan proyek de dam yang belum sudah ini. Hingga kini tempat yang subur makmur indah permai ini lebih dikenal orang sebagai danau Dendam Tak Sudah. Kalau kemudian setiap tahun kok ada yang meninggal disana, ya salahnya sendiri kenapa kurang hati-hati main-main di danau.

***

Lokasi danau ini tidak terlalu jauh, hanya sekitar tujuh kilometeran ke arah tenggara dari pusat kota Bengkulu. Tepat di tepian sisi baratnya terdapat jalan aspal yang diberi nama jalan Danau. Jadi kalaupun tidak ingin berhenti menikmati alam panorama danau, cukup dengan jalan perlahan melalui tepiannya.

Dimana-mana yang namanya danau selalu identik dengan keindahan alamnya. Demikian halnya dengan danau Dendam Tak Sudah yang menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Memandng danau ke arah timur, tampak pemandangan indah berlatar belakang pegunungan Bukit Barisan dengan kawasan hijau lambang kesuburan. Tempat di sekitar kawasan danau yang luasnya hanya sekitar 11,5 hektar ini layak menjadi tempat peristirahatan terakhir (maksudnya kalau hari itu rasa penat sudah memuncak dan lalu berisitirahat sebelum pulang ke rumah), agar mata dan pikiran kembali relaks.

Di sepanjang tepian danau yang berbatasan dengan jalan raya itu penuh dengan gubuk-gubuk kayu dan bambu yang dibangun menghadap danau dan membelakangi jalan raya. Pengunjung pun dapat duduk-duduk santai sambil memandang lepas ke arah danau. Jagung bakar dan kelapa muda menjadi menu unggulan para pemilik gubuk dan kedainya yang berada di seberang jalan. Terlebih jika hari-hari libur, tempat itu penuh dengan pengunjung, begitu kata salah seorang penjual jagung bakar di sana.

Cuma tidak enaknya, lama-lama para pemilik gubuk itu semakin kreatif menangkap peluang bisnis berdasarkan teori “demand and supply”. Mula-mula sandaran tempat duduk di gubuk ditinggikan sehingga agak menghalangi pandangan orang-orang yang lewat di jalan tepian danau. Lalu meningkat dengan memasang dinding atau tabir, sehingga orang-orang di jalan semakin terhalang pandangannya. Akhirnya, jadilah gubuk-gubuk itu lalu disebut oleh masyarakat sebagai “gubuk bercinta”. Sore hingga malam adalah waktu-waktu yang tepat bagi para konsumen untuk berjama’ah memanfaatkan gubuk-gubuk itu.

Maka pada suatu sore, kepingin juga saya mampir mencoba menikmati gubuk-gubuk di tepian danau Dendam Tak Sudah. Ya, untuk sekedar melepas lelah sambil nggayemi jagung bakar dan menikmati panorama indah danau itu. Gubuk-gubuk di sana sudah tampil lebih sopan karena pagi harinya habis ditertibkan oleh petugas Pemda Bengkulu. Ternyata lama-lama masyarakat dan pemerintah tentu saja menjadi gerah menyaksikan perkembangan aktifitas “wisata” di tepian danau di pinggiran jalan itu. Kini gubuk-gubuk itu dipaksa ditertibkan. Tabir-tabir penghalang dibuka. Tinggi sandaran tempat duduk pun diatur maksimal tingginya 30 cm.

Ketika akhirnya sore itu saya tinggalkan danau Dendam Tak Sudah, tampak di kejauhan sebuah sampan kecil dikayuh oleh seorang penumpangnya sedang menyeberangi danau. Sekedar pertanda bahwa ada kehidupan di seberang sana. Kehidupan nan damai tak sudah, maksudnya langgeng….. 

Yogyakarta, 3 Juli 2006

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal

Waktu sudah menunjukkan lewat jam 21:00 dibawah cuaca yang masih sangat cerah ketika akhirnya kami tiba di stasiun Amsterdam Centraal. Di negeri Belanda soal komunikasi masih lebih enak. Setidaknya setiap orang yang saya temui ternyata paham bahasa Inggris, termasuk sopir taksi, porter stasiun, juga pegawai toko dan restoran. Demikian ketika naik taksi dari stasiun menuju hotel, pak sopirnya cukup mengenal tentang Indonesia. Malah dia cerita tentang Gus Dur yang dulu sebelum jadi presiden sering singgah ke Amsterdam.

Pak Sopir pun membawa kami agak berkeliling melewati beberapa tempat terkenal sambil menyisipkan sedikit penjelasan kepada kami, layaknya pemandu wisata saja. Termasuk ketika kami lewat di depan istana Royal Palace sebagai simbol kebesaran kerajaan Belanda dimana ratu Beatrix biasanya menyelenggarakan acara-acara kenegaraan.

Untuk maksud berbelanja, maka pusat perbelanjaan Magna Plaza agaknya dapat menjadi salah satu pilihan, setidak-tidaknya bentuk dan konstruksi bangunan tua pusat perbelanjaan ini memang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya di kota Paris, di Amsterdam juga masih banyak dijumpai bangunan-bangunan berkonstruksi tinggi dan berarsitektur kuno yang masih berfungsi serta terawat dengan baik.    

Ketika tiba di kawasan Red Light District, pak sopir membenarkan ini memang tempat yang sangat terkenal sebagai kawasan entertainment. Tapi buru-buru pak sopir taksi menambahkan : “….. tapi tidak untuk keluarga”. Ya, saya tahu itu. Entah kenapa satu kawasan di pusat kota Amsterdam ini begitu terkenal. Keberadaannya sama terkenalnya dengan obyek-obyek wisata lainnya di Amsterdam.

Saya memang tidak berniat mengeksplorasi lebih jauh kawasan ini. Namun dapat saya ilustrasikan bahwa kawasan lampu merah ini kira-kira sama dengan Bourbon Street di New Orleans atau The Strip di Las Vegas atau Pat Pong di Bangkok yang semuanya memang sengaja dijual sebagai komoditi pariwisata. Di Jakarta malah tidak ada yang dapat disebut karena entertainment jenis ini termasuk komoditi yang resminya tidak halal untuk dijual. Atau jangan-jangan susah disebut karena saking banyak dan menyebarnya lokasi semacam itu yang keberadaannya sembunyi-sembunyi?    

Sekitar pukul 22:00 kami tiba di hotel. Matahari sedang beranjak tenggelam dan masih menyisakan cahaya merahnya. Beruntung cuaca Amsterdam senja itu cukup cerah.  Setiba di hotel dan setelah sedikit berbenah, kami langsung keluar dari hotel dan lalu mencari restoran untuk makan malam. Menurut sopir taksi yang membawa kami dari stasiun Amsterdam Centraal, di Amsterdam dan sekitarnya ini ternyata ada sangat banyak restoran Indonesia.

Dari daftar restoran di Amsterdam yang dimiliki oleh pak sopir taksi, ada puluhan restoran masakan Indonesia. Pak sopir taksi pun lalu merekomendasi sebuah restoran Indonesia lengkap dengan alamatnya yang menurutnya cukup terkenal. Namanya restoran “Raden Mas”. Ke restoran itulah malam itu kami menikmati santap malam atau mungkin lebih tepat disebut santap larut malam. Restoran di Amsterdam saat musim panas ini buka hingga jam 23:00. Menu sate dan nasi putih lalu menjadi pilihan kami, mengingat sejak beberapa hari terakhir ini tidak ketemu nasi.

***

Memperhatikan lalu lintas di Amsterdam nampaknya tidak terlalu sibuk dan padat, tidak sebagaimana di Paris. Hanya saja yang barangkali agak merepotkan bagi mereka yang memilih mengemudikan kendaraan sendiri dalam menjelajahi kota Amsterdam atau Belanda pada umumnya adalah perlunya waspada terhadap banyaknya jalur tram atau kereta api listrik yang menjadi satu dengan jalur kendaraan.

Kereta api memang menjadi sarana transportasi umum yang sangat populer di Belanda, bahkan juga untuk sarana berwisata. Seperti halnya di Paris, informasi tentang jalur-jalur kereta api serta tata cara penggunaannya terutama bagi pendatang baru di Amsterdam juga sangat mudah diperoleh. Jika mempunyai waktu yang agak longgar, berwisata dengan kereta api akan sangat menghemat biaya, tetapi pasti pergerakannya tidak secepat mobil.

Di Amsterdam banyak dijumpai adanya kanal-kanal atau sungai-sungai buatan yang berada paralel mengeliling setengah lingkaran kota Amsterdam yang memang terletak di ujung teluk. Sarana transportasi sungai atau kanal pun dapat menjadi pilihan untuk berwisata mengelilingi kota Amsterdam.    

Hanya ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan untuk cepat mengenali wilayah Amsterdam sekalipun sudah berpedoman pada peta, yaitu susahnya mengingat nama-nama tempat atau jalan yang tentunya tertulis dalam ejaan bahasa Belanda. Kata-kata bahasa Belanda ternyata lebih sulit saya ingat dibanding kata-kata bahasa Perancis. Meskipun di beberapa tempat sesekali saya temukan nama-nama yang sama dengan bahasa Indonesia, seperti misalnya kata kantor, halte, stanplat (standplaats), dsb. yang memang telah menjadi kata serapan dalam kosakata bahasa Indonesia.- 

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(9).   Melihat Kincir Angin Dan Sepatu Kayu Di Zaanse Schaan

Hari Selasa, 17 Juli 2001 pagi saya mencari-cari informasi tentang beberapa obyek wisata yang sejak semula memang menjadi tujuan kami. Mempertimbangkan bahwa kesempatan kami mengunjungi Amsterdam sangat terbatas, maka pilihan-pilihan memang perlu dibuat. Di antaranya yang kami prioritaskan adalah melihat windmill atau kincir angin yang sering menjadi simbol bagi negeri Belanda dengan sebutannya sebagai Negeri Kincir Angin.

Tujuan kedua adalah kota Madurodam dimana terdapat kota mini atau miniatur negeri Belanda. Keminiannya kira-kira berskala 1 : 25 dari ukuran sebenarnya. Semula kami masih merencanakan tujuan lain yaitu menyaksikan bunga tulip yang juga menjadi salah satu simbol  bagi negeri Belanda. Namun sayang saat ini bukan musim yang tepat. Bunga ini biasanya mekar sekitar bulan-bulan Maret sampai Mei.

Mengingat beberapa lokasi pilihan yang hendak kami kunjungi ternyata letaknya saling berjauhan, maka saya memutuskan untuk mengambil paket wisata untuk mengunjungi tujuan wisata yang agak jauh lokasinya, seperti Madurodam. Melalui petugas hotel saya memesan paket wisata untuk mengunjungi Madurodam dan sekitarnya yang dijadwalkan berangkat jam 02:00 siang.

***

Memanfaatkan waktu paginya, di hari Selasa tanggal 17 Juli 2001, sebelum pergi ke Madurodam, kami pergi melihat kincir angin (windmill) yang terletak di kawasan Zaanse Schaan. Kawasan ini berada di arah barat laut dari Amsterdam dan dapat ditempuh dengan taksi paling lama 30 menit. Agar tidak memboroskan waktu, maka saya putuskan untuk menggunakan jasa taksi, meskipun untuk itu saya mesti menganggarkan biaya agak mahal. Untuk pergi dan pulang saya harus mengeluarkan hampir 200 Fl (Gulden) atau kira-kira setara dengan US$ 80.

Zaanse Schaan memang merupakan daerah tujuan wisata. Kalau di Indonesia barangkali dapat saya identikkan dengan desa wisata. Di kawasan ini dapat dijumpai beberapa bangunan  kincir angin yang sengaja difasilitasi untuk dikunjungi wisatawan. Selain itu juga ada sentra kerajinan sepatu kayu, industri pengolahan roti dan keju, serta beberapa museum.

Salah satu dari bangunan kincir angin yang ada di sana memang dibuka untuk wisatawan yang ingin naik ke bagian atapnya. Masuk ke bagian bawah dari bangunan ini akan dapat dilihat bagaimana kincir angin bekerja untuk dimanfaatkan energi yang dihasilkannya. Melalui tangga yang berukuran kecil dan relatif tegak, maka pengunjung dapat naik ke atap bangunan tepat di bagian belakang dari empat buah kincir atau baling-baling yang terus-menerus berputar karena tertiup oleh hembusan angin yang cukup kuat.

Sejauh mata memandang dari atap ini adalah dataran terbuka di satu sisi dan danau di sisi yang lain. Di seberang danau tampak bangunan-bangunan kayu yang berkonstruksi khas dan artistik yang dicat warna-warni. Saya tidak tahu persis apakah itu adalah bangunan khas tradisional Belanda.

Yang saya tahu bahwa adanya bangunan beberapa kincir angin di satu sisi danau dan bangunan artistik berwarna-warni di seberang danau telah menciptakan perpaduan pemandangan yang menarik. Pantas saja lanskap seperti itu sering ditampilkan dalam foto-foto promosi pariwisata termasuk di kalender atau kartu pos, selain bunga tulip kebanggan bangsa Belanda.

***

Obyek wisata ini rupanya memang cukup menarik wisatawan mancanegara. Banyak rombongan-rombongan wisatawan yang datang menggunakan bis-bis besar, diantaranya yang banyak saya temui adalah rombongan wisatawan dari Cina dan Jepang.

Masih satu kawasan desa wisata dengan kincir angin, selanjutnya kami menuju ke tempat industri sepatu kayu (woodshoes). Di lokasi inipun para pengunjung mesti berdesak-desakan. Di bagian depan tempat ini ada seonggok patung sepatu kayu raksasa yang menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto. Menilik namanya, maka dapat ditebak ini adalah tempat pembuatan sepatu yang bahannya dari kayu yang dipotong, dipahat, dilukis dan dikreasi dengan sentuhan seni sehingga benar-benar menjadi sepatu, sandal, sepatu-sandal dan sejenisnya.   

Saya jadi ingat, kalau saya pikir-pikir industri sepatu kayu ini sesungguhnya tidak beda dengan industri bakiak atau theklek di Jawa. Bakiak atau sejenis sandal kayu yang oleh orang-orang desa dulu biasa digunakan untuk pergi ke kamar mandi atau WC. Di desa-desa yang namanya tempat mandi atau WC ini biasanya lokasinya terpisah dari rumah induk, sehingga bakiak dirasa sangat cocok digunakan sebagai alas kaki. Biasa juga dipakai untuk pergi ke langgar atau surau oleh para orang-orang tua. Bahkan kalau dipakai untuk ronda malam dan jalannya agak diseret bisa untuk nakut-nakutin pencuri.

Sama-sama merupakan hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, rupanya bakiak atau theklek buatan Indonesia ini kalah pamor dibandingkan dengan sepatu kayu (woodshoes) dari Belanda. Bisa jadi karena yang namanya bakiak itu sepanjang sejarahnya ya berbentuk begitu-begitu saja, tanpa pernah ada upaya untuk memberi sentuhan seni. Atau, barangkali karena para perajin bakiak kita memang kalah dalam kreatifitas dan idealisme, yang penting bekerja dan hasilnya lalu dijual apa adanya.

Atau, para perajin kita memang suka bekerja sendiri-sendiri, tidak pernah ada yang memberi petunjuk bagaimana agar bisa bersama-sama secara kolektif memperbaiki kualitasnya agar mampu ber-go international.  Entahlah, saya cuma menerka-nerka dalam hati. Sebab kalau saya ucapkan, saya akan kesulitan kalau anak-anak saya tanya : “Apa itu theklek…?”  Menjawabnya susah kalau tidak ada contohnya.

Sekitar jam 12:30, kami sudah meninggalkan kompleks desa wisata di Zaanse Schaan sebab jam 13:30 mesti kumpul di hotel untuk mengikuti paket wisata yang akan membawa kami menuju kota Madurodam. Katanya perlu waktu perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan.-

Yusuf Iskandar