Posts Tagged ‘becak’

Program Sholat Setahun

17 Maret 2010

Sepanjang badan dikandung hayat, ada seorang temanku hanya sholat setiap Jumatan saja. Kepadanya saya usulkan program sholat setahun: Bulan pertama lengkapi sholat setiap Jumat; lalu bertahap ditambahi harinya hingga lengkap dalam 12 bulan. Liburlah setiap tanggal merah.

“Maka kalau bulan depan kamu ketabrak becak, lalu doed.., insya Allah arwahmu akan diterima sebaik-baiknya di sisiNya…”. Dan, temanku pun cepat-cepat ngabur...

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Suatu Malam Di Malioboro

3 April 2009

img_0810_r1Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati jalan-jalan malam di kawasan Malioboro.

Bagi saya, atau barangkali juga kebanyakan orang Jogja, sengaja menghabiskan waktu malam dengan menyusuri penggal Jl. Malioboro adalah bukan pilihan menyenangkan. Kalau bukan karena keperluan yang mengharuskan pergi ke toko yang ada di kawasan Malioboro, ada acara khusus di sana, atau menemani orang yang baru pertama kali datang ke Jogja, rasanya lebih baik pergi ke kawasan jalan yang lain di Jogja. Meski tidak dipungkiri sebagian orang justru menyukai tempat ini.

Kawasan ini serasa terlalu padat menyesakkan dan kurang lagi nyaman untuk dinikmati sebagai obyek wisata jalan-jalan bersama keluarga, kecuali di bagian ujung selatan seputaran Gedung Agung dan benteng Vredenburg saja yang terasa masih nyaman untuk menghela napas agak panjang. Selebihnya perlu agak ngos-ngosan untuk melaluinya. Jangan sekali-sekali jalan meleng, sebab puluhan andong dan kudanya, ratusan becak dan tukangnya, atau ribuan pejalan kaki dan teman-temannya, belum lagi pedagang kali lima di sepanjang trotoar pertokoan dan sepeda motor yang keluar-masuk tempat parkir, siap menyerempet atau menginjak kaki sesama pejalan kaki tanpa perlu mencari tahu siapa yang salah. Idenya Malioboro adalah kawasan street mall, tapi salah bentuk. 

***

Sekitar pukul 20:30 WIB kami kembali sampai di teras Malioboro Mall setelah berjalan kaki ke arah selatan Malioboro, baik di sisi barat maupun timur jalan. Teman saya mengajak makan lesehan. Saya sarankan bukan di Jl. Malioboro-nya sebab kawasan ini terlalu crowded, nanti jadi kurang nyaman untuk menikmati santap malam sambil duduk lesehan. Kami putuskan untuk mencari warung lesehan di Jl. Perwakilan, sebuah penggal jalan di sebelah utara Malioboro Mall, relatif tidak terlalu hiruk bin pikuk.

Masih berjalan santai di teras Mall, di tengah keramaian pejalan kaki, seorang pemuda tampan berbusana rapi, berkaos hitam dan bercelana warna gelap, menghampiri dari sebelah kanan saya. Lalu katanya :
 
“Mau pijat pak?”. Saya hanya menoleh acuh tak acuh. Sang pemuda lalu menambahkan : “Yang mijat cewek pak….”.

Ah, tergoda juga saya. Tergoda untuk tanya lebih lanjut, maksudnya.
“Cantik, enggak?”, tanya saya iseng, masih sambil jalan perlahan.

“Wah, dijamin pak”, jawab sang pemuda itu meyakinkan. Saya tidak tahu, ini dijamin tidak luntur atau luntur tidak dijamin. Namun akhirnya saya berkata : “Enggaklah, mas. Terima kasih”.

Eh, rupanya sang pemuda masih ngotot juga. Setengah memaksa dia menyodorkan dua buah kartu nama agar saya terima (mungkin karena dilihatnya saya berjalan berdua teman saya), sambil katanya : “Barangkali nanti bapak membutuhkan…”. Dan kedua kartu nama itu pun lalu saya masukkan ke saku baju, karena saya tahu teman saya pasti tidak tertarik dengan kartu nama itu.

Sesampai di warung lesehan, sambil menunggu pesanan gudeg, ayam dan burung dara goreng plus lalapannya disajikan, saya lihat kembali karta nama yang tadi saya selipkan di saku baju saya.

Selembar kertas kecil seukuran kartu nama (lha, namanya juga kartu nama…) dengan desain sangat sederhana. Berwarna dasar hitam, bertuliskan “Pijat Panggilan”, di bagian bawahnya ada tulisan warna kuning “Hub. : 085 sekian-sekian-sekian… INDRA/ENY/MITA” (ditulis dengan huruf kapitas menyolok).

Sejenak saya menelan ludah….. Bukan, bukan karena membaca nama tiga diva yang ada di kartu nama itu, melainkan karena asap burung dara goreng dan petai goreng yang masih mengepul sudah tersaji di depan hidung lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Kartu nama itu lalu saya masukkan kembali ke saku baju.

Sesampai di rumah, kartu nama tadi saya selipkan di buku tipis “Innovative Leadership” karya Dennis Stauffer yang tadi saya beli di Gramedia, lalu bukunya saya masukkan ke dalam tas ransel kebanggaan saya. Saya perlu ekstra hati-hati menyimpan buku ini. Jangan sampai perang dunia ketiga pecah di dalam rumah. Cukup gempa bumi 5,9 Skala Richter yang telah memporak-porandakan separuh isi lemari kaca dan beberapa keramik, tiga tahun yll.

Kini, diam-diam buku itu saya buka dan saya lihat kembali kartu nama hitam bertulisan nama tiga diva pebisnis panggilan dari Malioboro. Usai menulis kisah ini, kartu nama itu saya sobhek-sobhek… (diucapkan sambil menirukan mulut Thukul Arwana) hingga kecil-kecil lalu saya buang di tempat sampah paling bawah. Agar kalau ada pembaca yang ingin tahu no HP yang tertulis di kartu itu jangan menghubungi saya, melainkan jalan-jalan saja sendiri ke Malioboro sana….. 

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

Pengantar :

Berhubung tidak kebagian tiket pesawat Balikpapan – Tanjung Redeb, maka akhirnya saya dan 4 orang teman nekat menempuh perjalanan darat menyusuri jalan Trans Kalimantan atau juga disebut dengan jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb. Perjalanan ini adalah dalam rangka kunjungan ke lokasi tambang batubara di wilayah Kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 4 sampai 7 Januari 2008. Berikut adalah catatan perjalanan saya, dan masih ada beberapa catatan kuliner yang saya tulis terpisah. Sekedar ingin berbagi cerita.  

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb
(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau
(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb
(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur
(5).   Penumpang Kepagian

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

masjidWilayah kabupaten Berau yang luasnya sekitar 34 ribu kilometer persegi dan kini barangkali hanya dihuni oleh sekitar 150 ribu jiwa penduduknya, relatif merupakan kawasan yang masih sangat longgar. Sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di wilayah ibukota Tanjung Redeb. Kecepatan pertumbuhan kotanya banyak dipengaruhi oleh karena banyaknya kaum pendatang. Mayoritas masyarakat etnis Bugis dan Jawa berada di kawasan ini, sedangkan sisanya adalah campuran antara penduduk asli suku Banua, etnis Cina dan pendatang lainnya.

Semula saya mengira penduduk asli Berau adalah suku Dayak, tapi rupanya dugaan saya keliru. Penduduk asli Berau adalah suku Banua yang merupakan turunan dari suku bangsa Melayu. Memang di bagian pedalaman wilayah Berau juga dijumpai komunitas suku Dayak, seperti hanya pedalaman Kalimantan di wilayah lainnya.

Pusat kota Tanjung Redep ditandai dengan adanya kawasan perkantoran bupati Berau yang cukup mentereng. Ada taman kota Cendana yang asri di depan kompleks kantor bupati. Juga ada masjid agung Baitul Hikmah yang tergolong megah dengan dominasi warna hijau dan dengan lima buah menaranya. Kemegahan masjid ini mengingatkan saya pada kemiripannya dengan masjid di kota Tanah Grogot ibukota kabupaten Pasir, dan dalam ukuran lebih besar adalah masjid Islamic Center di kota Samarinda.

Salah satu menara masjidnya yang konon tingginya mencapai 70 meter, sebelumnya sering dimanfaatkan masyarakat untuk wisata angkasa (maksudnya melihat pemandangan dari ketinggian). Mbayar, tentu saja…. Tapi gara-gara sekarang menara itu dihuni secara liar oleh ribuan burung walet untuk menyimpan sarangnya, dan konon ada ratusan sarang walet nyangkut di dinding menara yang siap dipanen setiap bulan, maka wisata ketinggian pun bubar. Untung saja pihak pengelola masjid tidak berniat membangun menara lagi agar dapat menampung lebih banyak burung walet……
Kalau kini melihat geliat ekonomi di Tanjung Redeb semakin pesat, itu antara lain berkat naluri bisnis para pendatang yang mengimbangi pertumbuhan sektor industri yang didominasi oleh industri perkayuan dan pertambangan batubara.

Seperti diketahui bahwa wilayah di provinsi Kalimantan Timur ini juga kaya akan sumberdaya alam batubara, selain minyak. Dan kabupaten Berau adalah salah satu kabupaten yang juga menyimpan kekayaan alam batubara. Sebuah perusahaan batubara, PT Berau Coal, kini masih aktif beroperasi di wilayah itu. Untuk alasan yang masih terkait dengan batubara pula saya jauh-jauh menjelajah ke wilayah Berau.

Menjadi harapan semua pihak tentunya agar kekayaan alam yang luar biasa itu mampu dikelola dengan arif dan bijaksana oleh pihak penguasa setempat demi kesejahteraan masyarakat Berau, bukan hanya pejabatnya. Sudah cukup banyak pelajaran serupa yang terjadi di tempat lain. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pemerintah Berau.  

***

Salah satu sentra keramaian di Tanjung Redeb adalah kawasan yang disebut dengan Tepian. Ini mirip-mirip Tepian di Samarinda, hanya beda luas dan panjang arealnya. Sesuai namanya, kawasan ini memang berada di tepi sungai Segah, atau terkadang disebut sungai Berau yang lebarnya lebih 100 m dan tinggi muka airnya kurang dari satu meter dari daratannya. Makanya di sepanjang tepian ini sekarang sudah dibangun tanggul tembok guna mengatasi air pasang. Sungai Segah atau sungai Berau ini merupakan pertemuan dari dua buah sungai besar yang mengalir di wilayah kabupaten Berau, yaitu sungai Kelay dan Segah.

Kawasan Tepian ini panjang arealnya hanya beberapa ratus meter saja. Tapi setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati aneka jajanan makanan dan minuman sambil bersantai menikmati pemandangan malam sungai Segah yang sebenarnya remang-remang tapi tampak kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Terlebih saat malam Minggu tiba, kawasan ini seperti pasar malam. Ini memang tempat mangkalnya anak-anak muda Berau. Jalan A. Yani yang membentang di sepanjang tepian sungai pun jadi padat.

Di sebelah selatannya adalah kawasan pasar, orang menyebutnya pasar Bugis karena memang banyak pedagangnya yang berasal dari Bugis. Sedangkan pada penggal jalan di sebelah utaranya adalah tempat berkumpulnya puluhan warung tenda yang menyediakan segala macam menu makanan. Warung-warung tenda ini juga buka hanya pada waktu sore hingga malam hari. Menilik tulisan warna-warni yang ada pada setiap kain penutup warung tenda itu mudah ditebak bahwa mereka pasti pedagang pendatang dari luar Berau.

Pada sekitar awal dekade tahun 70-an, diantara para pendatang dari Sulawesi masuk ke Berau dengan becaknya (maksudnya merantau untuk menjadi tukang becak, kalau datangnya ya naik kapal…..). Pendatang dari Jawa pun tidak mau kalah menyemarakkan dunia perbecakan di Tanjung Redeb. Namun belakangan pemerintah Tanjung Redep mulai merasa risih melihat bahwa populasi becak semakin tidak terkendali.

Dan, ketika masyarakat pembecak berinteraksi dengan para penyepedamotor, ditambah kurang sopannya berlalulintas di tengah kota, maka lalulintas kota pun terlihat semakin semrawut. Becak terpaksa dikalahkan. Pemerintah akhirnya memutuskan menghapus becak dari bumi Tanjung Redep. Maka sejak dua-tiga tahun yang lalu, kota Tanjung Redeb yang dijuluki sebagai kota “Sanggam” yang katanya berarti cantik, pun menjadi kota tanpa becak.

Namanya juga becak, jarang ada yang parasnya cantik (apalagi tukang becaknya…..), sehingga bak penampakan dari dunia lain, becak dianggap mengganggu upaya Tanjung Redeb untuk menjelma tampil cantik, atau “sanggam” seperti julukannya. Kalau ada kota di dataran rendah yang tidak ada becaknya, maka Tanjung Redeb adalah salah satunya.

Yogyakarta, 13 Januari 2008
Yusuf Iskandar