Posts Tagged ‘bandeng’

Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri

1 Februari 2009

img_0804_rIkan bandeng memang memiliki citarasa berbeda dibanding ikan lainnya. Namun untuk menikmatinya acapkali nyali si calon pemakan sudah ciut kalau ingat duri bandeng kelewat banyak termasuk duri-duri kecil yang seakan tersusun rapi menyelimuti sekujur tubuh ikan bandeng.

Makan bandeng presto atau yang juga dikenal sebagai bandeng berduri lunak adalah salah satu solusi menikmati bandeng tanpa takut terganggu duri. Namun pada bandeng presto yang dimasak pada temperatur tinggi itu duri-durinya masih tetap melekat di dalam dagingnya, hanya saja durinya menjadi lunak atau empuk ketika digigit atau dikunyah.

Pilihan lain untuk menikmati bandeng adalah makan bandeng tanpa duri. Duri-durinya benar-benar dihilangkan sehingga dijamin si pemakan bandeng akan terbebas dari tertelan duri. Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan, saat enak-enaknya makan ikan tiba-tiba durinya tertelan dan tersangkut di tenggorokan. Selezat apapun masakan yang disajikan, segera buyar selera kenikmatannya.

Peristiwa tertelan duri ikan, oleh orang Jawa disebut ke-lek-an ri, yang lebih berkesan dramatis ketimbang menyebut tertelan duri. Kalau orang Jawa mengatakan ke-lek-an ri, seolah menggambarkan telah terjadi sebuah tragedi yang sukar dilukiskan penderitaannya. Herannya, kebanyakan peristiwa ini dialami oleh anak-anak. Entah karena tenggorokan anak kecil masih berlubang sempit atau karena anak kecil biasanya belum mampu mengamalkan prosedur yang aman untuk makan ikan berduri.

Ingat masa kecil ketika mengalami ke-lek-an ri (tertelan duri)? Sedang enak-enaknya muluk (menjumput) nasi putih hangat yang di-ciprat-i kecap manis, tiba-tiba mak sek……, nafas serasa terhenti, dada sesak, gigi meringis menahan rasa sakit, mata agak melotot tertahan (karena malu dilihat orang) tapi titik air mata tak bisa ditahan juga, ketika sebatang duri kecil tertelan dan nyangkut di tenggorokan. Ugh…..! Diminumi banyak-banyak hanya membuat perut kembung saja, karena air minum hanya permisi lewat di tenggorokan.

Orang tua kita biasanya lalu menganjurkan : “Nge-lek sego…, nge-lek sego…!” (menelan nasi). Kita pun disuruh makan nasi tapi tidak dikunyah dulu melainkan langsung ditelan saja. Tujuannya agar gerombolan butir nasi tadi rame-rame mendorong duri yang nyangkut di tenggorokan seperti para demonstran yang mendorong-dorong pintu pagar gedung DPR, sehingga duri akan terdorong masuk ke perut. Perkara di dalam perut kemudian duri nusuk-nusuk lagi ya itu urusan nanti.

Cilakanya, menelan nasi tanpa dikunyah adalah bukan pekerjaan mudah. Perlu energi ekstra untuk mampu melakukannya. Belum lagi kalau setelah rombongan nasi ditelan beberapa kali ternyata pertahanan duri di tenggorokan tak kunjung roboh juga. Akibatnya perut pun lalu merasa sudah kenyang sebelum makan. Ya, makan nasi putih thok itu tadi….

(Weleh…., lha saya ini mau cerita ikan bandeng bebas duri kok malah tentang keloloden ri…, tertelan duri).

***

img_0803_rDi kota Yogyakarta, salah satu pilihan menikmati ikan bandeng tanpa duri ada di Gama Candi Resto yang berlokasi di penghujung selatan Jl. P.Mangkubumi. Tepatnya di depan seberang timur stasiun Tugu, pas di pojokan jalan yang membelok ke kiri yang di pojokan jalannya terdapat tugu jam kota yang salah satu jamnya tanpa jarum (heran juga sama Pemkot Jogja ini, lha wong jam tanpa jarum kok ya nekat dipasang di tengah kota…..).

Menempati sebagian ruangan di sisi sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi, restoran Gama Candi menyandang judul menu nasi uduk dan ikan bakar. Lokasinya memang sangat strategis, memandang ke arah selatan dari teras smoking-area resto ini terlihat bangunan hotel Garuda, kepadatan ujung utara Jl. Malioboro dan rangkaian kereta api (kalau pas ada kereta lewat, tentu saja)

Bandeng tanpa duri yang disebut sebagai bandeng tambak kropok adalah salah satu menu unggulannya. Selain bandeng, juga tersedia cumi-cumi, kerang, kepiting, udang, ikan jepang (shisamo), tahu goreng, sayuran, trancam (bukan terancam dengan sisipan huruf ‘e‘), ca baby buncis (yang ini hoenak tenan….), ca taoge ikan asin dan aneka sayuran lainnya serta jus. Ada pilihan nasi biasa dan nasi uduk.   

Bandeng tambak kropok (sampai sekarang saya juga tidak tahu kenapa disebut demikian), daging bandengnya memang benar-benar tak mengandung duri (entah siapa pula yang tekun nduduti…, mencabuti duri-duri kecil ikan bandeng ini hingga begitu bersih). Ikan bandeng ini disajikan di atas piring oval putih sebagai bandeng bakar atau goreng yang sudah dibumbui gurih dipadu dengan guyuran sambal kecap manis bercampur irisan cabe dan bawang merah mentah. Dipotong dengan pisau di atas piringnya, lalu disendok atau atau digarpu atau bisa juga di-usek-usek dengan tangan ke sambal kecapnya, lalu dikunyah bebas saja tanpa khawatir ada duri yang nyisip, sebelum akhirnya ditelan.

Sebaiknya dimakan saat dalam kondisi masih agak panas dan jangan lupa dengan sambal kecapnya. Bumbunya terasa seperti kurang merasuk ke dagingnya, karena itu cocolan ke sambal kecap akan membantu mengantarkan si pemakan pada kesimpulan : “hoenakeee….”.. Meski suka akan bandeng, sebaiknya jangan tinggalkan untuk menikmati menu cumi-cumi, tahu goreng dan ca baby buncisnya.

Suasana tata ruang resto yang dirancang demikian rapi dan enak ditempati, dipadu dengan pelayanan yang bagus dan ramah, lalu akhirnya dibayar dengan harga yang sangat wajar, membuat penikmat masakan ikan-ikanan kiranya cukup merasa puas. Seporsi bandeng tambak kropok harganya Rp 35.000,- cukup untuk 2-3 orang yang tidak sedang kemaruk baru sembuh dari sakit.  

Gama Candi Resto di Yogyakarta yang sudah berdiri setahunan terakhir ini masih seduluran dengan resto yang sama yang lebih dahulu ada di Semarang dan hingga kini masih diminati penggemarnya. Karena itu ada pilihan makan bandeng bebas duri ketika sedang berada di Yogya atau Semarang.   

Yogyakarta, 1 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

img_0816_r

img_0815_r

Iklan

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar