Posts Tagged ‘banaran cafe’

Asal Ke Jogja

11 Juni 2010

Sengaja aku datang ke kotamu
lama kita tidak bertemu
ingin diriku mengulang kembali
berjalan2 bagai tahun lalu

Begitu seorang teman lama yang kini kerja di perusahaan minyak, tinggal di Jakarta, menyanyikan lagu jadul “Sepanjang Jalan Kenangan”, di Banaran Cafe Jogja. Tiap kali ada program kursus dari perusahaan, dia memilih yang ke Jogja…. Pokoknya Jogja, tidak peduli kursus apapun, bahkan kalau itu menjahit atau bikin kue… Asal ke Jogja!

Yogyakarta, 3 Juni 2010
Yusuf Iskandar

***

Syair lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” karya A. Riyanto :

Sengaja aku datang ke kotamu
Lama kita tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali
Berjalan-jalan bagai tahun lalu

Sepanjang jalan kenangan
Kita selalu bergandeng tangan
Sepanjang jalan kenangan
Kupeluk dirimu mesra
Hujan yg rintik-rintik
Di awal bulan itu
Menambah nikmatnya
Malam syahdu

Iklan

Catatan Di Hari-hari Silaturrahmi (Lebaran 1430H)

30 September 2009

Usai Panen Raya Ramadhan

Panen raya itu sudah bubar… Lontong, ketupat, opor menthok atau enthok (dagingnya lebih padat, tidak segurih daging ayam, berminyak, nek, tapi hoenak dan tampil beda…), mengiringi penutupan panen….. Kini, tinggal hati masing-masing menghitung pembukuan keuntungan yang dapat diraih setelah sebulan berbisnis dengan Ramadhan, atau jangan-jangan hanya sekedar….. “capek deh…”

(Panen raya yang saya maksudkan adalah panen pahala dan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah swt dengan beribadah Ramadhan, dan pembukuan keuntungan yang saya maksudkan adalah catatan amal ibadah selama Ramadhan)

Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)

——-

Ke Kendal

Bosan dengan opor ayam & menthok (enthok), mampir warung sate kerbau bumbon di Pegandon, Kendal. Bukan sekedar beda, tapi hoenaknya….

(Dalam perjalanan ke kampung halaman di Kendal, di sela-sela nyekar ke makam orang tua, bersilaturrahim, lalu nyate…..)

Kendal, 21 September 2009 (2 Syawal 1430H)

***

Bosan dengan kue lebaran…. Kebetulan sepulang dari rumah embahnya, anakku ngangkut singkong dari hasil kebun sendiri. Rupanya mbakar singkong yang kemudian dilakukan anakku…… (juga bapaknya….).

Yogyakarta, 22 September 2009 (3 Syawal 1430H)

——-

Kembali Ke Toko

Menata kembali isi toko yg morat-marit setelah “diobrak-abrik” pembeli yang belanja keperluan lebaran, sejak H-2. Capek tapi senang….. Bahkan H+4 pembeli masih ramai lebih dari hari biasanya. Rupanya kebutuhan harian tidak bisa ditunda…

Puasa bukan berarti mengurangi makan, melainkan me-reschedule. Lebaran juga bukan berarti banyak makan, melainkan kebanyakan enggak apa-apa. Inilah salah satu keunggulan bisnis ritel….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ultah

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini saya berulangtahun adalah sindiran-guyonan anak perempuan saya tadi siang. Katanya : “Wah, hari ini bakal ada yg nraktir makan, nih….”. Selebihnya live must go on as usual‘….. Ndeso tenan….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ke Semarang

Jalur Jogja-Semarang hari ini ramai-lancar-padat-merayap… Intinya, kudu sabar & enggak boleh terburu-buru sampai (tujuan)…

(Jalur merayap ini terutama antara Muntilan-Magelang-Secang dimana hanya terdiri dari satu lajur untuk masing-masing arah. Di seputaran Ungaran, Kab.,Semarang, juga kembali merayap)

Semarang, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

***

Serabi Ngampin

Mampir mencicipi kue serabi di Ngampin, selatan Ambarawa. Lumayan, ketemu model jajanan berbeda. Semangkuk 4000 rupiah isi 5 (lembar) serabi + santan manis….

(Banyak warung-warung penjual serabi di sepanjang pinggiran jalan selewat kota Ambarawa kalau dari arah utara. Kawasan ini ramai dengan penjual serabi sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya serabi Ngampin pinggir jalan hanya muncul kalau Ramadhan dan Lebaran, tapi sekarang sepanjang waktu ada, bergabung dengan penjual kelengkeng, durian, rambutan, dan aneka jajanan….)

Ambarawa, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

——-

Ramai-Lancar-Padat-Merayap

Istilah baru (oleh wartawan TV) yang mulai akrab di telingaku : Lalulintas ‘ramai-lancar’….., agaknya lawan dari ‘padat-merayap’ yang lebih dulu populer. Meski begitu, waktu menjalani jalur Jogja-Semarang kemarin, ternyata ‘ramai-lancar-padat-merayap’….. (enggak usah dicari lawannya).

Yogyakarta, 25 September 2009 (6 Syawal 1430H)

——-

Bersama Para Miner Di Banaran Café Jogja

Tadi malam hadir di acara silaturrahim informal dengan para miner (buruh tambang alumni UPN) di Banaran Cafe, Jogja. Rupanya ini cafe masih ada hubungan saudara dengan dua Warung Kopi Banaran yang ada di Bawen dan Ambarawa, tapi lain ayah & lain ibu (alias beda manajemen). Kopinya yang di Banaran Jogja kalah theng dibanding yang di Bawen atau Ambarawa….

(Banaran café Jogja berada di lantai bawah gedung LPP, Jl. Solo. Rupanya semua café milik PTP di Indonesia bernama Banaran… Di Jogja termasuk café kecil dan tidak sekomplit yang di Bawen atau Ambarawa)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

***

Menjamu Sahabat Lama Di Resto Numani Jogja

Makan malam dengan sahabat lama (ex teman kerja & teman mendaki Rinjani) di Resto ‘Numani’ Jl. Parangtritis Jogja spesialis gurameh segar yang bisa bikin tuman (bhs Jawa : ketagihan)…. Gurameh bakar, cumi dan udang goreng …tapi tidak panas, cah kangkung, petai goreng, sambal mentah, dan trancam (sejenis karedok, bukan terancam)…. Yang terakhir ini pas di pencecap…..

(Lokasi Resto Numani berada di sekitar km 7 Jl. Parangtitis, kalau dari arah utara selewat perempatan Ringroad dan setelah Taman Seni Gabusan Bantul)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

——-

Antara Mendaki Gunung Dan Omset Toko

Mendaki gunung adalah mencapai puncak tertentu setelah itu turun lagi ke elevasi pengalaman & keterampilan lebih tinggi. Anakku sudah membuktikannya — Sama seperti mengejar omset warung saat lebaran : muncak lalu turun lagi pada elevasi omset lebih tinggi dari sebelumnya. Giliran saya membuktikannya.

Inilah yang paling saya sukai ketika ngurus warung mracangan… Puji Tuhan walhamdulillah

(Anakku mendaki gunung Lawu, 25-27 Sepember 2009, sebagai pendakian yang kesekian kalinya. Di sisi lain, omset “Madurejo Swalayan” mulai menurun sejak mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran kemarin, tapi Alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding hari-hari sebelum Ramadhan)

Yogyakarta, 28 September 2009 (9 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar