Posts Tagged ‘balikpapan’

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda 9

15 Maret 2008

(9).   Menyeberang Ke Balikpapan

Di pelabuhan penyeberangan kota Penajam inilah jalan Trans Kalimantan penggal selatan, atau Jalan Ahmad Yani, atau Jalan Propinsi, atau Jalan Negara, atau Jalan Raya Penajam seolah-olah berujung, yaitu di pelabuhan penyeberangan menuju kota Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan akan disambung lagi dengan jalan Trans Kalimantan penggal utara sampai terus ke atas entah dimana ujungnya (mudah-mudahan kelak saya akan mempunyai kesempatan untuk melihat ujungnya).

Tiba di pelabuhan penyeberangan, rupanya kami adalah kendaraan pertama yang masuk sejak kapal fery terakhir berangkat. Kami harus membayar biaya penyeberangan Rp 103.000,- untuk satu kendaraan, berapapun isi penumpangnya. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Segera kami diaba-aba untuk masuk ke kapal fery yang akan menyeberangkan kami dari Penajam menuju Kariangau di pinggiran Balikpapan. Kapal fery itu katanya selalu penuh. Pada siang itu saya lihat setidaknya ada sekiar 10 kendaraan segala macam jenis turut menyeberang, masih ditambah puluhan sepeda motor. Kapalnya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar kapal fery penyeberangan antara Jawa – Sumatera atau Jawa – Bali.

Angkutan penyeberangan ini termasuk sangat vital sebab inilah cara tercepat untuk menuju Balikpapan dan sebaliknya, termasuk semua aktifitas ekonomi akan menggunakan sarana ini. Kegiatan penyeberangan ini beroperasi 24 jam, karena itu tidak perlu khawatir jam berapapun kita tiba di pelabuhan Penajam. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, ada alternatif untuk menyeberang dengan menggunakan speed boat. Waktu tempuh untuk menyeberang dengan speed boat tentu lebih cepat dibanding fery, dengan ongkos per kepala yang lebih mahal.

Hanya perlu waktu satu jam untuk menyeberang, hingga akhirnya saya mendarat di sisi barat daya kota Balikpapan. Satu jam seperti tidak terasa. Sebab sambil beristirahat, bisa sambil menikmati pemandangan alam laut, pelabuhan dan pulau-pulau di sekitarnya. Bisa dipahami, karena ini adalah suasana baru setelah sekian hari melihat daratan yang membosankan.

Namun satu jam bisa jadi menjengkelkan kalau itu adalah perjalanan kembali dari cuti bagi para pekerja pendatang yang besoknya harus bekerja kembali menanti periode cuti berikutnya. Uh, apa boleh buat….     

***

Memasuki kota Balikpapan saya hanya sempat melewati pinggirannya saja, sebab perjalanan akan terus dilanjutkan menuju ke Samarinda. Saya jadi ingat, di kota ini tinggal cukup banyak teman-teman saya. Setidak-tidaknya kota ini sering diceritakan sebagai kota transit bagi banyak pekerja tambang, minyak dan geologi untuk cuti pulang kampung atau kembali ke tempat kerja. Tapi menyadari bahwa saya hanya akan numpang lewat saja di Balikpapan, beberapa teman hanya sempat saya halo-halo, numpang lewat. Mudah-mudahan lain kesempatan punya waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi kota ini, yang kabarnya termasuk kota yang biaya hidupnya tergolong ngudubilah tingginya.

Perjalanan menuju kota Samarinda masih sekitar 115 km lagi. Hari sudah sore saat meninggalkan kota Balikpapan. Lalu lintas ke luar kota cukup padat. Juga jalan ini melintasi kawasan penduduk yang tampaknya juga padat. Kendaraan pun sepertinya semua melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi jalur Balikpapan – Samarinda yang sangat bagus dan mulus kondisi jalannya. Sebagus berbagai jenis kendaraan yang melintasinya. Barulah ketika melewati sekitar kilometer 12 kondisi jalan mulai tampak kurang padat dan mulai memasuki kawasan yang kurang penduduknya. Pemandangan tampak lebih hijau dan banyak pepohonan.

Senja menjelang, perjalanan memasuki kawasan hutan Bukit Soeharto. Meski sudah rada-rada gelap, namun terkesan bahwa ini adalah tempat yang indah, teduh dengan udara menyegarkan di kala siang. Setidak-tidaknya bisa mengimbangi kota Balikpapan yang panas, padat dan berpolusi. Lokasi Bukit Soeharto pun tidak terlalu jauh dicapai dari Balikpapan, barangkali hanya sekitar 45 menit naik kendaraan agak ngebut.

Perjalanan terus kami lanjutkan menuju ke kota Samarinda, karena sudah kami jadwalkan malam itu untuk menginap di sana. Beberapa teman kuliah yang sejak lepas bangku kuliah dulu tidak pernah ketemu sudah hola-halo saja, kepingin reuni kecil-kecilan. Ya maklum wong sudah 20 tahunan tidak ketemu. Padahal dulu belajarnya sama-sama (itu juga enggak ngerti-ngerti juga). Padahal dulu tinggal sekamar berdua di Patehan Lor, demi menghemat biaya kost.

Yogyakarta, 10 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(14).   Rebutan Bukit Soeharto

Hari Sabtu, 29 Juli 2006 adalah hari terakhir kami di bumi Kalimantan, tepatnya propinsi Kalimantan Timur. Masyarakat setempat bangga menyebutnya “Banua Etam” (bahasa Kutai yang artinya “kampung kita”). Sudah sering disebut-sebut, bahwa propinsi Kalimantan Timur ini termasuk propinsi terkaya di Indonesia. Kekayaan yang berupa minyak bumi, gas alam, batu bara, emas dan hasil hutan sepertinya melimpah-ruah.

Namun ironisnya, dengan kekayaan yang melimpah dengan catatan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi, hanya sekitar 10% yang kemudian kembali ke daerah dalam bentuk dana perimbangan (yang dinilai tidak berimbang karena sebagian besar nyangkut di pusat). Kenyataannya, dari sekitar 2,7 juta penduduk “Banua Etam” itu 11% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Infrastruktur sosial pun sangat terbatas. Maka tidak heran kalau masyarakat Kaltim teriak-teriak menuntut pembagian dana perimbangan yang lebih berimbang dan adil.

Padahal masyarakatnya sangat antusias membangun daerahnya. Dimana-mana terpampang tulisan yang menggugah semangat “Etam bangga membangun Kaltim”. Tentu menjadi kurang fair kalau kemudian yang menikmati hasil pembangunan “etam” itu tadi justru bukan masyarakat Kaltim sebagian besarnya. Mendingan kalau masyarakat Indonesia lain yang menikmatinya, hitung-hitung “sedekah”…… Tapi masalahnya dikhawatirkan yang menikmati justru oknum nun jauh di sana (mengkambinghitamkan oknum memang paling enak…..). Begitu kira-kira kegundah-dan-gulanaan yang berkembang di tengah masyarakat Kaltim, yang kini siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII tahun 2008.

***

Agak siang kami harus meninggalkan Samarinda, ibukota “Banua Etam”, menuju ke Balikpapan. Perjalanan ke Balikpapan dengan menempuh jarak 115 km itu berarti kami akan kembali melalui jalur berkelok di Bukit Soeharto. Kali ini saat siang hari, sehingga nampak benar suasana hutan nan teduh dan asri dari kawasan perbukitan yang menghijau.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, terletak membentang sepanjang 32 km di jalur jalan Balikpapan – Samarinda, tepatnya di km 45 – 77, masuk wilayah kecamatan Semboja, kabupaten Kutai Kartanegara. Hutan seluas 61.850 hektar ini ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam pada tanggal 20 Mei 1991. Di hutan ini tumbuh berbagai vegetasi hutan dengan semak dan alang-alang. Pepohonan yang ada merupakan hasil reboisasi, seperti akasia, sengon, mahoni, johar, sungkai dsb. Jenis satwa yang ada antara lain babi hutan, kancil, kera, biawak serta berbagai jenis burung-burungan.

Dengan bentang alamnya yang indah, sejuk dan nyaman, tak syak lagi tempat ini menjadi obyek wisata yang cukup diminati oleh para wisatawan. Beberapa lokasi di sepanjang jalur lintas hutan ini pun dimanfaatkan oleh para penduduk untuk membuka kedai-kedai yang menjual aneka macam. Tumbuhlah aktifitas ekonomi kecil, yang kalau tidak ditata dengan baik tentu berpotensi mengganggu keindahan dan kenyamanan berwisata.

Namun kini aktifitas ekonomi yang berskala lebih besar sedang menghadang. Hal ini terkait dengan ditengarainya bahwa di dalam perut Soeharto terkandung 122-150 juta ton cadangan batubara. Ini baru heboh!. Bukit Soeharto lalu seolah-olah jadi rebutan. Berbagai kepentingan pun lalu menyeruak. Maka persoalannya menjadi klasik. Antara yang hendak mengeksploitasi dengan yang hendak mengkonservasi. Antara yang pro hutan dan pro industri, tapi rupanya masih ada satu lagi yang pro hutan tanaman industri. Nah, loe! “Nggak ada loe, nggak rame…..”, kata iklan sebuah produk hijau (maksudnya produk yang bungkusnya berwarna hijau) di televisi…..

Riuh-rendah tentang Bukit Soeharto ini terlihat dari semangat pihak Bapedalda yang mengancam tidak akan mengeluarkan ijin jika Bukit Soeharto hendak dieksploitasi batubaranya. Tetapi, begitupun pihak Pemkab Kutai Kartanegara ternyata sudah mengkapling-kapling dan mengeluarkan ijin Kuasa Pertambangan batubara bagi sejumlah pengusaha dan Koperasi Unit Desa. Sementara itu, pihak Menhutbun juga sudah telanjur melepaskan sejumlah areal hutan untuk perluasan Hutan Tanaman Industri dan sarana penunjangnya. Lebih seru lagi, pada musim kemarau seperti sekarang ini kebakaran hutan mengancam ketiga kepentingan itu.

Bagai persamaan matematika, ada tiga buah garis yang hendak bertemu di satu titik perpotongan. Maka perlu dicari harga optimum dari titik perpotongannya, dimana menghasilkan minimum kemudharatan (keburukan) dan maksimum kemaslahatan (kebaikan). Biarlah orang-orang pintar di “Banua Etam” duduk bersama, bekerja dalam tim, untuk merumuskan titik perpotongan yang bernilai optimum, agar kelak anak-cucunya tidak tuding-tudingan. 

Ini hal yang lumrah saja. Sudah menjadi hukum alam, bahwa ketika ilmu dan teknologi semakin maju, maka semakin banyak pula peluang terjadinya benturan. Kenapa jaman dulu tidak banyak benturan (tepatnya, belum teridentifikasi)? Karena ilmu dan teknologi belum semaju sekarang dan orang-orangnya pun belum sepintar sekarang. Seratus tahun lagi benturan akan semakin hebat. Tapi kerepotan selalu muncul, yaitu ketika salah satu pihak menganggap dirinya yang paling benar. Uh…., repotnya!

***

Jalur melintasi Bukit Soeharto pun terlewati sambil mata terkantuk-kantuk tak tertahankan. Tahu-tahu kami sudah memasuki kota Balikpapan. Suasana kota yang padat dan ramai, di tengah cuaca siang yang panas sungguh membuat kurang nyaman. Waktu menunjukkan menjelng tengah hari. Masih ada beberapa jam sebelum pesawat ke Jogja tinggal landas dari bandara Sepinggan.

Rasanya ada yang kurang. Ya, oleh-oleh!. Lalu seorang teman di Balikpapan mengantarkan membeli makanan khas Kaltim, yaitu amplang. Amplang adalah sejenis kerupuk ikan, yang terbuat dari ikan dan tepung sebagai bahan utamanya, lalu dicampur dengan bumbu, telor dan sedikit gula. Maka jadilah makanan ringan berukuran kecil-kecil, yang kalau dimakan bunyinya antara kremes-kremes dan kriuk-kriuk. Rasanya mirip-mirip seperti kalau kita makan kerupuk udang atau kerupuk Palembang, dengan rasa bumbu ikannya lebih kuat. Lumayan enak untuk makanan selingan di rumah, agar tidak terus-terusan makan kacang rebus atau blanggreng (ubi goreng). Tetangga pun bisa turut kebagian kremes-kremes dan kriuk-kriuknya…. Itulah enaknya tinggal di kampung dekat tetangga, ada yang bisa diberi oleh-oleh……  

Yogyakarta, 22 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(15).   Tragedi Pembantaian Masal Di Kota Minyak

Sejarah berdirinya kota Balikpapan tidak dapat dipisahkan dari industri perminyakan, yaitu sejak pengeboran minyak pertama kali dilakukan di teluk Balikpapan pada tanggal 10 Februari 1897, oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari pasal-pasal kerjasama antara J.H.Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel & Co.

Sejak jaman Belanda hingga sekarang di bawah pengelolaan Pertamina, praktis industri perminyakan menjadi urat nadi perekonomian kota Balikpapan. Bukan saja oleh hasil minyak dan gas alamnya, melainkan juga sebagai pusat pengilangan minyak mentah yang bahan bakunya didatangkan dari daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Pasir, dan Kutai Timur.

Kontribusi yang cukup besar telah diberikan oleh sektor indusri perminyakan bagi pembangunan negeri ini. Keberadaan perusahaan-perusahaan minyak swasta seperti Vico, Total, Unocal, dan banyak perusahaan lainnya turut memberikan andil yang besar bagi pengembangan dan pembangunan kota Balikpapan dan Kaltim pada umumnya. Maka tidak berlebihan kiranya jika kota Balikpapan juga dijuluki sebagai kota minyak.

Karena minyak pula, di jaman kolonial dulu kota Balikpapan dan kawasan penghasil minyak di sekitarnya sempat menjadi ajang perebutan antara penjajah Belanda dan Jepang. Kalau di tempat-tempat lain penjajah akan berebut rempah-rempah atau hasil tambang, sementara di wilayah Kalimantan Timur minyaklah sasarannya. Kisah pendudukan, peperangan dan penguasaan kawasan Balikpapan dan sekitarnya banyak tercatat dalam sejarah militer asing.  

***

Namun ternyata kota Balikpapan menyimpan sejarah kelam yang nyaris tidak pernah tercatat dalam lembar sejarah Indonesia. Barangkali karena korbannya bukan orang Indonesia. Sejarah pembantaian oleh Jepang yang mengeksekusi 78 orang Belanda di tempat yang bernama Klandasan, tercatat sebagai salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Balikpapan. Sebuah kekejaman perang yang terkait dengan perebutan ladang minyak oleh Jepang dari tangan Belanda.

Ketika Jepang merebut kota Tarakan, tentara Jepang nggondoknya bukan kepalang melihat kenyataan bahwa ladang minyak di Tarakan sudah luluh-lantak dihancurkan oleh Belanda sebelum Jepang datang. Padahal berikutnya Jepang berencana merebut kota Balikpapan. Jangan-jangan ladang minyak Balikpapan juga akan dibumihanguskan oleh Belanda. Maka dua orang kapten Belanda yang tertangkap di Tarakan, yaitu Kapten G.L. Reinderhoff dan Captain A.H. Colijn dikirim ke Balikpapan pada tanggal 20 Januari 1942 dengan membawa surat ultimatum yang bunyinya membikin berdiri bulu romaku……

Bunyinya kira-kira begini : Jika Belanda berani merusak fasilitas ladang minyak Balikpapan dan sekitarnya, maka semua komandan, prajurit dan londo-londo yang terkait akan dilibas tanpa kecuali.

Eee…, lha kok tenan. Begitu menerima surat ancaman, komandan KNIL Letkol C. van den Hoogenband merasa ora sudi diancam-ancam. Sang komandan KNIL malah memerintahkan untuk membakar seluruh fasilitas ladang minyak Balikpapan. Maka ketika akhirnya pasukan Jepang dibawah komandan Mayjen Shizuo Sakaguchi benar-benar menyerang dan merebut Balikpapan, tiada ampun lagi semua bangsa walondo yang tertangkap lalu dikumpulkan dan ditahan semena-mena. Sebagian besar walondo lainnya sudah diungsikan keluar daerah oleh Letkol Hoogenband. Bahkan Kapten Reinderhoff dan Kapten Colijn malah disuruh ke Jawa, alih-alih kembali ke Tarakan untuk memenuhi janjinya melapor kepada Jepang yang menangkapnya.

Hingga akhirnya tibalah pada suatu pagi di tepian pantai, diperkirakan tanggal 24 Pebruari 1942. Jepang menggiring tangkapan Belandanya yang antara lain terdiri dari pegawai sipil, petugas medis, pendeta, pasien rumah sakit, inspektur polisi, tentara dan sekelompok tahanan perang lainnya, total jendral ada 78 orang. Mereka digiring dalam keadaan terikat di bawah kawalan ketat tentara Jepang. Sudah pasti dengan menodongkan senjatanya.

Satu demi satu lalu didor tanpa perlawanan. Prosesi pembantaian masal itupun selesai dalam dua jam. Begitu menurut penuturan seorang saksi mata yang juga orang Belanda yang sempat menyamar sebagai orang Indonesia.

Ketika Jepang datang menangkapi pasien rumah sakit, orang Belanda yang bernama  J. Th. Van Amstel ini kabur ke kampung di sekitarnya. Kebetulan Belanda satu ini termasuk londo ireng, berkulit gelap dan lalu menyamar berpakaian layaknya orang Indonesia. Pada hari pembantaian, orang-orang kampung dikumpulkan dan dipaksa menyaksikan eksekusi masal itu, termasuk Van Amstel, hingga sempat menuliskan kesaksiannya.

Itulah sepenggal kisah kelabu tragedi pembantaian masal di Balikpapan yang kisahnya jarang disebut-sebut dalam sejarah Indonesia tentang pendudukan Jepang di Balikpapan. Perang memang selalu menyisakan kisah kekejaman dan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Hanya perang rebus atau sate perang , eh….. kerang maksudnya, yang banyak disuka orang….. 

Yogyakarta, 23 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(16).   Kenapa Disebut Balikpapan?

Sebentar lagi pesawat Mandala akan membawa kami kembali ke Jogja. Siang itu, Sabtu, 29 Juli 2006, bandara Sepinggan nampak padat dan ramai. Agaknya bandara internasional Sepinggan ini termasuk bandara yang cukup sibuk. Sejak tahun 1995 bandara ini juga mulai ditunjuk sebagai bandara embarkasi jamaah haji yang berasal dari sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.

Sayang sekali, kali ini saya hanya numpang lewat saja di Balikpapan, sehingga banyak hal menarik yang terpaksa terlewatkan untuk dikunjungi. Saya berharap mudah-mudahan masih akan memperoleh kesempatan untuk kembali mengunjungi Balikpapan. Meski begitu, dari selintas kunjungan saya kali ini, saya sempat menangkap dan menggali sedikit hal yang rasanya sayang untuk saya simpan sendiri.

*** 

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Balikpapan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota yang topografinya berbukit-bukit dan dihuni oleh lebih 550.000 jiwa penduduknya itu sepintas tampak teratur, rapi dan bersih. Memang pantas menjadi contoh bagi pengelolaan tata kota yang relatif lebih terencana dibanding kota-kota industri lainnya di Indonesia. Tidak dipungkiri hal ini sangat dipengaruhi oleh warisan Belanda yang sejak dahulu kala membangun kota ini sebagai rangkaian penyediaan infrastruktur bagi aktifitas industri perminyakan.

Membicarakan kota Balikpapan nyaris akan selalu terkait dengan aktifitas bisnis industri perminyakan, pertambangan dan perkayuan, yang tentu kemudian terkait dengan industri perdagangan dan transportasi. Komponen itulah yang kemudian menjadi roda penggerak ekonomi kota Balikpapan. Hingga Balikpapan pun menjelma menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tergolong luar biasa cepat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Aktifitas industri yang berkembang pesat di hampir semua sektor di Balikpapan, praktis mengalahkan popularitas kota Samarinda yang ibukota propinsi. Maka, kota inipun siap untuk mengemban misi yang tidak baen-baen : “Menggelorakan semangat Balikpapan, Kubangun, Kujaga, dan Kubela”.

***

Akhirnya, ada pertanyaan rada menggelitik kenapa kota ini disebut Balikpapan? Kok bukan Balikdrum atau Baliktong, misalnya….. Kalau sudah bicara soal asal bin muasal di balik sebuah nama, maka akan berurusan dengan kata “konon”.

Konon yang pertama : Sewaktu sultan Kutai hendak membangun kembali istananya yang musnah terbakar gara-gara kalah tarung dengan Belanda, beliau memesan seribu keping papan. Namun hanya ada sepuluh keping papan yang balik ke Jenebora di teluk Balikpapan. Oleh orang Kutai papan yang balik itu disebut “Balikpapan Tu”, hingga kawasan sepanjang teluk itu lalu disebut dengan Balikpapan.

Konon yang kedua : Disebutkan bahwa suku asli Balikpapan, yaitu suku Pasir Balik, adalah keturunan dari kakek dan nenek moyangnya yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan yang juga berarti Balikpapan (dalam bahasa Pasir, kuleng artinya balik).

Konon yang ketiga : Di jaman dahulu kala adalah seorang raja yang tidak ingin putrinya jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita lalu diikat di atas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring dan dilepas ke laut. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata dijumpai seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan (jangan lagi ditanya bagaimana sang putri bisa tetap hidup di balik papan dan dibolak-balik gelombang…..).

Konon yang keempat : Di jaman pendaratan VOC sekian abad yang lalu, melihat kumpeni Belanda yang bersepatu prok-prok-prok dan mempunyai bedil panjang, masyarakat setempat pada ketakutan lalu ndelik (bersembunyi) sambil ngintip-ngintip di balik dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Maka londo Belanda itu pada heran kok kampungnya sepi sekali, rupanya ketahuan bahwa inlander yang ketakutan pada bersembunyi di balik papan dinding rumahnya. Tersiarlah sebutan Balikpapan.

Kelihatannya konon yang keempat itu lebih masuk akal, kenapa kota ini disebut Balikpapan.

Tapi tunggu, hua…ha…ha…ha….. Nyuwun sewu, sori tenan……, konon yang keempat itu adalah cerita karangan saya sendiri….. (biar tidak nanggung).

Selamat bekerja dan matur nuwun — (Wis, ah!)

Yogyakarta, 24 Agustus 2006
Yusuf Iskandar