Posts Tagged ‘balerante’

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Melepas Matahari Terakhir 2010 Di Kaki Merapi

9 Januari 2011

Pengantar :

Berikut ini penggalan catatan saya saat mengunjungi desa Glagaharjo (kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman) yang berbatasan dengan desa Balerante (kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten) yang saya posting berurutan di Facebook. Kunjungan itu saya lakukan pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 dalam rangka ingin menyaksikan dan melepas matahari terakhir di penghujung tahun 2010.

Kabut sore terakhir di penghujung tahun 2010, di desa Balerante, Kemalang, Klaten (yang berbatasan dengan desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman)…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

——-

(1)

Bermaksud melepas matahari terakhir tahun 2010, Jum’at senja di kampung Klengon, dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Ini adalah kawasan pemukiman tertinggi dan terujung di bawah Gunung Kendil, kaki tenggara Merapi. Kawasan ini kini musnah, menyisakan fondasi rumah dan sisa pepohonan yang terbakar awan panas (5/11/2010).

Namun sayang mendung bergelayut rata di angkasa, menutupi bentang Merapi.

(2)

Desa Glagaharjo, Cangkringan (dimana makam Mbah Maridjan berada) terletak di sisi timur kali Gendol. Di seberang barat kali Gendol terbentang kawasan desa Kinahrejo dan Kepuharjo yang nampak rata dan hilang tersapu awan panas. Seluas mata memandang ke arah barat, selatan dan timur adalah hamparan tanah terbuka yang didominasi oleh pemandangan pasir, lahar dingin dan sisa pepohonan mati.

(3)

Ketika kemarin sore saya mengajak seorang relawan mengunjungi desa Glagaharjo (Sleman) dan Balerante (Klaten), Kang Tugi sang relawan, mengajak naik motor saja. Mobil saya titipkan dan saya membonceng sepeda motor yang sudah tidak dikenali mereknya, yang suaranya mbeker-mbeker.., lebih 10 km mengikuti jalan menanjak dan…, blusukan ke bekas jalan-jalan desa.

Rupanya itulah alasannya, agar kami bisa blusukan di jalan-jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor…

(4)

Kawasan Glagaharjo dan Balerante masih nampak suram, lebih-lebih cuaca sore mendung seperti mau hujan sehingga bleger (sosok) Merapi menjadi tidak nampak. Padahal lokasi itu berjarak 5 km dari puncak.

Menyusuri jalan-jalan desa dengan sepeda motor, napak tilas dusun Klangon dan Kalitengah Lor yang merupakan kawasan terujung yang kini “hilang”, hingga masuk ke wilayah TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Bak penampungan dan sumber air goa Jepang masih ada di sana.

(5)

Kini kawasan Glagaharjo dan Balerante menjadi obyek tujuan wisata, seperti halnya Kepuharjo dan Kinahrejo. Lebihlebih di musim liburan ini, wilayah itu menjadi sangat padat pada siang hari. Sedang jalan-jalan desa yang ada umumnya sempit, maka bisa dibayangkan suasana yang padat oleh pengunjung termasuk sepeda motor dan mobil yang berdesak-desakan.

Keadaan ini nampaknya belum diantisipasi, bahkan hingga kini belum tertangani oleh pihak manapun.

(6)

Pihak perangkat desa belum sempat memikirkan desa yang kini ditinggalkan dan nyaris seperti “tak bertuan”. Apalagi perangkat pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi.

Dapat dimaklumi kalau pihak desa masih berfokus menangani warganya yang masih mengungsi karena mau kembali tidak lagi punya tempat berteduh, juga bagaimana masa depan mereka. Akibatnya tidak ada aparat keamanan yang turun ke kawasan itu. Maka tenggang rasa sesama pengunjunglah yang menjadi pengendali.

(7)

Terlihat beberapa bedeng sangat sederhana di beberapa lokasi di Glagaharjo. Sekedar atap peneduh dari plastik atau dinding gedek (bambu). Itu adalah bedeng yang digunakan oleh sebagian warga yang sebenarnya masih di pengungsian untuk membuka lapak berjualan makanan dan minuman seadanya. Sekedar memanfaatkan peluang usaha kecil-kecilan di lokasi wisata dadakan. Wisata bekas letusan Merapi. Tapi itu sebenarnya menjadi titik awal bangkitnya aktifitas ekonomi.

(8)

Relawan yang menemaniku berujar: “Saya kepingin membantu warga yang mau jualan dengan membuatkan warung yang lebih layak, sekalian dapat untuk berteduh pengunjung”.

Memang di kawasan seluas itu nyaris tidak ada bangunan yang masih tegak berdiri dan semua pepohonan mati. Para relawan sedang mengumpulkan material-material bekas yang masih dapat digunakan. Dan itulah salah satu info yang saya cari dalam kunjungan kemarin: Apa yang paling dibutuhkan saat sekarang ini.

(9)

Satu dua warga Glagaharjo kalau siang memang berjualan makanan-minuman bagi pengunjung. Satu dua warga mengumpulkan puing-puing rumahnya. Ada juga yang sudah mencoba mendirikan sebarang bedeng asal bisa ditempati dulu, sehingga bisa memulai beraktifitas di tempat semula.

Sekian lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian kapan pulang tentu menjemukan, juga mereka menjadi tidak produktif. Berharap rumah bantuan, entah kapan turun dari langit…

(10)

Hal lain kemudian saya catat sebagai kebutuhan mendesak mereka adalah material bangunan untuk sekedar dapat mendirikan tempat berlindung sederhana, tidak permanen. Hanya agar mereka dapat memulai kehidupan di tempat asalnya, sebagai petani dan peternak. Atap, dinding dan kelengkapan seperlunya tentu akan sangat membantu.

Sekali lagi, berharap rumah? Ah.., berbiaya tinggi, sedang bantuan yang pernah dijanjikan entah kapan menjelma.

(11)

Hari makin petang dan awan gelap masih bergelayut di angkasa kaki Merapi ketika saya berada di kawasan TNGM. Rumpun-rumpun bambu yang dulu rimbun menghijau, kini kering, meranggas, roboh dan mati. Menyisakan pemandangan lepas ke arah gunung dan ke arah dataran rendah.

Masih ada bak penampung air. Perbaikan jaringan pengairan yang pasti perlu biaya banyak, belum mendesak saat ini mengingat warga belum kembali, walau tetap perlu direncanakan.

(12)

Di antara kegersangan tanpa satu pohon tinggipun tersisa melainkan kering dan mati seluas mata memandang, kini tunas-tunas tanaman pisang, keladi dan jenis rerumputan sudah mulai nampak menghijau. Memang akan perlu waktu untuk mengembalikan kerimbunan dan kehijauan Glagaharjo dan Balerante. Sedang kesuburan pasti akan meningkat. Maka penghijauan adalah program yang sedang digiatkan oleh para relawan di sana…

(13)

Para relawan yang sekarang “membina” kawasan Glagaharjo dan Balerante, saat ini sedang giat mengumpulkan bibit aneka tanaman keras. Tujuannya guna membantu mempercepat penghijauan.

Mengharapkan program pemerintah, mereka “no comment” (tidak perlu diterjemahkan apa artinya). Lebih baik langsung bergerak mengusahakan bibit tanaman apa saja sebisanya, bahkan meminta jika perlu dan mencari sendiri…

(14)

Jumat sore itu saya lihat beberapa bibit tanaman sudah ditanam. Mahoni, sengon, kelapa, talok (kersen), gayam, pendeknya bibit apa saja. Ada yang menyumbang tanaman buah seperti mangga dan rambutan. Bibit kelapa adalah hasil meminta karena memang tidak ada dana untuk membelinya. Bahkan bibit pohon gayam dan talok mereka cari sendiri.

Maka bantuan bibit tanaman adalah yang mereka harapkan sekarang. Bibit itu ditanam dimana saja di seluas kawasan gersang itu…

(15)

Menjelang maghrib saya tiba di dusun Sambungrejo, dusun paling ujung atas di desa Balerante, Klaten. Tempat yang saya tuju adalah sebuah masjid yang sedang direnovasi. Dari kejauhan masjid kecil ini, Al-Barokah namanya, nampak jelas berdiri megah. Dari pelataran masjid itu kupandang lepas kawasan gersang ke arah dataran rendah.

Dalam hembusan angin sejuk bertiup cukup kuat, kulepas kepergian senja terakhir tahun 2010… Subhanallah…

(16)

Di sebelah masjid kecil itu ada sebuah rumah yang nampak mulai ada penghuninya. Di sana saya bertemu dengan pak Barjo, takmir masjid itu, satu dari sedikit warga Balerante yang sudah mulai kembali.

Dari pak Barjo saya tahu, bahwa rupanya memang menjadi prioritas Pemkab Klaten untuk memperbaiki masjid lebih dulu (setelah sebelumnya dikunjungi oleh Bupatinya…). Pak Barjo juga sekalian menunggu dan merawat ternak sapi penggantian dari pemerintah untuk sapi-sapinya yang mati.

(17)

Di rumah yang masih terlihat baru diperbaiki itu pak Barjo tinggal bersama kedua orang tuanya, Mbah Sudi dan istrinya yang jelas menampakkan wajah tuanya. Di senja yang berhawa sejuk itu mbah Sudi sedang duduk santai menghangatkan badan dengan menyalakan api unggun di hadapannya.

Melihat kedatanganku, mbah Sudi dan istrinya bangkit menghampiri dan menyalamiku. Tidak tampak kesusahan di mukanya, melainkan aura damai terpancar di wajahnya. Ah…

(18)

Jejak sapuan wedhus gembel dapat saya temukan di seputaran rumah mbah Sudi dan masjid di dekatnya. Dua sepeda motornya yang kini tinggal rangka, masih teronggok di depan rumahnya. Horn (pengeras suara) masjid tergeletak bak besi tua, juga mustoko (kubah) masjid yang lama, selain onggokan kayu seperti sisa kebakaran.

Ketika kutanya apa kegiatannya sekarang. Jawabnya lugu: “Inggih pados suket kangge pakan sapi…(ya cari rumput untuk pakan sapi)”.

(19)           ‎

Antara desa Glagaharjo, kabupaten Sleman dan Balerante, kabupaten Klaten, memang hanya terpisah sebuah jalan desa. Tapi bagaimana kedua Pemkab itu menangani masyaakatnya, nampaknya masyarakat Glagaharjo pantas iri dengan tetangganya di Balerante.

Saat penggantian ternak mati masih angin sorga di Glagaharjo, tetangganya di Balerante sudah sibuk mencari rumput untuk sapi-sapi yang sudah ada di kandangnya, bangunan rumah contoh sudah mulai dibangun, termasuk masjid, dsb.

(20)

Saat warga Glagaharjo belum sempat terpikir melakukan penghijauan, kepada warga Balerante sudah dibagikan bantuan ribuan bibit tanaman. Para relawan kini berupaya mencari bibit tanaman bagi desa Glagaharjo dimana pihak pemerintah belum juga mulai bergerak “menghidupkan” desa itu.

Peran para relawan yang tidak menerima upah sepeserpun dari siapapun layak diapresiasi. Mereka yang kini aktif ngupokoro (mengelola) kawasan yanlg seoah tak bertuan…

(21)

Senja semakin remang, saya turun ke dusun di bawahnya, Banjarsari. Di sini lebih banyak warga yang kembali dari pengungsian. Mereka perbaiki rumah seperlunya asal dapat ditempati dulu. Beberapa warga terlihat sedang membuat api unggun di pinggir jalan untuk menghangatkan suasana yang sejuk, di depan masjid Al-Fatah yang juga baru selesai direnovasi.

Di masjid ini pula kusempatkan bersujud guna menghormati waktu maghrib terakhir tahun 2010…

(22)

Hari semakin gelap, saya menuju ke sebuah rumah yang kini dijadikan Posko Banjarsari, desa Balerante. Pak Darmini, ketua Posko menerima kedatangan saya dengan sangat baik. Kami bertukar pikiran tentang penanganan pasca bencana.

Saya tahu kenapa sebagian warga Balerante sudah kembali dari pengungsian, karena rupanya mereka digilir ronda guna menjaga ternak penggantian pemerintah yang sudah mereka terima, juga harta benda yang msh ada disana.

(23)           ‎

Posko Banjarsari bukan sekedar Posko penerimaan bantuan, tapi juga membuka dapur umum. Benar-benar dapur untuk umum karena siapa saja boleh ikut makan di situ. Bahan makanannya berasal dari bantuan logistik dari siapa saja. Tukang masaknya juga siapa saja yang mau. Dan rupanya selalu ada relawan yang datang dan pergi silih berganti dari mana-mana yang membantu membersihkan desa, menanam pohon, dsb. Semua ikut makan di dapur umum.

(24)

Jum’at malam itu, malam tahun baru 2011, bu Darmini menyuguhkan menu istimewa. Nasi putih, sayur daun ubi dan mie instan rebus. Semua disajikan dingin. Minuman tehnya saja yang hangat. Tapi nuikmatnya… Wow! Saya “terpaksa” nambah makan sayur daun ubi bumbu ndeso.

Soal wujud, rasa dan harganya tidak ada apa-apanya dibanding menu tahun baru di tempat-tempat hiburan. Tapi soal kenikmatan dan kesyukuran, tidak serta-merta harus berbanding lurus..

(25)

Bermalam tahun baru di kaki Merapi yang sejuk tapi gersang, sepi tapi tenteram, sederhana tapi bermakna… Sementra di tempat lain berbiaya tinggi tapi full “mudharat”, di kaki Merapi bergantung bantuan orang lain tapi sarat hikmah.

Apakah di kaki Merapi lebih baik daripada di tempat lain? Bukan itu soalnya, melainkan bagaimana menempatkan diri ke dalam medium yang sesuai menuju titik pencapaian. Perkara titik itu baik atau buruk, ya monggo (silakan)…

(26)

Sambil mnikmati sayur daun ubi dan nyruput teh panas, bercengkerama dengan pak Darmini dan beberapa warga Balerante…

Tiba-tiba ada yang nyeletuk: “Malam ini malam tahun baru lho…”.

Kata salah seorang: “Ya apa bedanya tahun baru dan tidak”.

Iya, ya, apa bedanya..? Ada seribu jawab dari perspektif berbeda. Tapi yang pasti kalender ruang tamu harus diganti. Itu pun kalau ada yang memberi gratis bergambar bintang film cantik, kalau tidak ya di pasang di jumbleng.

(27)

Hari sudah malam dan gulita ketika saya meninggalkan Balerante. Mendung di langit mulai agak tersingkap. Menyusuri jalan desa perbatasan provinsi Jateng-DIY dan memandang ke arah dataran rendah di selatan terkesan lepas dan luas.

“Beruntung” tiada lagi rumah warga dan pepohonan, sehingga bentang kota Yogyakarta di malam hari terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampu kota, yang pasti sedang sibuk menyongsong detik-detik pergantian kalender…

(28)

Dalam perjalanan pulang, berhenti di sebuah warung di timur perempatan Manisrenggo, Klaten. Relawan yang menemani perjalanan saya hari itu mengajak mampir ke warung langganannya. Di sana dijual nasi kucing spesial.

Nasi kucing? Ya, nasi seukuran jatah makan kucing yang dibungkus kertas dengan lauk sesendok sambal belut. Harganya Rp 1000,- per bungkus. Wow..! Saya makan sebungkus, bukan karena lapar tapi ingin mencicipi rasanya…

(29)

Sambal belut terbuat dari belut goreng ditumbuk, dibumbu bawang, cabe, garam lalu disangrai. Mirip roa ikan cakalang dari Manado. Ketika dimakan dengan nasi putih (apalagi kalau hangat). Uhmm..!

“Kali ini tidak terlalu pedas. Cabenya mahal”, kata si penjual. Oo.., tak terbayang bahwa harga cabe akan berpengaruh terhadap kualitas nasi kucing. Kalau bukan karena sudah kenyang makan nasi sayur daun ubi, ingin sekali nambah dua takaran kucing…

(30)

Perjalanan saya ke Glagaharjo-Balerante di kaki tenggara Merapi pada Jumat sore terakhir di penghujung tahun 2010 diakhiri dengan obrolan ngalor-ngidul di sebuah warung di Manisrenggo bersama sesama penggemar nasi kucing. Khas suasana warung angkringan… Makannya tak seberapa, tapi berlama-lama nongkrongnya itu…

“Selamat Tahun Baru 2011”.

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (19)

28 Desember 2010

(156). Seputar Kali Gendol (1)

Tengah hari mendung, saya tiba di dusun Bronggang, desa Argomulyo, kecamatan Cangkringan, Sleman yang berjarak sekitar 25 km utara Jogja. Tepatnya di lintas jalan alternatif Magelang – Solo.

Sekitar 50 meter ke timur, sampai ke tepi kali Bendol, nampak ada dua dam sabo penahan aliran lahar. Sungai yang dulu dalam dan lebar itu kini penuh dengan material vulkanik gunung Merapi, abu, pasir, batu memenuhi kali Gendol hingga lebih tinggi dari damnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(157). Seputar Kali Gendol (2)

Langit Merapi mendung dan berawan. Bleger (profil) gunung yang sedang kecapekan setelah lebih sebulan aktif bererupsi itu tidak nampak jelas, hanya siluet bayangannya terlihat di balik awan.

Geluduk bersahutan, saat saya memandang sekeliling dimana sejauh mata memandang seolah hanya hamparan material vulkanik yang nampak. Sedang pepohonan kering dan gosong melatari di kejauhan.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(158). Seputar Kali Gendol (3)

Dari dusun Bronggang, bergerak lebih ke utara beberapa kilometer, melalui desa Wukirsari, sampai ke dusun Pager Jurang, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, yang berada pada radius sekitar 10 km dari Merapi.

Timbunan material vulkanik di kali Gendol terlihat lebih lebar hingga ratusan meter, menimbun kawasan di luar bantaran sungai. Bahkan jalan aspal yang ada di tepi sungai pun tertimbun. Timbunannya lebih dari kampung di sekitarnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(159). Seputar Kali Gendol (4)

Awan panas (wedhus gembel) yang bersuhu sangat panas tidak saja berhembus turun mengikuti aliran kali Gendol tapi juga meluber hingga beberapa ratus meter ke luar bantaran, masuk ke pemukiman dan menyapu apa saja. Semua pepohonan terbakar dan hangus, rumah-rumah penduduk hancur, bahkan manusia dan ternak tak terkecuali.

Andai saja status Awas Merapi tidak segera diikuti dengan evakuasi total, maka korban jiwa tak terperikan lagi. Betapa dahsyatnya…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(160). Seputar Kali Gendol (5)

Lihatlah kawasan di sepanjang sisi kali Gendol di desa Glagaharjo. Pepohonan semua terbakar dan berwarna coklat mengering. Bahkan rumah-rumah penduduk pun terbakar, tampak dari banyaknya arang kayu sisa pembakaran. Belum lagi rumah-rumah yang roboh dan porak-poranda seperti habis terkena badai. Dan badai itu adalah awan panas.

Tak heran kalau setengah desa Glagaharjo bubar jalan, masyarakatnya pun belum bisa pulang dari pengungsian. Lha, mau kemana?

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(161). Seputar Kali Gendol (6)

Sebuah jalan desa di Glagaharjo terlihat lengang. Semua rumah di sepanjang jalan itu hancur dan menyisakan saputan abu yang masih melekat. Demikian pula tidak satu pun pepohonan selamat. Tak terbayangkan andai masih ada manusia di sana ketika awan panas menyinggahi rumah mereka.

Namun kini tanda kehidupan mulai terlihat dari warna hijau pohon pisang dan talas yang kontras dengan dominasi warna abu-abu, coklat dan hitam bekas kebakaran…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(162). Seputar Kali Gendol (7)

Cuaca mendung masih menyelimuti kali Gendol dan Merapi siang tadi. Namun sesekali awan beringsut seakan memberi kesmpatan kepada Merapi dan puncaknya agar dapat dilihat dengan jelas, walau cuaca tidak cerah.

Itulah menit-menit indah bagi kenampakan Merapi dari sungai Gendol. Walau hanya beberapa menit saja, tapi cukup untuk diabadikan atau menjadi latar untuk bergaya-gaya di depan kamera…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(163). Seputar Kali Gendol (8)

Kepulan asap terlihat muncul di beberapa tempat di hamparan material vulkanik di sungai Gendol. Menandakan bahwa di titik itu material masih sangat panas.

Untuk membuktikannya cukup dengan mendekatkan telapak tangan, panasnya masih sangat terasa. Bahkan hanya beberapa cm di bawah permukaannya, suhunya masih sangat poanasss… Yang terakhir itu sebaiknya tidak usah dibuktikan, kecuali dilengkapi dengan peralatan yang sesuai…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(164). Seputar Kali Gendol (9)

Cuaca masih mendung sore kemarin. Dari desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, lalu melanjutkan perjalanan ke sisi timur kali Gendol, ke desa Balerante, Klaten. Untuk mencapai Balerante jalannya harus memutar ke selatan lebih 20 km melalui jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Menyusuri jalan yang relatif lurus, mendaki dan beraspal cukup bagus akhirnya tiba di Balerante yang ternyata bersebelahan dengan desa Glagaharjo dimana kuburan Mbah Marijan berada.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(165). Seputar Kali Gendol (10)

Desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten dan desa Glagaharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman dipisahkan oleh jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Kondisi kedua desa itu sangat parah. Amat memprihatinkan. Desa Glagaharjo di sisi timur kali Gendol hancur total. Tak satu pun rumah dan tumbuhan selamat dari awan panas. Begitupun desa Balerante bagian barat yang berbatasan dengan Glagaharjo. Warna abu-abu, coklat dan hitam mendominasi seluas mata memandang.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(166). Seputar Kali Gendol (11)

Balerante dan Glagaharjo berada dalam radius sekitar 4 km dari puncak Merapi. Sosok gunung itu nampak begitu dekat. Bahkan saat langit mendung dan berawan kemarin sore, sosok menakutkan itu sesekali nampak jelas. Waktu terbaik untuk menikmati sosok Merapi adalah saat pagi.

Saat ini, lokasi di perbatasan Jateng-DIY itu menjadi obyek wisata dadakan, terlebih setelah dihancurkan awan panas dan ditinggal penghuninya mengungsi hingga kini.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(167). Seputar Kali Gendol (12)

Kalau bukan karena diberitahu seorang relawan di Glagaharjo, saya tidak ngeh kalau di desa itulah almarhum Mbah Maridjan dimakamkan.

Dalam cuaca berkabut sore kemarin, kususuri jalan desa yang sepi dan lengang menuju ke kuburan desa. Ada taburan bunga segar di makam Mbah Maridjan, entah siapa yang baru berziarah. Nampak bersih, tidak seperti diwartakan tertimbun material Merapi. Kukirim doa untuk Mbah Maridjan. Semoga spirit ke-roso-annya abadi…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(168). Seputar Kali Gendol (13)

Di Balerante, kijang hitamku kurang tinggi loncatnya, sehingga terperosok ke selokan. Hari semakin sore, orang-orang mulai pada pulang, suasana jadi sepi. Padahal tadi dipesan sama tentara yang jaga agar posisi parkirnya mengarah ke bawah jaga-jaga kalau keadaan buruk terjadi. Uuuh.., rada tegang.

Setelah maju-mundur sambil diganjal batu akhirnya bisa lolos. Kata temanku: “Itu tanda Mbah Maridjan minta ditengok”. Asal bukan tawaran jadi juru kunci saja..

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(169). Seputar Kali Gendol (14)

Seorang relawan di Glagaharjo yang tiap hari berjaga disana dan prihatin dengan situasi desa yang habis dibumi-hangus awan panas, punya ide “kreatif”. Setiap hari berusaha menanam tumbuhan di pinggir bekas jalan desa. Tujuannya agar kawasan itu segera hijau kembali. Dia minta dikirim bibit tanaman apa saja asal cepat tumbuh dan menghijaukan. Sebuah pemikiran sederhana, langkah kecil, tapi masuk akal manfaatnya. Mumpung sering turun hujan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(170). Seputar Kali Gendol (15)

Sebagian besar warga desa Kepuharjo, Glagaharjo dan Balerante masih berada di pengungsian hingga kini. Selama itu pula hidup mereka ada yang menjamin. Tapi rumah mereka berantakan, ternak mereka mati, ladang mereka hancur dan penghidupan mereka pun seperti terhenti. Mungkin rumah ada yang membangunkan, ternak ada yang mengganti dan ladang ada yang mensubsidi. Tapi tidak begitu saja dengan penghidupan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(171). Seputar Kali Gendol (16)

Setelah warga yang mengungsi itu kembali dari pengungsian. Hidup dan penghidupan harus dimulai dari awal. Tentu “perlu waktu” untuk dapat menggelinding kembali. Lalu bagaimana mereka harus menjalankan penghidupan selama periode “perlu waktu” itu? Adakah yang akan menjamin, setidak-tidaknya membantu memutar roda hidup dan penghidupan mereka? Ruh yang bernama kepedulian memang tak pernah selesai apalagi mati…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(172). Seputar Kali Gendol (17)

Rumah boleh hancur, pepohonan boleh mati, tapi sang merah putih harus tetap berkibar membelah angkasa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman…

(Sebuah bendera merah-putih berukuran sedang, berkibar di atas tiang bambu yang menjulang tinggi di sela puing-puing rumah dan pepohonan yang hancur dan terbakar).

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-