Posts Tagged ‘bakul’

Antara Tanggal 1 Dan Tanggal 20

25 Agustus 2010

Maka sampailah kepada saat yang membahagiakan…, mbayar listrik pada hari terakhir dan tidak terlambat, mumpung listrik belum naik (kalau nanti listrik naik, ya tetap juga harus mbayar. “Enak aja…!”). Uang sekian ratus ribu yang dikeluarkan pada tanggal 1 atau 20, bagi seorang bakul mracangan, ya jelas sekali bedanya…

(bakul mracangan : pedagang eceran kebutuhan sehari-hari)

Yogyakarta, 20 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Menikmati Malam Purnama

7 Juni 2010

Malam ini, malam purnama
bumi masih basah sisa hujan
langit berawan tebal
siluet bulan bundar benar

Mengajak ibunya anak-anak duduk di ‘buk’ depan rumah
membangkitkan romantisme masa muda
bernostalgia cinta
mengenang saat-saat indah
membincang bangunan kemesraan

Eee, lha jebul ibunya anak-anak malah ngajak itung-itungan jualan tadi siang. Ampyuuun, ampyun… Dasar bakul! Suguhan kupy panas pun langsung tak tenggak saja…

Yogyakarta, 28 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Stop Ngudut

9 Maret 2010

Agar saya stop ngudut, istriku menyarankn: “Mbok coba diganti ngemut permen”. Saran penuh kasih itu pun kucoba turuti. Tapi ternyata, ngudut sambil ngemut permen itu kok malah lebih enak… Lalu kata istriku: “Lha kok malah borossss…”.

Maka solusi ‘bijaksana’ saya ajukan: “Kalau begitu biar tidak boros, permennya saya stop saja” (keukeuh we.., ceuk orang Sunda mah). Ibarat pesta diskon tapi harga dinaikkan lebih dulu. Dasar bakul…!.

Yogyakarta, 7 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dikangeni Tukang Gorengan (1)

31 Januari 2010

Bersepedaaa… Ke makam raja-raja Kotagede, depannya, ketemu bakul (penjual) gorengan yang sudah sebulan tidak saya sambangi. Seprana-seprene tidak pernah dikangenin sama ‘boss’ saya. Lha kok malah tukang gorengan bilang: “kangeen..”.

Yogyakarta, 30 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Pasar Sentul

9 April 2008

Usai sholat subuh, anak laki-laki saya yang berumur 6,5 tahun ikut bangun. Sekitar jam 05:15 pagi, saya ajak dia untuk jalan-jalan pagi ke pasar Sentul, Yogya, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan masih terlihat sepi. Berdua anak saya, kami dapat jalan melenggang santai di bawah udara pagi yang segar dan belum terganggu kesibukan dan kebisingan lalulintas kota Yogya.

Tidak terlalu lama kami sampai di pasar Sentul yang pagi itu tampak sudah ramai dan sibuk. Halaman depan pasar yang normalnya adalah halaman parkir, pagi itu sudah penuh sesak dengan para pedagang yang menggelar dagangannya berjajar tidak rapi, menyisakan sekedar lorong sempit tempat orang-orang berjalan menyusuri sela-sela gelaran dagangan.

Kebisingan khas pasar tradisional mewarnai suasana pasar Sentul. Riuh rendah suara pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi, bunyi pisau yang beradu dengan landasan kayu dari pedagang ayam yang sedang memotong-motong daging ayam, dan gemuruh bunyi mesin pemarut kelapa.

Saya dan anak laki-laki saya lalu menerobos masuk ke dalam pasar dan turut berdesak-desakan di antara lalu-lalang pedagang dan pembeli yang umumnya kaum ibu dan para kuli pasar yang menggotong barang dagangan.

Tujuan kami pagi itu adalah mencari penjual gudangan atau urap, salah satu jenis makanan kesukaan saya. Setelah lebih dua tahun tinggal di New Orleans, maka ada semacam rasa kangen ingin menikmati jenis masakan tradisional ini. Meskipun bisa membuatnya sendiri di rumah, tapi tak bisa disangkal bahwa gudangan atau urap bikinan si mbok penjual urap pasar Sentul ternyata mampu memberikan taste berbeda.   

Tidak mudah menemukan lokasi si mbok penjual urap ini. Ya, maklum wong sudah lama tidak masuk pasar. Setelah berjalan putar-putar kesana-kemari beberapa kali, akhirnya terpaksa tanya kepada seorang pedagang tahu. Si mbok penjual tahu menjawab dengan sangat sopan menjelaskan bahwa pedagang urap belum datang. “Dipun entosi kemawon sekedap malih, Pak” (ditunggu saja sebentar lagi, Pak), jelasnya.

Sambil menunggu kedatangan si mbok penjual urap, saya ajak anak saya untuk mencari pedagang tempe bungkus kesukaan saya. Saat jalan berdesak-desakan ini anak saya sempat melapor : “Kaki saya diinjak orang, Pak”, katanya ringan sambil agak meringis. Ya, inilah pasar. Setelah menyodorkan uang Rp 1.000,- untuk 12 buah tempe bungkus, kami lalu kembali menuju ke lokasi penjual urap. Rencananya, sore harinya saya ingin menikmati hangatnya tempe goreng Yogya sambil minum kopi.

*** 

Rupanya si mbok penjual urap baru saja selesai menggelar dagangannya. Langsung saya memesan lima bungkus urap. Dengan cekatan si mbok membuka selembar sobekan kertas koran, lalu dilapis dengan sesobek kecil daun pisang di atasnya. Tangannya menjumput (mengambil dengan ujung-ujung jari) nasi putih, lalu dijumputnya serba sedikit daun ubi, daun pepaya, daun kencur, kecambah, bijih mlandingan, daun bayam, dsb., lalu ditambahkan bumbu parutan kelapa, dan akhirnya sepotong tempe besengek (jenis masakan berbahan tempe atau tahu).

Harga per bungkus nasi urap yang dua tahun yll. masih berkisar Rp 150,- atau Rp 200,-, kini sudah naik menjadi Rp 500,- Agaknya semua pihak sudah maklum dengan harga ini. Para pembeli pun terkadang tanpa perlu banyak ngomong untuk memperoleh sebungkus nasi urap. Cukup dengan menyodorkan selembar uang limaratusan, lalu tinggal menyebut tahu atau tempe, setelah dibungkuskan lalu ngeloyor pergi.

Saya suka menyebut peristiwa semacam ini dengan mekanisme pasar tradisional, yang tentu berbeda maknanya dengan istilah mekanisme pasar seperti yang sering disebut di koran atau televisi.

Mekanisme pasar tradisional yang tumbuh dari perhitungan ekonomi yang sederhana saja. Karena harga bahan mentahnya naik maka harga jualnya juga naik dan pembeli pun mafhum dengan harga yang disesuaikan itu. Demikian seterusnya, tanpa perlu pusing-pusing menghitung yang rumit-rumit tentang margin keuntungan guna break even.

Juga tidak perlu pusing-pusing tentang siapa presiden negerinya atau wakil presiden atau menteri kabinet atau pejabat ini dan itu, dimana hari-hari ini televisi sedang menyiarkan agenda Sidang Istimewa MPR. Lha, wong presiden dan para pejabat itu juga tidak pernah pusing-pusing memperhitungkan mekanisme pasar ala si mbok penjual urap ini.  

Nyatanya toh dengan cara yang demikian itu si penjual tetap meraih keuntungan yang barangkali tidak seberapa asal masih layak guna mencukupi kebutuhan hidup  keluarganya. Si pembeli pun ikhlas membayarkan uangnya guna memenuhi kebutuhan sarapan paginya. Dan salah satu di antara pembeli pagi itu adalah saya dan anak saya.

***

Tiba di rumah dari pasar Sentul pagi itu, kelima bungkus nasi urap langsung ludes. Kenikmatan sarapan pagi yang saya rasa luar biasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Dalam hati saya sangat berterima kasih kepada si mbok penjual urap atau mbok-mbok lainnya di pasar. Pagi itu saya temukan sebuah kenikmatan sarapan pagi yang sangat saya syukuri.

Bukan saja lantaran taste dari nasi urap dan tempe besengek bikinan si mbok, melainkan juga lantaran untuk memperolehnya saya bersama anak saya harus berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuknya pasar Sentul. Sungguh pengalaman berbeda yang menyenangkan khususnya bagi anak laki-laki saya.

Menyenangkan? Ketika selesai sarapan saya bertanya kepada anak saya :

Le, bagaimana kalau besok pagi jalan-jalan lagi ke pasar Sentul” (terkadang saya menyapa anak saya dengan Le, sapaan akrab ala desa di Jawa).

Jawab anak saya : “No, too crowded…..”, dengan logat bahasa Inggrisnya yang lebih baik dari saya. Tapi jawaban anak saya rupanya masih berlanjut : “…..tapi saya senang jalan-jalan ke pasar….”-

Yogyakarta, 26 Juli 2001
Yusuf Iskandar