Posts Tagged ‘bakmi kadin’

Mbah Pono

9 April 2008

Menjelang tengah malam, Kamis malam Jum’at, 25 Juli 2002, mendadak saya kepingin makan bakmi. Sebagai warga Bintaran (setidaknya KTP saya masih beralamat Bintaran Kulon), pilihan utama tentu saja Bakmi Kadin yang warungnya berada di jalan yang sama. Dari rumah Eyangnya anak-anak saya hanya perlu berjalan kaki beberapa puluh meter ke utara sudah sampai di depan Bakmi Kadin.

Lha, ternyata warung Bakmi Kadin masih penuh pengunjung. Saya timbang-timbang, kalau saya pesan bakmi goreng di sini pasti akan sangat lama menunggunya. Lalu saya putuskan untuk menyeberang jalan ke sisi timurnya. Di situ juga ada tukang bakmi. Juga ramai pengunjung, tapi tidak seramai Bakmi Kadin. Di warung ini rasanya saya tidak akan terlalu lama menunggu untuk pesan bakmi goreng dibungkus untuk dibawa pulang.

Berbeda dengan Bakmi Kadin yang dari jauh saja mudah ditandai karena ada papan namanya. Itu pun masih ditambahi tulisan “Yang Asli”. Seakan ingin meyakinkan para pelanggan baru agar tidak keliru dengan “yang tidak asli”, “yang palsu”, “yang tiruan” atau “yang imitasi”. Tukang bakmi yang saya beli malam itu tanpa papan nama. Tapi karena lokasinya ada di depan Bakmi Kadin, saya sebut saja Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Sambil menunggu pesanan saya disiapkan, saya duduk-duduk di bangku agak mojok di samping meja penyaji minuman bajigur. Seperti sudah menjadi ciri khasnya, bahwa pasangan dari tukang bakmi adalah tukang bajigur. Persis sama seperti di warung Bakmi Kadin, di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin inipun juga tersedia bajigur. Tukang bajigurnya adalah seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan tahun. Orang-orang mBintaran biasa memanggilnya Mbah Pono.

***

Mbah Pono ini rupanya termasuk orang tua yang suka diajak ngobrol. Ini tentu membuat saya merasa nyaman duduk berlama-lama di bangku panjang itu menunggu pesanan bakmi goreng sambil ngobrol dengan Mbah Pono. Ngobrol dalam bahasa Jawa krama hinggil tentunya.

Omong-omong tentang bakmi. Bagi lidah saya sebenarnya tidak ada perbedaan taste yang signifikan antara Bakmi Kadin dengan Bakmi Depan Bakmi Kadin. Kalaupun ada perbedaan, maka parameternya adalah “tingkat kelaparan” kita saat itu, dan harga per porsi yang lebih murah di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Namun rupanya masing-masing warung itu sudah memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Hanya untuk pendatang baru, biasanya akan langsung menuju ke Bakmi Kadin “Yang Asli”. Saya anggap wajar-wajar saja kalau ada seseorang yang belum merasa puas kalau belum sempat mencicipi Bakmi Kadin “Yang Asli” yang kini dikelola oleh Mbah Karto perempuan (yang bergelar Hajjah sejak dua musim haji yll, sedang Mbah Karto Kasidi yang laki-laki sudah lama meninggal) dan Pak Rohadi putranya.

Sejak mundurnya Mbah Amat (yang meninggal dunia sebulan yll.) dari dunia per-bajigur-an di awal tahun 70-an, maka Mbah Pono adalah salah satu penerusnya. Lalu ber-partner dengan Mbah Karto, berdua melanjutkan usaha bakmi-bajigur. Seperti Mbah Amat almarhum, pasangan Mbah Karto laki-laki dan Mbah Pono perempuan inipun menempati emperan kantor Kadin.

Ketika kantor Kadin direnovasi sekitar sepuluh tahun yll. Mbah Karto melanjutkan warung bakminya di belakang bangunan Kadin, tepatnya di Jalan Bintaran Kulon 6 yang ditempatinya hingga kini. Namun nasib kurang mujur bagi Mbah Pono. Rupanya Mbah Karto perempuan punya rencana bisnis baru, beliau merencanakan akan menyajikan sendiri minuman bajigur. Dengan kata lain, bakminya Mbah Karto sudah tidak memerlukan tenaga Mbah Pono lagi untuk menjadi partnernya menyediakan bajigur, demikian tutur Mbah Pono malam itu.

Hebatnya, Mbah Pono tidak sakit hati. Beliau nrimo dengan adanya rencana bisnis Mbah Karto yang hingga kini telah berkembang menjadi Bakmi Kadin. Sedangkan Mbah Pono memilih untuk pensiun saja dan tinggal di rumahnya di belakang Jalan Bintaran Kidul.

***

Nampaknya garis hidup Mbah Pono memang tidak jauh-jauh dari dunia per-bajigur-an. Ketika beberapa tahun yll. di depan Bakmi Kadin dibuka warung bakmi baru dan Mbah Pono ditawari untuk menyediakan bajigurnya, beliau pun bersedia. Maka jadilah seterusnya Mbah Pono kembali menjadi tukang bajigur hingga kini, di warung bakmi baru yang tadi saya sebut sebagai Bakmi Depan Bakmi Kadin yang tanpa papan nama.

Bajigurnya Mbah Pono ini rupanya punya taste berbeda, maka tidak heran kalau Mbah Pono punya pelanggan tersendiri. Menurut pengakuannya, banyak pelangan lamanya yang pernah kenal bajigur Mbah Pono sejak masih bersama Mbah Karto laki-laki di depan kantor Kadin yang lama, kini kembali kepadanya. Pengakuan yang bagi saya sukar dibuktikan, tapi saya percaya saja.

Lalu apa rahasianya? Entahlah. Barangkali tangan si pembuatnya saja yang lain. Nampaknya racikan bajigurnya ya begitu-begitu juga. Ada air santan, ada irisan kelapa muda dan kolang-kaling. Yang saya baru tahu adalah bahwa ternyata ada tambahan air kopi barang satu-dua sendok dalam setiap gelas bajigur yang disajikan.

Pilihan hidup Mbah Pono, terkadang memang susah dipahami. Di usia senjanya yang bahkan sudah di ambang malam, beliau memilih untuk tetap tekun menggelar jualan bajigurnya. Dua dandang besar bajigur dihabiskannya mulai jam 4 sore hingga tengah malam menyertai bukanya warung bakmi. Sekitar 150 gelas disajikan setiap hari. Kalau harga per gelasnya Rp 1.500,- maka artinya seorang Mbah Pono telah memutar uang, sebut saja Rp 200.000,- per harinya.

Salut untuk Mbah Pono, dan Mbah-mbah lainnya yang senantiasa tekun dengan kerja kerasnya, saat sebagian mbah-mbah yang lain duduk di kursi goyang menikmati hari tuanya. Orang-orang seperti Mbah Pono ini memang tidak pernah terimbas apalagi mengenal apa itu krismon. Yang dia tahu kalau harga gula atau kelapa naik, ya harga bajigurnya juga ikut naik. Lalu para pelanggannya pun kudu paham. Sesederhana itu, tapi entah sampai kapan.

Sugeng ndalu (selamat malam), Mbah…”. Sekantong plastik bajigur panas langsung saya bawa pulang dan habiskan malam itu juga.-

Yogyakarta, Juli 2002
Yusuf Iskandar

Mbah Amat

9 April 2008

Jum’at sore, 28 Juni 2002, saya tiba di Yogya. Seperti biasa, anak-anak lebih suka langsung menuju ke rumah Eyangnya di Bintaran Kulon. Setiba di rumah Eyangnya anak-anak, terlihat sebuah bendera putih berkibar di pingir jalan di sebelah rumah. Siapapun tahu bahwa bendera putih semacam ini bukan pertanda terjadi genjatan senjata setelah tawuran antar kampung, melainkan tanda ada yang sedang kesripahan (berduka cita).

Dalam hati, saya berprasangka : “Jangan-jangan Mbah Amat yang meninggal…..”. Ini memang prasangka buruk yang (saya yakin) kalau di dengar orang tidak akan menimbulkan amarah. Lantaran semua orang di bilangan mBintaran tahu bahwa Mbah Amat ini memang sudah sangat sepuh (tua), sehingga “wajar” saja kalau misalnya sudah sampai waktunya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. 

“Innalillahi wa-inna ilaihi ro-ji’un” (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Meskipun sungguh tidak saya harapkan, ternyata prasangka saya benar. Mbah Amat Sadari menghembuskan nafas terakhirnya siang tadi, setelah menderita sakit tua sejak beberapa waktu sebelumnya.

***

Kabar tentang orang meninggal dunia sebenarnya hal yang biasa saja. Namun kabar meninggalnya Mbah Amat ini memberi kesan yang luar biasa bagi saya.

Sejak saya menjadi menantunya Eyangnya anak-anak lebih 10 tahun yll, saya mengenal Mbah Amat sebagai sosok orang sangat tua yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup dan taat beribadah. Terakhir saya ketemu Mbah Amat setahun yll, beliau masih tekun sholat lima waktu dengan berjamaah di masjid Bintaran, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Padahal berjalannya saja sudah tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya.

Ketika jenasahnya akan diberangkatkan ke pemakaman esok harinya, seperti biasa ada acara sambutan oleh pihak keluarga. Hal yang menakjubkan saya adalah saat diumumkan bahwa almarhum Mbah Amat mempunyai dua orang anak, sekian cucu, sekian buyut (anaknya cucu) dan sekian canggah (cucunya cucu). Dengan kata lain, di masa hidupnya Mbah Amat ini sempat ketemu dengan keturunan generasi kelimanya.

Luar biasa. Di masa kini, sangat jarang seseorang yang sempat ketemu dengan canggahnya. Alih-alih ketemu canggah (generasi ke-5), sempat ketemu buyut (generasi ke-4) saja sudah merupakan karunia Tuhan yang sangat besar. Bahkan Mbah Amat ini sudah lebih dahulu ditinggal mati oleh seorang anaknya.

Menurut catatan di Kartu Keluarga, Mbah Amat lahir tahun 1904 yang berarti meninggal dunia dalam usia 98 tahun. Namun sangat diyakini oleh keluarganya bahwa sesungguhnya usia Mbah Amat lebih dari seabad ketika meninggal dunia. Pasalnya, menurut ceritera seorang cucunya yang setia menemani Mbah Amat hingga detik-detik akhir hidupnya, suatu kali beberapa minggu sebelum meninggal pernah omong-omong santai dengan Mbah Amat serta menanyakan usianya. Dan Mbah Amat dengan sangat yakin dan gaya humornya menjawab bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Sebuah usia yang rasanya memang masuk akal.

Kalau demikian halnya, berapa usia sebenarnya? Sayang sekali, Kartu Keluarga model lama yang masih tertulis dengan huruf Arab Jawa, tulisannya sudah sangat buruk, rusak dan kabur, sehingga tidak terbaca. Itu sebabnya maka dibuatlah Kartu Keluarga model baru, sebagaimana yang dimilikinya saat ini yang menyebut beliau lahir tahun 1904.

***

Siapakah Mbah Amat ini? Orang-orang tua atau orang-orang lama di sekitar Bintaran mengenal almarhum sebagai tukang bajigur. Bajigurnya Mbah Amat dulu sempat sangat populer dan digemari, hingga berhenti mbajigur sejak sekitar 30 tahun yll. sebelum generasi tukang bajigur berikutnya muncul melanjutkan berjualan bajigur.

Tidak jelas benar kenapa sebagai orang Yogya, Mbah Amat menekuni usaha menjadi tukang bajigur, yang sebenarnya lebih dikenal sebagai minuman khas daerah Jawa Barat. Namun yang jelas, Mbah Amat pernah berjaya dengan bajigurnya hingga puluhan tahun dan setiap malam menggelar dagangannya di tritisan (emperan) kantor yang kelak kemudian dikenal sebagai kantor Kadin, berpasangan dengan tukang bakmi bernama Mbah Karto Kasidi. Kini bakminya Mbah Karto dikenal sebagai Bakmi Kadin.

Di saat-saat akhir hayatnya, saat periode pikun dialaminya, Mbah Amat suka meminta cucunya untuk menyediakan anglo di dekat tempat tidurnya. Lalu beliau mengambil kipas dan berlaku seolah-olah sedang menghidupkan arang di atas anglo yang sedang memanaskan dandang berisi bajigur. Kalau diingatkan cucunya bahwa Mbah Amat kini sudah tidak lagi berjualan bajigur, beliau hanya tesenyum.

Kini, Mbah Amat mantan tukang bajigur Bintaran itu telah tiada. Meninggalkan kesan yang luar biasa menurut ukuran akal saya. Wafat dalam usia seabad. Sempat bertemu dengan canggahnya (keturunan kelima) sebelum meninggalnya. Di hari tuanya nyaris tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Suka guyon (bercanda) dan nrimo (ikhlas) menjalani hidup, agaknya bisa menjadi salah satu laku Mbah Amat yang layak dicontoh. “Selamat jalan, Mbah……!”.  

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar