Posts Tagged ‘bakmi jawa’

Bakmi Jawa Mbah Arjo

10 Agustus 2010

Ibunya anak-anak kepingin makan bakmi jawa. “Ke bakmi Mbah Arjo saja yang dekat rumah”, katanya. Gerobak bakmi ini mangkal di penggal selatan Jl. Glagahsari, Jogja. Taste-nya standar saja.., tapi ya tetap saja enak..! Meskipun judulnya hanya minta ditemani, ya jelas rugi saya kalau tidak ikut makan, malah minta diimbuhi kepala ayam…

Yogyakarta, 5 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Bakmi Jawa Pak Gundul

6 Desember 2009

Akhirnya, malam ini kesampaian untuk mencicipi bakmi jawa Pak Gundul, Wirosaban (wetan bangjo, seberang RSUD), Jogja… Enak sekali sih tidak, tapi lumayan enak lah….

Yogyakarta, 5 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Bakmi Mbah Slamet

28 Oktober 2009

Berburu bakmi jawa Mbah Slamet, Kotagede, Jogja. Hmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…..

Seharian ini istriku grundelan : “Penyiar TV ini kayak kekurangan berita, soal poligami disiarkan terus…”. Untuk meredamnya, saya ajak istriku berburu bakmi…

(Selengkapnya tentang bakmi jawanya Mbah Slamet Kotagede ini saya ceritakan dalam tulisan di bawah atau dapat dilihat di Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede, Yogyakarta)

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede

27 Oktober 2009

IMG_4405_r1

Penggemar bakmi jawa di Jogja ini memang dimanjakan. Hampir di setiap sudut jalan mudah dijumpai adanya gerobak bakmi dengan aneka cita rasanya. Sebagian diantaranya sudah cukup kondang, bahkan dikenal oleh warga pendatang dari luar kota. Soal rasa, itu tergantung selera dan sensitifitas lidah masing-masing.

Berburu bakmi bisa jadi agenda wisata malam yang sekali-sekali perlu dicoba. Hanya kalau sudah bisa menikmati sensasi bakmi jawa yang khas dengan taste bawang putih dan kemirinya itu, maka yang tadinya sekali-sekali bisa jadi berkali-kali. Sebab banyak pilihan warung bakmi perlu dicoba. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengatakan enak atau tidak adalah setelah mencoba mencicipinya sendiri.

Maka pergilah berburu bakmi di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Atas saran beberapa rekan, saya dan keluarga mencari lokasi bakmi Mbah Slamet. Sebuah nama yang belum banyak dikenal orang di dunia perbakmian Jogja. Tidak sulit untuk menemukan lokasi warung ini meski tidak ada tulisan apapun di depan warung bakmi Mbah Slamet ini. Tepatnya berada di Jl. Pramuka 80, Kotagede, Jogja (sebelah timur toko Pamela Swalayan). Di rumah itu pula Mbah Slamet dan istrinya kini tinggal berdua menuntaskan hari tuanya sambil berjualan bakmi.

Ketika kami datang, Mbah Slamet sedang duduk leyeh-leyeh di atas lincak (kursi panjang terbuat dari bambu). “Lho kok sepi, Mbah?”, tanya saya. “Wong niki nembe mawon buka” (ini baru saja buka), jawabnya. Maka jadilah kami bertiga, saya bersama istri dan anak perempuan saya, menjadi pembeli pertamanya. Penglaris, kata orang (tapi ya tetap saja mbayar….). Sementara istri Mbah Slamet masih terlihat sibuk membantu memberes-bereskan perlengkapan warungnya. “Kolo wau kerinan (tadi terlambat bangun)”, kata Mbah Slamet. Rupanya sore itu mereka kecapekan sehingga ketiduran dan terlambat bangun. Maklum, namanya juga mbah-mbah.

Mbah Slamet biasa buka sesudah maghrib. Jam berapapun maghribnya, pokoknya bubar maghrib (usai sholat maghrib) baru buka dan sekitar jam sebelas malam biasanya bakminya sudah habis. Setiap hari Mbah Slamet dan istrinya bekerja sama menjual bakmi jawa menempati teras depan rumahnya. Mbah Slamet urusan perbakmian, sedangkan istrinya urusan cuci-mencuci piring dan perminuman spesialis minuman tanpa es. Jadi jangan pesan es teh atau es jeruk, sebab Mbah Slamet tidak menyediakan es.

Begitulah kegiatan rutin setiap hari sepasang kakek-nenek bak mimi lan mintuno, Mbah Slamet berdua saja dengan istrinya. Ketika saya tanya berapa putranya, dijawabnya : “Kosong, mas….”. Sejenak saya mengernyutkan dahi berusaha memahami maksud jawaban Mbah Slamet, baru kemudian saya ngeh dan merasa bersalah telanjur menanyakannya, sebab ternyata Mbah Slamet dan istrinya tidak dikaruniai anak. Lebih-lebih ketika Mbah Slamet berkata lirih sambil tetap sibuk meracik bakmi : “Wong meniko namung kangge nyambung gesang kok mas (yang dilakukannya ini cuma untuk sekedar menyambung hidup saja)”. Tutur kata bernada datar dari Mbah Slamet itu terasa getir dan nglangut (mengawang-awang) terdengar di telinga saya. Ya, betapa tidak. Dua orang kakek-nenek bahu-membahu berjualan bakmi setiap hari hingga usia tuanya, sementara tidak ada yang diharapkan meneruskan generasi bakmi sesudah mereka. Boro-boro menimang cucu. Tadinya saya mau tanya sampai kapan akan berjualan bakmi, namun pertanyaan itu lalu saya batalkan. Ada perasaan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut.

Begitu lugu dan sederhananya. Sesederhana warungnya yang hanya diisi sebuah meja dengan tiga buah lincak diterangi cahaya sebuah lampu 25 Watt di atas mejanya, berdinding kerei (dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu). Kalau pembelinya banyak, biasanya kemudian mereka rela duduk di trotoar jalan atau sambil nongkrong di atas sadel sepeda motornya. Namun Mbah Slamet begitu pede-nya ketika ditanya kok tidak ada tulisan apapun di depan warungnya agar mudah dicari orang. Jawabnya : “Sampun sami ngertos mas (sudah pada tahu mas)”, yang maksudnya para pelanggannya sudah pada tahu dimana lokasi warung bakminya. Bahkan ketika saya tawari mau saya bikinkan spanduk pun dijawabnya : “Walah, mboten usah mas (tidak usah mas)”. Walah, Mbah Slamet…..

IMG_4404_r1Soal cita rasa bakminya? Karena dalam kamus makan-memakan ini hanya ada dua kategori cita rasa makanan, yaitu hoenak dan hoenak tenan, maka bakmi Mbah Slamet tergolong hoenak. Jam terbangnya di dunia perbakmian sudah membuktikannya. Memulai bisnis perbakmian sejak 37 tahun yll. dan masih bertahan dengan menyajikan sekitar 50 piring per hari hingga saat ini kiranya cukup membuktikan bahwa cita rasa bakmi Mbah Slamet tidak diragukan. Ada yang cocok dan ada yang tidak, itu hal yang lumrah. Dari dulu hingga kini Mbah Slamet tidak pernah mengubah resep racikan bakminya. Ya begitu-begitu itu.

Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak tahun 1972 dengan lokasi warungnya berada di depan terminal bis THR Jogja (sekarang Pura Wisata di Jl. Brigjen Katamso). Masih jelas dalam ingatan Mbah Slamet, bahwa waktu itu masih jaman Toto Koni (ini sejenis lotere yang di jaman itu masih legal). Bisa ditebak bahwa waktu itu Mbah Slamet melayani para penggemar judi atau lotere yang suka mangkal di depan terminal bis yang biasanya beraktifitas di malam hari, yang sedang kelaparan. Kalau sekarang usia Mbah Slamet 67 tahun, itu berarti Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak usia 30 tahun.

IMG_4406_r1Ubo rampe bakminya sebenarnya standar saja. Setelah telur bebek digoreng di atas wajan dengan menggunakan pemanas arang di atas anglo, lalu diberi adonan bumbu yang terdiri dari campuran bawang putih, ebi (udang kering) dan sedikit kemiri, lalu dituang air sebanyak kebutuhannya untuk bakmi rebus atau bakmi goreng, ditambah irisan kol dan daun bawang, dua genggam mi putih dan mi kuning, suwiran ayam kampung, lalu diaduk hingga masak. Padahal ya cuma begitu, tapi kok ya hoenak…. Lebih-lebih bakmi rebusnya, sruputan pertama kuahnya yang masih panas itu terasa segar benar. Ukuran sepiring penuh bakminya yang dihargai Rp 7.000,- itu cukup banyak.

Akhirnya setelah kenyang menyantap bakmi rebus Mbah Slamet, kami pun pamit pulang dan tidak lupa saya sampaikan sekedar pujian atas bakminya yang enak sambil berucap “matur nuwun”. Eh, malah dijawab : “Kulo ingkang matur nuwun (saya yang terima kasih)”, katanya sambil tersenyum dengan terus melayani enam orang pembeli yang sudah mengantri. Bakminya Mbah Slamet, hmmmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

IMG_4408_r

Makan Bakmi Jogja Di Jakarta

30 Juli 2009

Malam Jumat Kliwon, makan bakmi Jogja ‘Mas Tok’ di Jl. Taman Margasatwa, Ragunan. Yen tak pikir-pikir, ini rada enggak mutu…. jauh-jauh datang dari Jogja ke Jakarta, malah makan bakmi Jogja…. Tapi ya enak juga tuh.

(Menempati pelataran bengkel motor, yang kalau malam ramai penggemar bakmi Jawa. Seporsi bakmi biasa Rp 11.000,- ukuran standar, yang special campur ampela, sayap, paha atau kepala Rp 15.000,-. Minumnya teh poci + gula batu disajikan dengan cangkir model kuno)

Jakarta, 30 Juli 2009
Yusuf Iskandar