Posts Tagged ‘bagasi’

Pengalaman Pertama

4 Mei 2008

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya – Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar