Posts Tagged ‘ayam’

Tiga Kali Pulang Dari Masjid Nyeker

13 Januari 2010

3x berjamaah di masjid, 3x sendal dipakai orang, 3x pulang nyeker seperti ayam (untung tidak nginjak tahinya), 3x ikhlas, tapi dongkolnya itu… sampai 30x, sebanyak anggota Pansus Bank Century. Mau ‘pindah ke lain masjid’ kok jauh…

(Di sebelah rumah saya ada pondok pesantren. Tipikalnya, semua ‘properti’ seolah menjadi milk bersama. Makanya sebenarnya sandal saya bukannya hilang, melainkan dipakai orang lain tanpa bilang… Tapi njuk pulangnya nyeker itu lho, habis hujan lagi….)

Yogyakarta, 12 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bakminya Mbah “Mo”

17 April 2008

Lagi, cerita tentang makan. Bagi para penggemar bakmi, kalau lagi ada di Yogya, rasanya nama bakmi Kadin di mBintaran atau juga bakmi Pele di alun-alun lor di depan sebelah kanan keraton, sudah tidak asing lagi. Komentar sementara orang yang pernah atau malah sering mencoba bakmi Kadin : “enak sekali”. Namun, tunggu dulu! Jika Anda adalah penggemar bakmi, maka ada pilihan lain untuk jenis makanan ini yang perlu untuk sesekali dicoba. Lokasinya ada di luar kota Yogya, bagian selatan. Namanya bakmi Mbah “Mo” (pakai tanda petik).

Untuk mencapainya memang rada susah, karena warung bakmi Mbah “Mo” ini berada di tengah perkampungan, di Kabupaten Bantul. Jalan paling mudah kalau dari kutho Ngayogyokarto, ikuti jalan Parangtritis terus ke selatan. Saya tidak ingat hingga kilometer ke berapa, nanti akan ketemu dengan perempatan besar dan ramai yang berlampu lalu lintas, yang kalau lurus menuju Parangtritis, dan kalau belok kanan atau barat akan tembus ke kantor Pemda Bantul (ada rambu-rambunya).

Nah, ikuti jalan yang belok kanan ini, terlihat banyak pedagang kerajinan kulit. Menuju ke arah barat sekitar 1-2 km, di antara areal persawahan, ada jalan beraspal masuk ke kanan atau utara. Ikuti jalan ini hingga sekitar 500 meter akan terlihat gapura besar dan tugu kecil di sisi kanan, jalan masuk ke perkampungan. Masuk pelan-pelan menyusuri jalan kampung pinggir sawah, bebarapa puluh meter kemudian masuk gang yang ke kiri sejauh kira-kira 30 meteran, lalu belok kanan. Sampailah di warung bakmi Mbah “Mo”.

Yang membuat agak susah adalah karena warung Mbah “Mo” ini bukanya sore hari hingga malam, sementara sepanjang jalan masuknya gelap gulita, maka diperlukan sedikit kejelian untuk mencapainya. Namun jika Anda bisa mencapai perkampungan ini, maka tidak sulit lagi untuk bertanya kepada orang kampung. Layaknya warung di kampung, maka hanya ada rumah dan sekumpulan meja plus bangku, dengan halaman tanah diselingi pepohonan. Di halaman ini Anda bisa memarkir mobil atau sepeda motor di sela-sela pepohonan.

Namun jangan heran, pada saat musim liburan, akan terlihat banyak mobil berplat nomor asing (bukan AB) yang parkir di sini, yang ditinggal penumpangnya nongkrong menikmati bakmi di warung bakmi Mbah “Mo”. Lalu apa kehebatannya? Secara lahiriah tidak ada yang istimewa, wong namanya juga warung bakmi di kampung. Namun jangan tanya soal rasa bakminya. Saya berani bertaruh, bakmi Kadin dan bakmi Pak Pele, “lewat”….. jika dibanding bakminya Mbah “Mo”.

Saking huenaknya, sampai saya lupa tanya siapa sebenarnya nama lengkap Mbah Mo ini. Seperti halnya bakmi Kadin, maka bakmi Mbah “Mo” yang sekarang adalah penerus dari generasi Mbah Mo, anak-anaknyalah yang meneruskan usaha warung bakmi hingga sekarang ini. Usaha yang dirintis Mbah Mo di kampung (entah sejak kapan), kini semakin berkembang dan disukai pelanggannya.

Sekali waktu Purdie Chandra (bosnya Primagama) mengangkat tema bakmi Mbah “Mo” ini dalam salah satu tulisannya. Maka moncerlah bintangnya bakmi Mbah “Mo” sejak itu. Banyak pengunjung luar kota atau rombongan dari berbagai lembaga atau instansi yang menyempatkan mampir menikmati bakmi Mbah “Mo” kalau malam.

Ketika Mbah Mo masih sugeng (hidup), barangkali beliau tidak pernah menyangka kalau warung bakminya yang berada di tengah kampung, kelak akan dikunjungi rombongan-rombongan tamu bermobil yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh. Kini, generasi penerusnya sedang meneruskan dan meniti kesuksesan buah ketekunan orang tuanya. Sekali lagi terpikir oleh saya, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun, kesungguhan, keuletan dan keikhlasan dalam usaha mencari rejeki “secukupnya” khas wong cilik seperti yang ditekuni Mbah Mo, akhirnya toh membuahkan hasil.

Sajian bakminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bakmi pada umumnya, ada dicampur daging ayam dan telur juga. Namun taste-nya seperti yang sudah saya gambarkan di atas, pokoknya tidak kalah nikmatnya dibanding dengan bakmi Kadin dan bakmi Pele. Karena itu, jangan keburu puas setelah menikmati bakmi Kadin, kalau belum mencoba bakmi Mbah “Mo”.

Bakmi Mbah “Mo” buka jam 5 sore, tapi jangan ke sana selewat jam 9 malam, seringkali sudah kehabisan. Tinggal sebut mau bakmi goreng atau bakmi rebus. Yang saya sukai adalah bakmi rebus yang dicampur balungan (tulang ayam yang masih menyisakan sedikit dagingnya). Dimakan masih agak panas, dikecroti kecap manis dan dikeceri irisan jeruk nipis, lalu disesep-sesep kuahnya. Hmmmm………

Penasaran? Monggo….., kalau suatu saat ingin mencobanya.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 21 Juli 2004