Posts Tagged ‘anzac parade’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(6).    Tiga Jam Di Canberra

Di Visitor Information ini saya memperoleh peta kota Canberra yang mesti saya ganti dengan biaya A$2.00. Saya lalu berhitung dengan waktu karena saya tentu tidak dapat berlama-lama berada di kota ini. Hari Sabtu sore, 4 Agustus 2001, itu juga saya mesti kembali ke Parkes. Saya agak khawatir kalau kemalaman di jalan. Bukan khawatir karena jalan yang pasti lebih sepi dibanding siang hari, melainkan khawatir kalau saya menjadi kurang jeli melihat rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari sudah gelap.

Meskipun saya akan kembali ke Parkes melewati rute yang sama dengan ketika berangkatnya, namun mengemudi di daerah yang belum saya kenal di saat malam hari di Australia ini tidak semudah dibandingkan kalau melakukan hal yang sama di Amerika.

Di Australia, petunjuk arah jalan biasanya terdapat di seputaran kota atau setelah persimpangan jalan. Jika saya lengah tidak melihat petunjuk jalan, maka selanjutnya saya tidak akan tahu berada di jalan dan arah yang benar atau salah hingga tiba di kota berikutnya atau persimpangan jalan besar berikutnya. Berbeda dengan di Amerika yang setiap jarak tertentu pada setiap jalan selalu terdapat tanda nomor jalan dan arahnya, sehingga kalaupun salah, maka belum terlalu jauh untuk kembali.

Hal yang sama seperti di Australia ini sebenarnya juga berlaku di Indonesia. Hanya bedanya kalau di Indonesia, sewaktu-waktu kita bisa tanya ke tukang becak, tukang ojek, tukang tambal ban, kios rokok, warung pinggir jalan atau siapa saja yang kita temui.

***

Oleh karena itu, saya rencanakan bahwa saya akan berada di Canberra sekitar tiga jam saja. Artinya pada jam 3:00 sore saya sudah harus meninggalkan Canberra untuk kembali ke Parkes, sehingga tiba di Parkes belum gelap benar. Tempat-tempat yang akan saya kunjungi siang itu pun lalu saya pilih.

Dari sekian obyek wisata di kota Canberra yang saya anggap menarik dan perlu dikunjungi serta cukup dalam tiga jam adalah Gedung Parlemen (Parliament House). Rasa-rasanya ini adalah bangunan termegah di Canberra. Tempat kedua adalah Gedung Australian War Memorial yang letaknya berada pada garis lurus arah timur laut terhadap Gedung Parlemen. Di depan Gedung War Memorial ini terdapat pelataran luas yang lantainya berwarna merah bata yang panjangnya sekitar 1 km dengan lebar sekitar 150 m. Tempat ini disebut dengan Anzac Parade.

Parliament House terletak di Capital Hill dan dikelilingi oleh dua jalan lingkar, yang di dalam disebut Capital Circle dan yang di luar disebut State Circle. Untuk mencapai gedung ini dari Visitor Invormation saya tinggal berjalan lurus saja ke selatan mengikuti jalan Northbourne Avenue lalu bersambung ke Commonwealth Avenue yang menyeberang danau Lake Burley Griffin.

Gedung Parlemen terletak di ujung jalan Commonwealth Avenue, karena itu tidak sulit untuk dicapai asal tidak salah mengambil lajur jalan. Sebab kalau salah akan berakibat berjalan mengelilingi jalan lingar luar ataupun dalam sebelum menemukan lajur jalan yang benar menuju ke Gedung Parlemen.

Danau Burley Griffin ini adalah danau buatan di tengah kota Canberra yang kalau dilihat dari arah mana-mana tampak memberi pemandangan kota yang indah. Namanya saja danau buatan, maka tentu keindahan yang diberikan adalah keindahan yang direncanakan. Namun tidak dapat disangkal bahwa karya seorang arsitek Amerika bernama Walter Burley Griffin dalam merancang kota Canberra adalah karya besar yang dibanggakan oleh masyarakat Canberra.

Pembangunan kota Canberra karya Griffin ini peletakan batu pertamanya pada tahun 1913. Terjadinya Depresi Ekonomi yang juga melanda Australia pada tahun 30-an serta adanya dua kali Perang Dunia telah menyebabkan rencana besar pembangunan kota Canberra terbengkalai. Baru pada tahun 1950-an karya Griffin dilanjutkan.

Tahun 1979 Gedung Parlemen mulai dirancang melalui sebuah kompetisi yang dimenangkan oleh tiga orang arsitek, Mitchell, Giurgola dan Thorp. Hingga akhirnya keseluruhan proyek raksasa ini selesai dengan ditandai diresmikannya Gedung Parlemen Australia oleh Ratu Elizabeth pada tanggal 9 Mei 1988.

Gedung Parlemen ini dapat dikatakan sebagai gedung terbesar di Australia. Juga tidak berlebihan kalau dikatakan gedung ini memang sangat megah dan kaya akan sentuhan seni ketika melihat masuk ke bagian dalamnya. Kemegahannya sudah tampak sejak berada di depan gedung ini. Terletak di area seluas 32 hektar, gedung ini memiliki 4.500 ruangan. Dari jauh gedung ini mudah dikenali dengan adanya menara baja antikarat yang tampak berkilap berdiri di bagian tengahnya, menjulang tinggi dengan bendera negara Australia berukuran panjang 12,8 m dan lebar 6,4 m berkibar tinggi di angkasa Canberra.

***

Tidak terasa saya berada di kompleks gedung ini selama lebih dua jam. Oleh karena itu saya lalu buru-buru meninggalkan gedung parkir yang berada di bawah tanah di depan kompleks gedung dan menuju ke Gedung Australian War Memorial yang terletak di seberang danau Griffin arah timur laut. Saat menjelang menyeberangi danau Griffin, tenyata saya salah mengambil lajur yang benar. Tetapi justru ini membawa saya untuk berjalan agak menyusuri tepian danau yang memang berpemandangan indah.

Sebelum tiba di Gedung War Memorial jalan yang saya lalui berada tepat di pinggir barat laut pelataran luas Anzac Parade. Gedung Australian War Memorial terletak tepat di ujung timur laut jalan Anzac Parade. Dari kejauhan sebenarnya gedung ini tidak tampak megah. Kemegahannya baru terasa ketika mulai masuk ke pelataran dalamnya.

Agaknya ini adalah gedung sebagai kenangan atas para pahlawan Australia yang tewas di medan peperangan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB. Di dinding dalam bangunan ini tertulis ribuan nama para pahlawan Australia itu yang pernah bertugas di berbagai belahan dunia sebagai pasukan PBB. Hanya saja ketika saya mencoba memeriksa pasukan Interfet yang bertugas di Timor Timur kok tidak saya temukan.

Akhirnya sekitar jam 3:00 sore lebih sedikit saya meninggalkan Gedung Australian War Memorial ini dan kembali ke arah jalan dimana saya datang tadi pagi. Sialnya, saya kurang jeli melihat tanda petunjuk arah sehingga kebablasan. Sekalian saja berhenti membeli bensin agar selanjutnya dapat terus melaju memacu kecepatan agar tidak kemalaman tiba kembali ke Parkes.

Akibat salah jalan dan berhenti ini saya kehilangan waktu setengah jam lebih. Akhirnya baru menjelang jam 7:00 malam saya tiba kembali di Parkes. Untungnya tidak mengalami salah jalan ketika hari mulai gelap sebelum tiba di Parkes.

Parkes, 5 Agustus 2001
Yusuf Iskandar