Posts Tagged ‘ansett’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Iklan