Posts Tagged ‘anchorage’

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(1).   Tiba Di Juneau Ketemu Sopir Philipino

Setelah menempuh perjalanan panjang dari New Orleans (Louisiana), siang tadi sekitar jam 13:00 AKST (Alaskan Standard Time) atau waktu Alaska, saya mendarat di Juneau, ibukota negara bagian Alaska. Jarak terbang dari New Orleans ke Juneau kalau ditempuh langsung adalah sekitar 7 jam. Tetapi kali ini saya menempuhnya dengan bertahap. Berangkat dari New Orleans hari Senin sore kemarin (23 April) menuju ke Seattle (Washington) dengan transit di Houston (Texas). Tiba di Seattle tengah malam. Hari Selasa siang tadi baru berangkat dari Seattle menuju Juneau menempuh perjalanan udara sekitar 2 jam 15 menit.

Perjalanan bertahap ini saya lakukan karena saya harus mengepaskan dengan pesawat Alaska Air penerbangan No.  75 dari Seattle menuju Juneau, sementara tidak ada penerbangan pagi dari New Orleans yang bisa sambung pada hari yang sama. Maka terpaksa mesti menginap dulu semalam di Seattle.

Alasan untuk mengejar penerbangan No. 75 Alaska Air ini adalah karena saya mau mbarengi Pak Keith Marshall, General Manager tambang perak Greens Creek dimana saya akan melakukan kunjungan tambang selama dua hari. Mempertimbangkan agar nantinya tidak golek-golekan (saling mencari), setiba di Juneau sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi tambang yang relatif terpencil, maka untuk amannya saya memilih mbarengi Sang General Manager.

Perjalanan menuju ke lokasi tambangnya sendiri baru besok pagi. Rencananya akan berangkat dari Juneau jam 04:30 pagi menuju pulau Admiralty menggunakan boat lalu disambung lagi dengan kendaraan darat.

***

Cuaca kota Juneau cukup dingin siang tadi dan hingga sore ini, serta berawan. Suhu udara sekitar 43 derajat Fahrenheit (sekitar 6 derajat Celcius). Langit berawan dengan sesekali hujan rintik-rintik dan cahaya matahari silih berganti menembus awan. Saat ini sedang musim semi (spring). Di belahan lain negara Amerika sudah mulai memanas suhu udaranya, tapi di Alaska yang memang merupakan negara bagian paling utara dari negara Amerika masih saja dingin. Padahal hari-hari ini matahari sedang tepat berada di garis katulistiwa.

Kota Juneau terletak di sisi tenggara wilayah negara bagian Alaska, atau nyelempit di sudut ujung barat daya negara Canada. Meskipun lokasinya masih berada di daratan Amerika Utara, namun kota Juneau dapat dikatakan letaknya terisolir terhadap daratan Amerika, karena untuk mencapainya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan perjalanan udara atau laut. Terhadap kota-kota lain di wilayah Alaska maupun Canada juga tidak ada sarana perhubungan darat, karena kota yang luasnya sekitar 6.700 km2 dan jumlah penduduknya hanya sekitar 31.000 jiwa ini lokasinya dikelilingi laut dan pegunungan bersalju serta glacier (gunung es).

Mengisi waktu sore tadi, saya sempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi Mendenhall Gracier yang lokasinya di sisi barat laut Juneau, tidak terlalu jauh dari kota. Jalan-jalan sore tapi diantar oleh kendaraan hotel yang kebetulan sopirnya orang Philipina. Suhu udara masih cukup dingin, malah sebenarnya saya rasakan sangat dingin. (Mengenai kota Juneau dan Mendenhall Glacier ini mudah-mudahan akan sempat saya ceriterakan lebih lengkap dalam Catatan Perjalanan yang akan saya tulis terpisah).

Sopir Philipino yang mengantarkan saya jalan-jalan sore rupanya cukup surprise ketika tahu ada orang Indonesia yang nyasar ke Alaska. Pasalnya sejak tahun 1988 dia tinggal di Alaska, antara lain di Kodiak (salah satu kota pulau), Anchorage (kota terbesar) dan akhirnya Juneau (ibukota Alaska), belum pernah sekalipun dia ketemu orang Indonesia. Tentu maksudnya bukan tidak pernah ada orang Indonesia datang ke Alaska, hanya saja dia belum pernah menemuinya selama 13 tahun merantau ke Alaska.

***

Malam ini saya memilih untuk istirahat di kamar hotel saja, meskipun sebenarnya matahari baru tenggelam sekitar jam 20:30. Suasana kota Juneau yang memang tidak padat penduduknya ini umumnya juga sudah tampak sepi. Saya pikir akan lebih baik kalau malam ini saya cukup beristirahat, mengingat besok mesti berangkat pagi-pagi dan disambung dengan perjalanan ke tambang bawah tanah Greens Creek.

Meskipun besok akan berangkat jam 04:30 pagi, tapi fajar waktu sholat Shubuh sudah menjelang jam 01:32 dini hari. Yang agak merepotkan saya adalah karena waktu sholat Isya’ baru tiba jam 23:47. Saya belum memutuskan apakah lebih baik tidur dulu atau menunggu waktu sholat Isya’ tiba. Kalau menunggu waktu sholat Isya’ tiba, artinya dua jam kemudian sudah datang waktu Shubuh. Entahlah, tergantung “tingkat kengantukan” saya saja nanti.

Mudah-mudahan besok saya tidak mengalami kesulitan untuk on-line sehingga dapat mengirimkan lanjutan dari surat ini secara tepat waktu. Jika tidak, ya harap dimaklumi kalau terpaksa pengirimannya tertunda.

Juneau, 24 April 2001 – 21:00 AKST (25 April 2001 – 12:00 WIB) 
Yusuf Iskandar

Iklan

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(4).   Jalan-jalan Keliling Kota Dan Dijamu Teman Baru        

Jum’at pagi ini cuaca kota Juneau tidak terlalu cerah. Sama seperti beberapa hari kemarin. Sesekali cahaya matahari menerangi bumi Alaska, tetapi lebih sering tertutup awan dengan rintik-rintik hujan. Pagi hingga siang hari suhu udara berkisar di angka 43 derajat Fahrenheit (sekitar 6 derajat Celcius). Cukup membuat saya kedinginan kalau berlama-lama di tempat terbuka, meskipun sudah mengenakan jaket.

Akan tetapi karena ya memang sudah diniati ingin memanfaatkan waktu hari bebas hari ini, maka tetap saja saya merencanakan untuk keluar melihat-lihat sisi lain dari kawasan kota Juneau ini. Sebelumnya saya memang sudah janjian dengan sopir hotel yang orang Philipina. Bahwa hari ini dia off dari kerja paruh waktunya sebagai sopir di hotel dan bersedia menemani saya jalan-jalan.

Wah, ya tentu saja tawaran ini saya terima dengan senang hati. Rupanya memang ada jiwa kultur Melayu yang serupa dengan orang Indonesia, yaitu bahwa karena merasa sama-sama jauh dari kampung halaman, maka kami menjadi seperti saudara saja layaknya.

Pagi tadi saya datangi rumahnya yang merangkap sebagai tempat usahanya. Orang Philipina yang bernama Rodel Bulaong ini menjalankan usaha jasa pengiriman barang ke Philipina. Rupanya memang cukup banyak perantau asal Philipina di Alaska ini yang sudah menjadi WNA (warga negara Amerika). Di kota Juneau saja ada lebih 6.000 orang, belum lagi di kota-kota lainnya termasuk kota terbesarnya Anchorage. Maka tidak mengherankan setiap ada pemilihan gubernur negara bagian, si calon gubernur biasanya menyempatkan “sowan” ke warga asal Philipina guna meminta dukungan. Itu karena prosentase pemilih asal Philipina cukup untuk mengangkat angka perolehan suara si calon Gubernur.

Memenuhi janjinya, Mas Rodel seharian tadi mengantarkan saya jalan-jalan keliling kota Juneau, termasuk ke downtown dan menyeberang ke Pulau Douglas dengan menggunakan kendaraannya. Kalau hari Selasa yang lalu sebagai sopir hotel dia mengantar-jemput saya ke Mendenhall Glacier dan saya memberinya tip sebagaimana menjadi kebiasaan di Amerika. Seharian tadi sebagai kawan dia menemani saya keliling kota dengan cukup saya yang membeli bensinnya.

Rencana semula saya memang mau sewa kendaraan saja biar lebih bebas ngeluyur kemana-mana, tapi rupanya dilarang oleh Mas Rodel yang baik ini. Dikatakannya bahwa sewa kendaraan di Juneau sangat mahal dibandingkan kota-kota lain di Amerika, demikian halnya dengan taksi. Untuk dua hari sewa kendaraan bisa menghabiskan US$100-200. Demikian halnya kalau di kota-kota lain naik taksi untuk jarak kira-kira dari hotel tempat saya menginap ke downtown berkisar US$10, di Juneau bisa US$30.    

***

Siang tadi saya ke downtown, selain ingin jalan-jalan melihat pusat kota yang tidak besar dan tidak ramai ini, juga mencari sekedar barang-barang souvenir. Rupanya banyak toko-toko pada tutup, ada banyak juga yang tutup karena sedang dalam perbaikan. Katanya karena ini bukan musim liburan sehingga tidak banyak pengunjung. Alasan ini masuk akal kalau mengingat Juneau bukanlah kota besar dan relatif terisolir terhadap daratan Amerika lainnya. Setidaknya untuk mencapai kota ini tidak dapat dicapai lewat jalur darat. Umumnya lewat udara, sedang kalau lewat laut bisa dua hari atau lebih.

Langit yang mendung, hujan rintik-rintik dan hawa dingin memang membuat acara jalan-jalan siang di kota Juneau menjadi kurang leluasa, meskipun ya saya lakukan juga. Dari downtown saya menyeberang ke Pulau Douglas melalui Douglas Bridge sebagai satu-satunya jembatan penghubung antara kota Juneau dan Pulau Douglas. Di sepanjang pantai selatan Juneau berada beberapa dermaga, antara lain Aurora dan Harris. Banyak perahu-perahu motor pesiar milik perorangan yang ditambatkan di sini. Memandang ke arah utara tampak puncak-puncak pegunungan yang berwarna putih karena diselimuti salju.

Sebelum saya berada di Juneau, saya membayangkan di kota ini akan menyewa kendaraan dan lalu saya akan traveling menuju ke kota-kota lain di Alaska. Kini kejadiannya tidak semudah yang saya bayangkan. Karena sekalipun saya membawa kendaraan sendiri, praktis saya tidak akan dapat kemana-mana kecuali keliling di seputaran kota Juneau saja. Untuk dapat menuju ke kota lain seperti Anchorage atau Fairbank, saya harus terbang dulu dari Juneau, baru di sana sewa kendaraan. Sementara ongkos pesawat tergolong cukup mahal dibandingkan jarak yang sama di daratan utama Amerika.

Kalaupun dipaksakan mau berkendaraan, maka harus menyeberang menggunakan jasa kapal feri menuju ke arah hulu sungai Yukon yang dapat memakan waktu 6 jam lebih untuk menyeberang ke kota lain. Selanjutnya dari sana berkendaraan melewati satu-satunya jalan darat yang ada, masuk lebih dahulu ke wilayah negara Canada. Karena itu hanya mereka yang benar-benar punya waktu longgar yang mau menggunakan cara ini.

Saya menyadari bahwa waktunya memang tidak tepat untuk berwisata ke Alaska. Waktu yang tepat adalah di saat musim panas. Oleh karena itu yang ingin saya lakukan saat ini adalah mengeksplorasi sebanyak-banyaknya kawasan di seputaran kota Juneau yang memungkinkan untuk dijangkau.

***

Jum’at siang tadi “tepaksa” saya tidak Jum’atan. “Lha piye, wong ora ono mesjid” (tidak ada masjid) di Juneau. Menurut daftar masjid di Amerika yang saya miliki, di Alaska hanya ada di kota Anchorage yang jaraknya sekitar 800 mil (1.280 km) dari Juneau dan dapat ditempuh dengan pesawat udara selama dua jam.

Saya coba-coba membolak-balik buku tilpun tidak saya ketemukan masjid atau komunitas muslim di Juneau. Saya mencoba melacak beberapa nama yang berbau Arab dalam buku tilpun, dengan maksud akan saya tilpun untuk saya tanyai dimana bisa Jum’atan. Tapi ya tidak ketemu wong mencarinya secara acak, mau membaca satu-persatu daftar buku tilpun khawatir keburu sudah Ashar. Belakangan teman baru saya yang juga asal Philipina berceritera bahwa dia pernah ketemu keluarga muslim di Juneau, barangkali ada beberapa keluarga.

Sore tadi saya diundang diajak makan di rumah seorang teman asal Philipina juga. Bersama Mas Rodel sekitar jam 06:30 sore meninggalkan hotel menuju ke rumah seorang teman baru bernama Lorenzo Jaravata. Di depan hotel ada billboard yang selalu menunjukkan waktu dan suhu udara. Dari billboard yang tampak dari jendela kamar hotel, sore tadi hingga malam ini suhu udara terbaca 36 derajat Fahrenheit (sekitar 2 derajar Celcius). Bagi saya bukan hanya cukup dingin, melainkan membuat saya kedinginan berada di luar.

Mas Lorenzo yang bekerja sebagai salah seorang Manager Bank di Juneau ini rupanya hobinya memasak. Kami pun lalu dijamu di rumahnya. Sambil ngobrol duduk di depan dapur apartemennya, sambil dia mempersiapkan masakan. Untuk kesekian kalinya selama di Alaska ini saya ketemu orang-orang yang sangat baik, setidak-tidaknya memperlakukan saya sebagai seorang sahabat meskipun baru kenal.

Pulang dari rumah Mas Lorenzo jadi ngantuk kekenyangan. Biasa, perut kampung. Maka ajakan Mas Rodel untuk menjemput beberapa teman perempuannya lalu menuju ke diskotik malam ini saya tolak dengan awalan “I’m very sorry”. Toh, sahabat baru saya ini memahami penolakan saya. Lha wong perut lagi kemlakaren (kekenyangan) kok diajak njoget. Yang saya khawatirkan sebenarnya bukan njoget-nya, melainkan kalau sepulang dari diskotik kembali ke hotel terus saya tidak bisa ngomong “I’m sorry”….. 

Juneau, 27 April 2001 – 23:00 AKST (28 April 2001 – 14:00 WIB)  
Yusuf Iskandar