Posts Tagged ‘anak perempuan’

Obrolan Seorang Bapak Dan Anak Perempuannya

24 November 2009

Anak perempuanku yang baru tahun pertama kuliah, malam itu minta dijemput ke kampusnya sepulang dari kegiatan outbond ke luar kota. Pada waktu yang bersamaan saya telanjur ada janji mau ketemuan dengan seorang teman, di sebuah café di Jogja. Lokasi café dan kampusnya sama-sama jauh dari rumah, tapi jalurnya searah. Agar saya tidak perlu bolak-balik menjemput anakku lalu pulang dan berangkat lagi padahal rutenya sama, maka tiba-tiba saja muncul ide untuk menggabungkan kedua agenda itu. Saya merencanakan untuk menjemput anakku dulu, kemudian pulangnya mampir ke café ketemu seorang teman.

Sebelum berangkat dari rumah saya berdoa di dalam hati. Benar-benar saya berdoa dengan hidmat. Bukan sekedar selintas di pikiran dengan kata ‘mudah-mudahan’, sebagaimana salah kaprah yang sering dilakukan orang bahwa dikiranya yang namanya berdoa itu cukup dengan melintaskan harapan di pikiran, lalu selebihnya : “Tuhan kan Maha Tahu” (ya memang sudah sejak dulu kalau Tuhan itu Maha Tahu). Doa saya bunyinya kira-kira begini : “Tuhan, kalau sekiranya niat mengajak anak perempuanku mampir ke café malam ini adalah baik, tolong dimudahkan. Tapi jika menurut Panjenengan tidak baik, beri saya keikhlasan untuk nyopir bolak-balik…”.

Sampai di kampus, anak perempuanku pas baru tiba juga. Dia langsung masuk mobil lalu kemudian saya memutar balik kendaraan. Sebelum mulai jalan, anakku saya tanya dulu tentang kesediannya untuk saya ajak mampir café dan menemani bapaknya ketemu seorang teman. Jangan-jangan dia kecapekan dan tidak setuju. Tapi rupanya anakku setuju dan bersedia ikut ke café. Maka meluncurlah kami ke sebuah café. Ya, seorang bapak berusia menjelang setengah abad bersama anak gadisnya lalu turun dari mobil dan masuk café.

Sesampai di sana, mengambil tempat duduk, pesan makanan dan minuman sekedarnya, lalu saya pun ngobrol ngalor-ngidul dengan teman. Sementara anakku yang juga duduk semeja (barangkali) turut mendengarkan obrolan orang tuanya sambil memainkan HP-nya. Sesekali anakku saya ajak bicara. Sekitar satu setengah jam lebih sedikit lamanya kami nongkrng di cafe, hingga kemudian kami pun pulang.

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan peristiwa ini. Lebih-lebih di kota besar, nongkrong di café malam-malam bagi seorang perempuan maupun orang tua sebaya saya bukanlah hal yang aneh. Tapi tidak bagi bapaknya anak perempuanku itu yang  termasuk manusia konservatif. Maka momen itu saya manfaatkan untuk mendiskusikan beberapa hal, sambil kami berkendaraan pulang.

***

Seorang bapak dan seorang anak perempuan malam-malam nongkrong di café tanpa ada alasan yang jelas, sepanjang pemahaman saya tidak pernah ada referensi rujukannya. Artinya, kalau mau ditimbang-timbang antara manfaat dan mudharatnya, hampir pasti, sekali lagi hampir pasti lebih banyak mudharatnya. Begitulah menurut ilmu yang pernah saya pelajari sejak dari buaian dulu hingga sekarang sebelum masuk kubur. Jika kemudian di jaman sekarang pemandangan itu seperti lumrah dijumpai, maka itu pasti bukan salah ilmunya melainkan pelaku jamannya. Kalau jamannya sih baik-baik saja, sekedar pergantian waktu dari malam ke siang, hari ke bulan, tahun ke abad, dst. Tapi justru pelakunya ini yang susah diatur karena memiliki nafsu dan akal yang keduanya sering uncontrollable.

Sambil berkendaraan santai, sambil saya bercerita menunjukkan café-café yang kalau malam banyak dikunjungi anak-anak perempuan muda, entah pelajar, entah mahasiswa, entah pekerja, entah yang merangkap semuanya. Termasuk hotel yang menerapkan tarif spesial short time sehingga banyak dikeluar-masuki tamu. Termasuk tempat-tempat makan yang enak. Lho, kok bapaknya malah tahu? Lha itulah repotnya, untuk bisa memberitahu memang harus tahu duluan (dasar!).

Tapi inti sebenarnya dari obrolan bapak dan anak perempuan itu adalah memberi sebuah pemahaman (bukan nasehat, sebab anak sekarang suka apatis kalau mendengar istilah nasehat apalagi dari orang tuanya). Pemahaman bahwa bukanlah hal yang baik dan benar kalau ada anak perempuan malam-malam suka keluyuran dan nongkrong di café, kalau bukan karena ada urusan yang mendesak (tapi celakanya sekarang ini segala urusan itu kok ya kelihatannya mendesak semua, atau terkadang didesak-desakkan).

Bukan tidak boleh (takut juga bapaknya kalau dibilang suka ngatur), sesekali okelah oleh karena ada alasan yang dapat diterima oleh pertimbangan akalnya sendiri (tidak dibutuhkan akal orang lain untuk mempertimbangkannya). Maka itulah pentingnya mendidik dan memberi makan yang sehat bagi akalnya sendiri, agar tidak bergantung kepada akal orang lain. Namun kalau nongkrong di café itu menjadi kebiasaan…., ya bukan salah juga. Hanya ya itu tadi, digaransi bahwa mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya.

Lagian ya ngapain saya nongkrong di café”, komentar anak perempuanku ini membuat hati saya mak plong….. Saya percaya dengan kejujurannya (kalau tidak percaya ya jangan jadi bapaknya).

Ngiras-ngirus (sekalian) saya bercerita kepada anakku bahwa terkadang bapaknya juga nongkrong sampai malam di café, untuk tujuan ketemu klien atau partner kerja, melakukan lobby, meeting dan terkadang juga berjudul hang out. Sebab profesi bapaknya memang menuntut untuk banyak ketemu orang. Tapi saya memastikan kepada anakku bahwa dari rumah tujuannya mesti benar dan lurus dulu, sebab di luaran sana banyak fasilitas untuk miring-miring, bahkan terkadang dapat diperoleh dengan gratis.

Akhirnya anak perempuanku tertawa ngakak ketika saya bilang : “Tapi ibu tidak tahu kalau bapak pergi ke café. Bapak bukannya berbohong sama ibu, melainkan hanya tidak mengatakan yang sebenarnya…..”, dan anakku pun terus tertawa. Saya tidak tahu tertawa ngakaknya anakku ini karena menganggap cerita bapaknya ini lucu, atau malah melecehkan bapaknya, atau jangan-jangan senang karena punya bapak ‘enggak seberapa gila’. Sebab ibunya anak perempuanku ini lebih konservatif lagi dibanding bapaknya, sehingga rentan terhadap kemungkinan salah paham. Biar tidak sulit menjelaskannya (kelamaan diskusi sebelum berangkat malah akhirnya tidak jadi pergi), mendingan tidak mengatakan yang sebenarnya tanpa harus berbohong.

Dunia ini memang butuh orang-orang yang konservatif. Dunia menjadi indah justru karena ada orang-orang yang konservatif cara berpikirnya, juga negara dan keluarga, agar perilaku kehidupan ini sak madyo (sedang-sedang saja), proporsional, sewajarnya dan tidak kebablasan seperti para penguasa otonomi daerah.

Yogyakarta, 23 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan