Posts Tagged ‘american airlines’

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(3).   Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang

Penerbangan New Orleans ke Dallas – Ft.Worth selama satu setengah jam dengan pesawat American Airlines (AA) berjalan lancar. Hari itu juga disambung dengan penerbangan lanjutan AA menuju Tokyo. Di perjalanan, sambil membayangkan persiapan pemakaman ibu saya, sambil terus mengirimkan doa, sambil saya berpikir apakah ada cara lain untuk mendapatkan penerbangan tercepat menuju kampung halaman. Jelas, bermalam di Tokyo bukan pilihan yang tepat (meskipun bunyi tiketnya demikian) di saat seperti itu.

Perjalanan selama 16 jam menuju Tokyo dengan menyeberangi Samudra Pasifik, sepertinya kurang dari 4 jam. Berangkat dari Dallas jam 11:30 siang, tiba di Tokyo jam 15:15 sore. Di sepanjang perjalanan, setiap kali saya memperhatikan petunjuk waktu setempat (saat dimana posisi pesawat berada), hanya berkisaran di seputar jam 1, 2 atau 3 siang. Tidak mengalami sore, malam dan pagi. Dari Dallas hari Minggu, tiba di Tokyo hari Senin, karena perjalanan menyeberangi Samudra Pasifik adalah perjalanan melewati garis batas penanggalan internasional.

Tapi sebagai seorang muslim, saya “untung”. Selama perjalanan 16 jam, bahkan hari telah berganti, saya hanya berkewajiban sholat satu kali saja, yaitu Dzuhur yang waktunya suuuaangat panjang. Lha waktu-waktu sholat yang lain kemana? Ya, embuh….. Wong nyatanya begitu, berangkat dari Dallas menjelang waktu Dzuhur, tiba di Tokyo sesudah bedug Ashar. Penjelasan yang paling masuk akal adalah barangkali karena pesawatnya bergerak ke arah barat bersamaan dengan “bergeraknya” matahari, sehingga waktunya seperti siang terus.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(5).   Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa

Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam 15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo. Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.

Menurut tiketnya, saya akan bermalam di Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju Jakarta esok harinya dengan Japan Airlines (JL), karena rute inilah yang akhirnya saya dapatkan saat pesan tiket di New Orleans. Oleh karena itu bagasi saya harus diambil di Tokyo. Untuk mengambil bagasi, saya harus keluar dari bandara melewati imigrasi, dan untuk melewati imigrasi saya ditanya tentang visa kunjungan ke Jepang.

Karena saya hanya akan overnight menunggu penerbangan sambungan esok harinya, maka diperlukan shore pass. Sedangkan untuk memperoleh shore pass saya mesti menghubungi dan meminta kepada petugas American Airlines (AA), yaitu perusahaan penerbangan yang mengatur perjalanan saya dari Amerika.

Petugas imigrasi bandara Narita lalu menunjukkan agar saya menuju counter AA. Saya pun segera mundur dari gerbang imigrasi, dan menuju counter AA yang dimaksud. Ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, bahkan nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa di situ tempat meminta shore pass. Saya pun celingukan, berjalan kesana-kemari, kesal, sambil jelalatan barangkali ada petunjuk arah. Karena tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di counter yang ditunjukkan tadi., saya lalu berhenti dan bersandar di sebuah meja setinggi dada (dalam hati saya mereka-reka, orang Jepang ini umumnya pendek tapi meja counter-nya kok tidak lazim tingginya).

Eh, lha kok ternyata di atas meja itu ada tempelan kertas bertuliskan kira-kira bunyinya adalah : jika Anda perlu bantuan untuk mendapatkan shore pass, silahkan hubungi nomor-nomor di bawah ini….. Lalu tertulis berderet nama perusahaan penerbangan beserta nomor-nomor tilpun.

Saya temukan nomor tilpun untuk pesawat AA, ternyata nomor tilpun yang aslinya dicetak dengan komputer sudah dicoret dan diganti dengan tulisan tangan. Dan itupun sudah juga dicoret lagi, diganti dengan tulisan tangan yang lebih jelek, dan nulisnya miring lagi. Di balik meja tinggi itu ada sebuah pesawat tilpun dan komputer “kuno” yang sepertinya tidak pernah dipakai. Tampak kusam dan sudah tidak cerah lagi warnanya.

Sejenak saya tolah-toleh, sekedar untuk meyakinkan bahwa di situ memang tidak ada siapa-siapa, selain ada seorang ibu muda yang juga penumpang pesawat yang sedang sama bingungnya dengan saya. Lalu saya beranikan diri mengangkat gagang tilpun, ambil nafas sejenak, lalu menekan sebuah nomor yang tertulis jelek itu. Entah mau nyambung kemana atau siapa, yang penting tilpun. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan nomornya tidak salah, tidak salah sambung dan tidak dijawab oleh mesin otomatis. Berhasil…..!

Ternyata memang langsung nyambung ke kantor perwakilan AA, entah kantornya ada di mana. Belum sempat saya mengutarakan maksud saya menilpun, dengan cepat ditimpali oleh pembicara di seberang sana dan saya diminta menunggu sebentar, karena petugas AA akan segera datang (dalam hati saya berharap mudah-mudahan yang menjawab tadi bukan jin Tomang yang suka menterjemahkan kata-kata “sebentar” berarti bisa sampai satu jam).

Seperti tahu kekhawatiran saya, dua orang petugas AA yang nampak jelas mereka orang Jepang, memang membuktikan pesannya tadi. Belum lima menit…., sudah sampai ke meja tempat saya menilpun tadi. Lho, kok tahu kalau saya menilpun dari situ?

Agaknya mereka lari, nafasnya masih ngos-ngosan, karena itu saya tidak tega untuk langsung mencecar dengan pertanyaan. Tapi sepertinya mereka sudah paham apa yang saya butuhkan, barangkali memang itu tugas rutinnya, sehingga malah mereka yang mendahului mengajukan pertanyaan beruntun, antara lain saya datang dengan pesawat nomor berapa, penerbangan lanjutannya dengan pesawat apa, nomor berapa, kapan, dsb. Tiba-tiba saya merasa menjadi tidak sendirian di Narita, tidak sebagaimana saat kebingungan tadi.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar