Posts Tagged ‘america’

Amazing America

7 Februari 2008

We would like to say that it’s really a great opportunity for us to be New Orleanian, where we became a part of a heterogeneous culture within a big country, United States of America. Fortunately, we also had a lot of opportunities to visit, to see and to learn the other sides of this big country in any aspects of life.

And ….., it’s really amazing …..!

Amazing, for us who came from a small village in a developing community in an archipelago, far away at the equator. Amazing, that finally we made it : visit and see 48 states in the US contiguous, more than what have ever been seen by mostly American. Same amazing as 210 million people who live in 13,000 islands with hundreds of ethnic and cultures, hundreds of local languages and dialects, Indonesia.

(New Orleans, January 2001)

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(2).     Akhirnya Jadi Berangkat Juga

Selesai dengan draft akhir rencana perjalanan, selanjutnya rencana itu saya presentasikan di depan anak-anak dan ibunya dengan menggunakan peta Amerika guna memperoleh persetujuan. Intinya adalah memberitahu kepada mereka bahwa perjalanan liburan kali ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Agar proposal ini disetujui tentunya saya harus menonjolkan sisi-sisi menarik dari banyak tempat yang akan dikunjungi. Sekedar menerapkan strategi bisnis, bukan memanipulasi informasi melainkan lebih menonjolkan sisi enaknya agar sisi tidak enaknya tidak terlalu diperhatikan meskipun tetap harus diantisipasi.

Hal terakhir yang saya mintakan persetujuan adalah bahwa hotel hanya akan kami jadikan sebagai tempat untuk numpang tidur dan membuang hajat. Selebihnya kami akan berada di jalan menikmati matahari dan alam Amerika. Toh, di musim panas ini biasanya gelapnya malam hanya akan berlangsung sekitar 8 jam saja.

Langkah berikutnya adalah mencoba menghubungi beberapa rekan yang kebetulan tinggal di daerah yang akan saya kunjungi atau lalui. Hitung-hitung sekalian bersilaturrahmi. Diantaranya saya menghubungi Mas Prapto Supeno di Wheaton (negara bagian Maryland). Mas Peno yang mantan teman kuliah di jurusan Tambang ini ternyata malah mengharapkan agar kami menginap saja di rumahnya. Wah, ya kebetulan.

Saya juga sempat menghubungi mBak Rinta Gillert yang alumni Geologi dan tinggal di Ithaca (negara bagian New York). Rupanya mBak Rinta sedang pulang kampung ke Indonesia, karena itu maka rute untuk melewati Ithaca saya ubah. Sebagai gantinya saya akan mampir menemui seorang bekas teman kerja di Tembagapura yang kini tinggal di Syracuse (juga negara bagian New York). Adiknya Mas Mimbar Seputro yang tinggal di Columbia (negara bagian Missouri) juga saya hubungi, sekalian ingin bersilaturrahmi karena kota ini akan saya singgahi dalam perjalanan saya kembali menuju ke New Orleans.

Perhatian saya berikutnya adalah soal kesiapan kendaraan. Sedan Ford Taurus tahun 1999 warna hijau metalik yang spedometernya sudah berada di angka sekitar 15.000 mil (24.000 km) rasanya masih layak saya bawa untuk perjalanan jauh (yang nantinya akan saya tambahi angkanya dengan 5.500 mil). Meskipun demikian, saya merasa lebih yakin kalau lebih dahulu kendaraan saya masukkan ke bengkel untuk preventive maintenance.

Ada yang saya hampir kelupaan bahwa ternyata sticker tanda lulus uji kir kendaraan yang disebut dengan brake tag sudah lewat masa berlakunya sejak tiga bulan yang lalu. Untuk memperkecil peluang berurusan dengan Pak Polisi di wilayah negara bagian lain yang akan saya lewati, tentu saya harus memperbaharui brake tag ini terlebih dahulu sebelum kendaraan saya gunakan untuk perjalanan jauh.

Beberapa perlengkapan praktis untuk bantuan darurat juga saya persiapkan, seperti kompresor mini untuk penggunaan darurat guna menambah angin ban, penambal ban sementara berupa cairan yang disemprotkan dan dipompakan ke dalam ban, kabel untuk menyetrum aki (biasa disebut jumper) yang dihubungkan melalui socket pelantik api rokok, dan juga lampu senter kecil. Ban cadangan perlu dipastikan, meskipun selama ini belum pernah saya gunakan. Tidak saya lupakan perlengkapan PPPK (first aid kit) serta obat-obatan standard yang biasa diperlukan oleh anak-anak.

***

Satu hal lagi yang hingga minggu terakhir belum saya selesaikan, yaitu membuat pemesanan kamar hotel di kota New York dan Niagara Falls. Pemesanan lebih awal ini perlu dilakukan mengingat bahwa di musim liburan seperti ini, hotel-hotel di tempat-tempat strategis biasanya sudah penuh dipesan orang jika terlambat. Saya memang belum melakukan pemesanan hingga sehari terakhir sebelum berangkat, karena mendadak ada pekerjaan kantor yang cukup menyita waktu yang membuat saya ragu-ragu apakah bisa saya selesaikan sebelum hari Sabtu, hari pertama yang saya rencanakan untuk memulai perjalanan.

Celakanya, pekerjaan mendadak ini tidak bisa ditunda hingga dua-tiga minggu mendatang. Akibatnya saya tidak mempunyai pilihan lain selain berusaha habis-habisan agar pekerjaan selesai akhir minggu itu juga. Ya, terpaksa perlu memperpanjang jam kerja alias lembur, daripada mementahkan kembali rencana perjalanan yang sudah dipersiapkan.

Apa boleh buat. Saya ambil hikmahnya saja, bahwa seringkali untuk memperoleh apa yang kita inginkan diperlukan pengorbanan di sisi yang lain. Kata mbah-mbah buyut saya : “jer basuki mawa bea“. Klise saja. Tetapi nyatanya toh banyak orang tidak mau terima kalau berhadapan dengan kenyataan semacam ini. Akhirnya baru hari Jum’at malam saya memastikan bahwa besok akan jadi berangkat, setelah malam itu pekerjaan bisa saya selesaikan.

Keesokan harinya, Sabtu, 1 Juli 2000, rencana semula saya akan memulai perjalanan di hari pertama ini dengan berangkat dari New Orleans sepagi mungkin. Ternyata di hari pertama ini saya sudah gagal memenuhi rencana perjalanan saya karena waktu keberangkatan tertunda hingga siangnya. Pagi-pagi saya mesti membuat pemesanan hotel untuk di New York dan Niagara Falls.

Dalam situasi mendadak seperti ini, tentunya saya tidak punya banyak pilihan untuk mencari hotel murah meskipun sebelumnya saya sudah menyiapkan daftar akan menginap di hotel-hotel mana saja. Pemesanan saya lakukan via internet dan saya rekonfirmasi via tilpun sambil iseng-iseng mengecek siapa tahu ada harga promosi yang agak miring.

Setelah memesan hotel, saya langsung menuju ke agen brake tag guna memperbaharui sticker tanda uji kir kendaraan yang sudah kedaluwarsa. Seminggu terakhir ini saya belum sempat melakukannya karena memang waktu saya tersita untuk mengejar menyelesaikan urusan kantor. Untungnya saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk urusan brake tag.

Urusan uji kir kendaraan memang dilakukan oleh agen swasta yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Setelah mendaftar, kemudian oleh satu-satunya petugas yang ada di situ langsung dilakukan pengujian dengan dicoba berjalan maju-mundur, dites remnya, lampu-lampunya, dan kelengkapan pokok kendaraan lainnya.

Setelah semuanya oke, lalu ditempeli sticker yang berlaku satu tahun dan membayar US$10. Begitu saja, tidak repot-repot berurusan dengan birokrasi yang rumit. Sayang saya tidak sempat menanyakan apa yang harus dilakukan seandainya ada yang tidak beres. Selesai uji kir kendaraan, saya lalu mampir mengisi BBM dan mampir ke sebuah toko untuk membeli kelengkapan fotografi dan camcorder.

Akhirnya, Sabtu siang itu kami jadi berangkat juga untuk memulai perjalanan panjang liburan, mewujudkan sebuah obsesi ingin melihat lebih banyak tempat di belahan negeri besar ini. Secara geografis perjalanan ini memang tidak sampai mencakup setengah dari luas daratan Amerika, tetapi secara administratif melewati lebih dari setengah negara bagian yang ada. Memang harus saya akui, sekalipun perjalanan panjang ini sudah saya rencanakan, persiapkan dan perhitungkan sebaik-baiknya, tapi toh tetap saja berbau nekad.

Well, maka seusai waktu dzuhur hari Sabtu siang itu, kami pun berangkat meninggalkan kota New Orleans melesat menuju ke arah timur.  “Bismillah……”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar