Posts Tagged ‘al-qur’an’

Ramadhan Dan Kisah Sebuah Kitab Lusuh

2 September 2009

Sebuah kitab yang tampak lusuh seperti tiba-tiba muncul terselip di rak buku. Mulanya biasa saja, setiap kali menatapnya tak sekali pun tergerak ingin tahu lebih jauh, padahal buku asing itu sebelumnya tak pernah ada di sana. Dari kenampakannya saya yakin buku lusuh itu adalah kitab Al-Qur’an.

Sampai kemudian bulan Ramadhan tiba. Saya pikir, inilah waktu yang tepat untuk pegang-pegang kitab suci. Cara pikir yang lugu tenan…., yang tanpa disadari sering muncul dalam pikirannya orang-orang pemegang KTP Islam. Seolah-olah waktu di luar Ramadhan adalah bukan waktu yang tepat untuk berurusan dengan kitab suci. Mau pegang kitab suci saja kok menunggu musimnya, seperti musim ujian bagi mahasiswa, musim liburan, musim durian, dan musim-musim lainnya. Mirip-mirip kalau orang baru terpikir soal pajak setiap tiba bulan Maret, atau baru berencana memiliki sarung dan kopiyah baru ketika Lebaran menjelang.

Ketika kemudian kitab lusuh itu benar-benar saya ambil, betapa saya rada terperanjat, surprise…. Lho, ini kan kitab yang dulu saya miliki dan pernah saya cari-cari, kok tiba-tiba muncul di sini? Kemana saja selama ini? Kata istri saya yang menemukannya ketika sedang bersih-bersih rumah : “Ya embuh, wong ada di situ….”.

Kitab kecil dengan sampul hardcover warna biru tua sekali, berukuran 10 cm x 15 cm dan tebal 2 cm itu adalah oleh-oleh almarhum ayah saya ketika dulu pulang dari tanah suci. Dulu kitab itu selalu menghiasi di dalam tas punggung saya. Menghiasi tapi di dalam tas, itu karena memang yang menikmati hiasan itu bukan mata melainkan hati, jadi tidak harus nampak di mata. Sampai ketika saya pensiun dari pekerjaan saya di Papua dan kembali ke Jogja, kitab itu tiba-tiba menghilang dari peredaran. Hanya karena saya memiliki banyak penggantinya, maka saya merasa tidak perlu mempersoalkan raibnya kitab suci itu. Toh, apapun jenis dan modelnya selama masih bernama Qur’an isinya pasti sama. Dan, saya hanya perlu isinya.

Saya memang punya kebiasaan menyisipkan kitab suci di dalam tas, termasuk tas punggung. Ya pergi kerja, ke lapangan, traveling, sampai mendaki gunung pun kitab suci selalu ada di dalam tas punggung yang tak gendong kemana-mana…. Untuk apa? Kalau sempat akan saya baca-baca (tapi lebih sering tidak sempatnya….). Hanya karena saya percaya bahwa pasti ada gunanya, minimal menjaga aura, maka tetap saja kitab suci itu tak gendong kemana-mana… Pengalaman terakhir adalah saat menunggu ayah saya yang sedang sakaratul maut di sebuah rumah sakit di Semarang setahun yll, saya tinggal merogoh tas punggung untuk meraih Qur’an kecil yang pada bagian surat Yasin sudah saya lipat halamannya.

Seperti halnya kitab suci lusuh yang barusan saya temukan dan saya yakin itu adalah kitab suci saya yang raib sekian tahun yll, karena pada beberapa bagian tertentu masih terlihat halaman yang saya lipat agar kalau saya mau membaca surat-surat tertentu dari Al Qur’an, maka mudah mencarinya. Saya memang punya surat-surat favorit, seperti surat Yasin, Yusuf, Fush-shilat, As-Sajadah, dan beberapa lainnya. Entah kenapa saya menyukai surat-surat itu sehingga relatif lebih sering saya baca ketimbang surat-surat lainnya. Meski begitu, seprana-seprene… ya enggak hafal juga, karena itu kitabnya perlu tak gendong kemana-mana. Hanya agak celingukan ketika hendak mampir ke toilet, mau dibawa masuk kok enggak etis amat, mau ditinggal di luar khawatir orang lain nanti yang nggendong kemana-mana….

Baru sekarang saya tahu bahwa rupanya dulu kitab itu diambil dan sering dibawa anak lelaki saya ke sekolah, yang waktu itu masih kelas 5 SD. Maka kalau kemudian kitab itu jadi terlihat lusuh, sampul luarnya kusam, halaman putihnya berubah lethek (berwarna kehitaman agak kotor), ada halaman yang lepas lalu dipasang lagi semaunya…, ya maklum, namanya juga anak-anak. Bahkan juga kehujanan, buktinya lebih 600 halamannya pada lengket. Untungnya itu buku suci bikinan luar negeri, produksi percetakan Madinah di atas kertas berkualitas bagus, sehingga ketika halaman-halaman lengket yang jumlahnya lebih 600 itu saya buka satu persatu, bisa dengan mudah diurai. Saya bayangkan kalau kualitas kertasnya seadanya seperti banyak kitab bikinan dalam negeri, pasti pada sobek dan terkelupas tulisannya.

Meski kitab kecil itu kini tampak lusuh, tapi saya bangga memilikinya. Sebab, berarti selama ini kitab itu sering dibuka dan dibaca, entah oleh siapa. Setidaknya ada manfaatnya dibanding kalau kitab itu saya taruh di dalam sangkar lemari kaca bening berlampu sehingga selalu terlihat bagus dan bersih karena tidak pernah disentuh, bahkan di “musim beribadah” di bulan Ramadhan. Disentuh saja tidak, apalagi dibuka, dibaca dan dikaji isinya.

Kini, kitab lusuh itu kembali menghiasi isi tas ransel saya (menghiasi tapi tidak terlihat mata). Mudah-mudahan membantu upaya saya untuk berbisnis dengan Ramadhan, ketika saya sedang ke luar kota. Ukurannya yang agak kecil memudahkan untuk nyisip di dalam ransel yang tak gendong kemana-mana….

Yogyakarta, 2 September 2009 (12 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Iklan