Posts Tagged ‘air terjun’

(2) Catatan Perjalanan : Antara Lembang – Maribaya

18 April 2010

Lembang memang kota kecil di punggungan utara Bandung yang enak disinggahi dan disusuri jalanannya, ketimbang hiruk-pikuknya kota besar di seputarannya. Meski suasana kotanya cukup padat dan sibuk, masih saja terselip nuansa damai dengan belaian hawa pegununan yang menyegarkan. Di tengah cuaca siang yang cukup terik, kami kembali membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Namun kali ini untuk tujuan mencari tempat makan yang bernuansa desa dan berbeda dari kebanyakan rumah makan yang betebaran di sepanjang kawasan Lembang dan sekitarnya.

Sampailah ke rumah makan Saung Wargi yang berlokasi persis di sisi kanan bawah jalan yang menurun dan berkelok tajam, tidak jauh dari Lembang. Rumah makan bergaya tradisional yang di tengahnya terdapat sebuah kolam pemancingan besar dan beberapa kolam kecil serta di sekelilingnya terdapat saung-saung atau gubuk-gubuk berkonstruksi bambu. Para pengunjung dapat memilih antara duduk lesehan di atas tikar atau duduk di kursi.

Di salah satu saung itulah kami duduk lesehan sambil memandang kolam kecil yang di tengahnya sedang mekar bunga teratai. Menu sederhana ayam bakar, tahu, tempe dan lalapan cukup menjadi sajian makan siang yang terasa sungguh nikmatnya. Melahap makan siang sambil bercengkerama tentang apa saja. Tentang muhasabah (perenungan) perjalanan hidup dan kehidupan seseorang, dulu, kini dan yang akan datang. Tentang romantisme perjalanan ibadah yang sudah terlewati lebih dari setengah umur manusia. Tentang cobaan dan hikmah yang seharusnya dapat diambil pembelajarannya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum meninggalkan Saung Wargi untuk melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan sholat berjamaah di musholla yang ada di sana. Sebagai musafir, maka sholat Dhuhur dan Ashar sekaligus kami tunaikan secara jamak ta’dim (menggabung di waktu awal). Suasana musholla yang sempit itu sepertinya menjadi begitu indah ketika sholat berjamaah didirikan sejak takbir pertama hingga salam terakhir. Di sana ada Tuhan yang sedang memberi kesempatan yang luar biasa. Kesempatan yang tak pernah terpikirkan dan terencanakan, yang bisa berarti anugerah dan bisa juga musibah, tinggal bagaimana setiap dari hambaNya menerima dan menjalaninya.

Kalau ada percikan kemesraan Tuhan kepada mahlukNya dan kalau ada pelukan kasih sayang Tuhan kepada hambaNya, maka semua terbingkai dalam kesucian dan keagungan Sang Maha Pencipta ketika menebarkan rahmatNya kepada segenap jagat raya dan seisinya tanpa pernah pandang perbedaan. Di mataNya, semua mahluk ciptaanNya adalah sama.

***

Hari semakin bergeser menjelang sore. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke kawasan wisata Maribaya yang berjarak sekitar 15 km dari arah Lembang menuju lebih ke utara. Semula tidak ada niat untuk berjalan-jalan menikmati obyek wisata Maribaya, namun tiba-tiba saja keinginan itu melintas di pikiran, sekedar ingin mengenang perjalanan lintas alam yang pernah kami lakukan sekitar 22 tahun yang lalu.

Di sana ada air terjun yang dahulu pernah kami kunjungi. Kini tentu sudah banyak yang berubah. Tapi air terjun itu masih ada di sana, tak jua berubah keindahannya di bawah belaian kesejukan hawa pegunungan. Hijau semak belukar dan rimbunnya pepohonan yang ada di seputaran kawasan Maribaya adalah bagian dari wilayah luas Taman Hutan Raya Ir. Juanda yang sesungguhnya dapat dijangkau dari kawasan Dago atas di Bandung.

Tiada satupun ciptaan Tuhan yang tersia-sia. Tak juga hutan dan flora-fauna seisinya, tak juga gemericik aliran air dan air terjunnya. Semua menjadi saksi atas kuasaNya, semua menjadi bukti atas cinta Sang Khalik kepada setiap ciptaanNya, seperti semua menjadi saksi atas keindahan dan kemesraan yang terbangun di antara setiap mahluk yang menghamba dan bersujud kepadaNya.

Segenap kenangan indah seolah tak kan pernah terulang. Namun seperti rentang waktu 22 tahun yang sepertinya tak pernah terencana untuk terulang kembali, tetapi Tuhan nampaknya memiliki skenario berbeda sehingga berkenan memberi kesempatan kedua kali. Hanya segenap puja-puji rasa syukur yang dapat dipersembahkan dalam hati sanubari. Pada saat yang sama desir darah mengalir menyadari betapa rentannya mahluk ciptaanNya yang dhoif dan tak berdaya.

Tak terasa hari semakin sore. Perjalanan pun harus segera diakhiri. Ke stasiun Hall Bandung kami segera menuju, mengejar kereta malam yang akan membawa kembali ke Jogja. Taksi yang kami tumpangi melaju kencang membelah kala petang kota Bandung, di bawah rintik hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus kencang serta degupan denyut jantung, seolah tiada lagi kereta malam yang akan lewat. Segenap rasa syukur, keharuan dan keindahan tertumpah menjadi satu dalam sebuah kesadaran bahwa semua perjalanan itu bisa jadi hanya sebuah mimpi. Dan jika secara kebetulan perjalanan di alam mimpi itu sejenak menjelma menjadi nyata…., maka Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan bumi dan seisinya tanpa pernah ada setitik materi pun yang sia-sia… (rabbana ma kholaqta hadza bathila).

komitmen harus diberikan,
kesadaran harus dibangkitkan,
bahwa ada yang lebih Maha Merencanakan di atas semua rencana-rencana yang ada.
bahwa biarlah Sang Maha Pemilik Alam Seisinya memilihkan jalan lurus yang seharusnya ditempuh,
hanya keikhlasan menyertai sepanjang waktu yang diberikan
waktu dimana ada mimpi-mimpi yang tak nyata
waktu dimana ada salah dan dosa
waktu dimana ada kebaikan yang dapat direngkuh
waktu dimana antara indah dan haru menyatu
entah sampai kemana akan menuju…

Bandung, 14 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(30).    “Mainan Air” Itu Adalah Sebuah Maha Karya

Menurut catatan sejarah, komunitas pertama yang tinggal di kawasan air terjun Niagara ini adalah nenek moyang suku Indian Seneca, yaitu pada sekitar 2.000 tahun yang lampau. Hingga pada abad lebih moderen, datang seorang pendeta Perancis yang pertama kali melihat air terjun ini pada tahun 1678, yaitu Father Louis Hennepin. Demi melihat pemandangan alam yang luar biasa ini pendeta Hennepin lalu berlutut dan berdoa.

Beberapa tahun kemudian bangsa Perancis membangun beberapa benteng di muara sungai Niagara, di antaranya yang kini dikenal dengan Old Fort Niagara di wilayah Youngstown. Tahun-tahun berikutnya merupakan tahun-tahun bergejolak bagi wilayah Niagara. Banyak peperangan terjadi antara penduduk asli suku Indian dengan pendatang bangsa Perancis dan Inggris. Termasuk perang paling berdarah yang dikenal dengan “Battle of Lundy’s Lane” pada 25 Juli 1814.

Akhirnya sampailah pada era baru masa kedamaian wilayah Niagara. Sejak tahun 1892, Niagara Falls berubah menjadi sebuah kota yang tepat berdiri di garis batas internasional yang memisahkan antara wilayah New York di Amerika dan Ontario di Canada. Antara kedua bagian kota itu dihubungkan oleh sebuah jembatan yang bernama Rainbow Bridge melintasi sungai Niagara.

Sejak akhir abad 19 itu pula kota Niagara mulai banyak dikunjungi para turis. Kini kota Niagara, di kedua belahan yang menjadi bagian Amerika maupun Canada, setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 12 juta wisatawan. Jamaknya sebuah tempat yang mempunyai catatan sejarah panjang dan unik, maka Niagara pun memiliki ceritera dari mulut ke mulut yang membawa pada kepercayaan bahwa : “kisah cinta pasangan yang berbulan madu di Niagara akan lestari sebagaimana air terjunnya”.

Oleh karena itu tidak mengherankan kalau kemudian ada pasangan pengantin baru dari kawasan New York utara ini yang memilih lokasi bulan madunya di Niagara. Termasuk teman saya yang saya kunjungi saat mampir ke kota Baldwinsville, sebelum kami tiba di kota Niagara Falls. Bisa jadi tempat ini dipilih untuk berbulan madu bukan karena kepercayaan kuno itu, melainkan pemandangan air terjun Niagara sendiri memang menjanjikan pesona alam yang indah dan romantis. Apalagi di ujung Pulau Luna dimana air terjun yang diberi nama Bridal Veil (kerudung pengantin) Falls tepat berada di tepiannya.

Adanya ceritera turun-temurun yang bisa menjadi bumbu penyedap ceritera yang masih berkembang di masyarakat itu memang sempat memancing pertanyaan iseng dalam hati saya : “Tenane?” (dialek Yogya : Ah, yang benar?). Bagaimana kalau air terjunnya berhenti, apa ya kira-kira pasangan-pasangan yang dulu berbulan madu di Niagara lalu akan pada cerai?

Sayangnya tidak ada orang yang iseng seperti saya kini, ketika pada tanggal 30 Maret 1848 sungai Niagara tersumbat bongkahan es di bagian hulunya selama beberapa jam, mengakibatkan sungai Niagara asat (tidak ada airnya) dan air terjun Niagara benar-benar berhenti. Orang-orang pun turun beramai-ramai berjalan ke dasar sungai menikmati pengalaman yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali.

Setiap orang tentu mafhum bahwa memang tidak satupun teori yang dapat membuktikan benar-tidaknya kepercayaan kuno semacam itu. Seperti halnya juga tidak ada yang dapat membuktikan kepercayaan yang berkembang di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Ceritera kebalikan dari kepercayaan yang ada di Niagara, yaitu kalau ada sejoli yang memadu kasih dengan mengunjungi candi Prambanan maka hubungan mereka tidak akan langgeng.

Kalau saya ditanya kenapa? Maka daripada saya menjawab : “Embuh” (entah), saya akan mengatakan bahwa mungkin Bandung Bondowoso cemburu melihat pasangan yang sedang memadu kasih di Prambanan, karena kisah kasih tak sampai yang dialaminya dulu. Masih untung kalau tidak ter-abrakadabra lalu berubah menjadi candi baru di sebelahnya candi Prambanan dan candi Sewu.

Saat musim dingin tiba dan temperatur udara dingin belangsung cukup lama, bongkahan-bongkahan es memang dapat terbentuk di sungainya yang kemudian membentuk semacam jembatan es. Dulu-dulunya para wisatawan diperbolehkan turun untuk berjalan-jalan di jembatan es yang terbentuk di tengah sungai saat air sungai Niagara membeku.

Hingga suatu ketika, jembatan es yang sedang dilalui wisatawan tiba-tiba pecah dan tiga orang turis terperosok ke dalam sungai di bawahnya yang temperatur airnya sangat dingin, lalu hilang entah kemana. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1912 dan sejak saat itu tidak diperbolehkan lagi para wisatawan turun menyeberang ke jembatan es di sungai Niagara.

***

Air terjun Niagara adalah sebuah maha karya dari Sang Pencipta Alam. Bagaimana caranya Tuhan membuat “mainan air” semacam ini? Adakah “dongengan” yang masuk akal yang dapat menjelaskan peristiwa alam seperti air terjun Niagara ini?

Tergolong muda menurut umur geologi, bentang alam air terjun Niagara terbentuk pada akhir jaman es. Ketika timbunan lembaran-lembaran es raksasa mencair pada 50.000 tahun yang lalu, daratan benua yang sebelumnya tertutup dan terbebani es lalu bermunculan dari bawahnya, mengalami pengangkatan dan membentuk lereng-lereng dan gigir-gigir pegunungan yang curam dan terjal yang disebut dengan “Niagara Escarpment”.

Mencairnya es lalu membentuk danau yang sangat luas yang kini dikenal dengan nama danau Erie serta dataran rendah yang berada di sekitarnya. Danau Erie yang sangat luas ini semakin lama semakin penuh airnya hingga pada sekitar 12.000 tahun yang lalu akhirnya meluap dan mengalirlah limpahan airnya melalui celah daratan yang kini disebut sungai Niagara. Aliran air sungai inilah yang kemudian membentuk air terjun Niagara.

Air terjun Niagara pada mulanya terbentuk di lokasi sekitar 11 km di arah hilir dari lokasinya yang sekarang, kira-kira di wilayah yang sekarang bernama Lewiston, dekat ke muara sungai di danau Ontario. Sebagai akibat dari proses erosi pada bidang luncuran air terjun yang terus berlangsung bahkan hingga saat ini, maka lokasi air terjun Niagara kini kira-kira berada di pertengahan antara danau Erie dan danau Ontario. 

Secara geologis dapat dipahami bahwa proses erosi tersebut masih akan terus berlanjur. Karena itu secara geologis pula dapat diperkirakan bahwa sekian ribu tahun yang akan datang kemungkinan air terjun Niagara akan semakin menjauh dari muara sungai Niagara di danau Ontario di sebelah utara dan semakin berpindah ke selatan mendekat ke danau Erie. Apakah memang demikian yang akan terjadi? Hanya mereka yang menekuni bidang geologi, khususnya untuk kajian wilayah Niagara Falls, yang akan mampu memberi gambaran lebih rinci.  

Dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya mencoba memahami bagaimana fenomena alam ini terjadi. Namun dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki pula, saya mencoba menggunakan mata hati dan kesadaran saya bahwa “mainan air” yang bernama Niagara ini membuktikan akan betapa luar biasanya maha karya dari Sang Pencipta Dunia.

Tidak lain untuk sekedar memberikan bukti bahwa Dialah satu-satunya pihak yang berhak menyimpan Sertifikat Hak Milik atas dunia dan seisinya ini, dan oleh karena itu juga berhak sewaktu-waktu memporak-porandakannya. “Masa bodoh” dengan apakah penghuni yang ada di dalamnya sudah siap atau belum. Satu bukti kecil saja dari firman-Nya bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam (robbil-‘aalamiin).- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(31).    Menuju Ke Dasar Air Terjun Di Malam Hari

Hari sudah agak sore saat kami pulang berjalan kaki dari Pulau Kambing. Anak-anak terlihat agak kecapekan, tapi anehnya bukannya minta langsung kembali ke hotel malah ngajak jalan-jalan lagi ke downtown kota Niagara Falls. Kebetulan lokasinya memang tidak terlalu jauh dari hotel dan masih layak ditempuh dengan berjalan kaki. Akhirnya kami pun berbelok menuju ke Rainbow Mall yang terletak di kawasan yang disebut Main Street Shopping Area. Sudah dapat diduga, yang dicari kemudian adalah benda-benda cendera mata.

Di kawasan ini ada sebuah taman di dalam kompleks pertokoan yang disebut dengan Winter Garden, yaitu sebuah taman yang dilingkupi oleh dinding dan atap kaca sehingga pengunjung tetap dapat menikmati taman ini meskipun salju sedang turun di luarnya saat musim dingin (winter). Di dalam taman yang terletak di jalan Rainbow Boulevard ini terdapat berbagai macam tanaman dan pepohonan yang berasal dari daerah tropis, subtropis maupun gurun.

Sekitar jam 4:30 sore, kami baru kembali ke hotel. Lagi-lagi hanya untuk istirahat sebentar, karena sore hingga malamnya kami merencanakan untuk mengikuti wisata Niagara dengan menggunakan jasa perusahaan wisata Gray Line. Kami sengaja menggunakan jasa wisata ini mempertimbangkan bahwa kami akan mengambil paket wisata malam bersama anak-anak. Dengan harapan nantinya mengurangi beban urusan untuk pembelian berbagai tiket masuk, transportasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya serta tinggal duduk menunggu jemputan di hotel dan akan kembali di antar ke hotel. Semata-mata dengan pertimbangan kepraktisan, meskipun untuk itu harus membayar lebih.

Paket wisata yang kami ambil diberi nama “American Adventure Tour”. Ini adalah paket wisata berdurasi sekitar 4 jam saja dan khususnya diperuntukkan bagi mereka yang tidak memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan untuk menyeberang perbatasan masuk ke wilayah negara Canada melalui jembatan Rainbow Bridge. Karena itu rute wisatanya hanya akan berkeliling ke lokasi-lokasi yang masih berada di wilayah negara Amerika.

***

Cuaca sore hari Senin, 10 Juli 2000, sekitar pukul 18:00 saat kami berangkat dari hotel masih tampak sangat terang benderang dan cerah. Malam baru akan tiba selepas pukul 21:00, dan diperkirakan kami akan kembali ke hotel paling lambat pukul 22:00 malam. Tujuan pertama tempat yang akan kami kunjungi adalah Prospect Point Observation Tower. Dari atas menara observasi ini, melihat ke arah selatan dapat terlihat bentang air terjun Canadian Falls dari arah hilir pada jarak pandang sekitar 1 km. Jika memandang ke utara, tampak jembatan Rainbow Bridge pada jarak pandang 0,5 km.

Menara observasi Prospect Point adalah sebuah menara setinggi 86 m berstruktur baja, alumunium dan kaca, yang berdiri di tepi sungai Niagara hingga menjulang sekitar 30 m di atas puncak tebing sungainya. Melalui menara ini kami turun dari pinggir atas sungai Niagara menuju ke tepi bawah sungai dimana terdapat sebuah dermaga. Untuk itu, menara ini dilengkapi dengan dua buah elevator.        

Dari dermaga selanjutnya kami akan menempuh perjalanan wisata yang disebut dengan “Maid of the Mist” dengan menggunakan perahu motor menuju ke Canadian Falls. Kami akan mendekat tepat di depan air terjun dan berada di dalam cekungan tapal kuda dari air terjun yang juga disebut Horseshoe Falls ini. Untuk itu sebelum naik ke perahu motor, kepada para penumpang terlebih dahulu dibagikan jas hujan (rain coat) tipis warna biru, guna melindungi dari percikan dan hempasan air yang pasti tidak terhindarkan. Kami memilih mengambil tempat berdiri di dek atas agar dapat lebih leluasa menikmati perjalanan yang rasanya tidak akan pernah kami lakukan lagi.

Tidak lama lepas dari dermaga, kami sudah berada tepat di depan American Falls dan Bridal Veil Falls. Di kedua air terjun ini tempat jatuhnya air tidak langsung berada di permukaan air sungai melainkan di atas batuan dasar, sehinga tidak menimbulkan gelombang air sungai. Pemandangan sangat indah terjadi ketika titik-titik air yang terkumpul di atas air terjun ini menghasilkan sebentuk pelangi yang sepertinya berada sangat dekat di depan mata. Pemandangan itu berlangsung lama hingga perahu motor yang kami tumpangi bergerak melewatinya.

Melanjutkan perjalanan menuju Canadian Falls, banyak dijumpai burung-burung sejenis camar laut yang berwarna putih bertengger dan beterbangan di pinggiran dan di dinding-dinding tebing sungai yang curam. Tidak lama kemudian kami lalu tiba di depan Canadian Falls dan akhirnya masuk di cekungan tapal kuda bidang jatuh air terjun. Perahu motor mulai bergoyang-goyang cukup keras akibat adanya gelombang air di dasar air terjun. Hal ini terjadi karena tempat jatuhnya air langsung berada di permukaan air sungai sehingga menghasilkan gelombang.

Percikan dan cipratan air sesekali mengguyur para penumpang perahu. Gemuruh suara air disertai hembusan angin seakan menghalangi pembicaraan sesama penumpang yang sesekali harus bicara sambil teriak. Teriakan-teriakan ekspresi kaget dan riang saat terkena cipratan air juga mewarnai riuhnya suasana penumpang di atas perahu.

Sesekali mesti berpegangan erat-erat pada badan perahu karena goyangan perahu terkadang cukup keras, membuat penumpang yang keasyikan memainkan kameranya lupa berpegangan sehingga terlempar ke kiri dan ke kanan menumbur orang lain.

Seperti tidak terasa ketika tahu-tahu perahu sudah bergerak menjauh dari air terjun. Ekspresi gembira dan puas nampak terpancar dari setiap wajah penumpang perahu. Sungguh pengalaman yang saya yakin bagi kebanyakan penumpang perahu sore itu tidak akan terulang kembali, dan empat di antara penumpang itu adalah kami sekeluarga.    

Dari Prospect Point Observation Tower kami kemudian menuju ke sebuah tempat benama Whirlpool State Park. Ini adalah sebuah taman yang berupa dataran terbuka berumput yang berlokasi agak menjauh ke hilir air terjun Niagara. Taman ini berada di atas tebing sungai Niagara tepat di sudut dalam aliran sungai yang membelok siku-siku, sehingga terbentuk bidang belokan yang melebar di sudutnya tempat terjadinya putaran arus air sungai yang tentunya sangat deras. Sore itu kami hanya berjalan-jalan saja menyusuri pinggiran taman di tepi atas sungai, sambil menikmati pemandangan senja hari di atas sungai Niagara.

***

Hari sudah rembang petang dan matahari baru saja tenggelam ketika akhirnya kami berada kembali di Pulau Kambing. Agenda terakhir malam itu adalah melakukan perjalanan ke bagian dasar air terjun, tepatnya di bawah Bridal Veil Falls atau di bagian bawah Pulau Luna. Perjalanan ini disebut dengan “Cave of the Wind”. Kepada setiap pengunjung terlebih dahulu dibagikan jas hujan (rain coat) warna kuning serta sepatu dari bahan kain yang cocok digunakan di jalan setapak yang tentunya basah dan licin yang nanti akan kami lalui. 

Setelah turun menggunakan lift kemudian kami berada di sebuah lorong (tunnel) bawah tanah yang ujungnya menuju ke luar di tepi sungai Niagara. Dari ujung lorong ini kemudian mulailah kami berjalan kaki dalam keremangan malam melalui jalan khusus yang dibuat dengan konstruksi kayu. Jalan dan tangga kayu ini menuju ke beberapa anjungan yang berlokasi lebih tinggi. Anjungan yang berada paling dekat dengan dasar air terjun berada pada jarak sekitar 8 m.     

Naik ke anjungan yang lokasinya nyaris seperti sedang berada di dasar air terjun ini pada mulanya kedua anak saya agak ketakutan untuk mendekat. Namun tidak lama kemudian justru berteriak kegirangan setiap kali semburan air menerpa dan mengguyur tubuh mereka. Untuk berbicara pun kami terpaksa harus saling berteriak agar suaranya dapat terdengar di tengah gemuruhnya suara air yang pada mulanya kedengaran menakutkan. Kami juga mesti berjalan perlahan-lahan di atas jalan kayu yang basah, agak licin serta bercahaya remang-remang.

Malam itu, kira-kira selama 15 menit, kami benar-benar merasakan sedang menjalani sebuah pengalaman yang luar biasa. Hanya suara gemuruh air terjun yang kami dengar. Hanya batu-batu di dasar air terjun dan hempasan air yang kami lihat di tengah keremangan malam. Hanya dinginnya air yang kami rasakan menyentuh kulit. 

Sungguh kami seperti disadarkan. Betapa kecilnya manusia berada di dekat alam yang sedang menjalani proses alamiahnya secara teratur dari waktu ke waktu. Betapa tak berdayanya manusia kalau saja tiba-tiba alam itu melakukan sedikit saja penyimpangan dari kebiasaannya. Betapa tersesatnya manusia yang masih juga tidak percaya bahwa semua kebiasaan maupun penyimpangan proses alam itu pasti ada “sesuatu” yang mengendalikannya. “Sesuatu” yang akan mengatur kapan dan kepada siapa alam harus berlaku manis, serta kapan dan kepada siapa alam perlu menggeliat kuat.

***

Indahnya air terjun Niagara di saat malam hari, tampak ketika lampu sorot yang berwarna-warni yang dipasang di seberang sungai mulai memancarkan cahayanya. Sehingga tampak dengan jelas gerakan air terjunnya. Sesekali tampak sesuai warna aslinya ketika cahaya putih dipancarkan. Lalu sejenak berganti merah, biru, kuning atau hijau. Sejenak lagi berubah bak kue lapis dengan warna berbeda di bagian atas, tengah dan bawahnya.

Di sepanjang tepian sungai di sisi utara Pulau Kambing juga dihiasi dengan lampu-lampu sorot yang lebih kecil. Pemandangan itu menciptakan suasana malam yang khas di Niagara seakan-akan sedang berada di sebuah negeri antah-berantah.

Setidak-tidaknya itulah kesan yang saya rasakan sejenak di Niagara malam itu. Tentunya kesan saya akan berubah kalau misalnya setiap malam saya nongkrong di sana. Tapi, ya ngapain?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar