Posts Tagged ‘air asia’

Di Terminal 3 Bandara Cengkareng

18 Februari 2010

Di Terminal 3 Cengkareng yang tata suaranya ‘gak main’ seperti halnya bandara Hasanuddin, ada acara lepas sepatu ketika melewati security check kedua dan berbunyi “nguiiing”. Sepatu pun menjadi pihak pertama yang pantas dicurigai, setelah pemilik dan tentengannya…

***

Di Terminal 3 Cengkareng, ada sebuah ruangan di pojokan bertulisan huruf besar warna merah, berbunyi : “smoking kills”. Kedengaran lebih sensual sebagai penghalus (atau malah pengkasar?) untuk kata : “smoking room”.

(Meski sudah beberapa kali menggunakan jasa Terminal 3 Cengkareng, tapi selama ini hanya untuk datang. Malam itu adalah pertama kali saya berangkat dari Terminal 3 yang adalah Terminal Haji. Selama ini Terminal 3 baru dimanfaatkan oleh maskapai Air Asia dan Mandala Air. Terasa ada nuansa lain di Terminal ini, antara lain ya adanya ruang kaca “smoking kills” itu tadi…)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan

11 Juli 2008

Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut seat yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, mbayarnya tetap lebih mahal dari biasanya.

Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang peak season itu tadi.

Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja – Jakarta – Makasar – Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh……

Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.

Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi sumprit… selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa dropping air di udara.

Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat sih……. Di warung saya harga segelas akua paling mahal gopek (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.

Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan kendi (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan kendi di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan cucuk kendi ke mulut), sepuasnya………..

Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian customer care tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : “pesan anda akan segera kami tindak lanjuti”. Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa “ditindaklanjuti” tidak sama artinya dengan “dipenuhi”. Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.

Yogyakarta, 11 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Naik Air Asia? Pilih Rebutan Atau Ngalah

4 Mei 2008

Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesawat, kecuali kalau sudah booking jauh hari sebelumnya. Maka dapatlah tiket pesawat Air Asia (dulu AWAIR). Maskapai yang diakui bertarip murah dan cukup nyaman, dengan semboyannya “Now everyone can fly”. Banyak penghargaan internasional telah berhasil diraih. Salah satunya untuk tahun 2007, maskapai ini juga meraih predikat World Airline Awards – Best Low Cost Airline in Asia by SkyTrax. Meski Air Asia sudah cukup lama mengangkasa di Indonesia, tapi siang itu adalah pengalaman pertama bagi saya.

Pada karcis boarding tidak tertulis nomor kursi. Ketika saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa berlaku rejim tempat duduk bebas (bukan bebas tempat duduk, nanti dikira lesehan). Saya manggut-manggut saja. Ketika tiba di ruang tunggu dan tampak penumpangnya berjubel, langsung terbayang apa yang akan terjadi ketika nanti panggilan boarding dikumandangkan.

Jam keberangkatan tergolong on-time, telat-telat beberapa menit masih okelah…. Konon, ketepatan waktunya berada pada level 90%-an. Begitu panggilan boarding menggema, spontan semua penumpang berdiri dan mak grudug…. mendekat ke pintu lorong yang menuju ke pesawat. Tapi ada kebijaksanaan tambahan. Bagi yang membeli karcis Xpress Boarding (akan dipanggil namanya) dipersilakan untuk masuk pesawat duluan. Barulah kemudian para penumpang “penggembira” alias peserta antrian umum sisanya berebut menuju pintu lorong.

Fasilitas Xpress Boarding dijual kepada penumpang siapa saja. Untuk penerbangan domestik harganya Rp 25.000,- (dewasa) dan Rp 12.500,- (anak-anak dan usia lanjut). Untuk penerbangan internasional sekitar dua kalinya. Cukup murah. Tapi tampaknya tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal dengan fasilitas ini dijanjikan bisa masuk pesawat duluan yang berarti dapat memilih tempat duduk. Fasilitas ini diberikan gratis hanya kepada mereka yang sudah udzur, usia di atas 65 tahun. Saya bayangkan kalau suatu saat nanti banyak penumpang yang membeli fasilitas Xpress Boarding, akan berebutan juga jadinya.

Serunya justru ketika giliran penumpang “penggembira” dipersilakan mulai masuk pesawat. Seperti mau antri beli karcis kereta api mudik atau nonon sepak bola. Para penumpang berebut untuk duluan, agak dorong-dorongan, meski lebih sopan dan tidak separah antrian pembagian zakat. Tapi tetap saja kudu siap agak himpit-himpitan karena didorong antrian yang di belakangnya.

Tidak itu saja. Selepas lorong terminal rupanya pesawatnya parkir agak jauh. Jadi harus naik bis pengantaran penumpang menuju ke pesawat. Penumpang pun pada memilih untuk berdiri di dekat pintu dan rela bergelantungan agar nanti bisa duluan naik tangga pesawat. Sampai-sampai sopir bis dan petugasnya harus berteriak-teriak agar tempat duduk yang telah tersedia berada di bagian depan dan belakang bis supaya diisi terlebih dahulu.

Ketika bis tiba di dekat pesawat dan pintu otomatis terbuka, para “penggembira” ini berhamburan menuju tangga pesawat. Barulah setelah sampai di dalam pesawat, longak-longok dan tolah-toleh mencari tempat duduk dan memilih kalau masih ada. Kalau kebetulan berada di urutan belakang saat memasuki pesawat, terpaksa harus menerima tempat duduk mana saja yang masih kosong tersisa.

Karena saya baru pertama kali menggunakan jasa maskapai Air Asia, saya membayangkan apa iya setiap hari kejadiannya seperti itu. Padahal setiap hari ada banyak penerbangan Air Asia. Saya tidak tahu persisnya, apakah mengatur nomor tempat duduk ada kaitannya dengan harga tiket yang murah. Saya tidak paham hubungan-hubungan efisiensi ekonomisnya.

Yang saya tahu bahwa untuk naik pesawat Air Asia diperlukan bekal kesiapan tambahan, yaitu siap rebutan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu atau siap (me)ngalah yang penting tetap bisa duduk di dalam pesawat.

Kalau ada pepatah Jawa, “wong ngalah gede wekasane” (orang yang mau mengalah akan meraih kebaikan di belakang hari). Mestinya juga ada pepatah “wong rebutan gede rekasane” (orang yang mau berebut memerlukan energi ekstra). Bedanya, kalau yang pertama tanpa modal, dan “imbalan”-nya entah apa dan kapan. Kalau yang kedua bermodal tenaga dulu baru kemudian dapat hasil sesaat, ya milih tempat duduk itu. Tinggal pilih yang mana, mau rebutan atau ngalah…..   

Yogyakarta, 31 Oktober 2007.
Yusuf Iskandar