Posts Tagged ‘adzan’

Indah Tetes Pertamanya

10 Mei 2011

[1]

Hujan tumpah sejak fajar tanpa jeda. Anak-anak pada terlambat ke sekolah. Burung-burung yang bersarang di bubungan rumahku bercericit di sela atap, tidak bisa bermain seperti biasanya. Mestinya sudah masuk musim kemarau. Ternyata masih ada hujan tertinggal yang belum tuntas ditumpahkan.

Matahari yang sudah lebih sepenggalah perjalanan jadi terlambat munculnya, menunggu giliran menggantikan hujan. Ada apa dengan hujan?

[2]

Hujan hanyalah tetes air yang berbondong-bondong turun dari langit. Setiap tetes hujan itu menimbulkan suara. Ketika dia lepas dari kawanan awan di angkasa, menghunjam pada apapun yang ada di bumi dan memercik lalu pergi menuju kerendahan.

Suara setiap tetes pertama di awal hujan itu begitu indah. Tapi aku tidak pernah berhasil mengingatnya. Semakin kuingat, semakin kusesali, sebab kesempatan itu datang begitu cepat, hanya sesaat.

[3]

Dalam hidup ini selalu tersisip kesempatan indah, apapun bentuknya dan darimanapun datangnya. Seperti tetes pertama air hujan yang datang tiba-tiba yang membuat aku kelabakan mencari tempat berteduh sehingga lupa pada keindahan orkestrasinya.

Kesempatan indah itu selalu ada, sering ada. Tapi aku selalu terlambat menyadari hadirnya dan selalu kesulitan menunggu kembalinya agar dapat menikmatinya. Acapkali aku gagal menangkap keindahannya, barang seberkas saja…

[4]

Padahal kesempatan indah itu berulang muncul seperti panggilan adzan bersahutan dari waktu ke waktu, dari timur ke barat, seiring dengan perputaran waktu.

Adakalanya hujan ditunggu datangnya, seperti kodok merindukan hujan. Ketika kesempatan itu datang tapi kemudian terlewati, adakalanya hujan ditunggu redanya seperti ayam merindukan matahari fajar. Agar ketika hujan kembali turun akan sempat menikmati indah tetes pertamanya.

Yogyakarta, 5 Mei 2011
Yusuf Iskandar

(Catatan : Prosa di atas saya tulis ulang dari cerita status saya di Facebook)

Iklan

Momen Kritis Di Subuh Gerimis

6 Maret 2011

Subuh gerimis, hawa sejuk, sedang libur Minggu, sayup-sayup panggilan adzan… Inilah momen kritis ketika satu sesi kehidupan harus membuat pilihan yang beraaat nian antara menarik selimut atau mengambil air wudhu (syukur-syukur lalu ke masjid)…

Kubayangkan sedang mimpi dikejar anjing lalu jongkok sambil berdoa untuk si anjing: summum bukmun ‘umyun (mereka tuli, bisu dan buta), maka tidaklah mereka akan kembali.., ke jalan yang benar. (QS 2:18)

Yogyakarta, 27 Pebruari 2011
Yusuf Iskanda

Antara Sholat Dan Tidur

17 Maret 2010

Adzan subuh bersahut-sahutan, ini orang-orang masih pada ngebluk di masjid. Woo.., lha wong cara adzan-nya keliru…

“Ash-sholatu khoirum-minan-naum” (sholat itu lebih baik daripada tidur). Mestinya teriak ash-sholatu-nya panjang, naum-nya pendek. Lha ini kebalik, ash-sholatu-nya pendek, naum-nya panjang.

Pantesan, wong seruan tidurnya lebih panjang (nauuuuuum) daripada sholatnya (ash-sholatu). Bukan salah yang tidur, hanya kebablasan…

Yogyakarta, 14 Maret 2010

Yusuf Iskandar

Telanjur Sayang

2 Maret 2010

Panggilan adzan subuh di masjid-masjid lain sudah berhenti, tapi masjid langganan saya kok masih gelap bin gulita, tiada tanda kehidupan. Kalau libur Cap Go Meh, mestinya ada pengumuman. Ketika lampu dinyalakan, woo… rupanya sebagian santri masih pada tekapar. Butuh waktu 25 menit kurang sedikit untuk membuktikan bahwa “sholat itu memang lebih baik daripada tidur…”. Sempat terpikir untuk pindah ke lain masjid, tapi aku telanjur sayang dengan masjid ini…

Yogyakarta, 28 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Antara Purwaceng Dan Sholat Maghrib

25 Februari 2010

Ramuan tradisional purwaceng memang ruarrr biasa! Belum lama minum langsung terasa dampaknya. Semangat dan gairahku langsung menggebu-gebu (seperti enggak sabar mau menggapai puncak Rinjani)…, untuk berjamaah di masjid jami’ Dieng begitu adzan maghrib berkumandang…

Dieng – Wonosobo, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Program Pembangunan

28 Januari 2010

Program pembangunan pagi ini tidak lancar…. Harus di-SMS bolak-balik-bolak, baru dijawab “Iya, yaaa…”. Dikumandangkan adzan dalam bahasa Indonesia : “Sholat itu lebih baik daripada tiduuur….”, eh dijawab : “Udah tahu!”, tapi selimut ditarik juga menutupi kepalanya. ‘Digangguin’, kok malah nesu (marah)… Ah, yo wis. Bikin kopi kental ‘jelas lebih enak’… lalu siap-siap week end ke Jakarta (kalenderku ada NB-nya: week end boleh dijatuhkn kapan saja…).

Yogyakarta, 25 Januari 2010
Yusuf Iskandar