Posts Tagged ‘adam air’

Maskapai ”Pokoke Mabur”, Oedan Tenan…

4 Mei 2008

Pada mulanya saya membaca olokan maskapai “Pokoke Mabur” (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.

Ee… lha kok kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu. Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. “Ini, kan berbahaya sekali”, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (Eee…alah, Pak De… Pak De…., kok baru sekarang Sampeyan ngasih tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya midar-mider dengan pesawat “Pokoke Mabur”, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang coplok di udara….).

Bukan itu saja, menurut koran “Kontan” hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. Proficiency check alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut sak geleme dhewe…). Malah koran “Kompas” hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai company maintenance manual, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, lha wong ora biso ndandani… tidak bisa memperbaiki…).      

Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai “Pokoke Mabur” milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.

***

Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara mismanagement atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.

Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain trapeze, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar “pokoke mabur”, oedan tenan……

Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering mak jegluk…., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap ora urus, tidak perduli dan …., ya “pokoke mabur” itu tadi.

Huh…! Miris rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak sih, ngarang-ngarang…..

Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu “menyulap” semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas peak season musim liburan sekolah.

Have a safe and nice flight…..!

Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Uluk Salam

4 Mei 2008

Selama ini kalau saya bisa memilih untuk terbang di dalam negeri, maka saya akan menggunakan pesawat cap Garuda. Menurut pendapat para penerbang (orang yang suka bepergian dengan pesawat terbang), pesawat Garuda kalau landing masih lebih enak dan mulus dibandingkan pesawat lainnya. Sebab (masih katanya) di banyak pengalaman, pesawat cap lainnya kalau landing suka njumbul-njumbul dan tidak terasa mulus. Belum lagi terkadang diberi bonus berhenti di luar lapangan alias terpeleset kebablasan.

Meski saya tahu bahwa ini adalah kesimpulan yang digeneralisir, toh (diam-diam) saya sepakat. Lha iya, mana ada hubungannya antara mendaratnya pesawat dengan perusahaan penerbangannya, apalagi dengan keterampilan pilotnya. Tapi, ya gitu lah…

Maka ketika saya hendak terbang ke Jakarta dari Yogyakarta pada tanggal 26 Desember 2006 beberapa waktu yang lalu, pertama yang terlintas dalam pikiran adalah pesan tiket dengan penerbangan pertama di pagi hari dengan pesawat Garuda. Tapi begitu tahu harga tiketnya, saya jadi berpikir dua tiga kali. Pasalnya ketika pesan tiket dua hari sebelum tanggal keberangkatan, harga tiket Garuda untuk penerbangan Jogja – Jakarta pulang pergi adalah Rp 1,25 juta lebih. Sementara harga tiket pesawat Adam Air untuk jurusan dan waktu yang sama hanya Rp 550 ribu lebih sedikit. Wah, kok njeglek sekali bedanya….?

Ya jelas, akhirnya saya memilih terbang dengan pesawat Adam Air yang warna body-nya dominan kuning keoranye-oranyean (wah, angel tenan…..). Mau landing njumbul-njumbul ya biarin sudah! Lha harga yang harus dibayar untuk tiket Garuda bisa saya pakai ke Jakarta dua kali bolak-balik, atau mengajak tetangga saya ke Jakarta naik Adam Air. Bahkan masih sisa. (Tapi kalau ingat kejadian terbaru pesawat Adam Air jurusan Surabaya – Manado kehilangan kontak dan entah mampir kemana, rasanya jadi bergidik bulu romaku…..).

Memang terkadang harga tiket pesawat dan penentuan harganya suka membingungkan. Konon tergantung waktu dan tempat yang dipersilakan. Konon lainnya tergantung biro travel dimana kita pesan. Terkadang dengan Garuda bisa diperoleh dengan harga lebih rendah dibanding perusahaan penerbangan lainnya. Tapi kalau lagi apes, malah dapat harga jauh lebih mahal.

***

Ada yang agak berbeda dengan pesawat Adam Air yang saya tumpangi pagi itu. Biasanya sang pramugari berhalo-halo menyambut penumpangnya dengan awalan salam Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam kepada para penumpang yang terhormat. Ucapan salam semacam ini, atau dalam istilah Jawa suka disebut dengan uluk salam, memang menjadi prosedur wajib bagi setiap perusahaan penerbangan.

Namun pagi itu uluk salamnya berbeda. Bukan Selamat Pagi, melainkan Assalamualaikum dan Salam Sejahtera kepada para penumpang yang terhormat. Rasa-rasanya saya belum pernah mendengar uluk salam seperti ini sepanjang pengalaman saya terbang domestik. Seperti kebiasaan saya, saya mereka-reka…….. Apa memang prosedur uluk salamnya Adam Air sudah ganti? Atau karena kebetulan hari itu berada di antara hari Natal dan hari Idul Adha? Namun yang pasti, saya merasakan nuansa batin yang agak berbeda.

Ketika keesokan malamnya saya masuk ke dalam pesawat guna menempuh perjalanan kembali ke Jogja, juga dengan Adam Air, diam-diam saya menanti-nanti uluk salam seperti apa yang akan disampaikan oleh sang pramugari.

Eh, rupanya si embak pramugari kembali beruluk salam dengan ucapan Selamat Malam dan Good Evening. Jadi rupanya kemarin pagi itu hanya sekedar improvisasi atas inisiatif sang pembaca naskah saja, saya pikir. Ya sudah. Namun setidak-tidaknya kemarin saya telah menemukan suasana batin yang agak berbeda.

Good Morning Selamat Pagi.
Pesawat kuning uluk salamnya ganti, tapi hanya sekali…..  

Yogyakarta, 2 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang (Maksudnya) Baik

22 Maret 2008

Pagi itu, kira-kira sebulan yang lalu, saya mesti buru-buru menuju bandara Cengkareng. Menurut tiket pesawat yang sudah di tangan, saya akan kembali ke Yogya dengan pesawat Mandala penerbangan pagi. Sebenarnya saya rada ogah-ogahan naik pesawat ini. Waktu berangkat ke Jakarta kemarinnya naik Garuda, tapi kembali ke Yogya terpaksa menggunakan jasa pesawat Mandala karena kehabisan tiket Garuda.

Akhir-akhir ini pesawat Garuda banyak dipilih penumpang udara. Termasuk saya yang semula juga ngotot kudu naik pesawat Garuda pergi-pulang Yogya-Jakarta, sampai terbukti bahwa untuk hari itu dan jam itu tiket Garuda sudah tandas tak bersisa. Memang, sejak Adam Air ditengarai amblas laut bak Werkudoro yang slulup ke laut dalam sekali, menancapkan kukunya ke dasar samudra dan tidak njumbul lagi, banyak calon penumpang beralih ke Garuda. Tanya kenapa… Tanya kenapa… Sehingga maskapai non-Garuda seperti ditinggal pelanggannya, kecuali terpaksa. Dan, pagi itu saya termasuk yang terpaksa.

Cerita tentang raibnya pesawat Adam Air pun masih merebak menjadi buah bibir. Menghiasi halaman koran dan layar televisi, hampir setiap hari. Juga di pagi itu. Tak luput saya pun ngobrol sama sopir taksi tentang tragedi awal tahun yang menimpa Adam Air. Kebetulan rute yang kami lalui menuju Cengkareng cukup lancar membelah Jakarta, atau tepatnya belum padat, sehingga oborolan pun ikut lancar mengisi waktu.

Taksi yang saya naiki disopiri oleh seorang muda. Dari logatnya saya menebak kalau dia pasti setanah tumpah darah dengan Wapres negeri tetangganya Republik Mimpi, yaitu dari Solo….. Solowesi, maksudnya. Cara bicaranya ramah, bersahabat dan rasanya jarang-jarang saya ketemu sopir taksi seperti yang nyopiri saya pagi itu. Suasana dalam taksi sepanjang perjalanan menuju bandara serasa jadi nyaman.

Menjelang memasuki bandara, sang sopir menanyakan saya naik pesawat apa. Ketika saya jawab Mandala, dia sudah tahu mesti menuju ke terminal sebelah mana. Hingga sampailah taksi yang saya tumpangi, berhenti di depan terminal keberangkatan yang tampak sudah mulai ramai.

Setelah membayar ongkosnya, plus sekedar tip atas keramah-tamahannya, saya lalu membuka pintu taksi sebelah kiri hendak keluar. Baru sesisih kaki melangkah keluar, mas sopir taksi tiba-tiba memanggil (untung saya tidak meloncat gedrug bumi seperti presiden Bush waktu di Bogor), sehingga saya sempat mendengar suara mas sopir taksi.

Lalu kata mas sopir taksi : “Hati-hati, Pak. Jangan lupa berdoa…..”.

Spontan saya pun menjawab : “Ya, terima kasih….”.

Setiba di teras bandara, sejenak saya tercenung. Pertama, saya teringat kebaikan mas sopir yang berbaik hati mengingatkan saya. Kedua, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh, memunculkan flash-back penggal-penggal berita tragedi Adam Air. Apa kalau berdoa, lalu akan selamat……., dan kalau tidak berdoa, tidak selamat…….. Begitu pokok soal lamunan saya.

Pesan yang disampaikan oleh mas sopir taksi sebenarnya sangat simpatik. Tapi entah kenapa kesan yang melintas di pikiran saya jadi sepertinya sedang menakut-nakuti……

Kalau sebelum berangkat ada yang wanti-wanti agar berdoa, tentu enak didengar. Tapi justru ketika hendak naik pesawat yang semula mau saya hindari, lalu ada yang mengingatkan agar jangan lupa berdoa, rasanya kok hati ini malah jadi deg-degan.

Dalam hati saya nggrundel, sopir taksi yang (mungkin bermaksud) baik, tapi siwalan (pakai “w” di tengah)…! Wong, berniat baik kok tidak lihat waktu dan tempat…….

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno

Ada yang berbeda dengan Adam Air yang saya tumpangi hari Minggu kemarin. Sejak dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu dilanjutkan menuju Bengkulu, semua pramugari Adam Air tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Para pramugarinya tampil santai. Mereka hanya mengenakan kaos yang warnanya tidak seragam dipadu dengan celana denim biru berbagai merek. Kaos yang dikenakan ada yang berwarna dasar oranye, kuning, dan ada pula yang putih.

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tanyakan juga kepada salah dua dari mereka. Kenapa tidak memakai seragam? Jawabnya, memperingati World Cup. Piala Dunia kok diperingati. Tentu yang dimaksudkan adalah turut berpartisipasi merayakan pesta akbar pertandingan sepak bola dunia yang sedang digelar di Jerman. Makanya kaos yang dikenakan pun menyamai seragam kesebelasan sepak bola berbagai negara peserta putaran final, antara lain ya regu Belanda dengan warna dasar oranye dan regu Brasil dengan warna dasar kuning. Sayangnya (atau bagusnya) tidak mengenakan celana pendek kombor dan sepatu bola, melainkan blujin biru ketat berbagai merek dan sepatu olah raga putih.

Kesannya memang nanggung, bukan seragam pramugarinya yang nanggung melainkan ide dasarnya Adam Air ini. Kalau maksudnya berpartisipasi merayakan pesta Piala Dunia, kenapa hanya seragam peladen (pelayan) pesawat saja yang tampil beda. Sementara tak satupun ada atribut lain yang menandakan sedang turut merayakan hajatan sepak bola dunia. Tidak juga ada poster atau brosur atau atribut lainnya, sejak saat keberangkatan hingga kedatangan. Tapi, yo wis-lah….. Wong namanya turut berpartisipasi, ya sesukanya dan seikhlasnya…..

Kalau ada yang sedikit “berbeda” adalah ketika pesawat yang dari Jakarta hendak berangkat menuju Bengkulu, pintunya susah ditutup. Engselnya ngadat. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali dicoba ditarik-tarik untuk ditutup, tetap tidak mau nutup juga. Mau tersenyum melihatnya, bagaimana seorang pramugara bersusah-payah menarik-narik pintu sambil sesekali memukul-mukul engselnya, didampingi oleh seorang pramugarinya, tetap tidak mau nutup juga. Tapi juga deg-degan, lha bagaimana nanti kalau tiba-tiba malah membuka sendiri sewaktu sedang di awang-awang? Setelah usaha yang kesekian kalinya, akhirnya semua lega ketika akhirnya pintu pesawat berhasil ditutup. Tidak perlu ada tepuk tangan untuk “kebodohan” semacam ini….. Kebodohan yang menakutkan…..

***

Sekitar jam 14:30 siang saya mendarat di Bengkulu, yang juga menyebut dirinya dengan bumi Raflesia. Entah mana tulisan yang benar, di bandara ada yang menulis besar-besar dengan Rafflesia (double “f”) dan ada yang menulis Raflessia (double “s”). Saya baru tahu kalau nama bandara Bengkulu yang dulu bernama bandara Padang Kemiling ini rupanya sejak direnovasi tahun 2001 telah berubah nama menjadi Fatmawati Soekarno Airport. Begitu nama resmi yang tertulis di sana.

Sebelas tahun lebih sedikit yang lalu, saya meninggalkan kota ini setelah enam setengah tahun sebelumnya midar-mider melalui kota ini saat masih bekerja di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara. Lebong Tandai, nama tempatnya.

Tahun 1995 terpaksa saya dan teman-teman lainnya eksodus dari perusahaan tambang yang mulai salah urus. Operasi tambang yang sebenarnya masih berprospek bagus itu ternyata pengelolaannya amburadul. Maka sebagian besar pegawainya, tidak staff tidak non-staff, akhirnya merelakan untuk melupakan satu-dua bulan gaji terakhirnya dan memilih eksodus meninggalkan lokasi kerja.

Pihak pemerintah daerah dan departemen teknis terkait yang sesungguhnya sangat diharapkan untuk turun tangan mencarikan jalan keluar, ternyata turun kaki pun tidak. Maka sekitar seribu lima ratus sisa pegawainya akhirnya bagai anak-anak ayam kehilangan induknya. Bubar mencari selamat masing-masing nyaris tanpa bekal. Patut bersyukur bagi mereka yang akhirnya bisa tiba di kampung halaman dengan selamat dengan sisa bekal yang ada.

Kota Bengkulu yang saya jumpai siang itu tampak damai dan sepertinya tidak banyak perubahan. Kota ini memang tidak terlalu ramai dan padat. Jalan-jalan kotanya lebar dan lalu lintas sangat lancar, hingga terasa enak sekali berkeliling kota ini. Sebagai sebuah ibukota propinsi, maka Bengkulu tergolong kota propinsi yang relatif sepi. Barangkali karena letak geografisnya kurang strategis. Bukan kota dagang, bukan juga menjadi kota perlintasan dagang. Belum banyak industri, selain beberapa perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.

***

Hari pertama di Bengkulu saya sempatkan untuk napak tilas jalan-jalan dan tempat-tempat yang sebagian masih saya ingat arah, rute, lokasi dan namanya. Diantaranya kawasan simpang lima, pasar Minggu, daerah Kampung (tapi ada di pusat kota), daerah pantai dengan benteng Fort Marlborough dan Tapak Padri, pantai Panjang (karena memang pantainya puanjang), bekas rumah ibu Fatmawati dan rumah Bung Karno sewaktu dalam pengasingannya di Bengkulu.

Tidak lupa, tentu saja menikmati makan malam (untuk urusan yang satu ini wajib hukumnya…..). Pilihan jatuh pada menu pindang tulang, di rumah makan “Tanjung Karang”, Jl. Mayjen Sutoyo. Pokoknya ya mampir saja. Entah lagi lapar entah memang enak, pokoknya huenak tenan… Sehingga masuk kembali ke kamar hotel pun dapat nggeblak dengan nyaman.

Ee….., lha kok pas enak-enaknya mulai menyaksikan Piala Dunia babak enam belas besar, tiba-tiba bumi seperti digoyang-goyang. Meskipun goyangannya tidak keras, melainkan goyangan lembut dan mesra, feeling saya dengan cepat dapat mengidentifiksi bahwa sedang terjadi gempa bumi. Tentu saja, mak deg….. terbayang gempa Jogja. Untung hanya sekali saja dan tidak ada gempa-gempa susulan, sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Esok hari baru saya memperoleh kepastian setelah melihat televisi, bahwa memang telah terjadi gempa di Bengkulu dengan kekuatan 5,2 skala Richter. Darimana lagi kalau bukan dari gerakan palung Jawa, masih segaris keturunan dengan gempa Aceh, Nias, Jogja, Padang dan terakhir Lampung. Barangkali karena efek getarannya sangat halus dan tidak mengagetkan, maka masyarakat Bengkulu sepertinya tidak terganggu, karena memang gempa-gempa lembut semacam ini sering dirasakan.

Saya hanya kepikiran, bahwa gempa yang sama dengan intensitas lebih lemah atau lebih kuat sepetinya tinggal menunggu tanggal mainnya saja bagi kawasan-kawasan lain yang berdekatan dengan palung Jawa. Tidak ada salahnya untuk waspada.

Bengkulu – 26 Juni 2006
Yusuf Iskandar