Posts Tagged ‘1429H’

Selamat Idul Fitri 1429H

2 Oktober 2008

Menghaturkan :

“Selamat Idul Fitri 1429H — Mohon Maaf Lahir Batin”

Istirahat sejenak
introspeksi diri
sempurnaan ibadah
setelah itu melanjutkan perjalanan menjelajah pelosok bumi
mencari inspirasi
mengagungkan asma-Nya
mensyukuri nikmat-Nya

kemudian
jalan-jalan lagi
makan-makan lagi

semoga kita semua adalah hambanya yang pandai bersyukur
dan mampu belajar atas ayat-ayat-Nya.

Yogyakarta, 1 Oktober 2008 (1 Syawal 1429H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Jika Harus Mudik : Berhati-hatilah…!

27 September 2008

Mudik lagi…, mudik lagi…

Semakin tahun, perjalanan mudik sebagai agenda tahunan masyarakat Indonesia di seputar hari lebaran, sepertinya semakin meriah, padat, rumit, berbiaya tinggi, tidak aman dan bahkan belakangan cenderung tidak rasional.

Maka jika tetap harus menempuh perjalanan mudik : “Berhati-hati dan waspadalah…..!”.

Ini bukan lagi soal hari raya orang muslim atau non-muslim. Juga bukan soal ketaatan beribadah. Belakangan maknanya malah cenderung tidak melulu soal silaturrahim dengan sanak keluarga. Melainkan soal mnempuh perjalanan untuk pulang kampung. Maka hajatan tahunan masyarakat Indonesia itu pun berulang kembali.

Sekian tahun yang lalu, mudik identik dengan berebut naik angkutan umum, kereta api dan kapal laut. Lalu, seiring dengan tingkat kemakmuran masyarakat, bertambah menjadi berebut naik pesawat terbang dan kendaraan pribadi. Nah, beberapa tahun terakhir ini semakin mencengangkan dengan berbondong-bondong naik sepeda motor. Seperti tidak peduli berapa kilometer jarak harus dijalani dan berapa jam perjalanan harus ditempuh. Maka, faktor keselamatan (safety) di perjalanan nampak semakin memprihatinkan, nggegirisi dan nyaris terabaikan.

Infrastruktur perhubungan dan perjalanan nampaknya tidak bisa mengikuti pesatnya hajatan tahunan ini, sehingga para pengguna jalan dan sarana transportasi yang berniat mudik pun harus siap berhadapan dengan segala resiko atas keterbatasan infrastruktur itu. Ugh….., sungguh berat dan penuh resiko….¬† Tapi ya tetap harus mudik, begitu yang terpikir oleh para pemudik.

Selamat menempuh perjalanan mudik. Senantiasa berhati-hati dan waspada. Jangan lupa melakukan persiapan yang semestinya. Berdoa dan terus berdoa, agar selamat sampai tujuan dan kembali dari perjalanan melelahkan.

Semoga pesta Ramadhan 1429 H dapat disempurnakan, agar bisa meraih nilai kemenangan yang hakiki di hari Idul Fitri 1429 H.

Saling memaafkan bagi dan untuk segenap handai taulan dan sanak kerabat.

Taqabbalullahu minna wa-minkum, taqabbal Yaa Karim……

Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429 H)
Yusuf Iskandar

Selamat Berpesta Ramadhan-ria

31 Agustus 2008

Email dan SMS berdatangan berduyun-duyun berebut menghampiri kita, di mailbox dan di ponsel kita. Nyaris tak terbendung banyaknya. Saking banyaknya terkadang tak sempat terbaca semua pesan yang disampaikan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah kalau tidak sempat membaca semuanya, bahkan terkadang tak juga sempat membuka semuanya. Bukan karena si pengirim tidak bakal tahu, tapi rasanya akan dapat dimaklumi ketika puluhan bahkan ratusan SMS pathing pecothot di hape kita.

Berbagai kata, kalimat, gaya bahasa, ungkapan, parikan, plesetan, mewarnai unjuk rasa dan unjuk hati akan datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H. Namun, apapun kata-katanya, tujuanya tetap satu, yaitu ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan dan ungkapan saling bermaafan yang tulus sebagai salah satu kunci pembuka pintu Ramadhan. Agar hati menjadi bersih, lega dan longgar guna menampung berjuta kebaikan yang dibawa dan akan ditebar oleh Ramadhan, bagi mereka yang memang berniat memperolehnya.

Ya, hanya mereka yang sungguh-sungguh berniat dan berharap. Rugi sekali mereka yang tidak berniat, sebab akhirnya menjadi tidak berusaha meraihnya. Rugi sekali mereka yang setengah hati menyambut kehadiran Ramadhan. Rugi sekali mereka yang enggan mengelu-elukan tebaran rahmat, berkah dan maghfirah yang sedang diangkut oleh Ramadhan dari atas langit paling atas untuk dibagi-bagikan kepada peminta dan pengharapnya. Karena itu, Ramadhan perlu disongsong dan disambut dengan sepenuh rasa suka-cita, kegembiraan dan semangat (jangan membuang waktu untuk mempertimbangkannya sekalipun dengan sangat dan sungguh-sungguh).

Hanya dengan itu, maka bulan mega-bonus ini akan benar-benar menebarkan bonusnya. Lebih dari sekedar gebyar hadiahnya, melainkan Ramadhan tidak akan pilih-pilih siapa pemenangnya. Kalaupun empat milyar warga bumi menjadi pemenangnya, maka sebanyak itu pula hadiah akan ditebarkan.

Ramadhan adalah bulan mega-promo, lebih dari sekedar bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah, melainkan hadiah yang dijanjikan akan mencakup lebih dari segala macam rahmat, berkah dan ampunan. Jauh lebih besar, lebih luas dan lebih dahsyat dari itu.

Ramadhan adalah bulan penuh kedahsyatan bagi mereka yang tahu dan mau tahu. Ramadhan adalah bulan penuh pesta bagi mereka yang suka begadang dan dugem, hanya diperlukan sedikit ilmu dan usaha untuk memahaminya. Ramadhan adalah bulan penuh peluang bisnis. Bisnis dengan Tuhan yang margin keuntungannya tak terhingga, tak terukur dan tak terbandingkan. Maka, Ramadhan layak dielu-elukan. Ramadhan pantas disambut dengan gembira.

Mari kita rayakan pesta Ramadhan-ria. Sekarang juga. Ya, saat ini juga. Saat kita masih punya kesempatan untuk berpesta bersama Ramadhan. Mumpung pesta itu baru saja dimulai. Mumpung pesta itu baru akan berakhir sebulan kemudian. Sebab tak seorang jua mampu menggaransi kalau tahun depan kita masih punya kesempatan untuk kembali bisa hadir dalam pesta Ramadhan.

Mari kita tangkap peluang bisnis terdahsyat yang pernah dijanjikan oleh Tuhan. Yang profit-nya tak cukup ditebar dari seluas langit. Yang kebaikannya tak pandang bulu akan diberikan kepada siapa saja yang berniat tulus-ikhlas-khusyuk mengharapkannya. Sampai-sampai nabi Muhammad saw. memberi wanti-wanti, seandainya manusia ini tahu kedahsyatan Ramadhan, mereka pasti akan meminta agar sepanjang tahun dikoversi menjadi Ramadhan semua. Inilah sebuah pertanda bahwa pesta itu memang ada masa kadaluwarsanya dan pertanda agar jangan sampai kita gagal menangkap peluang bisnis yang luar biasa ini.

Semoga kita akan keluar dari pesta Ramadhan-ria ini, dan bergabung ke dalam kelompok orang-orang yang kembali kepada kesucian dan orang-orang yang meraih kemenangan. Dan, kita adalah pemenangnya.

NB :
Kepada rekan-rekan muslim : Selamat berpesta Ramadhan-ria.

Yogyakarta, 31 Agustus 2008 (malam 1 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar