Semangat Menghabiskan

(1)

Anak wedok disuruh menyiapkan minuman teh se-teko (poci besar) untuk tukang kolam. Dihabiskannya ‘dekok-an’ (biang) teh di panci yang sudah disiapkan ibunya. Jadilah teh nasgitel (panas-legi/manis-kental) yang tentu saja tidak cocok. Lain halnya kalau teh itu untuk ‘nglaras’ bapaknya malam-malam.

Maka ceramahlah bapaknya: “Nduk, ambillah biang teh sesuai kebutuhan berapa banyak teh mau dibuat. Walau biangnya tersedia banyak, jangan asal dihabiskan”.

(2)

Apa yang salah? Tidak ada, hanya tidak sesuai kebutuhan. Tukang tidak butuh nasgitel, tapi minuman cukup kalori sebagai penawar haus. Dia datang untuk kerja, tidak untuk ‘nglaras’.

Spirit menghabiskan yang tidak proporsional dengan kebutuhan itu bisa merepotkan. Akibat teringan adalah pemborosan dan terberat adalah menganggap milik orang lain sebagai miliknya tanpa merasa salah. Cukup Malinda Dee, Nazarudin dan oknum-oknum yang terhormat yang over spirit itu yang membuktikannya…

Yogyakarta, 25 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: