Archive for Juni 5th, 2011

Investasi Politik

5 Juni 2011

Investasi politik — Kosa kata baru yang lagi “in” dibincangkan dengan nada sinis wal-getir di media. Kalau investasi properti, pasar uang, ritel, tambang, lele dumbo, warung, saya paham hitung-hitungan finansial dan cashflow-nya atau cara mengejar keuntungannya, setidak-tidaknya ada kursusnya. Tapi investasi politik?

Uuugh.., saya berprasangka, keuntungannya adalah (kelak) bisa mencuri tapi tidak dipersoalkan, seperti mencuri hati, mencuri pandang, dsb…

Yogyakarta, 25 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Nilai Riil Dalam Sebungkus Nasi Kucing

5 Juni 2011

Ingin tahu nilai riil uang Rp 1000.,-? Segenggam nasi dengan lauk oseng-oseng, terdiri: irisan tahu/tempe seluas 1 cm2 dan 7 potong kacang panjang ukuran 2 cm, atau dengan lauk teri sambal, terdiri: 4 ekor teri (pasti kecil) dan sesendok kecil sambal. Itulah sego (nasi) kucing angkringan di Bintaran, Jogja Istimewa…

Maka di malam Rabu Pon ini saya menikmati nilai riil uang Rp 2000,- alias dua bungkus sego kucing plus segelas teh jahe. Hmmm…

Yogyakarta, 24 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Menyiasati Harga

5 Juni 2011

(1)

Tiga bulan terakhir ini saya banyak membantu ‘boss’ saya menginput data pembelian (kulakan) toko. Saya perhatikan harga rokok naik hampir setiap 1-2 minggu dengan kenaikan relatif tidak nampak, “paling-paling hanya” sekitar Rp 50,- s/d Rp 200,- per bungkus. Rupanya ini akal-akalan juragan rokok untuk menaikkan harga. Semakin lama semakin melayang tinggi seperti asapnya…

Maka saya pikir satu-satunya cara agar harga tidak naik ya tidak beli rokok…

(2)

Lain lagi produsen makanan kecil dalam menyiasati agar harga tidak naik. Terutama makanan yang harganya berkisar Rp 500,- s/d Rp 2000,- per bungkus, yaitu dengan mengurangi beratnya. Misal berat sebungkus snack yang sebelumnya 37 gr kini turun menjadi 35 gr, yang semula 12 gr berubah menjadi 11 gr, dsb.

Tidak akan ada pembeli yang ngeh, wong saat ditelan tidak terasa lebih lancar juga. Tidak juga menipu, wong pada bungkus dari pabriknya memang tertulis demikian.

Yogyakarta, 24 Mei 2011
Yusuf Iskandar

“Witing Tresno”

5 Juni 2011

Dalam perjalanan nyopir di Jl. Wonosari, Jogja, sebuah truk pengangkut material yang kondisinya sudah layak dipensiunkan tiba-tiba menyalip ke depanku. Di bak belakang truk itu tertulis pepatah Jawa, tapi kok sudah diganti: “Witing tresno jalaran soko mbledehing klambi… (tumbuhnya cinta karena sedikit terbukanya kancing baju)”.

Kesalahan ini pasti ada pada truknya yang seharusnya sudah afkir itu…

Yogyakarta, 24 Mei 2011
Yusuf Iskandar

SMS Tawaran Diskon

5 Juni 2011

Sedang asyik-asyiknya tawar-menawar minta diskon dengan toko material bangunan, tahu-tahu muncul SMS dari pengirim yang mengaku Zona Diskon. Bunyinya: “Kamu harus tekan *393*8# dr HP km HARI INI, krn km akan langsung dpt DISKON besar2an”.

Uuugh, makan siang gratis kale…? Diskon belum didapat, pulsa sudah disikat…

Yogyakarta, 24 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Mendadak Bikin Kolam Koi

5 Juni 2011

Nampaknya ibunya anak-anak sudah tidak sabar, kebelet ingin memiliki kolam ikan koi di halaman depan rumah. Padahal sudah kupesan agar agak bersabar karena tidak sesederhana yang dibayangkan. Biar saya pelajari dulu seluk wal-beluknya karena saya belum memiliki ilmunya. Tapi keukeuh saja.

Di pikirannya: “Seberapa susahnya sih bikin kolam berbentuk kotak lalu diisi air?”. Disangkanya seperti bikin bak mandi… Ya ada benarnya juga sih, seberapa sulitnya kah?

***

Akhirnya, dipanggilnya sendiri tukang batu, diminta membuat kolam. Tukangnya ya senang-senang saja wong diberi pekerjaan. Tadinya mau kucuekin saja, terserah mau jadi kolam ikankah, kolam renangkah… Tapi kupikir-pikir lagi, kalau nanti kolamnya ada masalah, saya juga yang repot. Terpaksa, huuuhh.., turun tangan juga.

Segera saya lakukan riset di internet tentang ikan koi dan desain kolamnya. Seorang saudara pun saya hubungi untuk konsultasi. (Nuwun untuk Om Hanif).

***

Seharian tadi harus mengawasi tukang yang mulai menggali-gali tanah untuk kolam, mengatur-atur ukurannya, batasnya, dsb. Pada saat yang sama mencorat-coret rancanganya, menghitung kebutuhan bahannya, mempelajari referensi dan konsultasi dengan seorang yang sudah pengalaman. Praktis tidak ada pekerjaan berat yang sebenarnya saya lakukan, tapi kok terasa capek juga… Tapi kenapa harus dipikir sendiri?

***

Ya, itu masalahnya. Ibunya anak-anak ini telanjur yakin bahwa itu bukan hal rumit. “Tinggal bikin saja, kalau harus dikuras ya kuras saja…”, pikirnya.

Weleh..! Karena sudah terbayang nantinya saya juga yang bakal repot, maka saya perlu membuat kriteria. Pertama: didesain untuk ikan koi. Kedua: sejarang mungkin dikuras. Ketiga: instalasi kabel listrik, pipa-pipa dan sirkulasi air rapi. Keempat: estetika terjaga. Maka jelas tidak sesederhana membuat bak mandi…

Yogyakarta, 23 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Dari Jakarta Ke Jogja Melalui Pantura

5 Juni 2011

Pengantar:

Catatan berikut ini adalah penggalan catatan perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta melalui jalur darat pantura pada tanggal 20-21 Mei 2011. Catatan ini saya tulis sebagai cersta (cerita status) di Facebook. Sekedar ingin berbagi cerita.

——-

Meninggalkan Jakarta Menyusuri Pantura

Makan siang di restoran Sukamie, Gedung Sakti Plaza, Jl. MT Haryono, Jakarta. Pilih, pilih, menu sederhana, mie ayam jamur. Taste standar (standar enak maksudnya) harga wajar. Katanya: “Cobain aja se-sukamu…”, asal tetap mbayar

Restoran ini sebenarnya asal pilih saja yang dekat dengan jalan tol sebab perjalanan darat menuju Jogja via pantura segera dimulai, setelah tadi pagi datang ke Jakarta via udara.

***

Senja di pantura… (Mandalawangi, Subang, Jabar)

Perjalanan sore dari Cikampek menuju Cirebon, mau sholat ashar cari masjid yang ada cafe-nya biar bisa sambil istirahat ngupi. Karena tidak ketemu, ya akhirnya sholat dulu di masjid Al-Barokah, Mandala Wangi, Sukasari, Subang. Setelah itu baru mampir ngupi di sebuah SPBU yang ada cafe-nya.

Alhamdulillah, lega… Tunai sudah dua keinginan terpenuhi. Tapi perjalanan muaaceet puanjaaaang… Ada penyempitan pembuluh jalur pantura…

***

Menjalani jalur patura lintas Subang-Indramayu-Cirebon harus agak mengendurkan otot sabar. Banyak penyempitan pembuluh jalan utama dari dua lajur menjadi satu lajur. Lebih-lebih menjelang jalan layang Pamanukan, petang tadi perlu waktu hampir dua jam untuk lolos dari kawasan itu. Kondisi jalannya sebenarnya rata tapi tidak halus (atau, halus tapi tidak rata?). Perlu agak menahan nafas saat melaju agak kencang.

——-

Mangga Gincu Indramayu

Bahkan di Indramayu, buah mangga pun bergincu (bagian pangkal buahnya lebih kemerahan), disebut mangga gedong gincu yang ketika tampil di etalase supermarket harganya lumayan mahal.

Maka kalau ingin yang bergincu dan murah, datanglah langsung ke daerah asalnya di Indramayu, mangga gincu maksudnya. Jangan diragukan nikmatnya. Selain karena tampilan warnanya yang menggairahkan walau profilnya kecil, tapi rasanya memang ehmmm…

***

Mangga gedong gincu — mangga khas Indramayu yang rasanya manis dan legit. “Seperti permen”, kata teman saya. Di kios-kios buah pinggir jalan raya Indramayu-Cirebon, ditawarkan dengan harga Rp 18.000,-/kg. Selain ada juga mangga indramayu yang taste-nya mirip mangga sengir.

***

Melintasi penggal jalan tol Cirebon-Pejagan saat jam 10 malam, terasa benar sepinya. Melaju dengan kecepatan 80 km/jam terkadang serasa lenggut-lenggut seperti sapi tapi lebih sering loncat-loncat seperti kuda.

Kali ini bukannya menahan nafas tapi seakan-akan malah turut ngos-ngosan… Perlu lebih berhati-hati, sebab kondisi jalan yang ini memang halus tapi tidak rata…

——-

Nasi Jamblang “Ibu Nur” Cirebon

Sega (nasi) Jamblang khas Cirebon yang aslinya dibungkus daun jati itu kini disajikan di atas piring yang beralas daun jati. Salah satunya yang cukup terkenal adalah nasi jamblang Ibu Nur di Jl. Tentara Pelajar, Cirebon.

***

Kekhasan nasi jamblang itu sebenarnya ada pada rasa nasinya yang dibungkus daun jati. Di warung Ibu Nur, Cirebon, daun jatinya untuk lambaran (alas) nasi di piring. Tinggal minta berapa sendok nasinya karena tiap sendok ada harganya. Begitu pun dengan sambalnya. Lauknya tinggal pilih dan ambil sendiri. Ada lebih 20 pilihan lauk tersedia di panci.

Saat hitung-hitungan dengan kasir sebelum pulang, jangan menjadi ‘darmaji’ (dahar lima ngaku hiji), kecuali lupa.

***

Warung Ibu Nur ini sangat sederhana, cukup disediakan bangku panjang berjajar di depannya seperti arena nonton film ‘misbar’. Taste-nya sebenarnya biasa, standar saja. Tapi lebih pada nuansa swalayan, makan sambil duduk di bangku di emperan pinggir jalan, beratap langit, dijamin waktu gerimis pasti bubar, apalagi hujan.

Puas makan nasi jamblang, belum lama melanjutkan perjalanan meninggalkan Cirebon, mata segera terasa berat, nguwantuuk…

——-

Tiba Di Jogja

Menjelang jam 6 pagi akhirnya saya tiba di rumah. Perjalanan 15 jam Jakarta-Cirebon-Semarang-Jogja diselesaikan dengan nunggang sejenis kijang. Sempat lompat-lompat di jalur pantura yang kondisinya beraspal halus tapi tidak rata.

Lidah sudah kebelet, tidak sabar ingin segera duduk manis melahap mangga gincu Indramayu. Tidak lama gantian perut yang kebelet, tidak sabar ingin segera duduk manis juga, membuang hajatnya. Alhamduliah untuk kedua kebelet itu…

***

Mangga gincu dari Indramayu yang manisnya…hmmhhh..! Kucoba-coba menanam mangga, mangga kutanam gincu kudapat… Maksudnya menanam sendiri dari pelok-nya (pelok: isi/biji buah mangga)

Yogyakarta, 20-21 Mei 2011
Yusuf Iskandar