Kisah Tentang Sambal Terasi Goreng Dan Belimbing Wuluh

Pengantar:
Catatan berikut ini adalah penggalan-penggalan cersta (cerita status) yang pernah saya tulis di Facebook selama periode tanggal 8 s/d 18 Mei 2011. Saya hanya ingin berbagi cerita pengalaman. Semoga menginspirasi.

——-

Sambal Terasi Goreng

Sambal terasi goreng untuk sarapan Minggu pagi. Benar-benar sambal yang komponen standarnya “mbok siyah” alias lombok, terasi dan uyah (garam) dimana lombok, terasi dan bawang merah digoreng terlebih dahulu sebelum diulek. Untuk variasi rasa dapat ditambah belimbing wuluh.

Dimakan dengan nasi putih panas. Sensasi hmmm-nya.., terasa saat memainkan jemari untuk muluk (mengambil dengan lima jari) lalu mengantarnya ke mulut. Jadikan telur dadar dan terong goreng sebagai asesori. Uuuhhhmmm….!

***

Sambal terasi goreng (kalau saya sebut sambal goreng saja, bisa diasosiasikan salah, untuk menu yang berbeda) adalah menu yang sarat rasa nostalgia. Inilah menu andalan keluarga kami pada tahun-tahun 1965-1967 di masa-masa sulit jaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Selain menu nasi jagung, maka sambal terasi goreng adalah lauk andalan ketika sedang ada nasi. Sesekali ditambah potongan kecil telur dadar karena sebutir telur harus dibagi-bagi.

***

 

Tampilan sambal terasi goreng memang tidak menarik, pucat kecoklatan. Dulu, almarhum ibu suka sengaja tidak mengulek hingga halus benar, agar masih tampak suwiran cabe merahnya yang membangkitkan nafsu makan. Ada semburat rasa manisnya karena waktu mengulek dibubuhi sedikit gula pasir sebagai penyedap pengganti micin atau motto.

Sepertinya itulah menu sarapan terenak yang kami rasakan, karena tidak pernah tahu bahwa di luar sana ada juga menu yang lebih enak.

***

Kini, menu sederhana ini tetap mampu membangkitkan gairah makan. Pertama karena menikmati taste-nya, kedua karena nostalgianya (nilai lain di baliknya), ketiga karena tidak membandingkan dengan yang lebih melainkan yang kurang.

Well, maka ketika saya sedang dihadapkan dengan situasi (apapun) yang tidak mengenakkan. Saya akan berusaha membangkitkan ketiga hal itu untuk memanipulasinya agar menjadi mengenakkan. Walau secara fisik tidak membuktikan, namun secara rasa menentramkan.

***

Masih kisah tentang sambal terasi goreng. Minggu malam ini saya lihat sambalnya masih tersisa banyak. Wah, dibuang sayang. Sedang kondisi sambal masih baik dan sangat layak terbang dari cobek ke mulut, untuk makan malam.

Nasi sepiring langsung ludes. Lha kok telur dadar dan terong gorengnya masih ada, sepiring lagi nasi putih tandas. Lalu istri saya bilang: “Habiskan saja nasi dan telornya”. Ya terpaksa piring seisinya kloter ketiga buablasss…

***

Sambil menghabiskan isi piring trip ketiga, sang koki yang maha karyanya sedang saya nikmati itu cerita tentang tips untuk improvisasi. Katanya: “Kalau terasinya tidak ikut digoreng tapi dibakar, juga woenak“. Kalau begitu lain kali harus dicoba.

Tapi ada satu lagi ganjalan saya. Biasanya pakai jeruk sambal, tapi ini kok pakai belimbing wuluh? Rupanya ada satu rahasia lagi. “Itu resep kebiasaan orang Flores kalau bikin sambal”. Lho kok malah istriku tahu?

***

Belimbing wuluh yang digunakan istri saya berasal dari pohon yang ada di depan rumah mertua, di dekat toko. Sambil ngurusi toko, istri saya memperhatikan ada tetangga asal Flores yang sering sekali minta belimbing wuluh, bahkan di malam hari. Karena penasaran, ditanyalah untuk apa. Ternyata jawabnya adalah untuk dicampur sambal dan itu adalah tradisi masyakarat Flores.

Maka diam-diam istri saya mencoba di rumah. Hasilnya? Memang beda suwwedap-nya…

***

Awalnya agak ragu. Dengan diperasi jeruk sambal saja sudah asam, lha kok malah diganti belimbing wuluh yang kecutnya minta ampyuuun…

Cobalah menggigit belimbing wuluh, digaransi Anda akan nyengir dan mata akan kiyer (memicingkan sebelah mata), sangking kuwwecut-nya… Belimbing wuluh cukup dipenyet tidak sampai diulek halus. Katanya cocok untuk sambal apa saja. Uuufff, air liur pun.., mak cesss…!

——-

Belimbing Wuluh

Belimbing wuluh, tumbuh di halaman sempit rumah mertua di Bintaran, Jogja. Memandang buahnya, lalu membayangkan menggigitnya saja gigi sudah terasa ngilu… Rasa airnya benar-benar kuwwecuut poll….

***

Daun pohon belimbing wuluh. Daunnya kecil-kecil, tapi tangkai daunnya terangkai sedemikian tertata rapi menakjubkan, di setiap ujung batangnya. Di batangnya itulah bergelantung menggerombol buah belimbing wuluh yg berbuah lintas musim. Apapun musimnya, belimbing wuluh tetap kuwwecuut membuat air liur mak cesss

***

Tentang pohon belimbing wuluh di depan rumah mertua itu sendiri ada kisahnya (haha, mendongeng lage.., salah sendiri dibaca) –

Pohon itu berumur puluhan tahun. Ketika rumah hendak direnovasi karena rumah lama nyaris rubuh oleh gempa Jogja tahun 2006, pohon itu mau ditebang. Alasannya? Daunnya yang kecil-kecil bikin kotor saja, buahnya tidak bisa dinikmati seperti buah umumnya dan menuh-menuhin halaman yang memang sempit. Intinya, tidak bernilai ekonomis.

***

Mendengar pohon mau ditebang, saya mengusulkan agar sebaiknya jangan. Alasannya? Ada nilai ekonomis intangible yang untuk memahaminya dibutuhkan “ngelmu gaib”.

Pertama, belimbing wuluh banyak diperlukan orang tapi sudah tidak banyak yang menanamnya. Kedua, pohon itu warisan almarhum bapak mertua, maka selama para tetangga, pengunjung toko atau orang lewat meminta buah itu, selama itu pula kebaikan amal jariyah almarhum bapak mertua terus mengalir.

***

Apa artinya? Bahwa amal jariyah itu tidak berkorelasi dengan atau berkonotasi sebagai sesuatu yang mahal dan sulit. Bahwa almarhum bapak mertua barangkali tidak pernah berencana, tapi niat tulus ahli warisnyalah yang menjadikan peninggalan “tidak sengaja” itu menjadi amal yang berkesinambungan (dari dunia sampai akherat berjajar belimbing wuluh, sambung-menyambung menjadi satu, itulah amal jariyah). Sungguh ini kejadian sangat jamak tapi tidak banyak yang ngeh menangkap nilainya.

***

Akhirnya benang merah dari dongeng saya ini, bagi kita yang badannya masih mengandung hayat, masih bisa menikmati mak nyusss-nya sambal terasi goreng atau mak cesss-nya air belimbing wuluh, masih sempat pikir-pikir seperti pesakitan mau banding atau kasasi… Adalah mempersiapkan apa yang dapat diwariskan, sengaja atau tidak sengaja, menjadi amal jariyah. Harta, ilmu, karya, kemudahan atau kebaikan lainnya yang bakal berkesinambungan. Insya Allah…

——-

“Blimwul Tea”

Usai jum’atan, makan siang, duduk di depan komputer toko, menginput data barang. Lha kok kepala teklak-tekluk mata riyep-riyep ngantuk… Haha, langsung ingat. Salah satu manfaat belimbing wuluh adalah untuk obat ngantuk.

Coba bayangkan, kupetik sebuah, kugigit, kuhisap airnya… Huuhh, kuwwecuut-nya… Digaransi ngantuk lenyap seketika tanpa biaya tanpa efek samping. Yaa, kadang-kadang ada efek belakang, perut mulas kalau kebanyakan…

***

Tenggorokan terasa gatal menyebabkan batuk-batuk yang terkadang di luar kendali. Kalau cuaca badan sedang seperti ini enaknya minum lemon tea alias teh hangat diberi perasan jeruk nipis. Berhubung stok jeruk nipis di rumah sedang habis, saya ganti dengan belimbing wuluh. Lho kok enak…

Waaa, belimbing wuluh lagee… Ternyata minuman “blimwul tea” (teh belimbing wuluh yang belimbingnya dicacah-cacah) juga top-markotop bin sip-markosip…

***
Masih lanjutan cerita tentang belimbing wuluh… Menikmati Sabtu pagi dengan menyeruput segelas “blimwul tea” (teh belimbing wuluh). Hmmm, benar-benar mak nyosss karena fanas (sengaja pakai ‘f’). Belimbing wuluh yang kalau digigit asamnya minta ampyuuun... itu ketika disayat tipis-tipis lalu dicampur ke dalam segelas teh panas, asamnya lenyap berubah menjadi uuuhhmm… (susah dilukiskan dengan kata-kata).

***

Menikmati pagi dengan nyruput “blimwul tea” (teh belimbing wuluh). Ini minuman teh biasa yang dicampur dengan irisan buah belimbing wuluh. Citarasa tehnya biasanya kalah sama sensasi asam dari belimbing, tapi suwedaaap tenan… (By the way, belimbing wuluh ki coro londone oppo yo…?)

Yogyakarta, 8-18 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: