Menghitung Langkah

Pengantar:

Berikut ini catatan iseng saya ketika tiba-tiba ingin sekali melakukan sesuatu yang berbeda dan ingin tahu pelajaran apa yang dapat saya petik dari sana. Saya tidak keberatan kalau dikatakan apa yang saya lakukan ini kerjaannya orang yang tidak ada kerjaan (hehe…, memang). Saya hanya ingin berbagi sesuatu yang beda yang tidak akan Anda dapatkan dari orang waras mana pun. Catatan ini telah saya posting sebagai cersta (cerita status) di Facebook.

——-

(1)

Terobsesi ingin melakukan sesuatu yang beda di Senin awal Mei. Pergi ke toko berjalan kaki santai (tapi ya tetap saja tidak bisa santai wong di tengah hari melintasi lalulintas ramai). Jaraknya sekitar 3 km. Kuniati mau kuhitung berapa langkah kutempuh dengan menerobos jalan-jalan kampung.

Walhasil, kira-kira 3700 langkah kujalani. Ya, kira-kira.., karena hitunganku salah mulu… Maklum, mengandalkan memory dengan chip jadul yang tidak mungkin di-upgrade.

(2)

Baru berjalan sekitar 500 m ketemu tetangga yang mengajak ngobrol, hitungan jadi lupa. Menyeberang perempatan ramai, tolah-toleh dan waspada, hitungan pun jadi ragu. Tersandung batu dekat kuburan, hitungan kacau lagi. Berhenti dulu karena ada mobil atret: “Waduh, sampai berapa tadi?”. Yang paling repot ketika salah ambil jalan kampung. Berbalik, berarti menambah langkah. Terus, khawatir salah. Berhenti mikir dulu dan mengingat hitungan, kok seperti orang bingung…

(3)

Rupanya memang tidak mudah untuk menjadi pejalan kaki (bisa saya bayangkan mereka yang tiap hari harus jalan kaki di kota besar). Jauh lebih enak berjalan kaki di desa, hutan dan gunung walau harus melawan kondisi jalan buruk atau topografi naik-turun. Sedang berjalan kaki di kota harus selalu memasang status ekstra waspada terhadap arus lalulintas yang serba buru-buru.

Maka kucoba mencari “short cut” jalan kampung untuk mengurangi jumlah langkah dan sekaligus melakukan orientasi.

(4)

Kira-kira 3700 langkah saya jalani, termasuk koreksi saat saya lupa hitungan. Bukan soal jumlah langkahnya, karena siapapun dapat melakukan itu (kalau mau..). Saya hanya ingin mengatakan bahwa kemampuan otak untuk mengingat ternyata sangat terbatas (apalagi otak tua). Bahkan yang baru saja terjadi pun rentan untuk lupa ketika terintervensi kejadian lain.

Maka menulis adalah alat bantu untuk mengingat, apa saja. Hanya uang di kasir toko yang saya tidak pernah lupa hitungannya

(5)

Sukses melakukan sesuatu yang beda dengan berjalan kaki ke toko melintasi kampung dan jalan ramai. Menghitung langkah saya lakukan tapi tidak sepenuhnya berhasil. Pesannya adalah jangan mengandalkan otak untuk mengingat semua hal. Percayalah, tidak akan mampu. Apalagi otak ber-IQ mentok plafon seperti saya.

Bahkan saya sering kesulitan mengingat-ingat telah mengeluarkan uang untuk apa saja sehari ini. Padahal jumlahnya segitu-segitu juga, apalagi kalau jumlahnya sak hohah…(buanyak).

(6)

Solusinya? Mencatat atau menulis apa saja pada media apa saja, agar hal-hal yang penting tidak terlewatkan. Dulu sebelum ada HP saya suka menuliskan di meja yang saya lapisi kertas, sampul buku atau bungkus rokok.

Sekarang saya gunakan HP. Malah sering disindir istri: “Kerjanya SMS-an saja”. Sekali waktu itu benar, tapi seringkali karena saya sedang menulis sesuatu yang saya anggap penting dan khawatir lupa. Apalagi kalau tiba-tiba melintas ide liar. “And, it works”.

Yogyakarta, 2-3 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: