Dialog Dengan Seorang Ibu Yang Sedang Risau

Pengantar:

Seorang ibu yang merangkap sebagai tulang punggung keluarganya ingin “hijrah” dari hal yang diyakininya salah menuju ke cara yang benar. Tapi hatinya risau, bingung bagaimana harus memulainya. Dialog melalui SMS yang saya lakukan dengan si ibu itu saya tuliskan dalam cerita status (cersta) yang saya posting di Facebook. Seperti biasa, saya menuliskannya dengan gaya yang tidak biasa. Berikut ini rangkumannya. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik.

——–

(1)

Seorang ibu nun jauh di ujung seberang pulau tiba-tiba mengirim SMS. Dia menemukan blog saya di internet, lalu minta saran… (haha, kembali jadi tukang kompor nih). Katanya dia sedang menjalankan usaha rentenir (di pelosok Jawa disebut “bank thithil”…) dari seorang pemilik modal.

“Saya risau pak, saya ingin berhenti, tolong bagaimana caranya”, begitu singkatnya. Hmm… saya perlu waktu untuk menjawabnya, mungkin mau saya pikir sambil tidur saja dulu…

(2)

Dalam hati ingin berkata: “Ya berhenti saja!”, sebab satu-satunya cara untuk berhenti adalah tidak melanjutkan berjalan. Tapi jika berhenti adalah semudah itu, pasti si ibu itu tidak perlu risau bagaimana caranya. Berarti ada faktor lain yang tidak saya ketahui.

Maka saya coba meyakinkan untuk menghentikan usaha “bank thithil” (rentenir) dengan menggunakan kata-kata seperti keberkahan, kemudahan atau kesuksesan, ketimbang kata-kata “menakutkan” seperti riba, dosa atau neraka…

(3)

Saya pesankan kepada si ibu itu: “Cari alasan yang masuk akal kepada si pemilik modal untuk ibu berhenti dari usaha rentenir”. Tidak apa-apa proses itu berjalan perlahan.

Bagaimana pun juga si ibu masih terikat “amanah” untuk mengembalikan uang milik pemodal yang sedang berputar. Pada saat yang sama barengi dengan mengikrarkan niat untuk meninggalkan dunia persilatan “bank thithil”… Mudah-mudahan proses berhentinya menjadi mudah atau dimudahkan…

‎(4)

Lho dimana tidak mudahnya? Si ibu telanjur terjebak dalam bisnis setan yang melingkar (inner cycle). Ketika tiba waktunya dia harus setor kepada pemodal sementara tagihan tidak bisa masuk, terpaksa dia harus menutupnya dulu dari kantong pribadi.

Si ibu tidak memiliki kemampuan menjadi debt collector, sebab setiap kali menagih dan si penghutang kesusahan bahkan mengada-adakan untuk bisa membayar, hatinya tidak tega…

(5)

Saya perlu mengapresiasi si ibu dan saya katakan: “Itu langkah awal yang (insya Allah) akan mengantarkan ibu kepada kemudahan usaha lainnya, termasuk kios sembako (si ibu sedang merintis kios sembako). Mungkin yang ibu hasilkan dari rentenir cukup besar, tapi saya ragu kalau ibu dan keluarga dapat menikmati keberkahannya. Selain, usaha itu jelas illegal“.

Saya tahu kata-kata itu mungkin terdengar tidak merdu di telinga si ibu. Makanya perlu saya susul dengan SMS lanjutan…

(6)

Si ibu ini rupanya baru mulai usaha kios sembako. Pertanyaan kedua dari si ibu: “Kenapa kios saya ini kurang pembelinya, kalah dengan kios tetangga”. Padahal kios milik si ibu lebih komplit.

Tentu banyak sebab, tapi “ngelmu kompor” saya cepat bekerja: “Itu karena ibu telanjur memiliki image negatif sebagai seorang rentenir, sehingga pembeli merasa tidak nyaman berbisnis dengan ibu”.

Gubraks..! Saya bayangkan si ibu dhelek-dhelek…(diam tepekur) membaca SMS saya.

(7)

SMS saya berikutnya: “Saya yakin (insya Allah) setelah ibu berhenti menjadi rentenir, lalu dibarengi dengan upaya taubat kepada Tuhan dan niatkan mau berusaha secara wajar, maka image negatif tadi pelan-pelan akan berubah menjadi positif. Jelas akan perlu waktu. Tapi hasil usaha itu kan bukan soal banyak atau sedikit, melainkan keberkahannya bagi diri ibu sendiri dan keluarga”. Begitu yang saya katakan selanjutnya sebagai upaya menyejukkan perasaan si ibu yang sedang risau…

(8)

Sementara proses berhenti dari usaha rentenir sedang berjalan, si ibu saya sarankan untuk lebih fokus membenahi usaha kios sembakonya. Pada saat yang sama pancangkan niat untuk “banting setir” alias “hijrah” dari mencari rejeki dengan cara yang tidak benar ke cara yang benar.

Apa nilai tambahnya? Tuhan berkepentingan membantu hambanya yang sedang berjuang menuju kebenaran. Jalan ke arah sana akan segera terbuka, termasuk wawasan tentang bisnis yang membawa berkah…

(9)

Jika merasa wawasan itu belum terbuka juga, tidak usah risau… Ubah gaya pelayanan kepada pembeli menjadi lebih ramah, lebih bersahabat, lebih bersuasana nyaman, lebih riang, dsb. Harga wajar, tingkatkan cara pelayanan, sehingga persaingan dengan tetangga pun jadi alami. “Maka kios ibu yang lebih komplit itu pasti akan lebih menarik”, kataku menyemangati.

Nasehat normatif seperti ini sering dilupakan saat suasana hati risau. Maka jangan risau. Perkuat dengan doa…

(10)

Balasan SMS dari si ibu yang sedang risau itu rupanya cukup membesarkan hati. Dia menulis kira-kira begini (dialek Indonesia Tengah yang saya rapikan agar mudah dipahami): “Insya Allah niat saya tercapai. Saya takut dosa pak. Apalagi saat menagih, mereka pada susah. Ketika saya memaksa harus, maka mereka pun berusaha membayar walaupun dengan cara apa saja. Subhanallah”.

Dan, jawabku: “Insya Allah kemudahan akan datang menghampiri ibu”.

Yogyakarta, 29-30 April 2011

Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: