Nggak Enaknya Nggak Enak Badan

Pengantar:

Beberapa hari yll saya merasa tidak enak badan karena terkena serangan gejala flu. Saya menceriterakan pengalaman nggak enak tentang nggak enaknya nggak enak badan, melalui cersta (cerita status) yang saya tulis di Facebook. Berikut ini kumpulan catatan saya itu. Seperti biasanya, sekedar ingin berbagi “dongeng” dari sudut pandang yang berbeda.

——-

(1)

Setelah beberapa hari kluntrak-kluntruk (lesu wal ogah-ogahan) karena tidak enak badan, meriang, nggreges (demam), gejala flu, tenggorokan gerok (serak), ingusan, akhirnya pada Jum’at Agung ini saya siap kembali ke Facebook.

Yang jadi soal bukan serangan sakitnya, melainkan selama periode sakit itu saya tetap kemana-mana. Haha…, pada batas tertentu saya tidak mau mengikuti irama sakitku, tapi sakit itu yang saya paksa harus mengikuti iramaku..

(Note: Lebih seminggu saya tidak buka-buka Facebook karena malas dan serangan nggak enak badan itu tadi…)

(2)

Ketika tiba-tiba merasa tidak enak badan, diawali dengan meriang dan nggreges, yang terpikir adalah tubuh sedang diserang di saat kondisi sedang drop. Maka pertahanan saya adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Cara yang biasa saya lakukan adalah menggenjot asupan vitamin C. Minuman berkadar vitamin C tinggi saya tingkatkan “dosis”-nya plus istirahat cukup (mestinya).

Dalam banyak kesempatan saya diserang, biasanya cara ini cukup ampuh, asal tidak terlambat bertindak.

(3)

Minuman berkadar vitamin C tinggi yang biasa saya tenggak melebihi “dosis” (maaf tidak bermaksud promosi melainkan berbagi, ceritanya… bukan minumannya…) adalah You C1000 dan Adem Sari. Dan yang saya maksud melebihi “dosis” adalah saya meminumnya lebih dari yang dianjurkan per hari.

Jika sampai tiga hari kondisi tubuh tidak mereda, maka barulah saya pertimbangkan untuk minum obat kimia komersial seperti yang pathing pecothot diiklankan di televisi…

(4)

Bagaimanapun juga, ketika badan terasa tidak enak, maka kita sendiri yang dapat menilai (memutuskan), ini serangan sakit “standar” biasa seperti yang saya alami atau karena ada sebab lain.

Sebaiknya tidak digeneralisir karena semua penyakit tanda awalnya akan mirip-mirip begitu. Jika ragu, tentu lebih baik tanyakan kepada ahlinya (dokter). Dalam cerita pengalaman ini adalah saya haqqun-yakil karena gangguan kesehatan “standar” saat kondisi tubuh sedang tidak fit saja…

(5)

Sudah lama saya memang menghindar dari minum obat kimia komersial. Kalau bukan karena situasi darurat (memaksa) atau tidak ada pilihan lain, maka minum obat kimia saya hindari. Saya memilih untuk menggunakan cara lain seperti menu herbal atau asupan vitamin C yang sebenarnya sederhana, bisa dipenuhi dari cukup makan sayur dan buah.

Hanya saja kita ini jenis manusia “pemalas” untuk kedua jenis makanan itu. Padahal itu lebih “fast” ketimbang fast food manapun…

(6)

Selain memperbanyak asupan vitamin C melalui minuman, sayur dan buah (selain buah kacang dan durian), saat nggak enak badan, maka acara minum kopi terkadang saya ganti dengan minum teh tapi ditambah jeruk nipis dan madu…. Uuuhh, segernya..!

Belum lagi kalau ada jambu kluthuk (batu) lalu dibuat setup (diiris, ditambah gula dan kayu manis, direbus), diminum hangat… Uuuff, makin suegerr..!

Kalau masih kurang suwegerrr.., mandi air panas…!

(7)

Hal paling luar biasa kurasakan ketika sedang tidak enak badan, meriang, demam, parau, puciiing.., adalah menikmati saat-saat tidak nikmat itu. Melamun sambil membandingkan rasa tak berdaya dengan saat bejujakan (banyak ulah) ketika sehat. Ternyata bagaimanapun sehat itu lebih nikmat daripada tidak sehat. Tapi herannya, saya baru merasakan nikmatnya sehat justru ketika sedang sakit.

Maka pesannya: sekali-sekali sakitlah agar tahu nikmatnya tidak sakit, lalu bersyukur!

(8)

Lha wong sedang tidak enak badan (beberapa hari yll) kok ujuk-ujuk anak lanang yang sedang libur musim UN mengajak mendaki gunung Semeru (Jatim). Yaa.., gimana ya? Terpaksa tidak bisa kupenuhi ajakannya (walau kepingin).

Akhirnya anak lanang bikin agenda sendiri bersama teman-temannya mendaki gunung Lawu. Dan ini pendakiannya yang ketiga untuk gunung yang sama… “Selamat, Le…!”.

(9)

Pagi-pagi Jum’at Agung harus hadir ke acara pernikahan saudara. Lha, kalau ini baru cocok untuk orang yang sedang tidak enak badan. Segera diatur strategi agar jangan sarapan dulu dari rumah.

Tiba acara makan, lontong sate ayam, nasi sate dan gule kambing, zuppa soup, buah, teh hangat…bablasss, ditutup dengan duduk di belakang mengeringkan keringat, sebelum akhirnya pamit pulang. Kok badan jadi enak? Maka lain kali kalau sakit lagi harus cari orang punya gawe

***

(10)

Seorang rekan yang mengalami serangan flu urutan setelah saya bercerita kalau dirinya sedang mampir menikmati makan enak di luar. Kutanya: “Menunya enak enggak?”. Dengan semangat dia menjawab: “Enak bangeeet…” (‘e‘-nya panjang).

Dan komentarku: “Ooo berarti kamu sudah hampir sembuh. Sudah bisa membedakan mana yang enak dan mana yang enak banget… Maka kalau nanti mau mengecek semakin sembuh atau tidak, pergi saja lagi ke tempat makan yang enak…”.

(11)

Sesama penderita flu harus saling berkirim kabar. Seorang teman lain yang juga kena gejala flu dengan senang mengabarkan bahwa kondisi badannya sudah lumayan. “Cuma kalau bangun tidur saja terasa lebih parah”, katanya.

Maka yang dapat kunasehatkan: “Berarti satu-satunya cara agar kalau bangun tidur tidak merasa lebih parah, ya nggak usah bangun… Tidur saja terus, kalau sekiranya sudah merasa baik baru bangun…”.

(12)

Badannya meriang, tenggorokannya gatal, hidungnya mulai ingusan, akhirnya ke dokter juga walau awalnya keukeuh tidak mau karena tidak suka minum obat. Pulangnya membawa segepok obat dan bilang: “Mau kubuang ke tempat sampah”.

Serta-merta kucegah: “Jangan dibuang!”. Obat itu sudah ditebus dengan harga mahal. Lalu kusarankan: “Beli kertas asturo dan lem. Tempelkan obat-obat itu, buatlah hiasan dinding”. Sama-sama tidak diminum tapi ada manfaatnya.

(13)

Serangan flu sudah mereda, tapi masih menyisakan ingus yang cukup mengganggu… Malam Minggu, walau badan terasa agak malas, hadir juga saya di kondangan. Maka saya tempuh strategi blitzkrieg (serangan kilat, perang gaya suku Jerman). Datang, salaman, bakso, siomay, soto, es krim, buah, teh hangat, pulang…

Kurang dari satu jam sudah leyeh-leyeh di rumah, perut kenyang, badan keringatan…, tapi ingus tetap saja mengalir bak banjir lahar dingin…

***

(14)

Guna menyempurnakan pertahanan tubuh melawan serangan flu, maka menu jamu suplemen zonder obat kimia komersial adalah back to nature. Rebusan pasak bumi (untuk daya tahan tubuh) berseling dengan rebusan ciplukan (untuk peredaran darah) melengkapi asupan vitamin C yang “over dosis”.

Jangan tanya rasa pahitnya, apalagi resep darimana, bahkan tidak ada hubungannya pun tidak jadi soal. Yang penting saya berhasil memaksa irama sakitku untuk mengikuti iramaku…

Yogyakarta, 21-23 April 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , ,

Satu Tanggapan to “Nggak Enaknya Nggak Enak Badan”

  1. robbit Says:

    mmmuuuantep tenan pak de…! ki awakku yo rodok mriang..heeedeeecch..matur nembah nuwun geh pak de…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: