Kembali ke Merapi – Menunaikan Amanah

Pengantar:

Sementara waktu saya telah meninggalkan Merapi untuk melakukan beberapa aktifitas lain ke luar pulau. Maka kini saatnya kembali ke Merapi. Melalui cersta (cerita status) yang saya tulis di Facebok ini sekaligus saya ingin menyampaikan laporan kepada para sahabat yang telah menitipkan amanah melalui saya berupa bantuan dana untuk korban Merapi, dimana pun para sahabat ini berada. (Tidak semua nama yang saya tulis initialnya di bawah ini saya ketahui persis dimana mereka berdomisili. Mudah-mudahan tidak ada yang terlewat saya sebut initialnya). Semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan memberi balasan yang jauh lebih baik kepada para sahabat yang telah berbagi. Terima kasih.-

——-

(1)

Saya awali cersta saya dengan penyaluran bantuan untuk korban Merapi. Ancaman bahaya Merapi memang tak kunjung reda hingga kini, terutama ancaman banjir lahar dingin. Bantuan yang saya salurkan berasal dari beberapa sahabat.

Cersta ini sekaligus saya maksudkan sebagai laporan. Walau para sahabat tsb minta tidak disebutkan namanya, tapi saya merasa perlu menuliskan initialnya. Semoga dimaklumi.

(2)

Seseorang menitipkan uang zakat untuk disalurkan kepada korban Merapi. Ada “treatment” berbeda untuk penyaluran zakat.

Adalah 10 warga Glagaharjo yang layak menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Maka zakat pun saya bagi 10 lalu disampaikan kepada mereka bahwa ada zakat senilai sekian dan saya akan membantu membelikan gedhek (dinding) bambu untuk sekedar tambahan rumah daruratnya

(Thanks untuk mbak DSA).

(3)

Seorang sahabat menitipkan sejumlah dana untuk disalurkan sebagai bantuan sekolah. Setelah dilakukan cek dan ricek, akhirnya saya salurkan ke sebuah TK Aisyiyah di desa Patosan, Muntilan, Magelang.

Seorang relawan membantu belanja alat tulis dan APE (alat permainan edukatif). Betapa cerianya anak-anak itu karena sejak erupsi Merapi mereka tidak memiliki alat bermain. Bantuan yang ada baru cukup untuk memperbaiki bangunan TK-nya.

(Nuwun untuk mas SNS).

(4)

Lahar dingin yang mengalir di Kali Pabelan sempat mengamuk dan memutuskan jembatan jalan raya Jogja-Magelang. Tak terkecuali beberapa rumah di desa Prumpung pun tersapu.

Kini sebuah pemukiman huntara (hunian sementara) berkonstruksi rumah bambu sedang diselesaikan. Maka sejumlah dana dari Papua dan Surabaya kemudian saya salurkan untuk membeli gedhek dan aten-aten, dinding anyaman bambu.

(Suwun untuk kang JB dan pak PJ).

(5)

Dua buah warung Mandiri (mencari donatur sendiri) kini sudah berdiri dan beroperasi di desa Kepuharjo, Cangkringan. Pemilik sekaligus pengelolanya siap menambah pemasukan dari kebaikan pengunjung wisatawan lokal yang singgah dan seringkali memberi pembayaran lebih dari yang ditawarkan. Dengan bantuan tim relawan kedua warung itu bisa terselesaikan.

(Terima kasih untuk mbak ES).

(6)

MCK di Glagaharjo juga sudah dalam tahap penyelesaian. Tambahan biaya sudah diberikan. Biayanya membengkak dari yang direncanakan karena penambahan ruang WC dan penguatan resapan. Tapi.., tahapan pembuatan bak di sumber airnya, oleh pak Dukuh diminta menunggu acara selamatan dulu.

Ini dia yang aku suka..! Bukan selamatannya, tapi ingkung-nya ittuu.., alias suguhan ayam goreng utuh….

(Nuwun untuk mas RW).

***

(7)

Ada yang mendesak butuh warung Mandiri. Kebetulan ada dana zakat yang harus disalurkan. Maka ke desa Glagaharjo, Sleman, akhirnya zakat itu diserahkan dan sekaligus dibantu diwujudkan menjadi sebuah warung.

Selain itu juga masih ada dana yang minta disalurkan untuk membantu sekolah di desa Sirahan, Magelang. Maka disalurkanlah dana itu untuk dua buah TK yang hancur diterjang lahar dingin.

(Terima kasih untuk mbak NK).

(8)

Masih ada dana bantuan dari para sahabat untuk korban Merapi yang tertunda saya salurkan karena saya harus tebang ke luar pulau. Dana itu akan saya alokasikan untuk tambahan material bagi bangunan huntara di desa Prumpung, Magelang; sarana air bersih di desa Dukun, Magelang; dan rencana mushola di Glagaharjo, Sleman.

(Thanks sekali lagi untuk mbak NK, juga para sahabat di Papua).

(9)

Sejauh ini bangunan huntara (hunian sementara) bagi korban lahar dingin sungai Pabelan di desa Prumpung masih membutuhkan tambahan dana. Selain itu, beberapa barak pengungsian, antara lain di Tanjung, Jumoyo, Ngrajek dan Sirahan (semua di wilayah Magelang) juga sangat membutuhkan tambahan prasarana penampungan air bersih.

Seorang relawan menghubungi saya minta dicarikan bantuan, tapi terpaksa belum bisa saya jawab, kecuali “Insya Allah”…

(10)

Gunung Merapi memang mulai beranjak istirahat, walau masih klisikan (tak nyenyak tidur). Ancaman erupsi mereda, berganti dengan ancaman banjir lahar dingin yang masih tak terkira kapan sirna.

Sementara pemerintah dan masyarakat lain sudah mulai disibukkan dengan kepentingan keseharian lainnya. Sebagian pengungsi masih berkutat di tempat pengungsiannya lengkap dengan permasalahan hidupnya. Galau menatap hari esok… Lalu?

Yogyakarta, 12 dan 21 April 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

2 Tanggapan to “Kembali ke Merapi – Menunaikan Amanah”

  1. reza Says:

    blog anda bagus..
    ya walaupun saya baru ngeblog >>>

    dan jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: