Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (9)

(9) Cerita Dari Penghuni Camp

(61)

Pagi-pagi bu Siti yang tukang masak ribut. Bu Siti yang tidur di tempat yang bertabir karung plastik bercerita, katanya semalam ada binatang mendekat. Bu Siti tidak berani membuka tabir untuk melihat langsung, tapi dari bayangannya terlihat besar seperti orang utan. Ditunjukkan bekas tapak kaki berlumpur dimana-mana di bagian dapur.

Namun orang-orang sepertinya tidak merespon serius. Bukan tidak percaya, melainkan ya terus mau ngapain? Sepanjang tidak mengganggu… ‎

(62)

Belum selesai dengan ributnya bu Siti. Seseorang cerita, katanya tadi pagi ketika sedang sholat subuh, tiba-tiba dilewati ular kecil di pahanya. Karena yakin si ular hanya mau numpang lewat, ya dibiarkan saja. Pura-pura tidak tahu…

Ketika diceritakan ularnya jalan ke arah tempat tidur depan. Maka sibuklah semua yang tidur di situ membongkar tumpukan pakaian dan tasnya… Haha, ular kurang kerjaan kalau dia tidur di dalam tas… ‎

(63)

Romantika tidur di camp belum habis rupanya. Seorg lagi cerita, katanya kemarin malam ada beruang mengais-ngais di bawah tempat tidurnya. Bu Siti tidak mau kalah. “Iya, saya juga lihat bekasnya di tempat piring-piring kotor”.

Apapun kisahnya, tetaplah cerita yang akan selalu menarik diceritakan. Tapi pertanyaannya adalah: “Terus mau ngapain?”. Bedeng darurat adalah tempat terbuka yang siapapun dapat masuk dari arah manapun. ‎

(64)

Dan ini bagian menariknya: Ketika sore saya pulang dari hutan, tiba-tiba bu Siti yang asal Semarang itu bilang: “Pak, gimana caranya agar binatang-binatang itu tidak datang-datang kesini?”.

Menyadari saya tidak punya ilmu peri kebinatangan, sambil becanda kujawab saja: “Didongani wae, bu (didoain saja)”. Eh, rupanya ditanggapi serius: “Ya, tolong pak. Mumpung bapak masih disini”. Walah, aku yang jadi kelabakan, ya “terpaksa” aku benar-benar berdoa untuk itu… ‎

(65)

Apakah binatang-bnatang itu benar-benar tidak datang lagi? Entahlah… Semoga saja demikian. Bu Siti benar-benar lugu dan karena itu menjadi haqqun-yakil kalau doaku manjur seperti jamu pegal linu.

Tapi sebenarnya intinya bukan pada kemanjuran doa, melainkan keyakinannya bahwa binatang-binatang itu tidak akan mengganggu. Perkara mereka datang lagi.., lha namanya juga binatang cari makan kok tiba-tiba ada yang datang membawa makanan. Ya monggo saling berbagi…

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: