Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (8)

(8) Berhasil Di Upaya Keempat

(55)

Maka mulailah pagi ini aku berangkat meninggalkan Tanjung Redeb, memulai upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey di pedalaman Sambarata, Berau.

Naik ketinting ke arah hulu sungai Segah dalam cuaca mendung dan rintik hujan. Perjalanan selanjutnya akan dilakukan dengan kendaraan darat mendaki pegunungan selama 2-3 jam kalau cuaca dan kondisi jalan bagus. Kalau tidak? Ya, embuh… Semoga kali ini berhasil. Bismillah…

(56)

Daihatsu Hi-Line yang beberapa hari terakhir ini rusak dan ditinggal di Logpond seberang sungai Segah, masih perlu sedikit perbaikan lagi. Tidak apa-apa, aku masih sabar menanti.

Akhirnya jam 12 siang kami berangkat dari Logpond melaju ke utara melalui jalan tambang batubara hingga km-50 belok ke bekas jalan logging. Naik-turun perbukitan, lewat jalan berlumpur lengket sekitar 30 km. Cuaca lumayan cerah, panas, tanah lumpur mulai mengering. ‎

(57)

Walau kendaraan 4WD itu harus berjalan megal-megol seperti entok, menjalani lintasan yang sebagian mulai kering, akhirnya sekitar jam 2 siang tiba di camp yang kutuju. Perjalanan darat itu hanya dua jam saja.

Hari-hari kemarin satu-satunya kendaraan itu rusak, sementara rute alternatif jaraknya lebih jauh dan kondisinya lebih buruk sehingga perlu kendaraan 4WD dan cuaca yang kondisinya juga bagus. Bersyukur, upaya keempat di hari keempat berhasil mencapai lokasi yang kutuju. ‎

(58)

Camp yang dihuni sekitar 30 orang pekerja pemboran itu adalah bedeng darurat dengan konstruksi kayu dan beratap plastik tebal. Ber-“kasur” karung plastik yang dibentang mencipta alas tidur empuk seperti mengambang di atas plastik. Cukup nyaman.

Kalau malam-malam ada beruang, orang utan atau ular yang merunduk-runduk berkunjung mengais sisa makanan, ya anggap saja itu sebagai bentuk berbagi.., “sesama mahluk yang butuh makan dilarang saling mendahului..”. ‎

(59)

Sore ini santai dulu di lokasi camp sambil ngobrol-ngobrol dengan para pekerja. Mendengar keluhan dan permasalahan yang terjadi kenapa pekerjaan dinilai lambat oleh klien.

Selalu banyak cerita dan kegiatan sampingan yang menarik. Salah satu yang menarik adalah acara mandi di sungai. Waaa, segarnya… Langit nampak cerah menyambut malam, gemintang di angkasa, angin lembut, nyanyian malam di hutan mulai mendendang (29/03) ‎

(60)

Tapi rupanya cuaca cerah tidak berlangsung lama sebab mendung segera berkunjung. Ketika genset sudah dimatikan dan digantikan dengan lampu minyak, orang-orang pun mulai lelap dalam peraduan malam di hutan.

Menjelang tengah malam kelelapan agak terganggu. Kilat dan petir menyambar-nyambar memekakkan telinga membangunkan semua yang tidur. Geluduk bersahutan. Hujan pun segera mengguyur lebat. Bahkan sampai pagi.

‎(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: