Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (7)

(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari

(49)

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku merenung, lelakon apa sebenarnya yang sedang kujalani ini… Ini hari ketiga saya berusaha menuju lokasi survey dan untuk ketiga kalinya usaha itu gagal.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku bermuhasabah, sejenak, rahasia apa yang sedang “dimainkan” Tuhan atasku… Sejak pesawatku delay di Balikpapan 4 hara yll sehingga rencana mau langsung ke lokasi tertunda esoknya.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku berdzikir…

(50)

Diamku adalah dzikirku
setiap tetes gerimis yang membasahi tubuhku adalah dzikirku
setiap bunyi kecepak ombak sungai yang dihantam ketinting adalah dzikirku setiap berkas kilatan petir adalah dzikirku
setiap gema geluduk adalah dzikirku
setiap tamparan angin sungai adalah dzikirku
setiap deru mesin ketinting adalah dzikirku
setiap tarikan nafasku adalah dzikirku
hingga setiap denyut nadiku adalah dzikirku
Dan dzikirku tak pernah berhenti…

(51)

Sayup-sayup terdengar adzan isya ketika ketinting merapat di dermaga di belakang rumah seorang teman. Segera aku turun dengan membawa serta barang bawaan. Duduk leyehan di ruang tamu, sambil ngupi, menghela nafas panjang…

Aku belum ingin menyerah! Upaya keempat untuk menembus lokasi survey akan kulakukan lagi besok. Insya Allah. Dan kuingat lagi doaku saat berngkat dari Jogja: “Tuhan, tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan…”.

(Senin, 28 Maret 2011)

(52)

Dalam subuhku aku bersujud, berserah diri dan menancapkan niat
Hari ini adalah hari keempat aku akan melakukan upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey tujuanku
Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanyalah setitik embun pagi yang menggantung di kelopak bunga hutan Aku hanyalah setetes air hujan yang semalaman mengguyur Tanjung Redeb
Aku hanyalah sebutir pasir tanah lumpur yang memerangkap kendaraanku selama tiga hari kemarin.

(53)

Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanya bagian sangat kecil dari rencana besar yang ada di luar jangkauanku
Niat kuat sudah dipancangkan, namun keadaan juga melemahkan
Usaha sudah dilakukan, namun halangan juga diterpakan
Ada doa yang kulupakan :
Tuhan, jika menurutMu perjalananku ini baik bagi ibadahku, tolong mudahkanlah
Tapi jika menurutMu ini buruk bagi ibadahku, maka berilah aku jalan keluar terbaik.

(54)

Pagi hujan di Tanjung Redeb, bahkan sejak semalaman seperti tak pernah berhenti. Gerimis berganti hujan silih berganti. Cuaca murung, mendung menggelayut. Tiba-tiba datang SMS dari seorang sahabat: “Lagi ngapain, mas?”. Kujawab: “Menikmati hujan pagi, sambil leyeh-leyeh, ngudut dan ngupi…”.

Tinggal gorengan saja yang kurang… (Menunggu cuaca cerah untuk mulai melangkahkan kaki melakukan upaya yang keempat kali…)

(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: