Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (6)

(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga

(40)

Dua hari terjebak lumpur dan akhirnya bisa keluar setelah 17 jam tak berkutik di tengah jalan hutan, akhirnya bisa kembali ke Tanjung Redeb. Hari ini saya kembali menuju lokasi survey lewat jalan yang “seharusnya” yang menurut info jembatan yang kemarin putus sudah bisa dilalui. Berharap kondisi jalan lebih baik dan lancar sehingga tidak harus menginap lagi di jalan.

(41)

Walau menurut info kondisi jalan lebih bagus dari kemarin, agak trauma, kali ini mampir pasar Gayam Tanjung Redeb yang nampak megah dan mewah untuk makan dulu dan membeli bekal lebih banyak…hehe.

Tengah hari di Tanjung Redeb (Berau) yang panas terik, mobil Mitsubishi Strada 4WD segera melaju ke utara arah Tanjung Selor (Bulungan). Tidak lagi lewat rute yang kemarin yang kondisinya sensitif terhadap hujan, melainkan rute lain yang (katanya) lebih “bersahabat”.

(Note: Yang saya maksud dengan pasar Gayam sesungguhnya adalah pasar tradisional Gayam yang sudah direlokasi ke Pasar Sanggam Adji Dilayas yang masih terlihat baru, megah, luas, berarsitektur indah dan penataannya sangat bagus. Barangkali inilah pasar tradisional termegah di seluruh wilayah provinsi Kaltim).

(42)

Waaa.., dasar rejeki. Jembatan darurat sungai Birang yang katanya sudah dapat dilewati ternyata belum ada apa-apanya. Ya nampak sungai saja… yang berarus deras dengan kayu gelondongan teronggok di sana.

Terpaksa kembali ke rute yang kmarin. Semoga cuaca cerah siang ini bertahan hingga malam sehingga jalan berlumpur yang mulai mengering itu dapat dilalui dengan aman terkendali… Maka perjalanan hari ini adalah edisi “siaran ulang” perjalanan dua hari yll. Bismillah..!

(Note: Sementara lanjutan cersta yang kemarin belum sempat terkirim semuanya, siang ini segera saya akan kehilangan sinyal lagi. So, lanjutan cersta saya akan tertunda… Mohon dukungan doanya saja. Matur nuwun)

(43)

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih… Upaya kedua hari ini menuju ke lokasi survey ternyata juga harus gagal. Kali ini masalah kendaraan. Belum sejam perjalanan tiba-tiba double gardan kendaraan Strada 4WD tidak berfungsi…

Jelas perjalanan tidak dapat dilanjutkan. Telanjur mobil terjebak kubangan lumpur… Perlu waktu tiga jam untuk bergulat agar bisa lolos dari kubangan dan kembali lagi ke Tanjung Redeb. Benar-benar.., uuugh…!

(44)

Mencoba tidak menyerah, selagi masih punya pilihan… Begitu tiba di Tanjung Redeb, langsung bersiap melakukan upaya ketiga menembus lokasi survey. Senja tadi kami sepakat melakukan perjalanan malam melalui rute berbeda lagi.

Petang, maghrib menjelang, saya naik ke atas ketinting atau ces (perahu motor). Kali ini menuju ke arah hulu untuk nanti disambung dengan mobil yang beberapa hari yll ditinggal di sana karena ada kerusakan. Katanya sekarang sudah diperbaiki.

(45)

Ketinting segera melaju ke hulu sungai Segah yang lebarnya lebih 100 m. Sungai Segah adalah sungai yang melintasi kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim).

Senja di sungai Segah menyajikan pemandangan indah saat mentari tenggelam di cakrawala barat. Langit nampak bersih walau sedikit berawan. Ombak sungai terlihat tenang. Di rembang petang, orang-orang yang tinggal di sepanjang tepian sungai mulai mengakhiri kesibukan.

(46)

Perjalanan dengan ketinting selama 25 menit terasa nyaman saja. Tanaman rengas yang daunnya gatal kalau mengenai kulit membentang di sepanjang tepian sungai. Di antara kawasan pemukiman penduduk dengan kerlap-kerlip lampunya dan pelabuhan batubara yang terang benderang dengan lampu kuning mercury.

Namun awan hitam tiba-tiba menyeruak dari arah baratlaut menutup langit. Mendung gelap pun tiba, seperti begitu mendadak datangnya.

(47)

Ketinting tiba di pelabuhan sungai yang biasa disebut Logpond ketika gerimis mulai turun, kilat dan geluduk menyambar-nyambar. Berteduh di pondok bekas pelabuhan kayu yang dijaga pak Jakobus yang asli Timor. Sekalian numpang sholat maghrib wal-isya setelah ambil wudhu di sungai.

Hari makin gelap. Teman saya yang nyopir kendaraan nampak gelisah. Mobil yang mau saya tumpangi solarnya tinggal sdikit, sedang tukang solar yang biasanya kehabisan stok.

(48)

Sisa solar minim dan diperparah cuaca hujan, teman yang juga sopir itu menyatakan tidak berani jalan malam. “Daripada nanti terpaksa tidur di hutan lagi…”, katanya. “Wah, kapok…”, batinku.

Sekitar jam 19 malam akhirnya kami kembali naik ketinting. Menyusuri sungai Segah dalam gelap, hujan, gemuruh geluduk, menuju ke hilir kembali ke Tanjung Redeb. Lebih baik tidur di Tanjung Redeb. Aku hanya diam membenarkan… Sambil dheleg-dheleg (diam membisu)…

(Senin, 28 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: